REVISI
Menggali lebih jelas setelah Chester meminta Maureen tidak tidur dulu dianya masuk ke kamar mandi. Membuka seluruh pakaiannya tanpa membilas tubuhnya, hanya cuci muka dan menyeka tipis-tipis. Nada sambung pada ponselnya tertera hitungan detik yang langsung didekatkan ke telinga.
"Sindy, boleh?" tanya Chester tanpa memberi sapaan terlebih dahulu karena dia sudah mengirimkan pesan yang justru langsung dijawab dengan telepon dadakan dari sepupunya.
"Nggak mau cek dulu, Mas?"
"Nggak usah," sahut Chester cepat membuat embusan kaget seseorang di seberang sana terdengar. "Mas yang akan pantau, Sin."
"Ya sudah kalau keputusannya begitu. Tapi, sesekali harus cek ke rumah sakit, ya!"
Chester mengangguk tanpa membuka suara. Bodoh. Sindy tak akan mengetahuinya karena mereka hanya melalui sambungan telepon saja. Tapi, Chester tak peduli. Buru-buru menyahut kimono dan memakainya ... tanpa sadar meninggalkan ponsel begitu saja di atas closet. Begitu keluar dari kamar mandi pemandangan di depannya membuat Chester berjalan pelan-pelan tanpa menimbulkan suara.
***
Kembali ke masa kini saat kedua benda kenyal saling menempel dan disertai dengan remasan ringan di pinggang Maureen, gadis itu menggeliat kegelian menggerakkannya pinggulnya. Sejujurnya dengan mata yang tertutup rapat adalah salah satu alasan Maureen malu memperlihatkan dirinya dan sang suami.
Namun, berbeda dengan Chester yang menjadikan objek di ciuman pertama mereka. Ya. Ciuman pertama dengan status halal merupakan hal yang diidamkan Maureen dan tanpa dia duga sebelumnya sosok istimewa itu adalah Chester. Laki-laki yang tidak dia duga sebelumnya, sepupu yang tumbuh kembangnya dia tahu.
"Hah!" Maureen terengah saat Chester memutus tautan saliva mereka. Kedua keningnya menempel dengan deru napas yang saling bersahutan kejar-kejaran.
Belum sempat Maureen bangkit tiba-tiba saja posisinya berubah. Chester yang bangkit dengan sang istri yang ada di gendongannya lalu membaringkan gadis itu di atas sofa dengan dirinya yang merunduk—menekuk kakinya.
Maureen ketar-ketir, apalagi di belakang punggungnya tangan Chester mengelus pelan. Dia menelan salivanya dengan susah payah saat lagi dan lagi kepala Chester merunduk, mendekat lalu memungut kembali bibirnya. Kali ini dengan gerakan yang bisa dibilang cepat sampai-sampai gadis itu kelelahan.
Melihat istrinya yang kewalahan justru menjadi kesempatan besar untuk Chester. Dengan kibaran mata penuh gairah bibirnya mengecup kening istrinya. Jari jemari tangannya mengusap kening sang istri yang dibanjiri keringat padahal kamar dalam suhu yang dingin.
"Boleh?" tanya laki-laki itu saat ibu jarinya mengusap bekas saliva di ujung bibir sang istri. Matanya berkobar—menanti jawaban dari Maureen yang terdiam dengan sorot mata ... takut.
"Mas janji nggak akan menyakiti kamu, Reen. Mas akan mengenalkan kamu."
Deg!
Upaya merayu yang ingin Maureen tolak, tetapi berbanding terbalik dengan kepalanya yang mengangguk kecil patah-patah dengan semburat merah di pipi.
Chester tersenyum lebar, mengangkat tubuh berisi istrinya dan membaringkan di ranjang. Bola mata Maureen mengerjap pelan sebagai bentuk tanya terus saja memperhatikan sofa.
"Mas mau kenyamanan kamu karena ini yang pertama untuk kita, Reen. Mungkin setelah yang pertama kita bisa coba di sofa itu atau di bathtub?" goda Chester menarik tali kimono sang istri yang sudah tersingkap sebatas paha. Begitu talinya dilepaskan dan kainnya disibak—sesuatu yang disembunyikan membuat senyum Chester mengembang.
Dia tidak pernah salah perkiraan. Istrinya memang sangat cantik—menawan dengan tubuh berisi yang dimilikinya. Chester bukan tipikal laki-laki yang mandang fisik, tapi hal itu juga bisa jadi penilaian penting.
Pipi memerah Maureen dielus Chester. Tubuhnya merosot ke bawah, membuka paha Maureen yang ditahan oleh gadis itu. "Cuma mau lihat," kata Chester dengan santai lalu dalam sekali sentak berhasil membuka paha istrinya. Tangannya terulur mengelus lipatan s**********n gadis itu. Tak ada perkataan apa pun karena selanjutnya laki-laki itu merangkak menindih tubuh Maureen.
Hening selama beberapa menit sampai akhirnya wajah Chester terbenam di d**a Maureen. Meninggalkan jejak basah lalu kepalanya mendongak. "Pasti akan sembuh," batin Chester tidak berani bicara secara langsung.
Dikecup kening Maureen dengan begitu lembut, tangannya mengusap pipi kemerahan itu lalu turun menelusuri lipatan leher. Hanya senyuman yang menghiasi membuat Maureen merinding. Tubuhnya dingin karena naked di balik kimononya yang masing menggantung di tubuh.
"Percaya sama Mas, ya?"
Maureen diam, tapi dia gugup apalagi saat bibinya kembali dipungut menimbulkan suara erangan yang tak dapat dia tahan karena gerakan bikin Chester selaras dengan gerakan tangannya pada gunung kembar Maureen.
***
Mereka melakukannya selama hampir 30 menit. Chester bukan laki-laki egois yang menerobos begitu saja, dia memastikan istrinya siap diajak berlayar.
Cengkeraman pada rambut lebat Chester belum berhenti saat lidah laki-laki itu masih sibuk di bawah sana padahal Maureen sudah keluar dua kali. Laki-laki itu melepaskan mainan barunya lantas berdiri membuka tali kimono miliknya tanpa melepasnya.
Maureen melihat sesuatu yang langsung mengacung saat Chester menyibak kainnya. Beberapa kali saat mereka ciuman pun Mauren merasakan sengatan listrik dari antena suaminya. Hanya saja dia tidak menyangka ukurannya membuatnya bergidik ngeri.
"Rileks," kata Chester mengelus pinggang Maureen saat mencoba menerobos masuk. Wajahnya yang tegang tak beda jauh dengan miliknya yang menjepit keras Chester membuat dua orang itu menahan napas. Bukan hanya Maureen saja yang tersiksa karena Chester juga merasakan hal yang serupa.
"Mau berhenti dulu?" tawar Chester tanpa menarik dirinya menjauh. Dia menginginkan Maureen—sangat, hanya saja Chester pun tidak tega melihat istrinya tersiksa bahkan terlihat jelas menahan sakitnya. Sejujurnya dia pun merasakan hal yang serupa, tapi Chester yakin Maureen lebih tersiksa.
Mendapat keberanian dengan melingkarkan lengannya di leher laki-laki itu Maureen usap tengkuknya membuat Chester merinding. Senyum di bibir bengkaknya mendadak memberikan kekuatan lebih sehingga tanpa perlu menunggu jawaban istrinya Chester kembali bergerak. Mendorong pelan-pelan disertai dengan elusan pada pinggang sang istri.
Tepat pada helaan napas ketiganya bagian tubuh Maureen terasa terbelah menjadi dua. Chester memejamkan mata menghalau kerisauan karena pekikan terkejut Maureen.
"Aku sudah nggak perawan, Mas," ungkap Maureen. Mereka belum melakukan pergerakan apa pun karena Chester memberi waktu jeda untuk Maureen bernapas.
"Mas tahu. Mas tidak pernah mempermasalahkan keperawanan pada perempuan, Reen. Jangan berpikir setelah mengetahui itu Mas akan menyesal. Justru Mas bangga karena Mas yang pertama buat kamu."
Maureen menggigit bibir dalamnya kuat. Padahal niatnya memang memberitahu keburukan kemungkinan yang terjadi karena dia tidak merasakan sesuatu mengalir di miliknya. Dia tidak memberikan darah keperawanan jadi sebelum Chester mempertanyakan maka dialah yang inisiatif memberi tahu.
"Sudah siap?" tanya Chester dengan raut wajah ceria. Maureen yang awalnya lega mendadak jadi pucat pasi membayangkan adegan demi adegan yang akan mereka lalui saat ini.