REVISI
Speechless.
Tidak tahu harus membalas apa pada suaminya yang nyengir lebar di hadapannya.
"Serius?"
"Aneh, ya? Setelah tahu kalau kita dijodohkan semenjak saat itu Mas coba pahami soal kamu. Makanan kesukaan, hobi, jam berapa kamu tidur. Apa kamu merasa keberatan karena diuntit?"
"Ya jelaslah!" jawabnya dengan sentakan, tapi bukan sentakan kesal melainkan tidak habis pikir kalau Chester benar-benar niat di perjodohan ini? "Mas Ester bukan karena obsesi, 'kan?" tuding gadis itu menyipitkan mata.
"Ngawur kamu tuh!" Chester menyentil kening istrinya gemas. "Lebih baik segera ke kamar terus makan. Nggak usah beli aneh-aneh di sini. Kita datang kan mau bikin bayi bukan nyicip makanan."
Deg!
Makin berdebar kencang jantung Maureen saat digandeng oleh Chester. Tautan tangan mereka tidak terlepas sama sekali membuat gadis itu menggigit bibir dalamnya menahan teriakan. Bukan kesenangan, teriakan risau karena ucapan Chester terlihat tidak ada bercandaan sama sekali.
Maureen sadar betul tujuan mereka adalah keturunan, tapi Maureen pikir Chester akan menunda beberapa bulan seperti perkataan Sindy yang akan memantau perkembangannya. Pun disetujui oleh Jeevika. Namun, jika terjadi di sini sepertinya menjadi hal yang buruk.
Tidak mungkin juga datang cuma numpang tidur. Kalau cuma mau pindah ranjang kan bisa ke apartemen, kenapa harus pergi jauh—
"Kok melamun?" sentak Chester mengarahkan Maureen duduk di sofa tanpa gadis itu sadar. Badan Chester setengah membungkuk dengan kedua tangan mengungkung tubuh kecil istrinya. "Lapar banget kah sampai melamun gitu? Bahkan nggak sadar duduk di sofa."
"HAH?!" Kerjap Maureen menunduk ke bawah lantas memekik yang berhasil mendorong tubuh Chester menjauh. "Anying amit-amit jabang bayi."
Chester tergelak ikut terkekeh ikut mengusap permukaan perut datar istrinya yang langsung dibalas delikan tajam. “Refleks, Reen.” Kedua tangan Chester terangkat ke atas seperti tersangka.
"Keluarin sofa ini boleh nggak, sih? Aku beneran kurang nyaman ngeliatnya bikin ... malu," cicit Maureen memandang suaminya mendongak.
"Makan dulu, habis itu mandi. Badan kita kena air terus pasirnya juga nempel dikit-dikit," kata Chester mengalihkan topik perhatian. Jika dilihat kenapa kesannya mereka cuma pindah kamar saja ya karena mereka pun masih sibuk sendiri-sendiri. Tidak ada vibes honeymoon sama sekali.
Chester berbalik duduk di bagian sofa atas yang bergelembung. "Siapa tahu mau coba di sini. Mas udah cari tahu cara pakainya, Reen."
"Uhuk! Uhuk!" Mendengar perkataan santai suaminya Maureen terbatuk tidak tanggung-tanggung membuat suaminya bergegas mendekat dan menepuk punggungnya pelan.
"Pelan-pelan," tegur Chester saat menyerahkan segelas air putih pada istrinya.
Maureen hanya mampu menatap sinis suaminya yang terlihat tidak bersalah sama sekali. Tolong laki-laki yang bertingkah polos seperti ini enaknya harus diapakan? Sejujurnya Maureen kepalang malu dan sedikit merasa bersalah karena turut membayangkan seperti yang dibilang suaminya.
Dia melirik ke samping. Bentuk benda itu terjal di tengah-tengah seperti cekungan. Dia bahkan menganggap yang di tengah itu bendungan untuk air.
Sial. Terkontaminasi kan jadinya!
"Aku selesai makan," putus Maureen meletakkan bekas makan yang sisa setengah banyak di troli lalu meneguk air jahe dan masuk ke kamar mandi. Sengaja sekali mengindari suaminya padahal di benak Chester yang keluar dari bibirnya memang keseriusan.
Chester menunggu istrinya yang sedang mandi seraya merapikan bekas makan mereka. Dia mundurkan semuanya dari yang sudah dijamah dan yang masih tertutup plastik putih. Kemungkinan kalau Maureen mengeluh lapar akan dia pesankan mendadak supaya masakannya fresh. Padahal seharusnya Chester mulai membatasi hal-hal yang masuk ke dalam perut sang istri.
Laki-laki walaupun terkesan diam, tapi otaknya bekerja dengan cepat dan serius. Logikanya terpakai bukan hanya perasaan semata.
Bau aroma sabun menguar saat Chester mendongak, ponsel di tangannya tergeletak begitu saja di sofa sedangkan dirinya menghampiri sang istri—kamar mandi—yang dapat salah paham dari Maureen sampai-sampai menyingkir dari pintu.
“Di dalam ada handuknya lagi, ‘kan?” tanya Chester menunjuk kimono mandi yang melekat di tubuh ramping istrinya.
Maureen mengangguk saja karena syok; lebih ke hati-hati karena situasi yang terlihat intim apalagi Chester seperti sengaja mengintimidasi.
"Jangan tidur dulu, ya ...!"
Deg!
Hal yang semakin membuat jantungnya bertalu-talu debarannya kian kencang. Saat pintu kamar mandi ditutup tanpa terkunci membuat bola mata Maureen mendelik. Dia meringis. Tindakan Chester mengapa seolah sedang mengundangnya.
Terlebih yang tidak Maureen sangka, entah apakah dia terlalu lama membuka koper sampai tidak sadar perutnya kegelian ketika seseorang memeluknya dari belakang. Maureen menggigit bibir ingin mengumpat karena terdistraksi akan perkataan Chester sampai otaknya nge-freezer.
"M-mas ... ngapain?" cicit Maureen berusaha melepaskan pelukan Chester.
"Mas pikir kamu kabur alih-alih milih pura-pura tidur," bisik laki-laki itu di sebelah telinga Maureen dengan dagu yang menyangga bahu kecil gadis itu.
Tuhan, jika seperti ini godaannya bagaimana kiranya Maureen bisa lepas? Inginnya menyikut perut sang suami lalu dia lari, tapi yang ada Maureen diam saja dengan tubuh mematung.
"Udah mandi?" Sial! Suaranya terdengar bergetar, apalagi saat terasa rahang Chester bergetar di bahunya.
"Belum," jawab laki-laki itu. "Mas mandinya nanti." Tanpa sadar Maureen mendesah. Pantas saja cepat sekali keluar kamar mandi jadi bukan dia yang terlalu lama melamun. Emang dasarnya Chester yang tidak mandi, tapi mengganti pakaiannya dengan handuk kimono.
Diam-diam Maureen menahan gemuruh di d**a membayangkan kiranya apakah sang suami juga sama seperti dirinya—tanpa memberi penghalang apa pun di dalam sana.
"Kok nyuruh aku mandi dulu ...." Maureen terkejut saat tersadar kalimat apa yang disuarakan oleh bibirnya. Dia malu. Paham apa yang sedang direncanakan oleh Chester. "Itu ...." Maureen gagap. Gagapnya dinikmati Chester. Tubuhnya diangkat dengan entengnya—duduk di pangkuan Chester yang duduk di sofa. Sepertinya Chester serius dengan perkataannya untuk mencoba di sofa.
"Mas kenapa nggak mandi dulu? Maksudnya tadi Mas Ester yang bilang katanya kita kena air terus ... terus pasirnya—IH NGAPAIN MUKANYA MAJU-MAJU!" sentak Maureen bergerak cepat mendorong d**a Chester dengan tubuhnya yang melengkung menjaga jarak.
Maksudnya tuh kalau Chester mandi dulu kan Maureen bisa memastikan tubuhnya layak untuk dilemparkan, bahkan di benak gadis itu memikirkan kapan terkahir kali dia waxing? Maureen tidak mau sampai terlihat celanya, tetapi sepertinya Chester tidak peduli.
Laki-laki itu tak mengindahkan perintah Maureen yang sejujurnya lebih ke—penolakan secara halus—dia berulang kali mendekatkan wajahnya walau Maureen juga membalas dengan memalingkan muka. Gadis itu terlihat sangat gugup dan Chester suka akan hal itu.
"Bentar dulu," tahan Maureen menahan menahan kening Chester dengan tangannya. "Mas mau ngapain, sih?"
Pertanyaan Maureen dibalas senyum miring yang membuat gadis itu bergidik ngeri.
Mampuslah! Dia nggak akan selamat kali ini.