REVISI
Tidur satu kamar, satu ranjang, tetapi sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Pagi pertama di Bali nyatanya sama saja seperti di Jakarta karena Maureen masih betah bungkam. Gadis itu—istrinya terlihat lebih sibuk ketimbang saat di rumah padahal mereka tahu liburan tidak seharusnya mengurus pekerjaan, 'kan?
"Reen, makan dulu. Simpan kerjaan kamu untuk di rumah," tegur Chester mendorong troli pesanannya. Suaminya Maureen kelihatan lebih fresh dengan pakaian santai kaos putih polos dipadukan dengan celana pendek berwarna senada. Berbeda dengan Maureen yang masih mengenakan gaun tidur semalam.
"Duluan aja, aku belum mandi."
Chester mendesah sadar akan penolakan secara halus dari istrinya. Tidak menuruti perintah Maureen karena laki-laki itu merampas iPad istrinya sampai-sampai Maureen mendelik dengan tajam. "Makan dulu!" kata Chester tegas sebelum Maureen memberontak.
Maureen yang pasrah menjadi kesempatan bagi Chester. Terburu menyajikan sarapan langsung dari troli yang bisa difungsikan untuk meja makan. "Mau makan di mana? Balkon?" tanya Maureen skeptis memandang sofa di ujung ruangan yang bentuknya membuat bergidik malu. Saat pertama masuk awalnya dia tidak notice dengan benda tersebut, tetapi ketika memasuki kamar mandi yang ukurannya lebih besar bahkan terdapat benda-benda mainan seks membuatnya paham kalau eyang memesan kamar bulan madu.
Maureen sampai malu memandangi sofa kamasutra. Dia sampai browsing demi melihat kegunaan dan bagaimana cara pakainya. Namun, bukan berarti dia akan memakai benda itu, hanya memastikan apakah nyaman jika digunakan untuk berbaring. Biasanya kalau di rumah eyang Maureen lebih suka berbaring di sofa saat membaca novel online di iPad-nya.
Ketika Chester merebut iPad miliknya pun dia baru saja mencari tahu sofa tersebut di internet. Pipinya merona kalau mengingatnya membuat Chester yang sudah duduk di balkon usai menata makanan pun memandangi istrinya dengan kening berkerut heran.
"Reen, duduk. Kok berdiri di depan pintu gitu? Sarapan!"
"Huh?" Maureen tergagap lalu memaki di dalam hati saat sadar membayangkan hal-hal kotor di depan orangnya langsung. Tak mau membuat Chester semakin cerewet dia pun duduk bersila. Tak apalah makan dulu habis itu mandi karena saat tadi mau mandi rasanya malas terkena air. Dingin juga jadinya ya ... gitu, deh.
Tidak menyangka dengan sarapan pesanan suaminya karena berisi makan sehat semua yang khusus untuk dirinya. Namun, juga Chester makan makanan seperti punyanya membuat Maureen jadi merasa nggak enak hati.
"Mas Ester kalau makan beginian nanti jam sebelas udah lapar lagi. Mendingan pesan nasi," komentar Maureen mengambil mangkuk kecil berisi salad sayur lalu dua buah telur rebus dan segelas jus buah naga ke hadapannya. Dia tidak mungkin makan semua menu yang ada jadi cuma ambil yang dia pikir bisa mengganjal perut. Chester menyajikan hampir semua menu-menu yang dikonsumsi Maureen selama ini tanpa bertanya pada si empunya.
"Kalau nggak habis bisa dimasukan ke kulkas." Hanya jawaban itulah yang akhirnya membuat Maureen mendengus. Bukan karena dia khawatir, hanya saja Maureen ini nggak mau buat suaminya terlihat menyerahkan diri padanya.
"Ya udah terserah kamu aja," balas Maureen cuek.
Chester mendelik. "Kamu?" Namun, tidak ada sahutan kecuali gendikan bahu. Maureen tak mau memperpanjang diam-diam dia juga kelaparan.
"Kayaknya aku mau protes ke eyang kalau sudah sampai rumah karena bikin kita sarapan ngemper di balkon. Mana panas lagi," keluh Maureen menyeka kening yang berkeringat kecil-kecil. "Kalau koordinasi dulu kan bisa milih mau kamar type gimana."
Chester masih mendengar dengan seksama keluhan istrinya sembari menghabiskan sandwich.
"Aku jadi malas di kamar kalau ngeliat benda itu," gumam Maureen.
Alis Chester terangkat naik penuh heran. "Benda apa yang kamu maksud?"
"Itu loh ...!"
Chester masih nuntut jawaban lewat tatapan mata. "Ya apa, Reen?"
"Ck! Terserahlah. Dasar nggak peka," gerutu Maureen meletakkan mangkuk berisi salad lalu minum jus buah naga tanpa menyentuh telur rebus. Istrinya itu beranjak dengan kaki yang menghentak lucu di mata Chester.
Tak mau berpikiran negatif soalan Maureen yang ngambek dengan santainya mengabiskan sarapan seorang diri seraya menikmati pemandangan pantai di depan mata. Laki-laki yang kini sudah kenyang pun beranjak membawa sisa makanan dan sesuai yang dibilang—masuk kulkas. Piring-piring kotornya ditumpuk di atas troli.
Sembari menunggu petugas mengambil trolinya Chester menatap sekeliling kamar. Menurutnya nggak ada yang salah lantas mengapa Maureen kelihatan kesal dan cari-cari letak kesalahan? Sikap Maureen mengidentifikasi tidak nyaman di kamar ini padahal kamarnya luas dan ... tunggu dulu!
Bola mata Chester melebar lalu kepalanya menunduk mengulum senyum. Sepertinya dia mulai paham alasan kekesalan Maureen karena sikap eyang yang sengaja jahil?
***
"Dari tadi kamu diam saja ngosek-ngosek pasir. Ada apa, sih? Mas pikir kamu bakalan malas ke luar kamar karena panas apalagi tadi pagi kamunya sibuk sama iPad. Masih kerja begituan emang?" Terang sekali Chester menyinggung pekerjaan istrinya.
Kepalanya mendongak meninggalkan pasir yang menutupi kaki jenjangnya. Maureen menatap suaminya lalu kembali fokus ngosek-ngosek pasir seakan pertanyaan Chester tak ada artinya sama sekali.
Chester pun tak mau menambah beban pikiran istrinya sampai-sampai nantinya malah bikin badmood. Dia ikutan diam, ikutan mainan pasir yang malah berujung bikin matanya kelilipan saat Maureen tiba-tiba saja mengangkat kakinya yang terkubur serupa memberi tendangan ke depan. Pada dasarnya Chester yang duduk jadi terkena imbas. Sialnya Maureen seperti sengaja karena saat Chester memiringkan kepalanya dan mengusap matanya istrinya itu cuma melirik sebal.
Maureen berdecak, tapi akhirnya kasihan saat tersadar tingkahnya sungguh kekanakan dan menyusahkan orang lain. "Hadap sini coba aku lihat matanya," ujar gadis itu ketus. Niat kesal malah jadi merasa bersalah saat mendapati mata suaminya memerah. Berair juga. Kalau kayak gini sih sudah termasuk kriminal dalam rumah tangga. "Sorry," lanjut Maureen dengan tulus.
Kebetulan keberadaan duduk merasa yang di dekat air pantai jadi Maureen langsung menggandeng suaminya ke laut dan membantunya membasuh mata laki-laki itu. "Merem!"
"Pelan-pelan, ya, Reen. Rasanya ngeganjel," kata Chester memejamkan mata menikmati angin sepoi-sepoi ditambah tiupan embusan napas Maureen. Matanya dijembreng pelan-pelan oleh istrinya.
"Basuh air lagi, Mas."
Menurut laki-laki itu menunduk membiarkan tangan halus istrinya membasuh matanya. "Sudah lebih baik?" tanya Maureen yang dibalas anggukan pelan suaminya.
"Lapar, nggak? Makan yuk!" ajaknya tiba-tiba seakan tidak peduli dengan mata merahnya. Mana semangat sekali dengan bibir tersenyum sangat lebar.
Maureen memutar bola matanya dengan kepala mendongak. "Tadi siapa yang sok ngide pesan makanan banyak banget?"
"Sebenarnya eyang spoiler katanya kamu sering kelaparan dan sengaja nahan diri buat nggak makan sembarangan. Kamu kalau makan juga dikasih waktu makanya Mas sengaja ngide pesan beberapa supaya pas kamu lapar langsung hap."