REVISI
"Ini apa, Eyang?"
Mengantar kepulangan mertuanya sudah, mengantar kepulangan orang tua dan adiknya juga sudah. Dalam sehari ini mereka semua pulang ke habitat masing-masing termasuk Maureen yang sudah packing juga. Tidak ada acara honeymoon karena mereka memutuskan tidak akan pergi ke mana-mana. Namun, ketika Raeyadewi menyodorkan dua tiket seketika firasat Maureen tidak enak, apalagi wajah datar eyang yang membuatnya menunggu harap-harap cemas.
"Kamu bisa baca, 'kan?!" Sarkas eyang meninggalkan sepasangan pengantin baru.
"Eyang!" panggil Maureen menenteng tiket di tangannya, dia mengejar eyang dengan memblok jalan wanita tua itu. "Jelasin ke Maureen," paksa Maureen menjembreng lebar tiket di tangannya.
"Honeymoon. Ada yang salah?" Eyang melemparkan pertanyaan. "Hadiah dari Eyang. Kalian sudah packing juga, 'kan? Padahal rencananya mau dikasih tahu besok, tapi kalian sudah packing jadi ... begitulah."
“Lelucon macam apa lagi, Tuhan!” ratap Maureen mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Dia menunduk meremas dua tiket di tangannya dengan gemuruh kesal di d**a. Jika sudah begini mereka tidak mungkin mangkir karena Maureen jelas paham tabiat eyang yang pantang menyerah.
Hari ini seharusnya Maureen berpamitan pada eyang untuk tinggal di rumah omah, tapi tragedi sialan seolah seperti karma dibayar instan.
“Reen ....” Ucapan Chester menggantung di udara saat ditinggalkan oleh istrinya. Chester mendesah pelan lalu mengusap keningnya yang berkerut. Salah lagi. Jika berpikiran bahwa dia sudah tahu rencana eyang maka salah besar. Chester sama sekali tidak tahu lalu sekarang bagaimana?
"Kita bicarakan sama eyang, Reen," lanjut Chester. Namun, hanya dirinya saja yang mendengar karena dia ditinggalkan Maureen ke kamar.
Sedangkan di kamarnya Maureen mencak-mencak meremas kedua tangan melampiaskan emosi. Saat Chester masuk pun dia langsung menghindar dengan ke balkon. Sialnya Chester tidak mau kehilangan kesempatan alhasil dia membuntuti Maureen tak lupa pula mengunci pintu balkon dan mengantonginya.
Maureen yang melihat kenekatan suaminya mendesah kesal. "Apa?"
"Kita bicarakan ini dengan tenang, okay? Mana tiketnya?" tanya Chester.
"Di kasur." Maureen menjawab ketus seraya bersedekap d**a menantang laki-laki itu.
"Okay lupakan soal itu. Bisa kita bicara dengan tenang? Masuk dulu ke kamar, ya? Mau?" Bukan sekedar bertanya karena Chester langsung menggandeng tangan Maureen seakan gadis itu akan kabur begitu pintu dibuka.
Membawa langkahnya ke sofa Chester tidak duduk, melainkan jongkok di hadapan Maureen yang membuang muka. Sejujurnya posisi Maureen ini serba salah. Dia memusuhi hampir semua orang dengan pernikahan ini, tapi melihat wajah memelas dan pasrahnya Chester tentu saja membuatnya merasa menjadi manusia jahat.
"Mas mau pergi ke sana?" tanya Maureen akhirnya.
"Kita pergi kalau kamu mau, kalau nggak mau ya di rumah saja."
"Gimana caranya? Eyang udah atur semuanya, dari penginapan juga sudah diatur." Maureen membantah.
"Ya sudah kalau gitu kita pergi saja. Cuma pergi ke sana, nggak harus laporan sama eyang kita ngapain aja, 'kan? Anggap saja liburan. Sebelumnya kita juga pernah liburan berdua, 'kan?"
Diingatkan membuat Maureen berdecak tak suka sehingga menyentak tangan Chester yang menggenggamnya di pangkuan. Benar yang dibilang suaminya kalau mereka pernah liburan berdua tentunya sudah diatur oleh omah.
"Waktu itu sama-sama kerja, beda!" bantah Maureen. "Nggak nyangka juga kalau Mas Ester ke situ dijebak sama omah."
"Dan untuk pertama kalinya Mas sadar kalau Maureen bocil kematian yang suka makan permen karet ternyata sudah dewasa di atas panggung. Mas lihat sampai akhir, hebat banget, deh."
Mendapat pujian dari laki-laki yang tidak dia duga berhasil menimbulkan semburat merah di pipi. Walaupun Maureen terkesan acuh sejatinya dia wanita tulen. Yang kayak gini tentu saja merasa tersanjung.
"Jadi kita pergi, nih?" tanya Chester usai bangkit dan duduk di tepi ranjang, tangan laki-laki itu memamerkan tiket di tangannya.
Maureen mengendikkan bahunya acuh sebagai jawaban.
"Besok sore nih berangkatnya, mau beli sesuatu dulu nggak? Maksudnya beli jajan buat di jalan atau kamu butuh cari barang," ralat Chester langsung saat melihat wajah Maureen yang tetap saja datar.
"Aku mau tidur seharian," sahut Maureen beranjak dan berbaring di ranjang tanpa peduli dengan keberadaan suaminya yang juga duduk di tepi ranjang.
***
Waktu yang ditentukan akhirnya tiba. Chester benar-benar mengabulkan keinginan Maureen yang tidur seharian. Kini mereka sudah ada di Bali sesuai tiket pemberian eyang. Eyang seakan tahu bahwa mereka tidak perlu terlalu jauh bepergian karena setelah ini Maureen wajib mendapat pantauan dari Sindy.
Perihal rencana ini juga baru diketahui oleh Maureen saat mereka berpamitan pada eyang. Mengingat hal itu entah mengapa membuatnya kembali jengkel.
"Kamu nggak mandi?" tanya Chester keluar dari kamar mandi mengenakan handuk sebatas pinggang. Rintik air menetes sampai ke dadanya membuat Maureen buru-buru memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Ini juga mau mandi, nungguin yang di dalam selesai," jawab Maureen acuh lalu beranjak, membiarkan novelnya terbuka begitu saja.
Kepala Chester menggeleng-geleng takjub karena sikap Maureen kentara jelas menghindari dirinya.
"Ya, hallo, Bu," sapa Chester menempelkan ponselnya ke daun telinga. "Iya sudah sampai. Kami baru bersih-bersih."
"Syukurlah. Ibu nungguin banget kabar dari kamu. Semua baik-baik saja, 'kan? Maureen bagaimana?" Kegelisahan Afsheena bukan sekadar khawatir semata. Dia tidak mau jika putranya dipandang sebelah mata oleh istrinya sendiri hanya karena dalil perjodohan. Afsheena sempat meminta Chester mempertimbangkan keputusan untuk menikah dengan Maureen tentu bukan tanpa sebab. Dia tidak mau putranya terpaksa karena balas budi.
"Sekarang sudah larut malam, Bu. Kok Ibu bukannya tidur malah nunggu kabar dari Ester? Kami baik-baik saja di sini, apalagi tujuannya kan liburan. Nggak mungkin nggak baik, 'kan?"
"Iya, sih, tapi—"
"Ibu kurang percaya sama Ester?" potong Chester lembut. Dirasa airnya sudah tidak menetes dia pun meletakkan handuk di atas kasur karena dia duduk di sana. Gerakan refleks itu nyatanya diperhatikan Maureen yang baru saja keluar kamar mandi. Gadis itu masih lengkap dengan pakaiannya, hanya wajahnya yang basah.
Tak mengatakan apa pun karena usai membawa seperangkat alat mandi Maureen kembali masuk ke kamar mandi membiarkan Chester sibuk dengan ponselnya.
"Ibu tenang saja. Jangan risaukan ini. Ester baik-baik saja. Maureen itu istri Ester bukan penjahat jadi Ibu jangan berprasangka buruk, ya? Bisa, Bu?"
Sambungan diputus setelah Chester berhasil menyakinkan Afsheena padahal waktu akad ibunya sempat memberi peringatan padanya supaya tidak membuat Maureen bersedih, tapi lihatlah justru saat ini kondisi terbalik.
"Ah handuk!" runtuk Chester mengambil handuk dan dicantolkan di dinding sebelum Maureen kembali keluar dan ngomel. Dia tahu kebiasaan Maureen yang tidak suka menaruh barang asal-asalan.