Bab 7. Pelan-pelan

1013 Kata
REVISI Hari pertama menjadi seorang istri Chester Harold Adiyaksa dirasakan Maureen saat dibangunkan sangat pagi untuk beribadah. Maureen bukan umat yang taat maka dari itu, dia agak kaku saat disodorkan tangan Chester untuk disalimi. Menggunakan mukena pun bisa dihitung hari setiap bulannya. “Masih ngantuk?” Maureen mengangguk lucu di mata Chester. “Tadinya sengaja mumpung bangun pagi sekalian beberes, tapi kayaknya kamu masih ngantuk.” “Beberes ngapain?” tanya Maureen, kepalanya ndelosor ke tepi ranjang dengan setengah badan yang menduduki sajadah. Mata gadis itu pun terpejam erat benar-benar mendefinisikan ngantuk berat. “Setelah menikah kamu tinggal di rumah omah, Reen. Kamu nggak dikasih tahu sama mami?” Sontak mendengar pernyataan suaminya langsung saja Maureen duduk dengan tegak, mengusap kasar belek di matanya yang berair. “Sejak kapan ada pernyataan begitu? Mami juga nggak kasih tahu aku,” ujar Maureen. “Kalau aku nggak mau?” “Mau nggak mau kamu harus ikut ke mana suami pergi. Untuk itu Mas bisa bantu ngomong ke omah untuk sementara waktu kita tinggal di sini sampai kamu siap, tapi ya Mas butuh kepastian kiranya mau sampai kapan?” Sampai kapan? Pertanyaan yang terdengar sangat egois dan penuh paksaan. Bukannya menjawab pertanyaan suaminya Maureen justru beranjak membuka mukane dan menggulungnya asal tanpa dilipat. Dia pergi begitu saja meninggalkan kamar dan Chester yang menghela napas panjang. Maureen ternyata membuktikan bagaimana pernyataannya ketika menerima perjodohan mereka. Walaupun semalam mereka sempat membahas persoalan suami-istri nyatanya pagi hari seperti ini harus dirasakan Chester. Bukankah Chester harus terbiasa dengan mood Maureen yang tidak jelas itu. Ada kemungkinan setelah ini gadis itu kembali ke setelan pabrik. “Sabar, Ester. Pelan-pelan.” Monolog Chester sembari melipat sajadah. Chester harus banyak-banyak bersabar menghadapi Maureen. Pembicaraan yang semalam saja kurang menemui titik akhir lalu pagi ini sudah dengan jelas Chester membuat mood Maureen down. Bahkan saat Chester turut bergabung di meja makan sama sekali tidak mendapat perhatian dari istrinya. Apakah pagi pertama suami-isteri harus begini? Tatapan menyelidik Jeevika turut serta, berbeda dengan Afsheena yang kelihatan khawatir. "Suami kamu nggak diambilin loh, Reen. Gimana, sih? Kebiasaan banget, kalau makan mulai sekarang dahulukan dulu Mas Ester," tegur Jeevika membuat tangan Maureen hendak mengambil ayam mengudara. Dia menatap ibu kandungnya dengan tatapan datar. Maureen tidak membalas Jeevika karena setelahnya tindakannya menjawab kebawelan Jeevika. "Segini cukup?" tanya Maureen tanpa menatap mata Chester. "Tambah lagi," katanya yang dibalas helaan napas kasar. "Lauknya terserah kamu." Karena terserah Maureen makanya sengaja banget memberi sayur sebab dia tahu suaminya tidak suka sayur. Laki-laki itu makan tanpa sayur dari kecil jadi hal ini dijadikan ajang balas dendam. "Kita makan berdua, Reen." Chester mencegah tangan Maureen yang hendak mengambil piring baru untuk dirinya sendiri. Terlihat semua mata di meja makan mengalihkan fokus pada mereka berdua dan Chester tak gentar. "Letakin lagi piringnya!" Dengan senyuman yang tulus dan menenangkan tentu saja membuat semua mata menatapnya teduh. Lain hal dengan Maureen yang mendesah tanpa berniat menyembunyikan di depan semua orang. "Kenapa harus berdua? Kalau barengan nanti Mas nggak kenyang, makanku banyak," katanya halus. Sikap Maureen yang biasanya bar-bar, tapi di depan mertuanya berusaha mengontrol bicaranya. Maureen tahu diri, tak akan memperburuk citra di hadapan kedua mertua dan adik iparnya. Tapi, kendati demikian tentunya Maureen paham tatapan Afsheena. Dia masih ingat menguping semalam. Seakan sengaja sedang menunjukkan di depan keluarga sebab Chester tidak mengindahkan Maureen. Sendokan pertama Chester arahkan pada Maureen dengan sengaja memaksa buka mulut. "Kamu sendiri yang ngisi banyak sayur padahal kamu tahu kalau Mas nggak suka sayur." *** Jika dalam kasus perjodohan pastinya kedua pasangan akan diberi waktu saling mengenal lebih dulu. Namun, tidak berlaku untuk Maureen dan Chester. Mereka berdua sudah kenal dari kecil walaupun sempat berpisah beberapa tahun—hingga Chester memacari Chesa—bagi Maureen semua terkesan dipaksakan. Dia juga ingin menjalani pengenalan normal pada umumnya bukan seperti ini. "Maureen sering-sering ke Semarang, ya. Ibu pasti senang kalau kamu mampir ke rumah. Ajak Mas Ester supaya pulang. Dia kan lama nggak pulang, alasannya sibuk." Maureen tersenyum menanggapi, tidak mengangguk dan tidak menggeleng. Dia menerima pelukan Afsheena untuk terakhir kali sebelum benar-benar masuk. Lambaian tangan mengantar kepergian Kavian, Afsheena, dan Nazeea. Kurang Madhava yang berada di Bali sehingga tidak bisa berkumpul di acara pernikahan. "Ayo masuk," ajak Chester ketika Maureen masih berdiri di teras bersandar di dinding padahal tidak sedang menunggu siapapun. "Omah udah pulang, ibu juga sudah pulang. Kira-kira mami kapan pulangnya?" "HEH ANAK NAKAL!" teriak Jeevika langsung balik badan menghampiri anaknya dan tanpa tanggung-tanggung memukul lengannya yang bersedekap. "Ngomong yang sopan sama orang tua. Malah ngusir." "Tuh, Pi. Mami nyiksa aku melulu. Ada untungnya sekarang sudah menikah jadi Mami nggak bisa nyiksa aku lagi. Suamiku nggak terima loh kalau istrinya dikasari sama ibunya," celoteh Maureen menurunkan tangan dan sedikit melirik Chester yang kelihatan raut terkejutnya. "Dramatis." Sinis Jeevika berniat menggandeng suaminya masuk ke dalam rumah akan tetapi, urung saat Maureen kembali membuka suara. "Aku nurut sama perjodohan ini, apa kali ini kalian bisa nuruti kemauan aku, Mi? Aku mau tinggal sendiri sama Mas Ester. Tanpa campur tangan keluarga." "Tidak bisa!" tolak Sagara tegas. "Kalian harus tinggal bersama omah. Itu perjanjian kita. Setelah menikah kalian lah yang menemani omah. Eyang sudah ada yang menemani, Papi sama Mami juga akan sering-sering ke sini." See? Lihatlah! Maureen tidak akan pernah bisa menuntut apa pun pada kedua orangtuanya. Maureen dituntut nurut. Maka dengan wajah datarnya gadis itu masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan semua orang. Terlanjur kesal. Mulai sekarang dia akan diam karena percuma saja memelas. "Benar-benar egois. Gue dituntut nurut tanpa dimintai persetujuan, lalu sekarang disaat gue minta satu hal mereka langsung nolak. Benar-benar egois," cibir Maureen. "Okay kalau maunya mereka gue akan diam." "Nggak perlu segitunya, Maureen," sambar Chester memasuki kamar. Baju-baju Maureen sudah masuk ke koper padahal belum cukup lama ke kamar, tapi barang-barang sudah berserakan. "Mas sadar kalau Mas juga bagian dari mereka!" Maureen berbalik badan. "Jadi, nggak usah sok menasehati aku. Jujur aja awalnya aku pikir kita bisa satu suara, tapi rupanya aku salah kaprah. Mas ada di pihak mereka." "Maureen—" "Cukup, Mas! Aku nggak mau mendengar pembelaan apa pun lagi. Sudah cukup. Jangan bikin aku makin marah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN