REVISI
“Kakak ngapain ngintip-ngintip?”
“KYAAA! Sialan lo,” umpat Maureen yang langsung membungkam bibirnya saat tersadar bukan hanya Savero saja yang ada di sana, melainkan Chester dan Afsheena pun jadi tahu keberadaan dirinya yang nguping di balik pintu.
Maureen salah tingkah berulang kali mengencangkan cepolan rambutnya padahal sudah kencang. Afsheena yang melihat tingkah Maureen pun meringis turut merasakan rambutnya yang tertarik-tarik.
“Ibu ke kamar dulu deh, ya,” katanya berpamitan lalu mengusap bahu menantunya yang diam salah tingkah. Emang dasarnya ceroboh sekali. Ngapain cuma nguping begitu, padahal si Maureen ini kan penakut jadi nggak heran teriak saat ditegur adiknya.
“Aku juga mau ke dapur ambil minum,” kata Savero mengendikkan bahunya acuh. Dia yang berbuat dia pula yang meninggalkan perbuatan itu sehingga menghasilkan canggung antara dua orang itu.
“Tunggu sebentar!” ujar Chester langsung pergi ke dapur meninggalkan Maureen yang menggerutu garuk-garuk leher.
“Aish. Kok gue bisa setolol ini, sih? Kayak nggak punya otak loh.” Monolog gadis itu dengan bibir mencebik. Bahkan saat Savero yang lebih dulu keluar dapur Maureen hanya melotot pada adiknya yang cengar-cengir membawa botol air minum. Tak lupa ponsel yang digenggam miring.
“Apa hah?!” bentak Maureen tidak tanggung-tanggung.
“Apaan, sih, Kak? Kenapa malah marah-marahnya ke aku?” todong Savero, tapi milih tidak menggubris kakaknya karena dia tahu betul Maureen kalau tantrum susah dihentikan.
“Sudah, yuk!” ajak Chester tidak lama kemudian sepeninggalan Savero. Maureen menatap lama pada mangkuk besar di pelukan suaminya.
“Itu apa?” tanyanya iseng.
“Buat teman nonton, Reen. Buruan tar keburu larut malam malahan ngantuk,” kata Chester menggandeng tangan Maureen tanpa perlu menanyakan akan keperluan sang istri malam-malam turun ke dapur. Padahal kalau mereka membutuhkan sesuatu langsung tekan bel pun sudah didatangi pelayan, tapi pada dasarnya orang-orang gabut mungkin, ya.
“Si abang beneran butuh ke dapur atau cuma jalan-jalan malam ya, Reen?”
Maureen mengangkat bahu acuh.
“Mami pernah bilang ke Mas katanya ajakin abang joging atau sepedaan kalau weekend. Abang emang gitu kah?”
“Dia nggak makan sehari nggak akan sakit, tapi kalau dilarang main game sehari langsung demam,” ujar Maureen tidak begitu tertarik dengan pembahasan ini. “Mami sengaja ngebiarin abang ngerjain hal-hal kecil biar dia gerak. Kayak tadi ke dapur ambil minum padahal kalau di rumah eyang dia nggak akan dipantau mami.”
“Mungkin kebiasaan di Bandung,” komentar Chester tahu-tahu mereka sudah di depan pintu. Chester ini pintar sekali mengalihkan topik dan suasana.
Sedari tadi Maureen enjoy, tapi saat masuk ke kamar dia kembali gugup. Sejujurnya Chester tidak macam-macam, hanya saja buah dari pemikiran Maureen sendiri yang menjadikannya was-was.
"Reen?" Kepala Chester menoleh ke belakang karena tarikan tangannya tidak memberikan efek apa pun pada sang istri, dan begitu dilirik gadis itu menahan tumpuan di depan pintu kamar. "Ngapain bengong di situ? Masuk, Reen."
Maureen hela napas sejenak lalu melangkah. “Pintunya.” Maureen meruntuki bibirnya yang refleks bilang.
“Tutup dulu, jangan lupa dikunci,” perintah Chester melepaskan genggaman tangannya.
“K-kunci?” cicit Maureen. Kenapa terdengar takut di gendang telinganya.
***
Maureen lebih dulu duduk di ranjang karena Chester sedang memilih film-nya. Selimut di bawah kakinya Maureen tarik sampai sebatas perut.
“Sudah nonton ini apa belum? Lagi ramai diperbincangkan,” ujar Chester ikut masuk ke dalam selimut. “Aku tahu karena viral di sosial media,” lanjut laki-laki saat paham dengan tatapan istrinya yang menyelidik.
“Kirain orang kayak Mas Ester cuma tahu grafik saham. Rupanya punya waktu main sosial media juga,” cibir Maureen mulai menikmati film dengan durasi kurang dua jam itu.
“Lebih tepatnya sadar diri. Kerja kan kewajiban, tapi istri kan prioritas. Jadi, sebisa mungkin Mas mengimbangi kamu. Apalagi istrinya masih muda, nggak mau kalah, dong,” goda Chester tersenyum lebar sampai kelihatan deretan gigi putihnya. Ganteng sih, tapi kelihatan janggal.
"Nggak usah ngeliatin Mas sampai bingung gitu, Reen. Cuma bercanda saja tadi, kok. Kita nikmati saja film-nya," kata laki-laki itu meletakkan mangkuk besar berisi pop corn di tengah-tengah mereka. Ada meja kecil lipat jadi nggak perlu takut kotor di kasur.
Selama menonton Maureen tidak banyak komentar sampai selesai. Gadis itu cukup anteng menyimak sembari mengunyah pop corn buatan sang suami. Bahkan dia tidak sadar kalau sedari awal film diputar tatapan mata Chester bukan pada televisi, melainkan memperhatikan visualnya dari samping seraya bertopang dagu.
"Suka film-nya?" tanya Chester mengulurkan air putih lalu mengambil mangkuk yang sudah kosong tidak lupa juga melipat meja kecil.
"Rating dariku tujuh dari sepuluh. Lumayan bagus, tapi kayaknya perlu season dua karena endingnya kurang tuntas. Seperti dibuat menggantung kira-kira kalau mereka sudah jujur soal perasaan masing-masing berujung pacaran nggak, ya? Aku kok jadi penasaran," jelas Maureen menceritakan dengan luwes.
“Jadi kamu percaya kalau hubungan yang awalnya terjalin sebelah pihak akan menemukan titik akhir, Reen?” tanya Chester menunggu dengan serius.
Gelas yang di tangan Maureen dipegang kuat saat sadar arti dari pertanyaan Chester. Maureen belum berani membalas tatapan Chester secara terang-terangan. "Itu karena ... diam-diam ceweknya suka sama cowoknya, Mas. Maka dari itu, mudah bagi mereka untuk membangun komunikasi."
"Awalnya ceweknya denial nggak mau ngaku, tapi cowoknya sabar nunggu sampai ceweknya balas perasaan dia." Chester kembali menembak.
Maureen gugup. Gigit bibir bawahnya tak berani buka suara lagi. Pelan-pelan beringsut ke tepi ranjang guna menyimpan gelas yang sisa setengah airnya. Namun, ketika baru saja merebahkan badannya di ranjang tiba-tiba kepalanya diangkat rendah dan dipindahkan ke lengan kekar sang suami. Entah mengapa Maureen rasa malam ini tidak bisa kabur.
"Aku akan tetap menunggu sampai kita bertemu dengan happy ending seperti di film itu," bisiknya disertai dengan kecupan ringan di tengkuk sang istri.
Geliat tubuh yang mendapat sentuhan serasa sengatan listrik bagi Maureen. Sepertinya benar bahwa malam ini tidak bisa kabur ke mana-mana karena suaminya kelihatan serius dengan perkataannya.
"Kita lagi bahas film yang tadi, Mas. Jangan melenceng dari jalur yang semestinya," ujar Maureen memberanikan diri.
"Mas nunggu banget kamu marah-marah karena kedatangan Chesa di pernikahan kita, tapi sampai kita tidur bareng nggak ada tuh marah-marah. Mas jadi berpikir sepertinya akan egois kalau menahan kamu di sisi Mas. Dan sialnya Mas memilih untuk egois."