REVISI
Hanya pelukan, tapi gugupnya bukan main karena Chester bersikap sok misterius. Maureen berusaha melepaskan diri dari perangkap suaminya akan tetapi, tidak digubris. Semakin dia memberontak maka semakin kencang pula pelukannya.
"Anteng saja kenapa sih, Reen? Katanya kamu masih ngantuk, dikasih waktu tidur kok banyak tingkah. Atau mau ...?"
"Mau apa?!" sergah Maureen secepat kilat dengan mata melotot. Mereka saling berhadapan dengan Maureen yang berbaring menghadap tepat d**a bidang laki-laki itu. Seakan memang sengaja pamer karena Chester menekan kepala istrinya sampai pipinya mempet ke d**a.
“Mas ih!” pekik Maureen. “Aku nggak suka ya diginiin. Kalau Mas mau tidur ya sudah tidur saja. Aku masih mau baca novel jadi jangan ganggu urusanku.” Gadis itu melanjutkan perkataannya dengan gerakan ribut berusaha membebaskan diri dari Chester akan tetapi, tanpa melakukan gerakan tambahan laki-laki itu berhasil mengubah posisi menjadi di atas Maureen.
Tubuh Maureen membeku. Bibirnya terbungkam dengan meneguk saliva dengan susah payah. Jujur jika dilihat dari jarak sedekat ini memang si Chester ganteng banget. Maureen akui itu.
“Heh!” gertak Maureen saat tiba-tiba keningnya disentil Chester.
“Kamu ini hilang fokus banget kalau di bawah Mas ya, Reen?” godanya.
“Idih apaan banget coba,” kilah Maureen mendorong tubuh Chester yang berada di atasnya. Herannya Chester loyo seperti sengaja mengalah dari sang istri. Tertidur terlentang dengan menggunakan kedua lengan sebagai bantalan kepalanya sendiri.
“Buat yang tadi jujur Mas nggak tahu kalau Chesa datang. Nggak tahu juga kalau dia memang berencana ketemu aku di rumah omah.”
“Padahal omah nggak suka sama dia, ‘kan?” Terang Maureen menyimpulkan. Dia masih ingat dengan jelas alasan kenapa Chester putus hubungan dengan Chesa karena omah yang meminta.
“Kamu gimana?” Kali ini kepala Chester menoleh ke samping tepat menatap istrinya yang berbaring terlentang menatap langit-langit atap.
“Aku?” Jari telunjuknya mengarah pada dadanya sendiri. “Kenapa emang?”
“Kamu istri aku.”
Diam mendengar dengan mulut terbungkam dan pipi mengembung malu diakui sebagai istri padahal mereka memang sudah sah. Sialnya Maureen geli soalnya sudah terlanjur menganggap Chester kakak sepupunya dan sekarang justru menjadi suaminya.
“Please aku malu banget. Jangan gitu ….”
“Harus dibiasakan karena sekarang kita sudah menikah. Kamu juga harus terbiasa menerima sentuhan dari Mas. Mas ini suami kamu, Maureen. Sampai sini paham, nggak?”
“Paham banget,” jawab Maureen di dalam hati. Memperlihatkan anggukan kepala congkak lalu hening.
“Sekarang kita mau ngapain?” tanya Chester karena terlihat sekali kalau Maureen enggan membuka suara. Chester tidak bisa pasif seperti Maureen. Jika mereka berdua sama-sama pasif sampai kapanpun tidak ada kenaikan level di hubungan mereka. “Kamu nggak mau tanya-tanya soal Chesa?”
“Nggak penting buat aku,” cetus Maureen. “Bukan urusanku. Seharusnya Mas nggak sih yang risau karena dengan kehadiran Chesa bisa aja bikin aku mengurungkan niat buat buka hati.”
Deg!
“Aku nggak peduli sama Chesa. Saat ini yang jadi tujuanku menikah ya karena harus bisa hamil, ‘kan? Nantinya kalau aku hamil terus Mas Ester mau kembali—”
Cup. “Mau hamil, ‘kan? Ayo!”
Memang sialan Chester ini. Dia tidak tahu efek dari tindakannya barusan membuat otak Maureen ngelag sejenak. Mata gadis itu mengerjap pelan lalu tidak lama kemudian bibirnya memerah. Maureen malu alih-alih marah sehingga di kesempatan ini dia gunakan untuk kabur ke kamar mandi.
Chester sendiri tak mencegah, justru terkekeh melihat respon tubuh Maureen. Dia tahu jawaban-jawaban Maureen yang terkesan acuh sebenarnya gadis itu ingin diperjuangkan dan diyakinkan. Oh lebih dari itu dia ingin bukti dari keseriusannya.
Walaupun singgungan bahasan tujuan pernikahan keduanya nyatanya Chester tidak memaksa harus malam ini. Dia menghormati Maureen jadi tak akan memaksa. Maka dari itu, salah jika Maureen gugup mondar-mandir di dalam kamar mandi.
“Bakalan malam ini banget? Duh gue belum siap, takut. Gimana, dong?! Kalau alasan datang bulan bisa nggak, sih?” gumam Maureen menggigit kuku-kuku yang terpoles nail art.
Ditengah kebingungannya pintu kamar mandi diketuk yang membuat Maureen sampai beringsut ke pojok ruangan. "Kenapa, Mas? Mau pakai kamar mandinya?" tanya Maureen bernada keras takutnya Chester tidak dengar.
"Kamu ngapain di kamar mandi lama sekali? Mas mau ke dapur ambil cemilan," katanya dengan tangan yang tidak berhenti mengetuk pintu kamar mandi. "Mas ke depan dulu, nanti pas Mas masuk kamunya sudah keluar dari kamar mandi, ya!"
Itu bukan kalimat ancaman, tapi perintah dari Chester membuat Maureen mendesah semakin menjadi-jadi gugupnya ini. Malam pertama nonton film? Mau nonton Naruto atau Spiderman?
Bahkan Maureen tak memiliki stok list film yang biasa ditonton. Paling poll menonton drama Korea itu pun demi kebutuhan riset. Maureen kurang suka kalau nonton, lebih suka membaca novel.
"Ya sudahlah."
***
“Kok krudukan di sini, Mas?” tanya Afsheena saat mendapati putranya ada di dapur.
Kepala Chester menoleh ke belakang lalu mengangguk menjawab pertanyaan sang ibu. “Lapar, Bu,” jawab laki-laki itu.
“Mau dibuatin nasi goreng?” tanya Afsheena sangsi soalnya dia yakin sekali Chester sudah makan. Disaat seharusnya dia ketar-ketir didatangi mantan, tapi yang ada sibuk makan. Padahal orang-orang di situ kehilangan nafsu makan karena memikirkan nasib Chester.
“Ibu ngapain di dapur? Yang lain sudah tidur, ‘kan? Jangan-jangan Ibu yang butuh sesuatu, nih.” Candaan Chester. Dia lagi bikin pop corn sendiri. Bahan-bahannya sudah ada tinggal dibikin saja.
Mendengarnya Afsheena menghela napas, dia yakin sekali kecerdasan sang putra mampu menebak tujuannya ke dapur. “Ibu nggak sengaja lihat kamu jalan ke dapur.”
“Ada sesuatu yang mengganjal, Bu?” Chester tinggalkan spatula dan mendekat pada sang ibu. Dia urai tangan ibunya yang saling bertaut lalu menggenggamnya dan mencium punggung tangannya takzim. “Ibu khawatir soal apa?”
"Kamu terlalu santai, Mas. Ibu bahkan nggak bisa tidur karena memikirkan kamu dan Maureen. Bagaimanapun Maureen menantu Ibu sekarang, apa kalian baik-baik saja, Nak?"
Chester mengangguk saja, memberi senyum tipis sebelum menjawab. "Kami baik-baik saja. Ibu jangan khawatir karena Maureen tidak seperti yang Ibu takutkan. Komunikasi kami baik, Bu," jelasnya.
"Tapi ...."
"Bu," cegah Chester. "Walaupun keluarga yang menjodohkan kita berdua, tapi di sini Ester suka sama Maureen. Ester mau Maureen, Bu. Alasan ini seharusnya cukup menyakinkan Ibu kalau kami tidak terpaksa. Maureen hanya butuh waktu."