Bab 4. Reuni Mantan di Pernikahan

1003 Kata
REVISI Situasi mencengkram berhasil disudahi saat mbah kung berdeham membuat semua orang menahan napas saat pria tua itu memperhatikan mereka yang ada di depannya satu per satu. “Nikmati hidangannya,” kata pria itu berlalu menuju ke meja makan umum. Meja makan utama yang muat diisi puluhan orang. Dengan background keluarga besar, satu meja cukup huni. Semua orang pun membuntuti mbah kung sampai ke meja makan, jangan harap ada meja prasmanan karena makanan hanya terhidang di meja makan. Koki pilihan Jeevika yang tentunya tak diragukan lagi olahannya. Jika semua keluarga bergegas ke meja makan maka berbeda dengan Maureen dan Chester yang saling pandang. Alasannya tentu karena si bocah yang tidak melepaskan pelukannya di kaki Chester. Di mana ibunya? Entah sejak kapan sudah tidak ada di dekat sang anak. Saat Maureen menoleh kanan dan kiri justru didapati perempuan itu sudah duduk di sebelah Afsheena. Mereka kelihatan tidak canggung. Maureen tersenyum sinis memandangnya. "Reuni bareng mantan, ya, Mas?" ledeknya lantas meninggalkan sang suami. Entah apa yang dilakukan Chester dan anak itu karena tidak lama kemudian Chester mendatangi meja makan seraya menggandeng anak itu. "Aduh sorry Mas Easton pasti ngerepotin kamu," katanya bergegas beranjak dan meraih anaknya, entah sebuah kesengajaan atau tidak karena di mata Maureen perempuan itu sengaja menyentuh suaminya. Maureen memalingkan muka dengan sengaja seolah tidak melihat interaksi kedua orang itu, Maureen pun tak perlu repot-repot menegur karena Chester langsung menjaga jarak begitu sepasang mata tajam menatapnya penuh ancaman. Arsenio terlihat sangat jelas ingin menyudahi, Maureen bisa lihat itu bahkan omah pun beberapa kali membunyikan sendok ke piring. Maureen meringis ngeri memperhatikan semua orang yang diam—diam-diam mengusir tamu tidak diundang. Tinggal bagaimana si tamu itu yang sadar diri. “Duduk, Ester. Di sebelah istrimu,” kata omah yang sudah berusaha diam sedari awal, tapi pada akhirnya buka suara juga. “Maaf semuanya.” Bukan Chester yang bicara justru perempuan yang memangku Easton. “Aku ambilkan kursi untuk Easton—” “Banyak pelayan di sini, Ester,” potong eyang yang juga kelihatan jengah dengan drama baru kali ini. Si pemilik rumah itu memanggil pelayan hanya dengan lambaian tangan. “Ajak anak itu makan di tempat lain, bawa saja ke kolam ikan.” “Nggih, Eyang,” jawab sang pelayan membungkuk sopan mengambil alih anak yang bernama Easton. Untungnya anak itu terlihat anteng saat dipisahkan dengan ibunya. Kini di depan semua orang, Tante, om, bulik, pakde yang merupakan orang-orang asing—keluarga yang jarang bertemu—Chester serasa dihakimi padahal dia tidak terlibat apa pun. Meskipun orang-orang tidak ada yang berani bersuara, tapi Chester yakin dengan pandangan mencemooh dan ingin tahu semua orang. Sialnya dia pun tidak tahu harus menjelaskan dari mana ditambah istrinya terlihat tidak peduli. Istri ... Chester mengulum senyumnya diam-diam mengagumi status barunya itu. "Maaf kalau kedatanganku bikin suasana jadi tidak kondusif. Mbah, Omah, Tante, Om ... Chesa minta maaf. Easton tiba-tiba pengin ketemu sama mas Ester, aku nggak cukup berani melarang karena—" "Kamu ibunya, 'kan? Seharusnya kamu bisa kendalikan anak itu," potong Jeevika dengan wajah datarnya. Awalnya wanita itu enggan ikut campur karena dirasa bukan tamunya, tapi saat melihat interaksi Chesa dan Afsheena mendadak Jeevika tidak bisa menahan diri. Rasa kesalnya tidak dibuat-buat. Maureen saja yang melihat wajah sepet ibunya bergidik. Biasanya yang seperti ini berujung berdebat dan tidak mau kalah. Maureen paham sekali dengan tindak-tanduk ibu kandungnya. "Saya minta maaf," kata Chesa sekali lagi dengan kepala menunduk. Chester melihatnya tak tega, tidak seharusnya Chesa dipermalukan saat dia sendiri sudah meminta maaf berulang kali. Seharusnya orang-orang ini tidak menghakimi. Namun, untuk membela Chester tak kuasa karena keberadaan Sagara yang tidak kalah bengis seperti istrinya—Jeevika. Pada akhirnya Chester diam saja bahkan ketika pada akhirnya Chesa berpamitan dan mengucapkan selamat kepada Chester. Hanya pada Chester padahal disaat itu Maureen juga ada. "Senangnya yang baru ketemu mantan," ledek Maureen seperti anak kecil. "Jangan mulai, Reen. Mas baru masuk kamar loh ini," ujar laki-laki itu melepaskan dasi yang menyekik lehernya. Jasnya diletakkan asal di sofa kamar lalu laki-laki itu bergerak menghampiri Maureen yang sedang membaca novel. "Kamu sengaja?" Kali ini Chester menuding istrinya. Jika boleh jujur bahwa dirinya terpancing dengan tingkah Maureen. Walaupun gadis itu duduk selonjoran di ranjang dan sibuk membaca tiap-tiap halaman novel, tapi siapa sangka sikap berani Maureen membuat Chester terpaku. Gadis itu dengan berani menggunakan pakaian kurang bahan. Suami-isteri sering menyebut pakaian dinas. Namun, bagi Maureen tergolong baju tidur bahkan baju sehari-hari karena menurutnya nyaman dipakai. "Sengaja apa?" Kepala Maureen mendongak menuntut jawaban. "Ini?" tanyanya menyentuh tali di bahunya lantas terkekeh sarkas. "Nggak usah terlalu percaya diri, deh, Mas. Aku pakai ini untuk diriku sendiri, bukan buat muasin kamu. Lagi pula aku biasa pakai lingerie, kok," lanjut gadis itu menjelaskan yang berharap tidak membuat Chester salah paham. Malam ini adalah malam pengantin mereka, tapi Maureen tak minat. Dia sering baca cerita romance yang dijodohkan seperti dirinya lalu berakhir pasangan suami-isteri pisah kamar. Sialnya kalau Maureen memberi ide seperti itu yang ada dia yang dicoret dari hak waris. Maka dari itu Maureen tidak banyak request, gadis itu sudah sangat pasrah dengan keadaan ini. "Waktu belum menikah mungkin kamu aman-aman saja, Reen. Tapi, saat ini sudah menikah dan setahu Mas kalau seorang istri memakai baju kurang bahan tandanya sedang menyenangkan suami. Suami memberi apresiasi ke istri karena—" "Cerita dari teman-temanku yang penulis kalau menikah dijodohkan biasanya pisah ranjang, kita nggak gitu karena aku nggak mau bikin heboh rumah eyang. Gimana kalau sebagai gantinya kita bikin perjanjian pernikahan saja, Mas," potong Maureen menutup cepat novelnya sampai berbunyi. Pandangan mata gadis itu terlihat penuh tuntutan ke suaminya. "Sayangnya Mas tidak tertarik," bantah laki-laki itu, badannya condong ke depan membuat bola mata Maureen melotot kaget. Punggungnya yang menyentuh kepala ranjang diam-diam mengumpat kecil. "Tidak lupa dengan tujuan pernikahan, hem?" Jantung Maureen berdetak mendengar bisikan di depan wajahnya. Sekat jarak keduanya sangat dekat bahkan Maureen bisa membau aroma mulut sang suami yang beraroma mint. Sial karena saat tangannya terulur ke depan mendorong d**a bidangnya justru gadis itu tersentak dan berniat menarik tangan akan tetapi, pergerakan Maureen terbaca oleh Chester.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN