REVISI
Maureen bergeming setelah mendengar semua cerita Chester yang berisi pengaduan. Sejujurnya dia merasa kasihan kepada sepupunya, umurnya sudah seharusnya menikah ditambah lagi Chester terlihat tertekan karena dirinya. Ya, Maureen merasa dia turut andil dalam masalah ini.
“Reen, kok malah melamun?” panggil Chester mengusap kening Maureen yang berkerut.
“Huh?” Maureen merespon dengan kerjapan mata lalu menoleh ke samping. Sontak dia terkejut karena Chester sedang memperhatikannya dengan tatapan teduh. “Mas …,” panggil Maureen lirih, serupa bisikan.
Chester diam menunggu kelanjutan perkataan Maureen dengan tatapan yang sangat fokus.
“Mas suka sama Maureen?” Kepala Chester mengangguk yakin. “Kok bisa?” tanya gadis itu menuntut.
“Kamu cantik,” jawab Chester dengan santainya membuat Maureen kaget. Apakah cantik bisa menjadi tolak ukur? Begitulah pikir Maureen. Namun, kelanjutan perkataan Chester membuatnya meremang. “Banyak yang cantik di luaran sana, tapi kalau Maureen cantiknya beda. Mas juga nggak tahu, rasanya kalau deket-deket kamu susah nahan kendali.”
Kening Maureen berkerut lagi dengan mata memicing tajam. “Mas mikir jorok soal Maureen?” tanyanya tidak suka.
“Maaf.” Laki-laki itu menjawab tanpa ragu. “Tapi, Mas janji nggak akan melebihi itu, Reen. Makanya Mas langsung menyetujui usulan Sindy.”
Rasanya Maureen ingin marah, tapi alih-alih marah dia justru membuang muka lantaran malu dengan jawaban Chester yang tidak ada keraguan. Kenapa Chester merasa percaya diri sekali, apakah dia tidak takut jika setelah mendengar pengakuannya justru membuat gadis itu semakin menolaknya.
“Sejauh ini alasan Maureen menolak Mas karena apa? Mungkin kalau kamu bilang ke Mas kita bisa benahi sama-sama.”
Ditanya seperti itu semakin membuat Maureen pusing. Chester tak ada cela di matanya, hanya saja penolakan Maureen karena menganggap Chester seperti kakak pada umumnya, bukan laki-laki yang menjadi pasangannya. Menurut Maureen Chester bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari dirinya. Tapi, demi perjodohan dan alasan memperkuat pernikahan membuat laki-laki itu sampai memohon merendahkan harga diri.
“Bukankah sangat jahat kalau aku nolak Mas padahal alasan Mas juga demi aku. Tapi, aku nggak bisa menjanjikan seperti keinginan Mas Ester.”
“Perasaan Mas biar jadi urusan Mas, Reen. Mas cukup diberi kesempatan, akan Mas buktikan kalau Mas bisa dapatkan kepercayaan kamu. Mas yakin suatu saat nanti seiring berjalannya waktu perasaan Mas akan berbalas,” ujar Chester tegas. “Jadi?”
Bibir Maureen mengatup rapat, menghela napas panjang gadis itu menatap Chester mencari keraguan di matanya. Namun, semakin dicari justru semakin kecewa karena laki-laki itu terlihat sangat yakin. Maka, dengan anggukan singkat Maureen berikan jawaban atas lamaran Chester kali ini.
***
"SAH!" Suara menggema di kediaman Adiyaksa. Mata yang terpejam disertai dengan embusan napas lega. Maureen lega karena setelah ini sudah tidak dipaksa-paksa lagi, tapi sebagai gantinya dia harus mulai memikirkan kehidupan setelah menikah. Rasanya Maureen ingin menangis, menangisi hidupnya setelah menjadi seorang istri.
Proses pernikahan dilakukan di rumah utama Adiyaksa—kediaman Raeyadewi—selaku tetua yang merupakan neneknya Maureen. Jeevika langsung mengatur segalanya setelah mendapat kabar dari Chester.
Persiapan yang tergolong singkat, Maureen tentu tidak heran jika persiapan pernikahan dilakukan sangat cepat mengingat semua orang sudah menunggu momen ini.
"Silakan pakaikan cincinnya," kata sang penghulu menyentak lamunan Maureen. Gadis itu mendongak menatap penghulu yang sedang menandatangani beberapa surat lalu tangannya pun terulur ke hadapan Chester.
"Masih ngantuk, ya?" tanya Chester setelah berhasil menyematkan cincin di jari manis istrinya.
Maureen mengangguk, gantian dia yang menyematkan cincin di jari Chester. "Semalam nggak bisa tidur, tadi pagi dibangunin cepet-cepet," jawab Maureen.
Pasangan suami-isteri baru itu bicara dengan sangat lirih karena di samping mereka sosok Jeevika siap mencabik-cabik kalau Maureen berencana membuat kekacauan.
"Nanti setelah ini kita tidur. Mas juga ngantuk karena dari semalam rumah ramai." Kalimat penutup Chester ketika mereka diarahkan berdiri dan berfoto dengan buku nikah.
Tidak hanya itu saja, saat Maureen pikir sudah bebas nyatanya Jeevika menggandeng tangannya dan tangan Chester ke pelaminan yang dipenuhi karangan bunga.
Maureen mendengus karena ibunya sempat-sempatnya membuat seperti ini padahal Maureen menginginkan pernikahan sederhana, tapi sederhana versi Maureen dan Jeevika tentu berbeda. Sang ibu bahkan menyewa fotografer untuk mengabadikan momen mereka.
"Senyum dong, Kak. Yang luwes gitu loh. Mas Ester juga jangan ragu-ragu pegangnya!" kritik Jeevika gemas sendiri membenarkan pelukan Chester di pinggang Maureen. "Nggak usah malu-malu. Udah sah juga," dumelnya.
“Mi—”
“Apa? Nurut!” hardik Jeevika memberi tatapan peringatan.
Maureen kicep. Kalau tidak disaksikan sama mertuanya, mungkin dia akan lari terbirit-b***t ke kamar daripada nurut dengan arahan fotografer.
Beberapa foto sudah diambil, Maureen lega. Setelah prosesi foto bersama keluarga tibalah saatnya sungkeman, mereka tidak menggunakan adat Jawa lengkap, hanya diambil beberapa yang penting. Salah satunya sungkeman. Maureen rasa sungkeman menjadi tradisi yang emosional. Belum juga dilakukan dianya sudah mau nangis saat bahunya diusap Sagara.
Maureen setengah jongkok di hadapan kedua orangtuanya. Matanya berkaca-kaca saat menatap mata Jeevika. “Mi,” panggil gadis itu.
Jeevika yang biasanya banyak omong pun cuma bisa membersit hidung supaya ingusnya tidak meler. Wanita itu masih tidak percaya kalau putrinya yang manja sudah menjadi seorang istri saat ini.
“Jangan ngomong apa-apa, deh, Kak. Mami jadi sedih,” kata Jeevika yang ditertawakan Sagara.
Benar yang dibilang Jeevika. Maureen pun jadi berdiri dan menghamburkan diri memeluk kedua orangtuanya. Apa itu sungkeman? Maureen dan Jeevika justru berlomba-lomba menangis paling keras sampai semua tamu undangan keluarganya menjadikan mereka atensi.
“Yang kayak gitu jangan dibikin nangis, ya, Mas. Kalau Ibu sampai tahu kamu bikin Maureen nangis, awas saja,” ancam Afsheena turut memperhatikan.
“Nggak janji, tapi diusahakan, Bu,” jawab Chester tanpa mengalihkan tatapannya dari sang istri. Langkah kaki laki-laki itu mendekat hendak menenangkan Maureen akan tetapi, teriakan seseorang membuatnya menghentikan langkah.
“Papa!” seru anak kecil yang berlari memeluk kaki Chester. Bukan hanya Chester saja yang membeku, hampir semua orang termasuk Maureen yang langsung menghentikan tangisannya.
Sialnya saat Chester sedang memproses keadaan saat ini tiba-tiba sosok lain menjulang di hadapannya. Senyum khas perempuan itu membuat Chester terdiam.
"Aku ke rumah, tapi kata satpam kalian ada di sini jadi kita ke sini. Easton ingin ketemu kamu," ujar orang itu. "Aku nggak tahu kalau ternyata di sini sedang ada pernikahan."
Suasana menjadi chaos, bisik-bisik keluarga besar masuk ke telinga Maureen. Dia bingung dengan kehadiran dua orang asing di acaranya, jika kerabat pastinya diundang, tapi melihat Chester yang diam saja dengan ekspresi tak kalah kaget semakin membuat Maureen curiga.