REVISI
Sang penghulu menatap Sagara dengan bingung karena pria itu yang memanggilnya untuk menikahkan putri mereka. “Sepertinya pernikahan ini tidak bisa terlaksana, Pak Sagara. Putri Anda benar. Pernikahan tidak sah, dianggap pemaksaan dan bisa dikenai pasal. Saya pamit undur diri. Assalamualaikum ….”
Semua mendesah berat. Hanya Maureen yang tersenyum lega. Baginya Hak Asasi Manusia harus ditegakkan. Saat tatapannya mengarah pada Chester tak ada emosi berlebih pada laki-laki itu. Jadi, Chester marah atau senang? Entahlah karena Maureen tak bisa menebaknya.
“Kenapa?” Celetukan Maureen saat semua orang terdiam. Tak ada yang membuka suara. Hanya embusan napas dan detak jarum jam yang terus berputar. “Ada yang salah? Atau ada yang mau menjelaskan sesuatu ke Maureen?”
Tidak ada yang menjawab, tetapi perlahan mbah kung—Arsenio Adiyaksa—dan papinya—Sagara Adiyaksa—keluar dari ruang rawatnya.
“Kamu keterlaluan, Maureen. Mami nggak percaya sekarang kamu susah diatur. Kalau sikapmu tidak bisa berubah Mami rasa menarikmu pulang ke Bandung keputusan yang paling tepat,” ujar Jeevika sarat akan kekecewaan. Namun, tidak dipedulikan oleh Maureen.
“Kamu mengecewakan semua orang, Reen,” ujar Chester saat sosok Jeevika ikutan keluar setelah mengultimatum putrinya. Diikuti juga Inez dan Sindy yang sebelumnya disuruh jadi saksi. Tersisa dua orang yang seharusnya menikah saat ini, tapi batal karena mempelai wanita menolak terang-terangan.
“Kenapa kamu nolak Mas sampai segitunya, Reen? Kita sudah kenal dari kecil. Mudah bagi kita untuk saling jatuh cinta.”
“Aku nggak bisa masak,” kata Maureen tiba-tiba. Fokusnya menatap langit-langit kamar.
“Mas bisa pekerjakan pelayan untuk kamu. Mas butuh istri bukan pelayan.”
“Aku belum siap menikah. Kalau ternyata Mas Ester patriarki gimana? Aku nggak mau menghabiskan seumur hidup sama laki-laki begitu. Aku nggak bisa melayani orang lain karena semasa hidupku dilayani sama nanny. Tidak menutup kemungkinan setelah menikah nanti Mas semaunya sendiri, ngelarang aku ini-itu. Apalagi kalau sampai terucap hal-hal yang nyakitin karena menikahi Maureen nggak sesuai ekspektasi Mas, pasti aku makin nyesel menikah."
Rahangnya mengeras mendengar perkataan Maureen, andai tak ingat dengan siapa dia berkomunikasi. Maureen adalah gadis yang unik dengan seribu macam cara untuk melumpuhkan lawannya. “Mas tersinggung sama tuduhan kamu, Maureen. Mas memang butuh dilayani, tapi bukan dilayani seperti kamu yang dilayani sama nanny,” jelas laki-laki itu dengan sabar. “You know—”
“Aku nggak mau tahu,” potong Maureen cepat memunggungi Chester. “Aku ngantuk, mau tidur. Silakan keluar, Mas Ester.”
Pengusiran Maureen yang langsung memunggungi Chester sama sekali tidak dipedulikan oleh laki-laki itu. Dia tidak beranjak dari kursinya, malah beranjak naik ke brankar pasien lalu menelusup ke selimut tebalnya.
“Mas Ester ngapain malah naik, sih?!” Maureen naik pitam hendak balik badan, tapi ditahan oleh Chester berupa pelukan—mengunci tubuh mungil sepupunya.
“Mas mau menjelaskan supaya kamu tidak salah paham, Maureen. Dalam hubungan rumah tangga ada dua kepala. Suami dan istri. Mas butuh istri untuk bersandar pun sebaliknya. Mas mau menikah sama kamu bukan cuma menolong kamu, tapi kamu juga akan menolong Mas untuk … dilayani. Mas laki-laki dewasa dan sepertinya kamu paham apa maksudku. Kamu kan sudah dewasa pasti paham, Reen. Apalagi pernikahan ini terjadi yang lebih utama keturunan, 'kan?”
Iya! Maureen paham. Berusaha menarik diri dengan pipi yang bersemu merah. Sialan laki-laki yang mengaku ingin menikahinya ternyata memiliki pemikiran yang tidak jauh beda seperti laki-laki pada umumnya.
“S-semacam simbiosis mutualisme, Mas,” cicit Maureen meminta jawaban pasti.
“Ya semacam itu. Tapi Mas menuntut cinta di dalamnya. Kita suami dan istri, ingat itu, Maureen.”
Maureen kurang puas dengan jawaban Chester. Setelah menghela napas berkali-kali supaya lebih rileks dia pun bertanya, "Kenapa Mas Ester mau-mau saja kita dinikahin? Aku rasa Mas Ester pasti punya kekasih secara di Semarang kan ceweknya cantik-cantik. Jujur aja deh pasti Mas Ester terpaksa, 'kan?"
"Kamu kali yang terpaksa. Mas sih tidak, ya. Mas percaya mbah kung pasti kasih yang terbaik untuk kita."
"Jawaban aman," batin Maureen.
"Aku serius loh, Mas. Kalau Mas Ester punya gandengan kenapa nggak coba bawa dan ketemu sama mbah kung dan omah putri? Mereka pasti nggak akan mungkin Setega itu. Mas Ester kan kesayangan mereka," kata Maureen masih mencoba mengorek informasi.
Dia merasakan helaan napas berat di belakangnya juga pelukan hangat dari Chester mengendur. Laki-laki itu berbaring terlentang dengan kedua tangan sebagai bantalan. Maureen merasa kehilangan kehangatan itu. Sesaat dia menggeleng berusaha mengusir pikiran anehnya. Lancang sekali!
"Mas," panggil Maureen memberanikan berbalik badan. "Aku salah ngomong, ya?" tanyanya tak enak. Walaupun hobi mematahkan lawan bicaranya tetap saja rasa tidak enakan Maureen mendarah daging kecuali kalau ke mami dan papinya. Sudah kebal. Nggak ada lagi rasa segan karena dua orang itu ngeselin banget.
Okay, skip bahas mami papi karena sekarang Maureen sungguh penasaran dengan jawaban Chester. Dia merasakan Chester banyak rahasia.
"Aku pernah ajak seseorang, teman semasa kuliah dulu. Orangnya baik, ramah, dan sopan. Mbah kung dan omah putri memang menyambut dengan sangat baik, tapi setelah dia pulang aku dimarahin habis-habisan. Disuruh menjauh, disuruh jaga hati karena aku cuma boleh menikah dengan Maureen Adiyaksa. Pada saat itu aku mikir kamu kan bocil kematian yang di mana-mana selalu cari permen karet masa mbah kung maksa aku suka kamu, tapi setelah kamu beranjak dewasa omah putri gencar kirim foto-foto kamu waktu Mas di Semarang. Nggak tahu kenapa aku jadi suka kamu, Reen." Kepala Chester menoleh ke samping membuat Maureen terkesiap kaget.
"H-hah?"
Chester abaikan kagetnya Maureen lalu dia melanjutkan. "Mbah kung nggak maksa kalau kamunya nggak mau sama aku, tapi omah putri ngotot sampai bilang katanya kalau aku nekat pacaran atau bahkan nikah sama cewek incaranku nantinya dia nggak akan dapat tempat Adiyaksa. Omah putri bakalan benci istri pilihanku beserta anak-anakku kelak. Berat banget, Reen. Aku nggak akan mengorbankan masa depan cewek yang nggak berdosa. Kami saling cinta, tapi omah putri tidak memberi restu ya sama saja, 'kan?"
Tergagap sudah Maureen. Ternyata omah putri punya sisi obsesi padahal di mata Maureen omah putri itu lemah-lembut dan terlihat bukan seperti pendendam atau sebangsanya.
"Kok bisa, Mas?"
Chester mengendikkan bahunya dengan acuh lalu merubah posisi miring dan kembali memeluk pinggang gadis itu membuat Maureen tersentak. "Makanya mau ya nikah sama Mas Ester. Kasihan aku udah tua loh, Reen."