Alfa tertidur pulas di ranjangnya yang berada di atas saat Hani membangunkannya pagi itu. Hani menepuk-nepuk tangan Alfa.
"Alfa, bangun, sudah shubuh," kata Hani.
Alfa bangun sambil mengucek-ngucek matanya, belum sepenuhnya sadar dari kantuknya. Dia kemudian berupaya turun dari tempat tidurnya dengan jalan menuruni tangga, tapi karena masih mengantuk dia terpeleset dan jatuh dari atas tempat tidur untungnya dengan sigap Hani menangkapnya. Alfa langsung terbangun sepenuhnya begitu dia jatuh. Alfa memandang Hani yang kini menggendongnya. Mata keduanya saling bertatapan lalu Hani menurunkan Alfa. Alfa memandang Hani dengan penuh kekaguman.
"Wah, makasih ya, aku hampir jatuh, kamu kuat banget bisa menangkapku, padahal aku kan berat." Alfa mengacungkan jempolnya.
"Sama sekali tidak berat," kata Hani sambil tersenyum.
"Hm ... kamu benar-benar kuat!"
Alfa kemudian meninggalkan Hani menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Lama kemudian dia kembali, ke kamar dan Hani sedang duduk di meja belajar sambil membaca buku.
"Kamu sudah sholat?" tegur Alfa.
"Sudah," jawab Hani sambil tersenyum. Sebisa mungkin Hani selalu sholat sebelum Alfa bangun, untung Alfa selalu bangun siang dan tidak mempergokinya saat sholat karena Hani tidak mungkin mengenakan mukena. Alfa kemudian mengambil mukenahnya dan sholat.
***
Alfa memasuki kelas pagi hari itu. Hari ini ada kuliah dari Bu Supriati. Semua mahasiswa kebidanan kelas A mengenakan kemeja putih, rok hitam, fantofel dan hair net. Begitu juga dengan Alfa. Alfa berjalan ke bangku yang biasa di dudukinya, Alda sudah ada di sana dengan mengenakan baju yang sesuai dengan aturan. Dia terlihat sangat culun dan membuat Alfa terkekeh.
"Selamat pagi," sapa Alda sambil penuh senyum.
Alfa terbahak-bahak mendengar sapaan Alda yang begitu menghayati itu.
"Sales girl dari mana sih?" ucapnya Alfa.
"Jangan berisik!" cibir Alda kesal.
"Kalau aku culun begini mana berani aku menemui Gama," ucapnya tampak sedih.
Alfa tergelak, tawanya baru berhenti ketika terdengar langkah fantofel khas yang membuat bulu kuduk merinding. Alfa segera duduk di sebelah Alda. Mahasiswa yang lain pun duduk di bangkunya masing-masing. Bu Supriati memasuki kelas dan berhenti di podium.
"Selamat pagi semuanya," kata Bu Supriati dengan wajahnya yang kaku.
"Selamat pagi, Bu," jawab semuanya kompak.
"Apa ada yang datang terlambat?" tanya Bu Supriati.
"Tidak, Bu."
"Bagus, hari ini kita akan belajar memansang infus, bawa jas lab kalian semua ke laboratorium KPDK," kata Bu Supriati ketus.
Dia kemudian berjalan meninggalkan kelas. Semua mahasiswa segera mengikutinya menuju ke laboratorium KDPK dengan langkah tegang. Mereka akan bermain-main dengan jarum.
"Kita akan belajar infus. Aku tegang," kata Alfa sambil memegangi dadanya.
"Rileks!" ucap Alda santai.
Mereka masuk ke dalam lab. KDPK. Bu Supriati berdiri dengan lab dengan wajah kaku.
"Peralatan yang dibutuhkan untuk memasang infus adalah pertama handskoen steril, perlak, tourniquet, 1 flash infus, infus set/transfusion set, abocat, gunting, plester/hepafic, kassa steril, kapas alcohol, betadine, cucing, bak instrument, bengkok."
Supriati menunjukkan peralatan infus itu satu- persatu.
"Pertama beritahu ibu bahwa ibu akan di infuse jelaskan tujuan, manfaat dan minta ibu persetujuan ibu. Setelah ibu setuju siapkan peralatan lalu cuci tangan enam langkah seperti yang kuajarkan kemarin. Pasang perlak seperti ini. Permisi ya, Bu, saya mau memasang perlak tolong angkat tangan Ibu."
Supriati berkata sambil tersenyum manis sekali. Alfa terkejut wanita itu bisa tersenyum secantik itu. Supriati menganggap pantum yang ada di hadapannya adalah manusia, dia mengangkat pantum itu dengan lembut dan hati-hati.
"Setelah perlak, pasang tourniquet dan tentukan pembuluh vena pasien yang ingin kalian infus. Permisi, Bu, saya mau memasang gelang ini ke tangan ibu," kata Supriati dengan lembut. Dia memasang tourniquet itu di tangan pantum.
"Buka bungkus semua peralatan steril dan masuk dalam bak istrumen tanpa menyentuh isinya."
Supriati memperagakan gerakan itu. Dia mengambil sarung tangan steril dan memakainya.
"Lalu pakai sarung tangan steril tanpa menyentuh bagian luar, jika tersentuh on. Berarti kalian harus ganti sarung tangan!" tegas wanita itu.
Supriati mengambil infus set dan mematikannya, membuka tutupnya lalu menusukannya pada flash infuse.
"Jangan lupa matikan infuse sebelum kalian menusukannya ke dalam botol flash seperti ini agar udara tidak masuk dan cairan infuse tidak mengalir keluar. Kalau ada udara yang masuk ke dalam pembuluh pasien, jika pasien itu mati kalianlah yang membunuhnya," ancam wanita itu.
Semua mahasiswa menelan ludahnya masing-masing. Supriati menghidupkan infus dan mengeluarkan isi flash infuse ke dalam bengkok.
"Keluarkan seluruh udara di dalam infuse set, tapi jangan buang-buang cairan infuse, ini hanya RL biasa harga enam belas ribu, tapi kalau ini albumin, harganya satu setengah juta satu flash kecil," ujarnya.
Supriati mengambil kapas injeksi yang telah diberi alcohol, lalu mengoleskannya pada pantum dengan cara berputar dari dalam keluar.
"Lakukan antisepsis dengan betadine pada tempat insersi yang telah ditentukan dari dalam keluar."
Supriati mengambil abocat dan menunjukkannya pada semua mahasiswanya.
"Tusukan abocat dengan sudut lima belas sampai dua puluh derajat. Mata jarumnya menghadap ke atas. Jangan terlalu dangkal kalian tidak akan menemukan pembuluh darah dan jangan terlalu luar pembuluh darah bisa pecah. Masukan dalam sekali tusukan ke pembuluh darah. Jika tidak berhasil kalian harus ganti abocat dan area tusukan baru, perhatikan ini."
Supriati memasukan abocat sesuai dengan teori, cairan berwarna merah dari pantum keluar dan masuk ke dalam abocat.
"Jika ada darah yang keluar berarti sudah masuk ke pembuluh darah. Tarik jarum dan masukan abocat ke dalam. Setelah seluruh abocat masuk lepaskan jarum dan letakan di bengkok. Tekan insersi agar darah tidak keluar. Lepaskan tourniquet dan segera pasang infus set, nyalakan. Antisepsis lagi dengan betadine pasang plester dengan gaya kupu-kupu, beri kassa steril diatasnya yang telah diolesi betadine. Pasang hepafic di luarnya. Atur tetesan, tetesan normal dua puluh kali permenit. Setelah itu rapikan peralatan, ucapkan salam dan dokumentasi." Supriati memperagakan semua yang dikatakannya dengan cepat.
Semua mahasiswa mengawasi dan mencatat hal yang sekiranya penting.
"Sekarang kalian praktek, antar teman. Cari pasangan masing-masing."
Alfa dan Alda jelas berpasangan. Mereka duduk di salah satu meja lab.
"Permisi, Bu, saya Alda akan melakukan pemasangan infus untuk terapi obat. Apa Ibu bersedia?" Alda tersenyum sambil menyiapkan infuse set dan peralatan lainnya.
"Bu sales, sakit nggak?" tanya Alfa takut sungguhan.
"Panggil Bu Bidan dong! Sakit sedikit kok seperti digigit semut, kalau takut Ibu merem aja," ucap Alda.
"Pelan-pelan ya, Da," kata Alfa. Dia menutup mata saking takutnya.
Alda nyengir kemudian langsung bertindak dengan cepat memasang infuse pada Alfa. Alfa menjerit kecil lalu membuka matanya, Alda sudah selesai memasang infusnya tidak sampai lima menit. Alfa terkejut dan juga takjub dengan kepiawaian Alda itu.
"Sudah? Cepet banget!" kata Alfa tak percaya.
"Saya kan bidan professional, Bu," seloroh Alda bangga sambil berkacak pinggang.
"Wah, sudah Alda berhasil," seru Ina dan Fani, yang duduk di sebelah Alfa dan Alda, kagum. Semua mata langsung tertuju pada Alda.
"Wah, keren!" puji mereka.
Alda makin besar kepala.
"Yak, bagus, yang lainnya jangan mau kalah." Supriati mengakui.
"Sekarang lepaskan, lalu kamu ganti yang memasang infus ke dia," kata wanita itu sambil menepuk punggung Alfa.
"Baik," ucap Alfa.
Alda melepaskan infus dari tangan Alfa, kemudian berganti Alfa yang menginfus Alda.
"Saya akan memasang infuse untuk terapi obat, apa ibu bersedia?" tanya Alfa tampak tegang.
"Hei, Bu Bidan, jangan tegang dong! Santai!" Alda menyemangati.
Alfa menarik napas panjang dan mulai mempersiapkan alat, kemudian sampailah di mana Alfa harus menusukan abocat.
"Saya infus ya Bu, sakit sedikit," ucap Alfa.
Alfa tiba-tiba merasakan tangannya gemetaran luar biasa. Dia menusukan abocat itu ke tangan Alda. Alda menjerit pelan, tapi tidak ada darah yang keluar...
"Kok darahnya nggak keluar?" Alfa panik.
"Aduh sakit, Fa," keluh Alda, dia mengigit bibir bawahnya.
Bu Supriati mengamati kedua cewek itu, dia melihat ada benjolan di dekat insersi infuse Alda.
"APA YANG KAMU LAKUKAN!" bentak Supriati. Dia mendorong Alfa, melepaskan abocat dari tangan Alda kemudian menekan bekas insersinya dengan kapas injeksi.
Alfa terkejut dengan tindakan cepat Supriati itu.
"Kamu pasti memasukkan terlalu dalam, sudah kubilang sudutnya lima belas sampai dua puluh derajat. Kamu mendengarkan tidak sih? Lihat tangan temanmu, pembuluh darahnya pecah!" Supriati marah.
Alfa melihat Alda yang kesakitan sambil memegangi tangannya.
"Ma-maaf." Alfa terbata.
Supriati memandangi Alda yang kesakitan dengan penuh sakit.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Supriati.
Alda mengangguk sambil tersenyum meski menahan rasa sakit. Alfa hanya bisa memandangi Alda dengan penuh rasa bersalah.
***