Hantu

1691 Kata
Kuliah berakhir siang hari itu, Alda langsung melepaskan hairnet dari rambutnya. "Aku benar-benar culun, aku mau ganti baju dulu sebelum ikut KSR. Ayo, Fa, kita ke tempat latihan," kata Alda semangat, karena dia ingin segera bertemu dengan Gama. Alfa memandangi temannya itu dengan tatapan bersalah karena tragedi infus tadi. "Tanganmu nggak apa? Sudah baikan?" tanya Alfa sambil melihat tangan Alda yang kini dibalut plester. "Nggak apa. Aku ini kuat, satu tusukan jarum kecil tidak akan melukaiku!" Alda menepuk tangannya lalu kesakitan sendiri. Alfa tersenyum melihat tingah sahabatnya itu. "Yang lebih penting aku senang karena melihat sisi lain Bu Supriati. Dia tampak perhatian karena melihatku flebitis, semoga aku diberi dispensasi tugas. Aku akan berbohong tanganku sakit, sehingga nggak bisa menulis," ucap Alda sambil terkekeh Alfa ikut tertawa mendengarnya. "Ayo kita berangkat ke tempat latihan sekarang," ajak Alda. Alfa menggeleng. "Hari ini aku ijin nggak ikut latihan ya, aku merasa sedikit nggak enak badan." "Kamu baik-baik saja?" Alda berubah cemas. "Setelah istirahat aku pasti sembuh." *** Alda berjalan riang menuju tempat latihan KSR. Cewek cantik itu sudah mengganti bajunya dengan long dress warna pink yang membuatnya terlihat makin memukau. Saat dia sampai. Tempat itu telah dipenuhi dengan anggota-anggota KSR yang sedang duduk di bawah pohon yang teduh sambil mendengarkan penjelasan Yunus tentang triage. Alda memberi salam pada orang-orang yang ada di tempat itu dan meminta maaf dia baru datang karena dia baru saja selesai kuliah kemudian memilih duduk di sebelah Gama dan Galang. "Baru pulang kuliah?" tegur Gama pada cewek itu. Alda hanya menjawabnya dengan senyuman kemudian ikut menyimak dan mencatat penjelasan triage. Gama melihat ke sekeliling Alda. Tumben hari ini cewek ini nggak bersama dengan Alfa. "Mana Alfa?" tanyanya. "Oh, hari ini dia nggak ikut latihan. Katanya mau pulang cepat dan istirahat, kelihatannya dia agak nggak enak badan," jelas Alda. "Alfa sakit?" Gama terkejut. "Ya, mukanya agak pucat tadi." Gama terdiam kemudian kembali menyimak kata-kata Yunus. *** Alfa berdiri di depan laboratorium KDPK bersama Pak Man petugas lab. Pria itu sedang membukakan kunci Lab untuknya. Setelah pintu terbuka, pria itu menyerahkan kuncinya pada Alfa. "Jangan bilang siapa-siapa ya kalau aku meminjamkan ini padamu. Aku bisa dimarahi kalau ketahuan meminjamkan lab tanpa surat ijin begini." Pria tua itu tampak was-was. Alfa tersenyum dan memberi hormat ala tentara. "Siap, Pak, Tenang saja! Saya hanya sebentar kok. Bapak pulang saja dulu, besok pagi-pagi sekali kuncinya akan  saya kembalikan," ucap Alfa sambil nyengir. "Ya sudah, aku pulang dulu ya sudah sore," kata pria itu sambil melihat jam di tangannya. Alfa mengangguk. Pria itu kemudian pergi meninggalkannya. Alfa menarik napas panjang kemudian memasuki lab, dia menyiapkan peralatan untuk memasang infus kemudian mulai berlatih memasang infus sendirian pada pantum. "Permisi, Bu. Saya akan memasang infus untuk kebutuhan terapi obat ibu. Apa ibu bersedia? Tidak akan sakit kok." Alfa berbicara pada pantum itu seperti anak TK yang main boneka-bonekaan. *** Latihan KSR sore itu akhirnya berakhir. Seluruh anggota membubarkan diri. Gama membuka tasnya. Dia sedang mencari-cari buku yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan tapi tiba-tiba raib. Cowok itu berpikir sebentar kemudian menepuk dahinya, dia ingat kalau tadi dia meletakkan buku itu di laci meja ruang kuliah. "Pasti tertinggal di sana," kata Gama. "Ada apa, Gama?" tanya Galang. "Sepertinya buku saya ada yang tertinggal di kelas, saya ambil dulu ya." "Oh ... hati-hati lho kalau lewat lab KDPK, gue pernah denger katanya di sana ada hantu suster yang pakai jas lab warna putih," ucap Galang menakut-nakuti. Gama tertawa garing. "Mana ada yang namanya hantu." "Gama." Gama dan Galang menoleh mendengar suara panggilan Alda itu. Gadis itu berlari-lari kecil menghampiri keduanya. "Pulang barenga yuk," ajak cewek itu ceria. "Maaf, buku saya ketinggalan di kelas, kamu duluan saja," tolak Gama. Cowok itu langsung pergi tanpa sempat dicegah. Alda cemberut dengan kesal, Galanh yang masih ada di sana tersenyum padanya. "Gimana kalau lo gue antar pulang pake vespa gue?" tawar Galang sambil nyengir. "Nggakk deh, makasih." Alda memaksakan diri tersenyum Sementara itu, Gama kembali ke kelasnya tadi. Cowok itu mengambil bukunya yang tertinggal di laci meja. "Ini dia," kata Gama sambil tersenyum. Cowok itu keluar kelas, dia melewati lab KDPK. Entah mengapa Gama merasa ada aura-aura aneh dan bulu kuduknya serasa merinding. Dia teringat cerita Galang tadi. "Hati-hati lho kalau lewat lab KDPK, gue pernah denger katanya di sana ada hantu suster yang pakai jas lab warna putih." Gama mengibaskan tangan sambil tertawa. "Mana ada yang namanya hantu," ucapnya tidak percaya. Cowok itu melewati ruang KDPK dengan agak takut-takut. Dia memberanikan diri menoleh ke ruangan itu. Betapa terkejutnya Gama, saat melihat sesosok makhluk berjas lab putih yang sedang duduk di dalam lab. Gama hampir berteriak, tapi dia kemudian menyadari kalau dia mengenali sosok berjas lab putih itu. Orang itu adalah Alfa. Gadis itu tampak memegangi kepalanya dengan frustrasi. Gama mengerjap-ngerjap dengan bingung. Bukannya Alda bilang Alfa sakit sehingga tidak ikut latihan KSR? Kok sekarang cewek itu ada di sini? Jangan-jangan hantu! Gama memberanikan diri mengintip ke lab KDPK untuk melihat apa benar gadis yang ada di dalam lab itu Alfa. Dia menempelkan wajahnya di kaca. Gadis di dalam lab itu menoleh dan langsung berteriak saat melihat wajah tidak berbentuk Gama yang menempel di kaca. "Hantu! Pergi! Pergi!" jerit gadis itu. Gama pun sadar, ini cewek pasti bukan hantu. Mana ada hantu takut sama hantu. Dia kemudian menggeser pintu lab sambil tersenyum. "Ini saya, Gama, saya bukan hantu," ucapnya Alfa tampak ketakutan. Dia melihat ke arah Gama dengan saksama. "Beneran bukan hantu?" Gama tertawa. Alfa mengelus d**a, bersyukur karena yang ada dihadapannya itu bukan hantu. "Sedang apa kamu di sini sendiri malam-malam begini, saya dengar dari Alda katanya kamu sakit jadi tidak bisa ikut latihan," kata Gama sambil menghampiri Alfa. "Eng ... sebenarnya aku bohong, kamu jangan bilang-bilang dia ya," pinta Alfa. Gama mengangguk, berjanji. "Tadi pagi ada praktikum pemasangan infus dan aku gagal," lirih Alfa, tampak sedih. "Makanya aku ingin berlatih di sini." Gama melihat peralatan memasang infus dan pantum tangan yang ada di hadapan Alfa kemudian tersenyum. Cowok kemudian duduk di samping Alfa. "Kamu mau belajar infus? Bagaimana kalau pakai tangan saya?" tawarnya. Gama menggulung lengan bajunya dan mengulurkannya pada Alfa. Alfa terperanjat dan menggeleng kuat-kuat. "Nggak, sama pantum aja dari tadi nggak berhasil, nanti kalau kamu flebitis gimana?" Gama tersenyum. "Nggak apa, namanya juga masih belajar, ayo jangan sungkan." Alfa agak takut-takut tapi akhirnya dia tidak menolak tawaran Gama itu. Dia lalu mempersiapkan peralatan untuk memasang infus pada lengan Gama. "Permisi ya, Pak, saya akan memasang infus pada tangan Bapak sebagai terapi obat, apa Bapak bersedia?" "Ya," jawab Gama sambil tersenyum. "Tolong tangannya diangkat sebentar ya, Pak." Gama mengangkat tangannya, Alfa lalu meletakkan perlak di bawah lengan cowok itu, lalu memasang tourniquet. Alfa kemudian menyiapkan peralatan yang lain hingga sampailah pada saat dia harus menusukan abocat pada lengan Gama. "Permisi ya, Pak, saya infus sakit sedikit," ucapnya. Alfa merasakan seluruh tubuhnya gemetaran hebat lagi, dia kemudian menusukan abocat itu. Gama mengernyit kesakitan. Alfa melihat abocatnya, tidak ada darah yang keluar. "Darahnya nggak keluar," kata Alfa panik. Dia mengambil kapas injeksi lalu menekannya pada insersi abocat dan menarik keluar abocatnya dari tangan Gama. "Maaf ya, kamu nggak apa?" Alfa merasa bersalah. "Tidak apa," kata Gama sambil tersenyum. Gama kemudian menggulung lengan baju kirinya. "Coba di sini." Alfa menggeleng kuat. "Kalau gagal lagi gimana?" "Tidak apa, bidan-bidan senior pasti juga tidak langsung berhasil, coba saja." "Maaf ya, Gama, bagaimana aku bisa membalas budi padamu," kata Alfa. Gama tersenyum. "Nanti kalau sudah jadi bidan istriku harus melahirkan gratis ya." Sudut bibir Alfa terangkat tapi kemudian tampak sedih lagi. "Bagaimana bisa jadi bidan kalau memasang infus saja nggak becus." "Jangan bilang begitu, kamu pasti bisa, ayo coba lagi." Gama menyemangati. Alfa tersenyum, dia kemudian mengambil abocat yang lain dan membukanya. "Saya infus ya, Pak." Alfa merasa tangannya gemetaran lagi, dia menusukkan abocat itu pelan-pelan tapi lagi-lagi tidak ada darah yang keluar. "G-gagal lagi." Alfa langsung mengambil kapas injeksi dan menekannya pada insersi jarum lagi sebelum menarik jarum keluar dari tangan Gama. Alfa hampir menangis dia sudah membuat kedua tangan Gama flebitis. "Maaf, Gama," ucapnya. "Tidak apa, coba di sini." Gama menunjuk  daerah lipatan siku kanannya. "Di sini pembuluh darah vena terlihat lebih jelas,"Kata Gama. "Tapi di situ kan sakit sekali," elak Alfa. "Tidak apa, ayo coba saja." Alfa menggeleng lalu menangis. Air matanya yang sudah dibendung dari tadi akhirnya keluar. "Nggak bisa, aku nggak bisa, memasang infus saja aku nggak bisa," kata Alfa di sela tangisnya. Gama jadi nanar, dia memandangi Alfa yang kini sedang terisak-isak itu. "Ja-jangan menangis, kamu pasti bisa," ucap Gama. Alfa menggeleng. "Nggak bisa, aku nggak bisa! Setiap kali aku mau menusukan abocat tanganku pasti gemetaran, aku nggak bisa." Alfa memegangi tangan sendiri sembari tergugu. "Kamu tremor?" Gama terkejut. Gama memegang kedua tangan Alfa. Alfa terperanjat, tangan Gama terasa hangat dan besar. "Tutup matamu dan tarik napas dalam-dalam," titah cowok itu. Alfa menurut. Dia menutup matanya dan menghela napas. "Hembuskan perlahan, lalu ucapan 'Aku bisa' tiga kali," kata Gama. Alfa mengikuti instruksi cowok itu. Setelah itu perasaannya terasa lega dan tangannya sudah tidak gemetaran lagi. Alfa membuka matanya perlahan. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Gama. "Aku sudah nggak gemetaran," aku Alfa. Gama tersenyum. "Lakukan ini jika kamu tremor. Kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa jika kamu gemetaran begitu. Sekarang coba pasang lagi." Gama mengulurkan lengannya. Alfa menutup matanya lalu menarik napas, menghembuskannya pelan dan mengucapkan "Aku bisa," tiga kali sebelum mengambil abocat baru. Dengan perasaan tenang dia lalu menusukan abocat ke lengan Gama dengan sudut tepat lima belas derajat, ada darah yang mengalir keluar ke dalam abocat. "Darahnya keluar! Darahnya keluar!" teriak Alfa girang. "Cepat dorong abocatnya, nanti darahnya beku." Gama mengingatkan. "Oh, ya." Alfa menarik keluar jarum dan mendorong abocat perlahan. Setelah seluruh abocat masuk, Alfa segera melepaskan jarum dan tourniquet lalu memasang infuse set dan menyalakannya. Alfa juga dengan telaten melekatkan plesters kupu-kupu lalu memberi kasa dan membungkusnya dengan hepafic. Alfa kemudian melihat hasil pemasangan infusnya yang tampak sempurna baginya. "Aku berhasil! Aku berhasil!" serunya senang, reflex dia merengkuh Gama. Cowok itu terkesiap. Alfa sendiri juga kaget, buru-buru dia melepaskan pelukannya lalu berjingkrak-jingkrak girang. "Aku berhasil! Aku berhasil!" ucapnya tetap girang. Gama ikut tersenyum, tapi kemudian memegangi dadanya. Lagi-lagi debaran aneh yang terasa di sana, saya punya sakit jantung ya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN