Agha tengah bersiap berangkat ke kantor. Akhir-akhir ini dia seding mendapat teguran dari Raka—bosnya selaku pemilik hotel jika kinerjanya menurun. Bukan tanpa alasan, dia terlalu banyak beban sehingga tidak fokus dalam bekerja. “Mas, Nesa mau beli selimut, box, baju, topi, sepatu. Pokok semuanya perlengkapan bayi. Boleh ya, Mas? Kan udah sebulanan aku lahiran, apalagi kata dokter bisa maju dari hpl,” ujar Nesa saat tengah menunggui suaminya berganti pakaian. “Yah nanti, Nes. Kalau Mas sudah gajian, bulan ini ‘kan sudah habis uang Mas buat keperluan kamu, Mama, dan Ilona. Sabar ya?” timpal Agha dengan malas. Nesa menyadari akhir-akhir ini suaminya sedikit berbeda. Seperti tidak ada gairah untuk hidup. Semenjak perceraiannya dengan Fara, perhatian Agha padanya juga berkurang. Hal itu

