14

2238 Kata
JOJO “Apakah kamu serius dengan ucapanmu Fira?” “Iya, Pak.” Gue pun sontak berdiri, “Lo bohong! Dibayar berapa lo sama Regi? Gue jelas-jelas lihat lo digrepe-grepein sama dia!” Teriak gue membuat daddy memaksa menarik gue untuk kembali duduk. Sedangkan diseberang sana Regi memasang wajah kemenangannya. Oh, jangan lupakan wajah songong dari Pak Prakarsa, cih, bapak sama anak sama aja. Makan tuh reputasi t*i kucing. “Jojo! Kamu jangan bikin Fira shock dong.” Bentak Bu Dena yang memeluk Fira karena dia mulai menangis ketakutan. “Kalau kamu mau bikin keributan lebih baik kamu keluar saja dari sekolah ini! Saya nggak mau mendidik preman.” Tegas Pak Salim. “Maksud Anda apa mengatai anak saya preman seperti itu?” Kali ini daddy yang gantian berdiri karena nggak terima atas ucapan Pak Salim barusan. “Bapak mungkin kurang tahu karena biasanya ibu yang datang ke sekolah. Tapi, Jojo memang sering terlibat kasus pemukulan dengan anak di sekolahan ini.” “Jangan mengada-ngada ya Anda!” Ucap daddy sambil menunjuk muka kepala sekolah. Daddy mulai maju dan gue segera menahan tangannya. “Saya bisa tunjukkan buku hitamnya kalau bapak mau.” Balas Pak Salim tenang. “Wah, luar biasa ya anak Anda. Saya nggak menyangka kalau anak saya adalah korban kesekian. Ckckck, kalau begitu kita hanya buang-buang waktu saja. Saya permisi karena masih banyak kerjaan. Masalah clear dan tunggu tuntutan dari saya.” Kata Pak Prakarsa tiba-tiba sontak aja membuat gue tersulut amarah. Tapi, gue berusaha menahannya karena daddy lagi diselimuti emosi yang sama membludaknya kayak gue. “Hei, nggak bisa begitu. Masalah ini belum selesai! Saya mau saksi-saksi lainnya.” Cegat daddy saat Pak Prakarsa akan berdiri. “Saya sudah tanyakan beberapa siswa yang ada di lokasi kejadian kemarin, Pak. Semuanya mengatakan hal yang sama seperti Fira, kecuali teman-teman Jojo. Tentunya mereka akan menyangkal, tapi mereka juga tidak melihat kejadian sebenarnya, hanya pembelaan dikalangan anak muda untuk teman sebayanya.” Interupsi Bu Dena. Gue benar-benar nggak nyangka bahwa Bu Dena dan Pak Salim akan memihak keluarga Regi. Gue nggak tahu pasti mereka dibayar berapa, tapi yang jelas gue bakal urus semuanya sampai tuntas. Gue nggak akan membiarkan Regi seenaknya bebas gitu aja. Apalagi sekarang dia punya Farah digenggamannya. Gue nggak mau Farah jadi korban juga, kalau sampai itu terjadi, gue nggak akan memaafkan diri gue sendiri seumur hidup gue. Gue pun menatap tajam ke arah Fira yang mengeluarkan air mata palsunya. Dia mengalihkan pandangan dengan nggak nyaman karena gue terus-terusan menatap dia dengan tajam, namun dengan sigap Bu Dena membawanya ke belakang badannya dan balas menatap tajam gue balik. “Kalau begitu, Jojo di skors selama waktu yang tidak ditentukan untuk mengikuti proses hukum.” Gue membelalak begitu juga dengan kedua orang tua gue. “Terimakasih banyak, Pak. Karena sudah memfasilitasi kami, kalau begitu kami pamit.” Ujar Pak Prakarsa dan pergi keluar dari ruangan Pak Salim. Regi menyunggingkan smirknya dan diam-diam memberikan jari tengah ke arah gue. Daddy hanya diam dengan rahang yang mengeras. “Kamu daddy tunggu di rumah.” Daddy menunjuk muka gue dan menggandeng tangan mommy yang sedari tadi hanya terdiam, “Kami permisi.” Singkat daddy dan keluar dari ruangan. Sementara gue mengikuti dari belakang dan langsung menuju ke arah kelas untuk mengambil tas gue. Beberapa siswa menatap gue sambil bergosip, pasti beritanya udah menyebar luas. Jangan heran sobat, sekolah gue emang biangnya lambe ribut. Rendy memang salah satu admin yang megang akunnya di f*******:, tapi gue percyaa bukan dia yang nyebarin itu berita. Pasti admin-admin lainnya. Gue berjalan dengan santai melewati kerumunan murid di sepanjang lorong ini. jamnya istirahat bukannya makan malah gosipin gue, kenyang kagak nambah dosa iya lo pada. Saat gue memasuki kelas, Helena dan yang lainnya sudah menunggu gue. tanpa bertanya pun mereka pasti udah tau hasilnya. Gue menyapa mereka dengan santuy, “Tegang banget muka lo pada kayak belut listrik.” Kata gue berusaha bercanda. Tapi, candaan gue nggak ditanggapi sama sekali. Helena, Rizky, Rendy, dan Acil menatap gue serius dan—iba. Oh tolong gue benci tatapan seperti itu. “Sampai kapan lo dihukum?” Tanya Helena yang sudah merapikan buku-buku gue dan memasukkannya ke dalam tas. Alih-alih menjawab peertanyaan Helena, gue melihat Farah yang sibuk membaca novel ditempatnya sibuk mendengar ocehan Aisyah yang nggak jelas. Dia bahkan nggak mau repot menolehkan tubuhnya ke arah gue. gue pun nggak tau salah gue apa, tapi gue masih enggan bertanya, biar dia yang ngomong langsung ke gue. Helena pun ikut menoleh ke arah pandangan gue melihat. Seketika ekspresinya berubah sinis, “Ada ya, Jo. Temen yang khianatin temennya sendiri demi seorang PACAR!” Helena menekankan kata pacar untuk menyindir Farah. Gue pun menggelengkan kepala ke Helena untuk berhenti meskipun itu sia-sia karena Helena masih aja ngoceh. “Udah diefek-efek gini masih aja pura-pura b**o. Telinganya kemasukan t*i kali, eh iya kemasukan gombalannya PACAR sih ya jadi nggak mempan lagi. Dengerin kata pacar aja mulu.” “Hel, udah…” Farah pun menghela napasnya dan berdiri. Gue pikir dia bakalan ngajak Helena jambak-jambakan disini. Tapi dia cuman pergi dari kelas. “OH, PANAS YA TELINGANYA JADI MINTA PERLINDUNGAN SAMA BABANG PACAR. HM, BAGOS KALAU PUTUS GUE GELAR HAJATAN DI SEKOLAH BIAR MALU SAMPAI KE UBUN-UBUN.” Teriak Helena yang mulutnya nggak ada akhlaknya. “Farah sama Regi udah kenal berapa lama sih? Perasaan Farah ngekorin lu bedua mulu dah tapi dapet pacar aja tuh anak. Sedangkan gue masih jomblo karatan.” Keluh Acil. “Lo nggak good looking sih makanya buruan oplas gih.” “Gue mau oplas duit dari mana? Jadi mucikari?” Sinis Acil. “Hus, omongannya kayak nggak di sekolahin. Dosa tau jadi mucikari, duitnya nggak berkah. Lo mau pas masuk neraka muka lo nggak diterima alam kubur? Terus entar kepala lo nyembul ke atas tanah karena nggak diterima dibumi.” Sahut Ustadz Rizky yang langsung membuat gelak tawa diantara kami. “Ya lo mikir ae lah, sob. Mana ada orang dikubur kayak gitu. Yang ada bukan tali pocong gue yang diambil tapi kepala gue buat main bola di lapangan kampung.” Balas Acil. “Gue kalau jadi bocilnya mikir-mikir juga sih buat ngambil kepala lo. Bawa sial, hahaha.” Sahut Rendy membuat Acil semakin kesal. Kalian pasti punya teman yang hobinya jadi bahan cengcengan mulu di tongkrongan. Ya gini nih kayak si Acil, tapi herannya dia tetep aja mau temenan ama kita. Nggak lama kemudian bel tanda masuk berbunyi. Gue pun bergegas untuk mengambil tas gue dan beberapa barang gue di loker. “Ayo kita anter lo sampai parkiran.” Kata Rendy. “Kayak gue bakal pergi jauh aja lo pada lebay banget sih. Udah masuk ini, belajar yang pinter biar bisa naikin gajihnya Bu Ningsih.” Teman-teman gue kemudian tertawa. Kalau kayak gini, rasanya seperti punya sahabat lagi. “Lo pasti balik ke sekolah kan, Jo?” Gue lagi-lagi nggak menjawab Helena karena Farah yang baru saja tiba dengan mata sembab. Dia pasti sakit hati sama perkataan Helena. Gue sendiri nggak mau menuduh dia macam-macam karena gue nggak tahu dia lagi punya masalah apa. Rambutnya sedikit acak-acakan dan beberapa anak rambutnya terkeluar dari ikatannya. Gue mau menanyakannya, tapi gue juga menghargai keinginannya untuk sendiri. Gue pun akhirnya mengalihkan pandangan ke Helena, “Gue nggak tau bakalan balik ke sekolah lagi atau enggak, doain aja semoga proses hukumnya selesai.” Helena dan yang lainnya membelalak, “P-proses hukum? Jadi Regi nuntut lo?! Kurang ajar tuh anak. Tiga serangkai! Ayo kira hajar dia bareng-bareng!” teriakan Helena seketika membuat semua orang dikelas menoleh, termasuk Farah yang sudah memasang wajah kagetnya, tapi sepertinya gue terlalu berharap lebih, dia kemudian kembali memaslingkan wajahnya ke depan dan mengabaikan gue. “Jangan nambah masalah lagi, cukup gue aja yang kena hukuman kalian jangan.” Ucap gue saat mereka berempat siap buat pergi. Gue pun pamit dari kelas dan pergi ke luar, menoleh sejenak ke Farah yang masih setia menghiraukan gue. Gue hanya bisa tersenyum miris, masih ada masalah yang harus gue urus di rumah.   *** Tentu saja gue berbohong kalau gue bakalan pulang. Gue harus menyelesaikan urusan gue sama Fira terlebih dahulu. Gue merasa bodoh banget, harusnya gue tau kalau berurusan sama anggota DPR nggak segampang ini. Mereka kan ahlinya suap menyuap. Becanda sayang. Yah, harusnya gue lebih gercep buat ketemu Fira dan menghasutnya sebelum Regi. Lagian antek-anteknya Rendy lelet banget sih nyari cewek itu. Kerjaannya nggak becus. Masa nyari anak kelas sepuluh doang perlu waktu 1x24 jam. Gue menendang kerikil di depan gue sembari menunggu. Harusnya 2 menit lagi jam pulang sekolah. Gue memasang hoodie hitam gue buat menyamar sekaligus menutupi lambang sekolah di seragam gue. Nggak lama setelah itu, bel berbunyi dan beberapa siswa sudah berlarian keluar. Gue langsung bersembunyi di belakang pohon besar sembari menunggu si Fira. Awas aja lo kali ini nggak bakalan lolos dari gue. Pucuk dicinta duit pun tiba, Fira keluar dari gerbang sekolahan sendirian. Dia berjalan begitu saja tanpa memperdulikan anak-anak disekitarnya, bahkan ada yang terang-terangan menggodanya juga. Kayaknya dia memang sering jadi korban perundungan. Gue pun kemudian mengikuti dia dari belakang. Gue udah kayak penguntit sekarang, tapi emang gue nguntit dia sih. Dia terus berjalan pelan menyusuri jalan besar, nggak ada tanda-tanda orang yang akan menjemputnya. Kemudian dia tiba-tiba masuk ke sebuah gang kecil. Gangnya sempit banget dan hanya bisa di lewati oleh satu orang, kawasannya sangat kumuh bahkan ada beberapa rumah yang terlihat seperti nggak layak huni. Suasana perkampungan ini terlihat ramai karena ada banyak anak-anak yang bermain bersama sampai gue hampir aja kehilangan jejeak dia. Kemudian dia berbelok lagi dan sampai di rumah paling ujung, yang bahkan menurut gue lebih pantas disebut gudang. Keadaan rumahnya reyot dan kumuh banget. Gue menunggu dengan sabar dibelakangnya dengan bersembunyi di salah satu teras rumah warga. Semoga aja gue nggak dikira maling. Nggak lama kemudian dia masuk dan gue pun langsung menuju ke depan rumahnya. Gue menitip di balik jendela ruang tamu, suasana tampak sepi. Gue berjalan menuju jendela yang terbuka dan menampakkan sesosok nenek tua yang terbaring lemah diatas ranjang. Nenek itu tampak ringkih sampai nggak lama kemudian Fira datang membawa sepiring bubur dan air putih. Seketika hati gue merasa iba melihat nasib hidupnya yang setragis ini. Niatnya tadi gue mau ngelabrak, tapi gue urungkan karena kelihatannya dia nggak punya orang tua dan cuman punya nenek itu. Gue pun memutuskan untuk mengetuk pintunya dan berbicara baik-baik. Siapa tau gue bisa meringankan bebannya dia. Nggak lama kemudian pintu pun terbuka dan menampakkan sosoknya yang terkejut melihat kedatangan gue. Dia pun langsung menutup pintunya kembali namun gue tahan. “Tunggu! Ada yang harus gue omongin!” Teriak gue yang sudah cukup untuk menarik perhatian warga. Maklum, warga kampung emang orang-orangnya suka kepo sama tetangga. “Pergi, Kak! Gue mohon jangan ganggu gue lagi!” “Gue mau bicara baik-baik sama lo! Gue nggak akan ngajak ribut! Ayo buka pintunya.” Pintu pun terbuka karena dorongan keras gue dan gue segera masuk ke dalamnya. Dia cuman berdiri dengan shock dan menatap gue marah. “Kalau lo nekat masuk kayak gini gue nggak segan lapor lo ke polisi!” “Gue juga nggak segan nuntut lo karena udah bohong tadi.” Balas gue tak kalah songong. “Lo nggak punya bukti.” “Lo nantangin gue?” tentu saja dia pasti takut. Seluruh anak sekolah tau bokap gue siapa. Pastinya dia bahkan nggak sanggup untuk membayar ganti rugi gue bahkan setengahnya. Dia kemudian menyerah dan menyuruh gue untuk duduk. Gue pun duduk di sofa yang udah bolong-bolong itu dengan hati-hati. Gue takut nyungsep ke dalam terus jatuh dengan tidak arogannya. Akhirnya yang duduk di sofa itu cuman ujung p****t gue doang. “Lo harus kasih keterangan ulang sama kepsek kalau lo bohong.” “G-gue nggak bisa kak.” Lirihnya. “Kenapa lo nggak bisa? Dibayar berapa lo sama Regi? Ngaku lo.” dia kemudian mulai menangis. Gue pun panik dan bingung harus gimana, oleh karena itu gue memberi dia segelas air putih yang ada di meja, yang gue nggak tau itu punya siapa. “Silahkan diminum.” Kata gue bak tuan rumah. Setelah dia meminumnya, gue pun kembali mendesaknya, “Ayo ngaku lo!” “Lo buang-buang waktu, Kak. Lo kenapa nggak mau ngaku salah sih?” “Oh, jadi lo nggak mau ngaku? Oke gue bawa lo ke kantor polisi sekarang juga!” “Eh apa-apaan sih, Kak!” “Lo pikir gue takut? Gue punya banyak duit. Gue bisa aja bayar intel buat nyelidikin kebohongan lo. Tapi gue nggak mau karena masih punya hati nurani.” “Kalau gitu kenapa lo nggak cari tau tentang Kak Regi aja? Kenapa orang kaya seperti kalian suka menggertak rakyat kecil kayak gue yang bahkan nggak sebanding sama kuasa kalian!” Teriaknya membuat gue terkesiap. Gue pun akhirnya merasa bersalah karena sudah bersikap kayak tadi. Sungguh, gue nggak bermaksud untuk mengancam dia, gue cuman mau dia ngaku buat gue supaya seenggaknya gue tau kalau gue nggak bersalah. “Gue minta maaf sama lo. Tapi gue benar-benar perlu kejujuran lo, Fir. Lo nggak kasihan sama nenek lo yang udah renta? Sampai kapan lo mau jadi mainannya Regi?” Dia pun terbelalak mendengar penuturan gue. Gotcha! Padahal tadi gue cuman asal ngomong juga, tapi ternyata emang bener ya kalau dia salah satu mainannya Regi, “Maaf, Kak. Gue nggak bermaksud bohong. Tapi keadaan gue terdesak.” Katanya lirih.  “Kenapa? Kalau lo takut sama Regi, ada gue disini yang bakal bantu lo.” “Bukan masalah itu, Kak. Tapi…gue terlibat hutang sama Kak Regi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN