13

3249 Kata
FARAH   “Ara.” Panggil Kak Angga begitu aku hendak memasuki kamarku. Aku menoleh padanya tapi tidak menjawab apa-apa. Aku masih marah dengan Kak Angga karena kejadian kemarin. Menurutku Kak Angga pantas diberikan pelajaran. “B-bisa minta tolong?” Katanya lirih. Kemudian aku bersandar di pintu kamarku dan menatapnya dengan pandangan bertanya. “Em, bisa bantu gue buat ketemu sama Jojo? Gue mau minta maaf.” “Tadi kan ketemu, kenapa nggak langsung minta maaf aja?” Sinisku padanya. Dia hanya menunduk menghindari tatapanku yang tajam. Dia sedikit terkesiap mendengar nada kasarku karena selama hidupnya, aku tidak pernah bertindak kasar baik secara fisik maupun lisan kepadanya. Tentu saja aku sangat menyayanginya dan menghormatinya, tapi dia juga tidak menghargaiku sebagai adik, jadi untuk apa aku repot-repot bersikap baik padanya? “Gue perlu momen yang pas untuk bilang. Jadi, gue mohon sama lo bilang ke Jojo kalau gue mau ketemu. Sekali ini aja, seterusnya gue nggak akan ganggu lo lagi.” “Lo aja minta aja sendiri.” Ketusku lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Aku memutuskan untuk ganti baju dan langsung tidur saja. Hari ini sungguh melelahkan sekali. Tak lama kemudian muncul notif dari Blackberry Messengerku. Permintaan invite dari sebuah kontak bertuliskan TY dan profil siluet wanita berambut sedikit coklat. Sepertinya aku kenal. Tidak ada sedikitpun prasangka buruk yang ada di otakku. Aku pun langsung menerima permintaan undangannya. Tak lama kemudian sebuah pesan pun muncul. Aku terbelalak melihat isi pesannya. Sungguh, seumur hidupku, aku tidak merasa memiliki masalah dengan siapapun tapi, kenapa sampai ada yang mengirimkan pesan makian seperti ini. “b***h! Nggak usah kegatelan ya jadi cewek!” “Murahan lo anjing!” “Ngaca ya jadi orang lo tuh nggak cantik!” “Lihat aja ya lo kalau sampai lo ngedeketin Jojo lagi, gue bakal cabik-cabik muka lo sampai hancur! b***h!” Aku menutup ponselku dengan kasar. Aku tidak pernah sekali pun mencari masalah dengan siapa-siapa. Rasanya aku ingin menangis sekarang juga. Aku merasa gugup dan cemas. Aku takut kalau-kalau terjadi sesuatu padaku, tidak ada yang tahu hal nekat apa yang akan dilakukan orang itu. Aku seketika menelepon Jojo untuk menceritakan semuanya karena pastinya ini salah satu orang yang terobsesi dengan Jojo. Tapi lama berdering, panggilanku tak kunjung terangkat. Kemudian aku menelepon Helena siapa tau dia bisa memberikan solusi, paling tidak dia akan membuatku tenang. Aku menggigiti kuku jariku, panggilan pun terputus. Kemudian pesan-pesan itu muncul lagi, kali ini dia menunjukkan foto-foto menjijikkan yang tidak ingin ku lihat. Seperti psychopath. “Gue nggak main-main dengan ucapan gue ya jalang!” Aku tidak mungkin bercerita dengan Kak Angga mengingat hubungan kami yang sedang tidak kondusif. Mama pun sepertinya bukan pilihan yang tepat karena aku takut mama akan bertindak jauh. Kalau ayah…jangan ditanya lagi. Kemudian, satu-satunya orang yang terlintas dipikiranku adalah Regi. Iya benar. Aku kemudian menelepon Regi, "Halo, Far?” “R-regi…” Tanpa sadar aku mulai mengeluarkan air mataku. “Hey, kenapa nangis?” Tanya Regi panik, “Gue ke rumah lo ya?” “J-jangan! Udah malem, engg…gue cuman takut, hiks.” “Takut kenapa, Farah? Lo berkenan cerita sama gue?” Tanyanya dengan lembut. “Barusan gue dapat pesan ancaman. Dia maki-maki gue dengan k********r. Gue takut dan gue panik, cemas, gelisah gue juga nggak tau kenapa tapi gue nggak pernah punya masalah sama siapa pun. Gue harus gimana?” “Lo tau siapa yang ngancam lo?” “Nggak tau, Reg. Cuman ada inisialnya aja. Tapi dia ada sebut nama Jojo disitu. Kayaknya dia suka sama Jojo.” Regi kemudian terdiam cukup lama. Hanya hembusan napasnya yang teratur yang terdengar di telingaku. “Lo tau kan apa yang harus lo lakuin?” Aku kemudian terdiam karena tidak tahu apa yang harus ku lakukan. “Lo harus jauhin Jojo, Far.” “J-jauhin Jojo?” Aku tidak berpikir untuk benar-benar melakukannya karena dia adalah sahabatku. Tapi, aku juga takut dengan ancaman dari para fans Jojo. Padahal, selama ini yang menjadi target mereka adalah Helena. Aku juga tidak mengerti kenapa mereka tiba-tiba berpindah haluan menjadikan aku korban juga. Jujur saja, bekas cakaran dari perempuan yang ku ketahui bernama Tasya itu masih terasa perihnya sampai sekarang. Aku masih bisa tenang karena itu hanya sekedar gertakan, tapi apa jadinya kalau berubah menjadi sebuah tindakan serius. “Gue udah bilang kan sama lo kalau Jojo itu membawa pengaruh buruk buat lo. Dengan semua masalah yang dia perbuat akhir-akhir ini apa lo masih berpikir dia adalah orang baik?” “Gue nggak bisa ngejauhin Jojo. Dia sahabat gue. Mungkin gue harus bilang sama dia soal ini. Semoga aja dia ngerti.” “Memangnya Jojo bakal ngapain? Berhenti deketin cewek sana sini? Lo berharap apa sama orang kayak dia? Lo pikir fansnya bakalan stop gangguin lo?” Aku merenungkan apa yang dikatakan Regi. Iya, apa yang akan dilakukan Jojo jika aku menceritakan ancaman ini padanya? Dia nggak mungkin bisa merubah sikap playboynya yang sudah mendarah daging. Aku yakin yang ada dia akan membalaskan ancaman itu ke orang asing yang mengirimiku pesan. Tidak, tidak, sebaiknya tidak usah ku beritahu Jojo dia bukannya menyelesaikan masalah tapi akan menambah masalah baru. “Kalau lo cerita ke Jojo, cewek itu pasti bakalan makin marah ke lo karena udah bikin Jojo jadi benci dia dan gue nggak bisa berpikir lebih positif lagi selain dia bakalan semakin nekat sama lo. Please, Farah, gue nggak mau lo kenapa-kenapa.” Entah kenapa mendengar Regi memohon padaku membuat ku ingin menuruti permintaannya. Setelah aku pikir-pikir ada benarnya juga untuk menjauhi Jojo. Aku memang nggak mengenal Jojo sehari dua hari, tapi kejadian akhir-akhir ini cukup membuatku pusing dan semua penyebabnya adalah Jojo, “Percayalah, Far. Jojo itu kalau di luar sekolah pergaulannya liar banget. Dia bahkan ikut geng motor yang suka balapan liar. Lingkungan anak-anak itu nggak baik mereka suka mabuk-mabukan. Gue nggak mau lo ikut keseret sama Jojo.” “Lo tau darimana Jojo kayak gitu?” “Karena gue punya banyak teman-teman diluar, jadi mereka kenal Jojo dan gue tau dia kelakuannya kayak apa meskipun nggak kenal dekat. Dia itu udah terkenal dikalangan anak geng motor.” “Tapi…selama ini Jojo baik sama gue. Dia juga nggak pernah ngajak gue yang aneh-aneh.” Ujarku menyangkal karena masih terbesit rasa tidak terimaku mendengar kejelekan Jojo yang seperti itu. Aku tidak siap menerima kenyataan. “Tabiatnya baru aja muncul sekarang. Jadi sebelum dia benar-benar mempengaruhi lo, lo harus jauhin dia. Ini demi kebaikan lo juga.” “Lo kenapa seyakin itu kalau Jojo punya niatan buruk ke gue?” “Karena itu udah kejadian ke gue. Jangan sampai lo kena juga. Nah, sekarang lebih baik lo tidur. Besok gue boleh jemput lo ke sekolah?” Tanyanya. “Emangnya lo tau rumah gue?” “Tau dong, masa rumah cewek sendiri nggak tau sih. Gue ada sumber terpercaya.” “Ish, apaan sih gue bukan cewek lo tau.” “Hahaha, soon lah. Yaudah sleep tight ya, Far.” Regi pun menutup teleponnya secara sepihak. Aku memilih untuk mematikan teleponku daripada melihat pesan-pesan spam yang dikirimkan si TY itu. Aku curiga sebenarnya itu Tasya mengingat inisialnya mirip. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja.   ***   Aku terbangun mendengar bunyi debuman keras di luar. Saat ku cek jam weker di mejaku, jam baru menunjukkan pukul 01.15 malam. Sebenarnya aku ingin mengabaikannya saja, tetapi bunyi debuman itu semakin lama semakin keras sehingga mengganggu tidurku. Aku pun memutuskan untuk keluar kamar untuk menuju sumber suara sekaligus mengambil air minum. Sebenarnya aku juga merasa lapar karena semenjak pulang sekolah aku belum makan malam dan memutuskan langsung tidur setelah menelepon Regi. Aku berjalan di dalam kegelapan dengan pelan sekali, takut kalau membangunkan seluruh keluargaku. Hanya lampu dapur yang menyala dengan terang di tengah malam yang hening ini. Namun, langkahku terhenti saat mendengar suara debuman itu terdengar kembali, dan asal muasalnya berasal dari kamar ayah dan mama. Aku mendekati pintu kamar mereka dan berhenti tepat didepannya. Kemudian aku mendekatkan telingaku ke arah pintu, tidak ada suara orang tuaku, entah itu suara obrolan atau apapun. Saat ku dekati sumber suara itu tiba-tiba menghilang, mungkin hanya halusinasiku saja. Aku pun melanjutkan langkahku ke dapur. Betapa terkejutnya aku melihat Kak Angga sedang duduk melamun di meja makan. Aku kemudian berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin untuk menyegarkan dahagaku. Bahkan ketika aku sudah selesai meletakkan gelas di cucian, Kak Angga masih tidak menyadari kehadiranku. Aku pun kemudian hanya berlalu untuk kembali ke kamarku. Tadinya aku berniat untuk memasak mie instan saja, tapi melihat ada Kak Angga di dapur entah kenapa selera makanku tiba-tiba menghilang. “Dek…” Panggil Kak Angga tiba-tiba saat aku ingin meninggalkan dapur. Aku pun menoleh ke arahnya, matanya terlihat sembab seperti habis menangis. Aku pun langsung mendatanginya dan duduk duduk disebelahnya, “Kenapa?” Lirihku tanpa kusadari. “Nggak apa-apa, Kakak cuman mau ngucapin selamat tidur. Udah lama gue nggak bilang begitu ke lo.” dia sudah mengembalikan panggilannya kepadaku, apakah ini pertanda baik? “Lo ada masalah?” Tanyaku. Dia kemudian menggeleng dan tersenyum. Aku pun juga tidak ingin memaksanya lebih lanjut. “Lo inget nggak dulu Kakak pernah ngajak lo buat malingin pohon jambunya Pak Rochmat?” Tentu saja aku ingat. Itu adalah kejadian saat aku berumur 5 tahun dan Kak Angga berusia 6 tahun. Saat itu, keluarga kami masih belum berkecukupan, sehingga untuk kebutuhan makan sehari-harinya sangatlah terbatas. Karena aku sangat ingin makan jambu itu, Kak Angga pun mengajakku untuk mengambil buah di rumah Pak Rochmat. Perbuatan yang tidak terpuji, tapi cukup menyenangkan. “Hm, iya waktu itu gue dengan teganya ninggalin lo sendirian di atas pohon terus digebukin sama Pak Rochmat pakai sapu lidi.” Aku terkekeh saat mengingat kejadian itu. Saat aku berlari setelah mendengar teriakan Pak Rochmat kala itu, Kak Angga tergopoh-gopoh untuk menuruni pohon jambu. Aku kemudian sembunyi di semak-semak dan melihat Pak Rochmat membawa sebilah sapu lidi dan memukulkannya dengan kencang ke Kak Angga. Aku pun kembali kesana dan melemparkan kedua sandal bututku ke kepala Pak Rochmat hingga mengenai matanya. Baiklah, saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi, aku hanya mengikuti saran mama yang selalu mengatakan untuk balas memukul orang yang memukul kita. Well, aku nggak bermaksud kurang ajar, itu hanya bentuk pembelaan diri. “Kekekeke, habis itu lo lemparin sandal ke kepala Pak Rochmat eh malah masuk mulutnya. Alhamdulillah Pak Rochmat kenyang makan sandal.” Aku pun tertawa bersamanya. “Kalau dipikir-pikir gue belum minta maaf sama beliau. Apa kabar ya?” Tanyaku. “Sekarang udah jadi juragan kambing. Kayaknya sandal lo bawa rejeki buat dia.” Aku kembali tertawa pelan, takut membangunkan ayah dan mama. Tak lama kemudian keadaan menjadi hening. Jam sudah menunjukkan pukul 1.46. Tapi rasa mengantukku sudah hilang entah kemana. “Terus kita juga pernah suit-suitan buat dapat suapan nasi terakhir.” Kak Angga kembali terkekeh. Ya, aku ingat itu. Saat itu setelah pulang sekolah, beras di rumah habis dan kami makan nasi sisa kemarin. Kami makan dalam satu piring dan nasi itu kami bagi menjadi Sembilan gumpalan. Begitu pula dengan mama dan ayah yang makan sepiring bersama dan terlihat romantis. Akhirnya di suapan terakhir kami melakukan suit daripada berebutan. “Kalau diingat-ingat gue lebih suka waktu saat-saat kita susah.” Katanya kemudian. Padahal, dulu dia yang sering mengeluh kepada ayah supaya bisa hidup enak. “Gue lebih suka sekarang sih. Kita pizza aja udah tinggal pesan tanpa harus suit buat suapan terakhir.” Balasku. “Meskipun begitu, kita makan bareng-bareng, Ra. Kalau sekarang kita pesan pizzanya masing-masing.” “Hm, sekarang juga masih makan sama-sama—kadang.” Kak Angga pun tersenyum, “Iya tanpa ayah.” “Iya maklumin aja, ayah kan sibuk. Dia juga kerja buat kita, kan. Kalau enggak gitu kita nggak mungkin bisa pakai pakaian bagus, tas, sepatu walaupun harganya masih standar.” “Hm, iya lo bener. Tapi kalau suatu saat disuruh memilih, lo lebih milih ayah atau mama?” Aku kemudian menggeleng, “Gue berharap nggak pernah ada disituasi kayak gitu. Mana mungkin gue disuruh pilih salah satu dari orang tua gue sendiri.” Kak Angga kemudian mengangguk pelan. “Gue minta maaf ya semenjak SMA gue jadi bikin lo kesel terus, gue merasa bersalah juga karena udah mulai—berubah. Gue janji akan lebih baik ke depannya. Gue nggak mau kehilangan orang-orang yang gue sayangi terutama lo.” Aku pun beranjak untuk memeluk Kak Angga erat dan dia balas memelukku. Dasar Farah nggak konsisten, katanya mau memulai perang dingin sama Kak Angga, eh malah luluh gini. Hm, mana mungkin aku sanggup berlama-lama memusuhi Kak Angga, satu-satunya penyelamat dan pelindungku. “Apapun yang terjadi, kita harus sama-sama terus oke? Dan lo nggak perlu khawatir, apa pun yang lo lihat dan lo dengar, lo harus tanyakan dulu ke gue. Janji?” Dia mengulurkan jari kelingkingnya ke hadapanku. Aku tentu saja bingung dengan maksud perkataannya tadi. Namun tak mengurungkan juga niat untuk balas menggenggam jemari kelingkingnya dalam bentuk janji. “Ngapain kalian malam-malam?!” Teriak ayah yang membuatku berjengit kaget dan refleks menumpahkan gelas minumku. Ayah kemudian semakin menatapku marah dan berjalan menuju ke arahku. Namun, Kak Angga dengan segera menarikku ke belakang tubuhnya melindungiku. Karena kami akan tau apa yang selanjutnya akan terjadi. “Minggir, ayah mau kasih anak itu pelajaran!” Ayah menarik tubuh Kak Angga dengan paksa. Mungkin jika ini terjadi saat kami kecil, ayah akan dengan mudah mengambilku dari pelukan Kak Angga. Tetapi sekarang, aku bersyukur karena bobot Kak Angga yang sekarang lebih besar dari ayah karena sering workout membuat tak mudah bagi ayah untuk mengambilku paksa. “Udah lah, Yah! Itu cuman air minum kenapa harus marah?!” Teriak Kak Angga. “Kamu mulai berani sama saya?!” Teriak ayah tak kalah keras. Nggak lama kemudian mama mendatangi kami. Namun, aku melihat sedikit keanehan. Mama berjalan dengan pincang. “Angga udah sayang udah jangan ribut-ribut sudah tengah malam ayo kalian tidur aja. Farah, masuk ke kamar, Nak.” Ujar mama. Aku pun menuruti mama dan sesegera mungkin berjalan meninggalkan dapur. Tak lupa aku mengambil gelas yang tadi terjatuh dan merapikannya seperti semula. “Kenapa sih mas selalu bikin ribut?” samar-samar ku dengar mama membentak ayah, membuatku urung kembali ke kamar dan bersembunyi di balik dinding. “Anak itu yang selalu bikin masalah, kenapa kamu malah menyalahkan saya?” Balas ayah yang berteriak kencang. “Itu cuman masalah sepele. Kenapa kamu selalu sengaja menyalahkan Farah kayak gitu, dia anak kamu. Kamu bahkan nggak pernah kasih dia sayang sedari kecil.” “Saya nggak peduli. Kamu dari dulu tau saya nggak suka anak perempuan! Sudah saya minta gugurkan kamu malah ngeyel! Begini kan jadinya, nggak becus dia jadi anak.” Aku tak bisa menahan isak tangisku mendengar penuturan ayah. Rasanya sakit sekali ketika ayah sendiri yang meminta aku dibunuh bahkan sejak dalam kandungan. “Kamu tiap pulang selalu bikin masalah, lebih baik nggak usah pulang sekalian.” Balas mama lebih tajam. “Oke kalau begitu. Saya nggak keberatan. Lagipula rumah ini rasanya kayak neraka.” “Yasudah sana! Lebih baik kamu kasih makan seling—“ “Mama cukup!” Teriak Kak Angga tiba-tiba membuatku segera pergi menuju kamarku. Aku tidak ingin lagi mendengar keributan itu.   ***   Pagi ini aku tidak bersemangat. Selain karena kurang tidur, keributan yang terjadi tadi malam cukup membuatku merasa bersalah. Karena aku, mama dan ayah jadi adu mulut dan Kak Angga harus ikut-ikutan dimarahi oleh ayah. Pagi ini, mama tidak keluar kamar setelah memasak sarapan untuk kami. Ayah pun sepertinya tadi subuh langsung pergi dari rumah setelah keributan yang terjadi. Jadi, di meja makan ini hanya ada aku dan Kak Angga. “Ayo, dek. Cepetan makannya biar gue antar ke sekolah.” Aku mengalihkan perhatianku dari ponsel ke Kak Angga yang sudah terlihat bersiap untuk ke sekolah. “Nggak usah, kak. Gue dianter temen.” “Oh, Jojo?” “Bukan.” “Terus siapa?” “Engg…” Aku memilih menunda jawabanku untuk membalas pesan Regi yang katanya sudah dekat rumahku. Aku segera merapikan piring dan menyucinya tergesa-gesa. Kak Angga sedari tadi hanya melihatku dengan terheran-heran.  “Kak, gue udah cantik?” tanyaku meminta pendapatnya. “Ngapa sih lu? Entar kalau pulang sekolah juga bakalan buluk lagi. Nggak usah cantik-cantiklah ke sekolah belum ada pacar juga.” Aku kemudian memberengut dan mengambil tas sekolahku. ‘Tin tin’ suara mobil mengagetkan kami. Kak Angga pun menatapku dengan tatapan bertanya dan bergegas menuju ruang tamu lalu mengintip ke jendela. Dia kemudian menatapku menggoda, “Ciee…ciee…ekhem udah punya pacar nih ye. Pantesan dandan. Kok nggak cerita sih?” “Ya gimana lo kan sibuk mabuk-mabukan.” Ketusku tanpa sedar membuat air mukanya berubah, “Ehm, maksud gue…gue nggak bermaksud.” Dia kemudian menggeleng, “Nggak apa-apa. Yaudah gih berangkat kasihan pacar lo nunggu.” Aku menepuk bahunya dan dia terkekeh, “Apa sih orang bukan pacar.” “Oh masih PDKT ya? Berarti bisa dong gue eval dulu.” “Jangan macem-macem ya, kak. Lo mau adek lo jadi bujang lapuk?” Kak Angga kemudian tertawa, “Yaudah gue pamit mama dulu.” Kak Angga kemudian menahan tanganku dan menggeleng. “Jangan diganggu, mama lagi istirahat. Biar gue antar lo ke depan sekalian gue berangkat.” Kami pun berjalan bersama ke depan pagar menuju mobil Pajero hitam milik Regi, “Kenapa, Kak?” Tanyaku saat Kak Angga menilik ke dalam mobil itu dengan cermat, “Kayak kenal ini mobilnya, tapi dimana ya pernah lihat?” “Ih, apaan sih kak kayak mobil ini cuman satu doang di Jakarta. Duluan ya kasihan dia udah nunggu. Assalamualaikum.” Kak Angga pun membalas salam ku dan menuju garasi. Aku mengetuk pintu mobil dan Regi mempersilahkanku untuk masuk, “Maaf ya lama.” Ujarku yang langsung memasang seatbelt. “Santai aja ini juga baru nyampe kok. Oh iya gua ada sesuatu buat lo.” dia kemudian mengambil sebuah bucket bunga yang sangat indah berisikan beberapa tangkai bunga mawar putih. Tentu saja aku menerimanya dengan bingung sekaligus senang. Karena aku tidak pernah mendapatkan bunga sebelumnya. “Buat apa?” “Spesial buat orang tersayang, hahaha.” Aku pun tersipu maludan memukulnya salah tingkah. “Gombal, ih.” Pipiku pasti seperti kepiting rebus sekarang. Regi pun menjalankan mobilnya dengan tenang. Jalanan agak sedikit macet pagi ini, semoga saja kami bisa datang tepat waktu. “Oh iya, hari ini lo sama Jojo…” “Hm, iya lo bakalan dukung gue, kan?” Aku tidak menjawab lebih tepatnya aku enggan menjawab. Aku tidak ingin memberinya harapan lebih. Karena aku takut, kalau seandainya Jojo kalah hukumannya akan sangatlah berat. Regi kemudian menghela napas pelan, “Gue udah bilang sama lo tadi malam. Jangan terlalu percaya sama Jojo. Lo harus jauhin dia. Bagian mana dari kalimat gue yang lo nggak mengerti?” “Nggak mudah buat gue melepaskan Jojo gitu aja. Dia sahabat gue dan udah gue anggap kakak sendiri. Gue cuman…” “Far, lo mau Jojo bawa pengaruh buruk terus buat lo? Lo mau selamanya sama orang kayak gitu? Kalau gue jadi elo sih gue bakalan mundur langsung. Lagipula tadi malam, yang nemanin lo disaat lo butuh siapa kalau bukan gue? Jojo angkat telepon lo?” Aku kemudian menggeleng pelan dan Regi mengusap pelan rambutku. “Lo mungkin anggap dia sahabat. Tapi menurut lo dia anggap lo sahabat juga? Sahabat macam apa yang nggak ada waktu sahabatnya kesusahan.” Benar, Jojo belum tentu menganggapku sahabat. Bisa jadi juga selama ini dia berteman denganku hanya sebagai formalitas karena aku adik Kak Angga. Aku bahkan nggak selevel dengannya. Tidak punya prestasi dan juga tidak kaya raya. Bisa jadi juga dia hanya menganggapku lelucon. “Mulai sekarang, gue yang akan gantiin Jojo buat lo.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN