JOJO
Gue mengobati luka bekas cakaran Tasya di wajah Farah dengan telaten. Berbekal ilmu PMR yang gue dapatkan saat masih SMP akhirnya lukanya pun bisa gue obatin. Berbagai pikiran dan perasaan gue berkecamuk saat ini, mulai dari masalah Regi sampai masalah Tasya, sehingga gue rasa-rasanya nggak ada berniat ngelawak hari ini.
Pasti pihak sekolah udah menghubungi orang tua gue. Meskipun gue belum mendapat kabar apa-apa dari mereka, tapi gue yakin daddy dan mommy lagi dalam perjalanan pulang sekarang.
“Apa yang bakalan lo lakuin setelah ini?” Tanya Farah setelah gue selesai menceritakan kejadian di ruang BK. Meskipun Farah terlihat belum sepenuhnya percaya sama gue, tapi gue masih bersyukur dia nggak membenci gue. Perlahan gue mulai memahami bahwa Farah mungkin masih berharap banyak dengan Regi karena Farah naksir sama dia. Jadi, gue memutuskan untuk nggak memaksa-maksa Farah lagi harus memilih antara gue dan Regi. Tapi gue bakal buktikan sendiri kalau Regi itu nggak baik buat dia.
“Bawa orang tua gue ke sekolah dan permasalahan pun selesai.”
“Kalau Regi terbukti nggak bersalah atau dia bersalah…apa yang akan terjadi?”
“Kalau dia benar, gue bakalan di skors, tapi kalau dia salah gue pun nggak tahu. Mungkin nanti dipertimbangkan sekolah kalau udah terbukti.”
Farah menjatuhkan dirinya di atas kasur dengan nyaman dan—lelah. Sedangkan gue memutuskan untuk turun dan bersandar dibawah ranjang. Keadaan hening menyelimuti kami yang sama-sama berpikir mungkin kalau aja gue nggak gegabah masalah gue nggak akan sepelik ini. Buat gue, hukuman skors nggak berarti apa-apa, tapi yang paling penting adalah bagaimana pandangan Farah—dan teman-teman gue tentang ini, kalau gue emang terbukti bersalah pastinya gue udah menghancurkan kepercayaan mereka dan orang tua gue.
Farah membalikkan badannya sehingga kepalanya bersebelahan kepala gue yang bersandar di badan ranjang. “Mikirin apa sih?” Ujarnya sembari menoel kepala gue pelan.
“Kalau seandainya gue salah lihat gimana?”
“Lo percayain aja semuanya ke Rendy, pasti dia udah nemuin cewek itu—yang kata lo bisa jadi saksi kunci.”
“Tapi lo nggak percaya sama gue, kan?” Farah cuman terdiam dan menatap langit-langit. Gue tersenyum miris, kenapa gue musti mempertanyakan sesuatu yang udah tau jawabannya sih.
“Gue mau pulang, udah jam 5.” Gue tau dia cuman mengalihkan pembicaraan. Tapi alih-alih melawan, gue menuruti permintaannya dan segera mengambil kunci mobil karena hari semakin mendung.
***
Dari berangkat sampai dengan sekarang, keheningan menyelimuti kami. Gue beneran sama sekali nggak ada berniat membuka suara atau sekedar bercanda dengan Farah. Saat ini hujan sudah semakin deras ditemani Guntur dan kilat. Kami masih berhenti di lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah di angka 58 detik. Gue mengetuk-ngetukkan kepala gue ke samping jendela, melirik kemana pun untuk mengusir rasa bosan gue.
Namun, hal yang menarik perhatian gue adalah sebuah mobil Innova abu-abu dengan plat kendaraan yang sangat familiar dimata gue. Mobil ayahnya Farah, mungkin mereka baru aja sampai di Jakarta setelah pulang ke Bandung. Pas banget, bersamaan dengan gue yang baru aja mengantarkan Farah pulang. Semoga aja kita sampai duluan sebelum orang tuanya Farah. Mobilnya persis berhenti disebelah gue meskipun samar, gue bisa melihat dengan jelas siluet lelaki paruh baya yang memakai kemeja ditemani seorang perempuan yang sebenarnya sama sekali nggak mirip dengan mamanya Farah. Gue pikir, gue cuman salah lihat, namun tiba-tiba aja kaca mobilnya terbuka saat Ia hendak membuang sesuatu. Boom! Hal apalagi yang lebih mengejutkan hari ini? Wanita itu bukan ibunya Farah.
Gue nggak tahu itu siapa tapi gue tau dia masih berumur muda, apalagi dengan rambutnya yang dicat merah dan pakaian modisnya. Gue masih mencoba berpikir positif kalau itu rekan kerja ayahnya tapi sirna bergitu saja saat ayah Farah dengan mesra mengelus rambutnya. Apakah rekan kerja bisa memiliki kedekatan seintens itu?
“Jo! Jojo!” Teriak Farah yang membuat gue menoleh padanya. Jangan bilang Farah melihatnya.
“Itu lampunya udah hijau cepetan dari tadi diklaksonin mobil belakang.” Gue pun tersadar dan langsung menjalankan mobil kembali. Dalam hati gue melafalkan doa berharap Farah nggak melihatnya. Gue nggak mau ambil kesimpulan tapi, kalau sampai Farah lihat itu bisa aja dia salah paham, “Lo mikirin apa sih?”
“H-hah?”
“Lo stress banget gara-gara kejadian hari ini?”
“E-enggak lah, gue kan nggak salah!”
“Ish, iya sih nggak usah ngegas.”
“Gue latihan buat besok siapa tau gue adu mulut sama Regi.”
“Ck, iya-iya mau ditemenin nggak?”
“Halah, emang gue anak TK ditemenin? Temenin aja sono gebetan lo tuh cupu banget baru lima kali tonjok aja udah pingsan.”
“Emangnya lo kalau ditonjok nggak pingsan? Lo mau gue tonjok sekarang?”
“Eh jangan dong! Gue lagi nyetir, kalau kita nabrak terus langsung masuk kuburan gimana?”
“Yaudah ke alam kubur kita ditanyain man robbuka.”
“Sorry ya gue ateis.”
“Ateis tapi kalau lagi ngedeketin cewek aja berdoa sama Tuhan biar dilancarkan urusan dasar lo.” Gue pun tertawa bersama Farah, suasana sudah kembali menghangat seperti sedia kala. Walaupun gue masih belum bisa mengimbangi candaannya dengan baik, karena gue masih banyak pikiran. Malah nambah beban pikiran gue karena bokapnya Farah tadi.
Nggak lama gue pun sampai di depan rumahnya Farah. Mobil Innova yang ditumpangi ayah Farah tadi belum sampai. Hujan semakin deras sehingga gue mengantarkan Farah memakai payung untuk sampai ke pintu rumah.
‘Tok tok tok’
“Assalamualaikum! Mama!” Teriak Farah dari luar.
“Lo nggak bawa kunci rumah?”
Dia hanya menggeleng, “Biasanya gue taroh di pot bunga, tapi kosong berarti mama udah pulang.”
Benar saja nggak lama kemudian pintu rumah pun terbuka memperlihatkan mamanya Farah yang sudah berbalutkan daster rumahan, “Waalaikumsalam, eh ada Jojo. Mau mampir?”
“Eh nggak usah tante, saya langsung pulang aja, udah mau maghrib.”
“Ayah belum pulang, Ma?” Interupsi Farah yang membuat tante Indi terdiam dan menatap gue.
“Em…ayah masih ada urusan kantor.”
“Hmm ayah sibuk terus sih.”
“I-iya lagi ada proyek katanya Oh iya itu si Angga berantem lagi? mukanya biru-biru gitu.” Tante Indi mengalihkan pembicaraan membuat Farah hanya menatap gue dan gue melakukan hal yang sama, sama-sama panik. Gue pun memutuskan untuk berterus terang, “Sebenarnya…”
“Itu! Kak Angga kemarin ada mata pelajaran tinju di sekolah! Iya, jadi gitu…”
“Oalah, kok sekolahnya nggak tanggung jawab sih! Yasudah besok mama ke sekolah aja minta pertanggung jawaban.”
“Eh? Jangan ma! Soalnya…engg—soalnya…”
“Angga yang salah, Ma. Angga mukul duluan jadi yasudah nggak usah diperpanjang.” Muncul Angga yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang gue. Ini kenapa orang-orang suka muncul tiba-tiba kayak hantu sih.
“Eh panjang umur kamu pulang. Aduh basah kuyup gini, cepetan ganti baju sana.” Angga pun masuk tanpa menoleh baik ke gua maupun Farah. Gue hanya menggelengkan kepala heran, masih sempet-sempetnya dia bohong. Pinter banget nge lesnya pantes aja orang tuanya Farah nggak tau. Wong, percayaan gitu sama anak sendiri.
“Kalau begitu saya pamit tante.”
“Eh iya hati-hati ya, Nak. Salam buat Joana.”
“Makasih ya, Jo.” Farah tersenyum lembut kepada gue. Membuat perasaan gue sedikit….tenang.
***
“Kamu apa-apaan, Jo?! Nggak bisa apa sehari aja nggak bikin onar?” Tegas daddy saat baru saja sampai ke rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, apa daddy nggak ada niat pending acara marah-marahannya sampai besok dan biarkan gue beristirahat dengan tenang. Saat ini gue sedang di sidang oleh daddy di ruang tengah. Ditemani mommy yang duduk di ujung kanan dan Jeje di ujung kiri yang berniat nguping hasil persidangan gue. Sedangkan daddy dengan wajah sangarnya duduk tepat di depan gue berbataskan meja kaca. Tenggorokan gue tiba-tiba seret, kasih gue minum dulu kek.
“Dad, biarin Jojo jelasin dulu permasalahannya kenapa, jangan asal marah-marah.” Thanks to mommy yang sudah menahan daddy supaya nggak mengunyah gue sekarang. Daddy hanya terdiam saat mommy berpindah dan mengusap punggu daddy perlahan.
“Coba jelaskan sama daddy, kenapa kamu bisa menghajar anaknya Prakarsa sampai babak belur bahkan masuk rumah sakit.”
“Alah dia aja yang lebay, lukanya nggak seberapa kok pake dibawa ke rumah sakit segala.”
“Jojo!” teriak daddy membuat gue sedikit terkesiap. Gue pun menegakkan tubuh gue dan mengepalkan tangan dengan gugup. Gue selalu takut tiap kali melihat bokap marah-marah. Karena bokap jarang marah-marah, jadi sekalinya marah rasanya ngeri banget.
“Mana mungkin Jojo biarin Regi melecehkan orang lain seenaknya.”
“Apa? Kamu nggak bohongkan?” Tanya mommy yang juga meragukan gue.
“Kamu jangan mengada-ngada, Jo. Keluarga Pak Prakarsa itu terkenal memiliki reputasi yang baik.”
“Jojo nggak bohong!” Keras gue.
“Apa kamu ada bukti?” Tanya daddy.
“Nggak ada, tapi Jojo punya saksi. Semoga aja dia mau speak up atas apa yang terjadi besok.”
Daddy mengusap rambutnya yang acak-acakan dengan frustasi, karena tahu kalau masalah ini lebih berat di gue. Kalau sampai ternyata gue beneran salah lihat, mungkin gue nggak hanya di skors tapi bisa aja gue dipenjara karena melakukan pencemaran nama baik.
“Kenapa kamu harus berurusan sama keluarga Prakarsa? Kamu tahu mereka yang paling berpengaruh di daerah kita. Kalau kamu terbukti bersalah dan mereka menuntut kamu bagaimana?”
“Kenapa daddy takut? Jojo nggak bersalah kok. Kalau pun nanti dia menuntut kita, kita bisa menuntut balik, daddy punya banyak uang, bahkan lebih banyak dari keluarga dia.”
“Ini bukan masalah uang, Jo. Daddy bisa aja sewa seribu pengacara. Tapi ini masalah harga diri, mau ditaroh dimana muka keluarga kita? Apalagi daddy baru aja melakukan kerja sama dengan keluarga Prakarsa.”
“Jadi daddy lebih milih bisnis daripada aku?” Tanya gue sinis. Nggak bisa dipungkiri kekecewaan gue sangat besar terhadap daddy yang bisa-bisanya masih mikirin bisnis.
“Kamu pikir kita makan pakai uang apa? Ngepet? Bisa-bisanya kamu bilang seperti itu tapi masih bergantung uang sama daddy?!” Daddy menatap gue dengan amarah dan gue membalas balik tak kalah tajamnya. Kemudian gue memutuskan untuk kembali ke kamar untuk menenangkan diri mengabaikan teriakan daddy di bawah sana. Padahal tadinya gue berharap banyak sama daddy mengharapkan perlindungan dan dukungan. Tapi nyatanya daddy malah ikut-ikutan menyalahkan gue.
Saat gue ingin memejamkan mata, pintu kamar gue diketuk pelan. Gue nggak menyahut maupun membuka pintunya, gue pura-pura tidur supaya gue nggak disalah-salahin lagi. Tapi yang ada pintu gue malah dibuka dari luar dan menampakkan sosok mommy yang mengintip dari celah pintu.
“Jo? Udah tidur?” Gue menghela napas dengan kasar dan bangkit duduk. Mommy pun menutup pintu dan duduk dengan perlahan disamping gue, “Mau peluk?” tanya mommy yang tentu saja gue iyakan. Gue langsung memeluk mommy dengan erat menumpahkan segala kegundahan gue. Anehnya gue nggak menangis, mungkin lebih tepatnya gue nggak bisa menangis saking stressnya.
“Mommy percaya sama Jojo. Anak mommy nggak mungkin fitnah orang sembarangan.” Dan gue pun semakin memeluk mommy dengan erat. Sedangkan mommy mengusap punggu gue dengan lembut.
“Mommy beneran percaya atau cuman mau menghibur hati Jojo aja?”
“Hush, suudzon banget sama orang tua. Mommy beneran percaya tau. Meskipun nggak sekali dua kali Jojo bikin onar, tapi mommy selalu percaya kalau Jojo anak baik. Tapi bukan berarti tindakan kamu mommy benarkan, mommy harap kamu belajar dari kesalahan, kalau emosi jangan suka main tangan.” Gue kemudian melepaskan pelukan mommy dan menganggukkan kepala gue.
“Daddy masih marah sama Jojo?” Tanya gue.
Mommy mengangguk dan mengusap rambut gue dengan sayang, “Tapi sudah nggak semarah tadi kok. Sudah mommy bilangin juga supaya nggak terlalu keras sama kamu. Selama ini mommy sadar kamu kurang kasih sayang karena semuanya diambil Jeje. Mommy juga nggak suka kalau daddy lebih mementingkan bisnis daripada anaknya sendiri. Semoga aja besok dikasih yang terbaik sama Tuhan.”
“Tapi, tumben daddy mau pulang, mom. Biasanya juga mommy yang hadir kalau Jojo bikin ulah di sekolah.”
“Karena kamu berurusan sama keluarga Prakarsa.”
“Memang kenapa keluarga mereka?”
“Mereka itu punya reputasi yang baik tapi, cukup berbahaya juga. Dengan reputasi yang mereka punya, kalau kita cari masalah sama mereka menurut kamu siapa yang dapat atensi dan dukungan dari publik? Jadi kita juga harus main cerdik. Makanya mommy juga sebenarnya marah karena kamu segegabah ini. Kenapa kamu harus pakai kekerasan sih, Jo?”
“Maaf, mom. Jojo nggak sengaja.”
“Ck, mana ada orang mukul nggak sengaja.” Gue hanya nyengir tak berdosa, “Yasudah kamu tidur gih.” Mommy beranjak mematikan lampu utama kamar gue dan menyalakan lampu tidur. Namun, gue menahan lengannya, “Keluarga Prakarsa itu kayak gimana?”
Mommy kembali duduk di sebelah gue yang sudah telentang diatas kasur, “Emangnya keluarga Prakarsa itu sebaik apa sih?”
“Selain karena Pak Prakarsa itu pengusaha sekaligus ketua DPR, mereka juga suka sering ngelakuin kegiatan amal, ikut blusukan, terus ikut kampanye-kampanye kekerasan gitu, jadi ya emang susah kalau kamu mau membalikkan fakta bahwa anaknya itu tukang c***l. Apalagi si siapa sih tuh nama anaknya, kabarnya juga sering ikut bantu bapaknya ngurusin bisnis dan ikut-ikut acara juga. Makanya daddy takut kalau ternyata kamu terbukti bersalah, imbasnya juga ke image keluarga kita karena cari gara-gara sama keluarga itu.”
Gue kemudian mengangguk mengerti. Padahal ya c***l mah c***l aja, mau keluarganya anggota DPR kek mau gubernur kek, mau pahlawan dunia kek. Tapi, gue nggak mau memikirkan lebih lanjut. Gue harus tidur sekarang supaya besok bangun dengan glowing dan siap menghadapi kejamnya dunia.
***
Saat gue datang, teman-teman gue langsung mengerubungi gue. Kecuali Farah yang kayaknya belum datang ke sekolah. “Gimana lo udah dapet ceweknya?” Tanya gue ke Rendy. Rendy pun mengangguk bersemangat dan menunjukkan sebuah media sosial bertuliskan Fira Deliona. Benar. Ini dia sosok yang gue cari, “Bawa gue ke dia.”
“Oke gue bawa lo setelah istirahat, soalnya udah bel masuk.”
“Nggak bisa sekarang aja? Habis jam pelajaran pertama gue harus ke kantor kepala sekolah.”
“Nggak berani gue, Jo. Jamnya Pak Suhaidi, terakhir kali gue bolos nilai gue dikasih telur ayam di rapot gue. Makanya gue nggak naik kelas.” Rendy emang bukan siswa kelas 11 murni. Seharusnya dia kelas 12 sekarang, tapi gara-gara berurusan sama Pak Suhaidi sang guru sejarah, dia jadi harus rela nggak naik kelas. Tapi, anehnya dia nggak merasa terbebani meskipun ditinggal teman-teman sekelasnya dulu. Mungkin, dia mau jadi penghuni abadi Cenderawasih.
“Semangat ya, Jo. Kalau jam istirahat kita nyusulin lo kesana. Oke?” Kata Helena membuat gue sedikit lega.
Tak lama kemudian gue melihat siluet Farah dan Regi berjalan berdampingan. Membuat d**a gue sedikit sakit nggak tahu kenapa. Gue rasa, gue kecewa karena mengharapkan Farah akan ikut mensupport gue hari ini. Tapi ternyata dia memilih ada disamping Regi buat mendukungnya. Gue pun mengalihkan wajah dan membuka buku gue, pura-pura membaca.
“Lo dianterin Regi?” Terdengar nada tak bersahabat dari Helena ketika melihat Farah tertawa sumringah saat bersama Regi.
“Iya tadi dia jemput, dia juga bawain gue bunga. Romantis banget, kan?” Lagi-dan lagi gue menyimpan kekecewaan gue dalam-dalam.
“Serius, Ra?! Jojo perlu dukungan lo dan elo malah asik-asikan sama Regi si tukang c***l?!” Teriak Helena yang membuat seisi kelas langsung menatap ke arah kami.
“Hel! Jangan keras-keras! Nanti orang salah paham.” Farah membungkan mulut Helena yang langsung ditepis kasar.
“Emang beneran dia c***l kok orang udah ada saksinya. Far, gue tau lo jatuh cinta tapi jangan terlalu goblok.”
“Hel!” Tegur gue ke Helena. Sedangkan Farah hanya membuang mukanya dari gue. Gue sedikit kebingungan dengan tingkahnya hari ini, dari tadi dia nggak ada sedikitpun menatap gue. Apakah gue melakukan kesalahan?
“Lo masih bisa belain dia, Jo? Sahabat macam apa lo ngebiarin temen lo susah sendiri? Makan tuh cinta, semoga aja lo disakitin sama dia biar kena batunya lo, Ra.”
Gue langsung menahan Helena untuk berkata lebih lanjut lagi, karena mata Farah yang sudah mulai berkaca-kaca. “Hel, jangan bikin keributan. Udah biarin aja.”
“Far, maaf.” Farah mengabaikan gue dan langsung duduk di kursinya. Kayakya ada sesuatu yang aneh. Tapi gue nggak mau mempermasalahkan dulu karena ada hal yang harus gue selesaikan. Mungkin gue secara nggak sengaja membuat kesalahan dan membuat dia marah.
“Aisyah! Tukeran tempat duduk gih! Gue mau duduk sama Jojo aja!”
Aisyah hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengusap dadanya pelan. Sedangkan gue hanya tersenyum maklum padanya meminta maaf. Untung aja Aisyah orangnya nggak galak menghadapi kelakuan Helena yang kayak alien.
Nggak lama guru pun memasuki kelas dan murid langsung duduk dengan rapi, saat gue hendak duduk Pak Suhaidi memanggil gue ke depan. “Kamu dipanggil kepala sekolah. Ckckck, jadi anak bikin masalah mulu. Nggak usah sekolah sekalian.”
Gue mengabaikan omongan pedas Pak Suhaidi dan langsung ngacir ke ruang kepala sekolah. Gue merapikan baju dan rambut gue kemudian mengetuk pintu. Saat gue membukanya hembusan dari AC yang ada diruangan ini langsung menusuk kulit gue. Dingin. Sama seperti hawa yang gue rasakan saat memasukinya. Merasakan berbagai tatapan dari berbagai mata tertuju ke arah gue.
“Senang bertemu kamu Jojo.” Pria paruh baya dengan jas hitam dan kemeja putih itu menyapa dan mengulurkan tangannya ke gue. Insting gue mengatakan kalau dia adalah bokapnya Regi, Pak Prakarsa. Gue pun menyambut uluran tangan itu dengan sedikit—gugup.
“Silahkan duduk, nak. Biar segera kita mulai.” Ucap kepala sekolah.
Gue pun segera duduk diantara orang tua gue. Tangan mommy tak kalah dinginnya dengan gue, “Baik jadi langsung saja ya. Mungkin masing-masing orang tua kedua belah pihak sudah mengetahui bahwasannya Jojo melakukan kekerasan kepada Regi kemarin saat jam istirahat. Mungkin dari Regi bisa menjelaskan kronologisnya?” Sial kenapa Regi dulu yang harus diminta klarifikasi.
“Saya nggak tahu, Pak. Waktu itu saya lagi makan sama teman-teman, lagi bercandaan. Tiba-tiba dia datang langsung menghajar saya bertubi-tubi. Saya nggak sempat membalas karena tangan saya terkunci oleh Jojo.” Gue membelalakkan mata gue. Gue ingat betul posisi gue saat itu, gue memang menghajar dia tapi gue sama sekali nggak mengunci pergerakannya. Gue mengepalkan tangan gue. s**t baru mulai aja udah keluar muka duanya nih anak.
Daddy menahan tangan gue sekuat tenaga, mencegah supaya gue nggak bertindak ceroboh lagi. Gue hanya bisa menggertakan gigi gue dengan kuat menahan emosi.
“Baik dari Jojo sendiri bagaimana?”
“Saya nggak mungkin asal pukul, Pak. Alasan saya mukul dia karena dia cabulin anak kelas sepuluh. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Bapak bisa panggil anaknya untuk minta keterangan, namanya Fira Deliona anak 10 IPS 2 dan lagi…apa yang dikatakan sama Regi itu nggak benar, saya nggak kunci pergerakan dia, mungkin teman-teman disekitar bisa jadi saksi juga. Kemarin banyak saksinya kok, Pak.”
“Baik kalau begitu kita panggil Fira Deliona. Bu Dena, tolong panggilkan Fira ke kelasnya.” Bu Dena yang sedari tadi berdiri disamping Pak Salim sang kepala sekolah pun mengangguk dan bergegas keluar memanggil Fira Deliona. Gue menatap mama meyakinkan, mama kemudian mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Regi sudah menatap gue sinis, berbeda dengan kedua orang tuanya yang sedari tadi bersikap tenang namun gue bisa merasakan juga ketegangan diantara mereka.
Gue juga baru sadar kalau luka di wajah Regi semakin banyak. Bukan luka yang gue perbuat kemarin karena sudah mulai mengering, tapi luka-luka itu terlihat masih basah dan segar seperti fresh from the oven. “Pak Jeremy…” Panggil Pak Prakarsa ke bokap gue. Gue menatapnya dengan waspada takut-takut kalau dia ngomong sesuatu yang enggak-enggak. “Bapak tahu kan selama ini hubungan kita baik-baik saja. Saya juga sangat menghormati bapak betul. Makanya waktu pertama kali tahu mengenai masalah ini, saya nggak langsung menghakimi Jojo, saya juga ikut crosscheck dan mau bermediasi disini. Tapi, kalau memang ternyata Jojo terbukti bersalah saya nggak segan untuk bawa ini ke jalur hukum.” Genggaman gue ditangan mommy pun mengeras begitu pula dengan mommy, sedangkan daddy hanya tersenyum tenang.
“Begitu pula dengan saya, Pak. Saya juga nggak langsung menghakimi Regi, saya pun juga sudah siap dengan segala konsekuensinya.” Daddy tersenyum tenang sedangkan Pak Prakarsa memasang muka datar. Kepala sekolah pun tidak cukup berani untuk menginterupsi mengingat seberapa besar pengaruhnya orang tua gue dan Regi bagi sekolah ini.
Nggak lama kemudian Bu Dena masuk ditemani dengan seorang remaja perempuan di belakangnya. Yup, si pita merah. Dengan kehadirannya disini gue merasa sedikit tenang. “Silahkan duduk, Nak Fira.” Kata Bu Dena lembut.
“A-ada apa ya, Pak?” Fira bertanya dengan gugup dan sesekali melirik Regi. Gue bisa melihat kilat ketakutan dimatanya setiap kali melirik ke arah Regi.
“Fira santai saja jangan tegang. Fira pasti tahu kan mengenai masalah kemarin siang di jam istirahat? Menurut keterangan Jojo, Regi sudah melakukan pelecehan ke kamu, apakah itu benar Fira?” Tanya Pak Salim. Fira hanya terdiam dan meremas kedua tangannya di roknya sendiri. Membuat rok itu semakin kusut dan buku-buku jarinya memutih.
“Fir, ayo jujur aja nggak usah takut, kita ramean kok disini Regi nggak mungkin macem-macem sama lo.” Ucapan gue tadi berhasil membuat tatapan tajam orang tua Regi beserta orang tua gue membesar. Tapi, gue nggak peduli yang penting ini masalah cepat kelar. Si Fira ini lambat banget sih ketimbang bilang doang lama banget kayak siput.
“Jojo, tolong jangan ganggu Fira. Ayo Fira bisa dijelaskan?” Tegur Pak Salim.
“Engg….itu…” Gugupnya. Bu Dena di sebelahnya pun langsung mengusap bahunya pelan, “Fira jangan takut ya. Keterangan Fira disini sangat diperlukan supaya bisa menolong Jojo maupun Regi. Jadi bicara saja ya?” Kata Bu Dena.
“S-saya… Kak Regi… itu…sebenarnya…” Dia sesekali melirik ke arah Regi dengan takut. Gue yakin hanya gue yang sadar kalau Regi sedari tadi menatap tajam Fira. Sepertinya ada yang nggak beres.
Gue memajukan posisi duduk gue dengan tak sabaran. Karena Fira sangat ketakutan apalagi sekarang Regi menatap tajam ke arahnya membuat gue semakin curiga.
“Kak Regi nggak bersalah, Bu. Kak Regi nggak melecehkan saya.”
SHIT!