FARAH
Aku tengah berjalan menuju kantin bersama Helena. Kami agak terlambat keluar kelas karena Helena harus menyalin tugas Bahasa Indonesiaku sebelum jam pelajaran selanjutnya. Namun, saat kami menuju kantin di sebelah barat, para siswa berlarian dengan heboh, bahkan aku sampai tersenggol dengan kuat, “Sorry!” Ujarnya dan langsung berlari meninggalkanku.
“HEH! DASAR COWOK NGGAK BERTANGGUNG JAWAB! UDAH NABRAK MALAH NINGGALIN!” Teriak Helena. Aku mengusap bahuku pelan dan segera menepi aku melirik kea rah Helena yang tengah melirikku juga.
Helena pun mencegat salah satu siswa yang ikut berlarian, “Eh ada apa sih? Ada murid baru? Cogan? Atau ada yang gelut?”
“Jojo! Jojo berantem sama Regi!” Seketika aku terbelalak dan mengikuti arah keramaian meninggalkan Helena di belakang. Sungguh, aku benar-benar khawatir dengan Jojo bagaimana jika dia kenapa-kenapa? Semoga saja dia masih hidup.
Namun yang ku dapati ternyata bukanlah Jojo yang terkapar tak berdaya melainkan Regi. Entah kenapa amarah langsung meluap dari dalam diriku. Kenapa Jojo harus berbuat ulah? Kenapa Jojo tidak bisa memikirkan dirinya sendiri? Kalau sampai dia dihukum berat oleh guru bagaimana? Kenapa dia selalu menggunakan kekerasan? Aku pun segera menahan kepalan tangannya yang ingin memukul Regi kembali. Aku mencegah agar Jojo tidak terlibat semakin jauh dalam permasalahan ini.
Aku menatap Regi dengan sedikit meringis pasti rasanya sakit sekali. Kemudian aku mendorong Jojo dengan kasar karena bobotnya yang lebih berat daripadaku. Lalu membantu Regi untuk berdiri bersama beberapa—yang kuduga teman Regi untuk membawanya ke UKS. Aku bahkan tidak mau repot-repot menoleh ke belakang untuk melihat Jojo. Aku memang tidak tahu permasalahan apa yang sedang terjadi tapi aku sungguh sangat membenci kekerasan.
Dulu waktu aku kecil, ayah sering memukulku jika nilaiku jelek di sekolah. Aku pernah mendengar ayah dan mama bertengkar saat aku mendapatkan peringkat hampir terakhir di kelas karena saat itu aku absen dari kelas selama sebulan akibat kecelakaan yang ku alami. Aku mendengar ayah mengutukku dan kenyataan bahwa ayah lebih suka anak laki-laki daripada perempuan membuat hatiku sangat sakit. Keambisiusan ayah awalnya membuatku berat namun aku berusaha semampuku untuk membanggakannya. Tapi, setelah aku tahu kasih sayang ayah untukku hanyalah kepalsuan, aku perlahan menyerah dan tidak peduli lagi. Untungnya ayah sekarang semakin jarang pulang ke rumah sehingga Ia tidak sempat mengecek nilai-nilaiku.
Kami saat ini berada di UKS dengan Regi yang terkapar diatas kasur. Sebenarnya aku merasa canggung dengan teman-temannya yang notabenenya adalah laki-laki. Terlebih lagi, sejak masuk ruangan UKS mereka terus menatapku dengan aneh. Setelah diobati oleh salah satu petugas UKS, Regi pun dibiarkan istirahat sejenak di kasur. Aku merasa lega karena teman-teman Regi sudah keluar semenjak diusir oleh petugas UKS tadi. Saat aku beranjak Regi tiba-tiba menarik tanganku, “Disini aja…” Lirihnya.
Aku pun kembali duduk di kursi sebelah ranjang menemaninya. Regi kemudian tiba-tiba duduk bersandar pada kepala ranjang, “Hati-hati.” Kataku dan membantunya bangkit, Ia hanya tersenyum mengucapkan terima kasih.
“Lo mau apa? Makan? Minum?” Tanyaku padanya.
“Ya ampun, Far. Gue ini bonyok bukannya demam.” Kekehnya pelan namun tak lama kemudian meringis kesakitan, “Kok bisa kayak gini?” Tanyaku padanya.
“Gue nggak tau. Tadi gue lagi makan sama temen-temen gue. Terus tiba-tiba Jojo langsung nonjok muka gue.”
“Lo ngelakuin kesalahan apa sampai kayak gini?”
“Nggak ada, Far. Gue ngobrol sama Jojo aja nggak pernah, terus kenal juga nggak, lo tau kan.” Aku hanya mengangguk membenarkan. Tapi menurutku Jojo nggak mungkin menghajar orang tanpa alasan yang jelas juga, “Menurut gue lo nggak usah lagi berteman sama orang kayak dia. Gue nggak masalah dikasarin karena gue cowok. Tapi kalau dia kayak gitu ke lo gimana?”
“Nggak, Jojo nggak mungkin kasar sama gue.” Balasku pelan.
“Ya kita nggak tau, kan? Gue mau tanya sama lo, yakin Jojo nggak pernah kayak gini sebelumnya? Atau dia udah pernah nonjok orang juga?” Tanyanya padaku. Seketika aku merenunginya. Jojo tidak hanya sekali melakukan hal seperti ini, tapi baru saja tadi malam dia menghajar kakakku sampai babak belur. Namun ku urungkan untuk berbicara kepada Regi karena aku tidak mau membongkar aib sahabatku sendiri.
“Lo diem berarti emang bener.” Aku segera menggeleng tidak membenarkan. Regi hanya menghela napas, “Gue tau dia sahabat lo. Tapi lo harus bisa memilah milih mana teman yang bawa pengaruh baik buat lo, gue bilang kayak gini bukan karena gue benci Jojo, tapi karena gue nggak mau orang yang gue suka kenapa-kenapa.” Ucapan manisnya seketika membuat jantungku berdebar-debar namun aku tetap berusaha memasang ekspresi biasa saja.
“L-lo serius suka sama gue?” Akhirnya aku melontarkan pertanyaan yang selama ini ku pendam. Regi mengangguk kemudian mengenggam kedua tanganku, “Lo nggak percaya?”
“Secepat ini?”
“Lo tau istilah love at the first sight?” Aku mengangguk dan dia tersenyum semakin lebar, “Itulah yang gue rasakan ke lo saat ini. Lo beda dari cewek lainnya. Keunikan yang lo punya yang bikin gue jatuh hati sama lo. Gue nggak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya sama cewek lain.”
“T-tapi ini terlalu cepat.” Ujarku terbata-bata.
“Gue juga nggak mau buru-buru kok. Gue mau kita mengenal dulu. Apapun itu menghabiskan waktu sama lo pasti hal yang menyenangkan.”
Aku seketika tersenyum dan pipiku pasti sudah memerah seperti kepiting rebus. Regi tertawa melihatku yang malu-malu kucing. “Lucu banget sih!” Dia mencubit pipiku dengan gemas membuatku semakin memerah. Duh, selamatkan hatiku selamatkan jantungku! Aku belum bisa menyimpulkan kalau aku jatuh cinta, aku perlu waktu untuk mengenalnya lebih jauh. Tetapi, siapa wanita yang tidak tersipu mendengar gombalan seperti itu? Rasanya seperti kau menjadi satu-satunya wanita yang dia miliki.
“Woy! Reg! Jangan lupa k****m! Hahahaha!”
“Keluar diluar aja, Reg!”
Aku seketika terkejut mendengar teriakan-teriakan tak senonoh dari teman-teman Regi. Aku menatapnya dan ku rasakan dia seketika panik. “Udah jangan didengerin, mereka cuman iseng.”
“Lo bergaul sama anak-anak kayak mereka?” Tanyaku heran. Regi itu anggota OSIS, harusnya dia memiliki lingkungan pertemanan yang sehat, bukannya para cowok berandalan seperti mereka.
“Gue pernah bilang kan sama lo gue nggak punya banyak teman di sekolah ini? Gue terpaksa temenan sama mereka karena cuman mereka yang mau mengakrabkan diri sama gue. Gue orangnya nggak pintar bergaul.”
“Sama kayak gue, Jojo sama Helena juga yang ngedeketin duluan. Kalau bukan karena mereka, gue pasti nggak ada teman di sekolah.”
“Lo kan cantik, nggak mungkin nggak ada yang mau temenan.”
“Cantik doang kalau nggak asik buat apa?”
“Hahah jadi lo mengakui kalau lo cantik?”
“Eh?” seketika aku salah tingkah. Kesannya kayak aku sombong banget dan merasa paling cantik sedunia gitu. aku jadi malu, pasti dia nggak menganggap aku secantik itu.
“Lo cantik kok, cewek tercantik yang pernah gue kenal.” Dia tersenyum lembut dan lagi-lagi membuat semburat merah dipipiku. Tolong hamba kayaknya bakalan sesak napas nih.
***
Bel pelajaran ketiga sudah berbunyi tapi Jojo masih belum terlihat kehadirannya. Helena yang menyadari bahwa aku sedari tadi tidak fokus pun menyolek tanganku, “Kenapa?” Tanyanya membuatku hanya menggeleng pelan. Aku kembali mengalihkan pandanganku pada gambar struktur sel hewan di papan tulis namun lagi-lagi tatapanku berlari pada bangku Jojo yang kosong. Kemana dia?
“Jojo disuruh pulang sama Bu Dena.” Kata Helena seakan bisa membaca pikiranku. Aku hanya menatapnya dengan pandangan bertanya. Kemudian dia berbisik lagi, “Besok orang tuanya dipanggil ke sekolah. Semoga aja dia terbukti benar.”
“Orang yang mukulin orang lain terbukti benar? Lo nggak salah, Hel?” Tanyaku padanya.
“Lo tau penyebab Jojo mukulin Regi? Dia ngelakuin pelecehan ke anak kelas sepuluh.” Aku terbelalak mendengarnya. Mana mungkin Regi seperti itu.
“Nggak mungkin…mungkin Jojo bohong.”
“Buat apa dia bohong?” Aku terdiam dan berpikir. Jojo tidak mungkin bertindak sejauh itu kalau alasannya karena tidak menyukai Regi. Tapi apakah benar Regi sejahat itu? Karena selama aku mengenalnya, Ia tidak pernah bertindak macam-macam denganku. Bahkan ketika kami hanya berdua di UKS tadi, dia seharusnya memiliki banyak kesempatan tapi tidak—dia tidak melakukannya. Kepalaku mulai pusing memikirkannya.
“Kalau lo pusing, sama gue juga pusing. Entah siapa yang harus gue percaya disini. Menurut gue mereka sama-sama punya argumen yang kuat untuk membela diri. Terlebih lagi Regi, anak OSIS dan terkenal baik apalagi dia nggak pernah bikin onar jadi dia nggak ada alasan buat melakukan hal kayak gitu. Tapi, Jojo juga nggak punya alasan khusus buat menjelek-jelekkan Regi karena mereka bahkan nggak pernah kenal selain tau nama. Mungkin—ya Jojo kenal sama Regi setelah dia deket sama lo. Tapi dia nggak senekat itu sampai fitnah orang.” Jelas Helena panjang lebar.
Aku hanya mengangguk membenarkan. Semuanya terlalu tiba-tiba bagiku. Hal ini membuat perasaan curigaku juga terbuka untuk Regi, apa iya rumor yang selama ini ada di antara anak-anak itu benar? Kalau iya apakah itu berarti aku gagal mendapatkan cinta pertamaku?
“Tapi—ada satu saksi kunci yang bisa bantu Jojo sih.”
“Siapa?”
“Ya cewek itu, cewek yang kena pelecehan sama Regi. Masih belum jelas sih identitasnya tapi gue, Rizky, Rendy, dan Acil lagi berusaha nyari tuh anak. Semoga aja cepat ketemu.”
“Semoga aja…” Ujarku pelan.
“Btw, Jojo minta tolong sesuatu sama gue.”
“Apa?”
“Katanya dia minta ketemu sama lo sepulang sekolah, mau menjelaskan semuanya biar clear dan lo nggak salah paham. Apalagi dia udah nyerang gebetan lo—Regi.”
Aku hanya mengangguk dan kembali fokus pada papan tulis. Sebenarnya, aku tidak bisa fokus sama sekali sampai di jam pelajaran terakhir. Selain karena efek lapar, aku juga memikirkan apa yang ingin disampaikan oleh Jojo. Aku masih sangat marah dengannya karena sifat tempramen yang dimilikinya itu, jadi semoga saja obrolan kami berakhir dengan baik.
***
Ternyata tidak….
Obrolan kami tidak berakhir dengan baik. Jojo berjalan meninggalkanku begitu saja setelah respon yang ku berikan padanya barusan. Dia berpikir bahwa aku lebih membela Regi daripada dia sahabatku sendiri. Aku hanya berusaha bersikap netral, bagaimana pun juga aku memikirkan perkataan Regi, meskipun dia sahabatku bukan berarti aku akan selalu membela dia meskipun melakukan kesalahan. Aku hanya tidak ingin Jojo terus menerus seperti ini saat marah, memukul orang lain sampai babak belur. Hal itu tidak hanya merugikan orang lain tapi juga dia dengan masa depannya.
“Gue cuman berpesan sama lo buat hati-hati. Kalau Regi macem-macem sama lo. Gue bisa pastikan dia bakalan mati ditangan gue” Lalu dia berbalik dan pergi begitu saja. Saat dia hendak mencapai pintu rooftop aku menahan lengannya. Dia hanya mengangkat sebelah alisnya, “Kita belum selesai bicara.” Kataku pelan. Dia hanya berdecih dan berusaha melepaskan genggamanku, “Please, kak…” dan kemudian Jojo menyerah dan kembali ketempatnya semula—dengan sedikit menjaga jarak dariku.
“Gue bukannya membela Regi, gue cuman nggak mau ambil kesimpulan dulu. Gimana pun gue nggak ada di TKP, jadi gue nggak tau kejadian yang benar kayak gimana.” Ucapku membela diri.
Kemudian dia memutarkan bola matanya dengan malas. “Serius, Ra? Bahkan Rizky, Rendy, dan Acil yang notbenenya bukan sahabat dekat gue mereka langsung nolongin gue disaat kayak gini. Otak lo udah dicuci Regi buat benci sama gue?”
“G-gue nggak benci lo, Kak. Tapi gue minta tolong supaya lo paham posisi gue. jangan suruh gue memilih antara orang yang gue suka sama sahabat gue sendiri.”
“Jujur gue speechless sama lo. Bisa-bisanya lo jadiin gue pilihan sama Regi. Kalau itu terjadi sama gue, gue pasti bakalan pilih lo.”
“Itu karena gue nggak pernah bikin lo kecewa. Tapi lo…bikin gue kecewa dua kali. Lo tau gue punya trauma sama kekerasan. Tapi lo ngelakuin hal kayak gini, pertama ke kakak gue terus Regi. Gue udah berusaha supaya memaafkan lo, tapi kalau lo ngulangin terus, gue juga nggak bisa ngatur perasaan gue sendiri.” Aku harap ini membuatnya sadar bahwa aku tidak bermaksud untuk tidak membelanya. Aku hanya tidak ingin gegabah dalam menaruh kepercayaan. Bagaimanapun semuanya membuat kepalaku pusing, Regi dengan segala rumornya dan Jojo dengan segala sifat tempramen yang sangat aku benci.
Jojo hanya terdiam mendengar penuturanku barusan. Aku pikir Ia akan pergi lagi dengan amarah yang semakin besar. Namun, ternyata dugaanku salah, dia malah mendekatiku dan menekuk lututnya dihadapanku tersenyum lembut, “Gue minta maaf.” Katanya pelan. Tak sadar mataku mulai berkaca-kaca, meskipun aku baru mengenal Helena dan Jojo, berkelahi dengan salah satu dari mereka merupakan pilihan terakhir dalam hidupku. Mereka adalah segalanya, keluarga, teman, sahabat, orang tersayang yang ku miliki dan aku tidak mau kehilangan mereka.
“Gue nggak sadar kalau tindakan gue bikin lo marah dan sakit. Gue cuman—terlalu emosi, gue emang bodoh nggak bisa ngendaliin emosi gue. Gue minta maaf sama lo.”
Aku kemudian mengangguk dan balas tersenyum padanya. Dia kemudian terkekeh dan merapikan beberapa anak rambutku, “Gue nggak percaya barusan aja kita berantem.” Aku kemudian ikut tertawa pelan dengannya. Padahal tidak ada yang lucu diantara kami, tidak ada lontaran candaan ataupun tingkah-tingkah absurd, yang baru saja terjadi adalah kami saling menegangkan urat satu sama lain. Tapi benar, rasanya lucu juga berantem sama Jojo, mengingat selama ini hubungan persahabatan kami baik-baik saja.
“Gue harap masalah kalian cepat selesai. Baik lo maupun Regi, gue berharap semuanya baik-baik aja. Gue harap lo nggak kayak gitu lagi.”
“Iya-iya cerewet banget sih adikku inii!” Ucapnya gemas dan kemudian kami tertawa lagi. tak lama kemudian pesan muncul dari Helena.
“Gue duluan, ada latihan cheerleaders soalnya. Bye honey!”
“Yah, Helena pulang.” Keluhku.
“Sepeda lo belum beres?”
“Iya, abangnya nyebelin banget! Sepeda gue malah dipretelin masa? Jadinya malah makin nggak bisa ke pake, makanya gue nebeng Helena mulu.”
“Begitu amat dah nyari cuan, ckckck. Yaudah gue anterin pulang aja ya sekalian kita beli es krim.”
“Oke-oke! Tapi gue ke kelas dulu ya? Tas gue masih di kelas.”
“No problemo, sobat.”
***
Aku mulai merapikan buku dan memasukkannya ke dalam loker di belakang kelas kami supaya nggak menanggung beban terlalu banyak di punggungku. Helena sudah lebih dulu pergi karena harus latihan cheerleaders. Tubuhnya yang tinggi semampai membuatnya harus mengemban tanggung jawab sebagai center. Tidak sepertiku yang tidak mengikuti ekskul apapun. Bukannya tidak berminat, hanya saja tidak ada ekstrakulikuler yang cocok untukku. Kalau boleh memilih aku ingin sekali ada Club khusus orang introvert sepertiku. Saat kelas sudah mulai sepi, Jojo mendatangiku dan bersandar di loker.
“Jadi nggak?”
“Harus dong.” Sahutku bersemangat.
Aku dan Jojo pun berjalan berdampingan menuju parkiran. Ini bukan pertama kalinya aku berjalan berdampingan hanya dengan Jojo tapi mungkin ini pemandangan yang termasuk langka bagi siswa lainnya. Gelar pelakor yang tersemat membuat mereka memandangku sinis beberapa lagi menatapku iba. Sungguh! Orang halu dengan segala dunia pershiperannya membuatku risih sekali. Namun, aku hanya menunduk sembari merapat ke arah Jojo seolah meminta perlindungan. Padahal Jojo adalah penyebab dari semua pusat perhatian ini.
Aku bisa bernapas lega sejenak usai sampai di parkiran. Iya, itu sejenak saja, sampai tarikan di rambutku membuatku meringkih kesakitan. Aku nggak mengada-ngada jambakannya memang sekuat itu, seolah-olah tenaganya sudah diisi oleh tenaga Hulk. Belum sempat menikmati sakitnya jambakan, aku merasakan cakaran di wajahku. Habislah sudah mukaku yang pas-pasan ini akan semakin b***k tak bersisa. “Dasar gatel lo! Berani-beraninya ngerebut Jojo dari gue!” Teriaknya. Rambutku terasa panas dan pipiku perih. Aku mulai merasakan mataku mulai berair, sungguh aku tidak pernah merasakan hal seperti ini, tiba-tiba dilabrak tanpa ada kesalahan.
Jojo berusaha melepaskan jambakannya dari rambutku. Jojo memelukku bertindak sebagai tameng karena perempuan itu mulai memukulku secara brutal. Sudah pasti kami akan menjadi pusat perhatian mengingat ini masih jam ekskul. Oh tidak, aku tidak ingin terkenal dengan jalur sensasi seperti ini. Aku menyembunyikan wajahku ke d**a Jojo karena mulai merasakan kerumunan mengelilingi kami.
“Udah anjing!” Teriak Jojo. Aku terkesiap mendengar u*****n Jojo, dari arah lirikanku mukanya memerah menahan amarah. Jojo masih memelukku sembari mengusap menenangkan.
“Jo! Kamu ngapain sih belain cewek murahan ini! Pacar kamu aku atau dia?” Balas cewek itu tak kalah hebat. “Lo pikir pantas ngehajar anak orang sembarangan kayak gitu? Lo pikir gue mau sama cewek bar-bar kayak lo? Gak ngotak sialan!” Jojo semakin berteriak tak karuan.
“Jadi kamu lebih belain dia daripada aku?” Balas cewek itu sambil menunjukku, masih berusaha meraihku dari Jojo.
“Apasih, emang gue pernah nembak lo? Kita cuman pernah jalan tiga kali gausah baper deh.” Ketus Jojo, “Denger ya Kirana, gue gak pernah naksir lo dan anggap lo spesial. Lo yang dari awal pepet-pepet gue dan maksa ngajakin jalan. Itu resiko lo sendiri kalo lo nganggap lebih. Gue cuman berusaha baik dan menghargai lo karena lo cewek. Lo dari awal juga tau, bahkan seantero sekolah tau kalau gue nggak pernah berniat menjalin hubungan serius.” Jelas Jojo panjang lebar.
“Pertama, nama aku Tasya bukan Kirana! Kamu harusnya dari awal nolak aku aja kalau gini caranya. Aku terlanjur sayang sama kamu.” Ujar cewek yang katanya Sandra tadi.
“Gue gak peduli yang jelas kalau lo mau hubungan serius maaf gue gak bisa.” Jojo menarikku menuju motornya dan segera menstrater motornya. Meninggalkan Tasya yang kini sudah terduduk lemas di lapangan dan menangis histeris.
“Kamu nggak bisa kayak gini, Jo! Kamu lupa apa aja yang udah kita lakuin bersama? Udah sejauh apa hubungan kita? Atau perlu aku sebarin ke satu sekolah kelakuan kamu?”
“Jaga omongan lo asshole! Kita cuman pernah jalan dan yang gue inget adalah lo morotin duit gue sampai habis! Nggak usah sok-sok bikin fitnah deh nggak ngaruh buat gue. Udah kebal!” Kami kemudian berlalu dan Jojo menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.
Suasana hening menyelimuti kami di sepanjang perjalanan. Sedari tadi kami hanya berkeliling tidak jelas tanpa arah. Aku sendiri hanya terdiam tidak berani membuka suara. Banyak hal yang terjadi hari ini dan itu tidak membuatku baik-baik saja.
Aku melirik dari arah kaca spion, wajah Jojo sudah mulai melunak. Dengan gugup aku mulai memberanikan diri, “Jo.” Panggilku. Jojo hanya bergumam dan keheningan kembali menyelimuti kami. “Daripada gini mending lo bawa gue pulang, pipi gue perih ini.” Lirihku. Jojo hanya mengangguk dan akhirnya memacu motornya semakin laju.
Arah jalanan yang dituju Jojo bukanlah menuju rumahku melainkan rumahnya. Aku mengernyit bingung saat menuruni motor, menatap rumah Jojo yang megah dan mewah. Aku beberapa kali berkunjung ke rumah Jojo untuk mengantarkan pesanan bersama Kak Angga karena Tante Joana adalah langganan donat Mama. Tapi, meskipun aku sudah pernah memasuki rumah ini, aku masih saja takjub dengan keindahannya. Aku hampir saja lupa dengan anjing peliharaan Jojo yang bernama Tiger. Sudah bisa dibayangkan kan dari namanya saja bukan tipe anjing-anjing lucu, melainkan adalah jenis Doberman Pincsher yang menyeramkan. Salah satu alasan juga kenapa selama ini aku tidak bersedia memasuki rumah Jojo.
“Tenang aja Tiger lagi dibawa Papa bisnis ke Singapure, biar ada temen ngobrol.” Kata Jojo menenangkanku. Saat Jojo membuka pintu rumahnya aku kembali menganga lebar seperti kesan pertama. Sumpah demi apapun aku masih nggak percaya kalau Jojo sekaya ini. Rumah dengan desain interior klasik itu membawa kesan Eropa bergaya Kerajaan Prancis yang sangat kental. Dari arah depan rumah Jojo tidak terlihat seluas ini karena tertutup oleh berbagai tanaman dan pohon.
“Kok lo malah bawa gue kesini? Gue mau pulang aja.” Aku berbalik menuju pintu rumah. Jojo menarik tanganku menuju kamarnya, “Lo gila ya. Orang tua lo ngeliat kondisi lo babak belur dengan posisi lagi sama gue, bisa-bisa besok lo ngeliat mayat gue terbujur kaku di peti mati.”
“E-eh terus ini ngapain malah ke kamar? Jangan macem-macem ya lo gue masih bisa mukul orang." Panikku. Jojo menghiraukanku dan terus membuka pintu kamarnya. Kamar bernuansa hitam putih itu begitu harum dan rapih. Khas kamar anak laki-laki banget.
“Luka lo perlu diobatin.”