10

3687 Kata
JOJO   “Seriusan Regi ngajakin lo ngedate? Ih, so sweetnya. Kapan ya kisah cinta gue seindah itu.” Sumpah demi apapun nggak tahu kenapa gue merasa sebal mendengar celotehan dua cewek di depan gue. Perkara Regi ngajakin Farah kencan aja kayak cacing kepanasan, hebohnya minta ampun. Kalau urusan ngajak kencan mah, udah ada 123 cewek yang gue ajak kencan. Bahkan gue pernah ngajak dua cewek sekaligus disaat yang bersamaan buat kencan sama gue. Semoga saja Tuhan mau mengampuni hamba-Nya yang kelewat hina ini. “Meskipun awalnya gue nggak ngerestuin lo sama Regi, tapi nggak apa-apa deh kalau dia seromantis itu. Siapa tau nggak suka PHP lagi.” Gue menatap Helena dengan tidak percaya, bisa-bisanya dia mengorbankan teman sendiri buat jadi tumbalnya Regi. “Lo juga tau kalau Regi kayak gitu?” Tanya gue padanya.  “Ah, paling cuman rumor doang. Awalnya sih gue percaya tapi nggak ada tuh sejauh ini cewek-cewek yang speak up. Kalau ada udah pasti kayak cewek lo tau-tau main ngelabrak aja.” Gue pun beralih ke Farah, “Lo beneran ngeiyain? Lo nggak curiga sama dia? Kalau lo dibawa ke hutan belantara terus dimutilasi gimana?” Gue sengaja menakut-nakuti Farah supaya menolak tawaran Regi. “Dari tampangya aja kelihatan kalau dia tipe-tipe cowok goodboy nggak kayak lo kobokan dikasih jeruk nipis, hmm asem.” Helena menghina gue. “Lah elu kerak nasi nggak usah menghina gue ya. Ngajak berantem?” Gue menaikkan lengan baju gue memperlihatkan otot-otot gue kayak Ade Rai. “Lo tahu Regi, Hel?” Tanya Farah yang menghentikan aksi cakar-cakaran gue dan Helena. “Makanya jadi orang jangan diem mulu di kandang. Lo harus menjelajahi dunia sekolahan kita yang penuh dengan cogan ini. Nggak heran kan lo gue dapat ratusan mantan darimana?” “Halah ngapain nyari cogan jauh-jauh. Orang gue ada disini kok.” Helena dan Farah langsung masang muka kepengen muntah. Sehina itukah wajah rupawan gue dimata mereka? “Jam berapa lo ngedate? Nanti gue bantu dandanin.” Tawar Helena. “Gue juga ikut!” Teriak Aisyah yang entah datangnya dari mana kayak Jailangkung tiba-tiba udah duduk disebelah gue. Seketika aja gue merinding mana mukanya pucat lagi, gue kan nggak hapal ayat kursi. “Wah, makin banyak pasukan nih. Emang ya lo kayaknya direstui sama Regi. Udahlah sikat aja." “Sikat-sikat, noh gigi lo disikat ada cabe nyangkut.” Sewot gue. “Tunggu. Regi?” Tanya Aisyah tiba-tiba. Dari ekspresi wajahnya sih mencurigakan ya, “Lo beneran sama Regi?” Lanjutnya lagi. “Emang kenapa?” Tanya Farah. “Eungg…nggak apa-apa. Yaudah kapan kita ke rumah Farah?” Ucapnya mengalihkan pembicaraan. “Sabtu ini kayaknya, lo jemput gue ya?” Ujar Helena yang bersamaan dengan bunyi bel masuk pelajaran kedua. Aisyah pun langsung mengeluarkan bukunya dan berbalik menghadap ke depan. Kasihan bener nih Aisyah, beberapa minggu yang lalu gara-gara Helena curcol sama Farah soal mantannya yang b******k, Aisyah jadi disuruh tukeran tempat duduk sama Helena dan jadilah dia pindah ke depan. Kalau gue jadi Aisyah, udah nggak gue anggap tuh itik berdua jadi teman gue. Berhubung gue orangnya nomaden, jadi gue menemani Aisyah duduk di meja ini, sialan gue baru sadar ini bangku paling depan, nggak bisa tidur gue. “Kalau lo pindah gue getok kepala lo sampai bunyi jeder jeder.” Kata Aisyah beberapa menit yang lalu saat gue baru aja mau mengangkat p****t gue yang seksi ini buat pindah tempat. Gue hanya bisa nyengir kuda. Giliran berniat baik aja malah amsyong sendiri. Tapi gue tentunya nggak menyia-nyiakan kesempatan ini. Gue korek-koreklah aibnya Regi karena kayaknya Aisyah tau sesuatu dan kayaknya dugaan gue emang benar kalau Regi bukan orang baik-baik, bukan cuman gosip temen tongkrongan gue doang. “Regi itu sebelas dua belas kayak elo. Dari cerita anak-anak kelas 12.” “Sebelas dua belas apanya? Gantengnya? Sorry ya gue sama dia itu bagaikan langit dan tanah. Khusus buat dia tanah kuburan. Jadi nggak level disama-samain.” “Bukan itu ya kembaran Udin Sedunia.” Kesalnya. Loh harusnya gue yang kesal karena nggak disamain sama Brad Pitt untung aja gue ini orangnya penyabar. Didzalimi terus gue hanya diam. Aku diam aku kuat, “Ya terus apa?” “Aduh lo nyimpulin sendiri lah gue mau main game.” “Ck, ini penting buat masa depan Farah.” “Halah, masa depan Farah atau masa depan lo?” “Lah apaan jadi masa depan gue? Gue nggak naksir Regi ya upil.” “Lo nggak suka sama Regi karena lo cemburu kan? Lo naksir Farah, kan?” “Ya enggaklah gila lo gue udah anggap Farah kayak adek sendiri makanya gue nggak mau dia dapat cowok yang salah.” “Alibi doang lu pake kakak adek zone segala. Lo pikir gue percaya pertemanan antara cewek dan cowok?” “Dih, gue sama Helena udah bertahun-tahun biasa aja tuh nggak ada baper-baperan.” “Lo aja yang nggak peka.” Gue cuman diam. Ngomong sama Aisyah malah bikin lebih banyak teka-teki. Nggak bisa apa ya dia gue hipnotis aja, ribet banget sih cewek dengan segala kode-kodeannya. To the point kek gitu biar gue nggak perlu bertanya-tanya lagi. Mendingan gue ngerjain 100 soal matematika dah daripada memahami kamusnya cewek. Nggak lama kemudian beberapa beban negara—eh siswa siswi memasuki kelas. Untuk belajar? Oh tentu tidak sobat, untuk mengawali senin yang panas ini dengan melakukan hal-hal yang memancing guru BK menggrebek kelas kami. Main kartu remi. “Selamat pagi anak-anak! Iya main teros bikin dosa teros, ayo judi ya kalian?” Ucap Bu Ningsih yang tiba-tiba aja masuk ke kelas. Anak-anak di belakang langsung berhamburan duduk dengan rapi di meja. Cuman badannya doang, otaknya ketinggalan di belakang sama kartu-kartunya. Bu Ningsih cuman geleng-geleng kepala dengan maklum. Mungkin dia udah malas banget ngasih ceramah ke kelas kami. Saking seringnya kami bikin ulah dan sering jadi langganan BK. “Tumben kamu nggak ikut bikin dosa. Udah tobat?” Tanya Bu Ningsih yang seketika membuat seisi kelas tertawa. “Astagfirullah, Ibu. Nggak boleh fitnah gitu, Bu. Saya masih belum tobat.” Balas gue jenaka seketika membuat kelas lagi-lagi tertawa. “Stts, udah-udah jangan ribut mulu ayo mulai belajar biar kalian pinter terus jadi presiden. Biar gajih ibu bisa naik.” “Aamiin.”  *** Saat ini gue lagi di kantin bersama Acil, Rendy, dan Rizky. Kalau kalian bertanya kenapa gue nggak bersama dayang-dayang gue, jawabannya cuman satu karena gue lagi nyari mangsa. Bersama para fakboi-fakboi ini, kita berada di kantin kelas 10. Kantin di sekolah ini ada dua, kantin didekat kelas 10 dan kantin di wilayah barat khusus buat para senior. Sebenarnya nggak khusus juga sih semua orang bisa kesana, cuman ya para junior pasti belum berani karena takut sama para senior sehingga udah jadi peraturan tak tertulis kalau kantin jadi terbagi dua. Padahal kita juga nggak gigit atau bakal bikin mereka jadi rawon, yah cuman main-main aja lah sedikit. “Suit suit, cantik mau kenalan nggak?” Goda Acil barusan. Bukannya direspon para dede gemes itu malah mengernyit jijik. Gue dan yang lainnya cuman tertawa terbahak-bahak melihat muka Acil yang masam kayak jeruk peras, “Hah, dasar bodyswimming lo pada, mentang-mentang muka gue pas-pasan, awas aja lo kalau gue oplas ke Thailand terus mirip Chris Evans level gue bukan lo lagi.” “Lo kalau ke Thailand bukan jadi ganteng malah jadi banci Thailand hahaha.” Sahut Rendy membuat raut Acil jadi makin semrawut. Gue hanya tersenyum cool, salah satu tips jitu menggaet cewek adalah jangan kayak orang gila. Terbukti tanpa gue catcalling pun cewek-cewek menatap gue penasaran. Apalagi sekarang penampilan gue udah ala-ala bad boy gitu, baju dikeluarin dan dasi dilepas, jangan lupakan rambut gue yang sengaja di sisir berantakan, membuat kaum-kaum hawa seketika menjerit. Gue bergaya sok kegantengan membuat temen-temen laknat gue memasang muka mau muntah. Baru aja gue mau senyumin salah satu cewek tiba-tiba aja suara bentakan mengagetkan gue, “Astagfirullah Jojo! Kamu ini kakak kelas tidak memberikan contoh yang baik bagi adek kelas. Kemana dasinya hah kemana!” Teriak Bu Ningsih sambil menjewer telinga gue. “Aduh-aduh iya bu iya ada di saku celana, Bu. Ampun.” Ucap gue memelas. Teman-teman gue malah cekikikan sendiri tanpa berniat menolong gue. Awas aja lo pada gue santet pada boneka Voodo. “Dasi itu dipakai di leher bukan disimpan di saku celana, mana sini saya pakaikan!” Bu Ningsih langsung merebut dasi pemberian gue dan mengikat dasi gue kencang, “Uhuk uhuk, kekencengan bu!” Teriak gue. “Eh maaf maaf saya kalau emosi memang gini.” Kata Bu Ningsih, “Heh, kalian juga ya dirapikan bajunya untung aja saya nggak panggil BK.” “Iya, Bu.” Sahut Rizky, Acil, dan Rendy bersamaan. Bu Ningsih pun pergi bersama rekan guru lainnya yang hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan gue. Untung aja guru-guru itu cuman pesan bungkus, kalau nggak habis dah gue nggak bisa dapet mangsa lagi. Hubungan gue dan Aruna sebenarnya baik-baik aja, bahkan kita sering teleponan tiap malem. Tapi bukan Jojo namanya kalau nggak dapat cewek baru dalam 1x24 jam. Gue kan lagi dalam misi mengalahkan jumlah mantan Helena. “Anjing lo pada nggak bilang ke gue ada si belalang.” Kesal gue. Belalang adalah sebutan Bu Ningsih yang dipakai oleh siswa-siswi sekolah kami karena menurut penuturan salah satu pencetus panggilan itu, Bu Ningsih mirip kayak belalang. Mohon untuk tidak ditiru ya adik-adik. “Makanya jangan sok kegantengan, brou. Kena azab kan jadinya.” “Halah emang gue ganteng. Iri bilang bos!” “Ganteng doang tapi suka ninggalin pas lagi sayang-sayangnya buat apa? Jiakhh.” Balas Rendy. “Bangke lo!” Gue tertawa mendengar penuturannya alih-alih tersinggung. Nggak bisa dipungkiri kalau gue emang suka ninggalin cewek seenak udel. Salah sendiri kebawa perasaan, memangnya gue bilang kalau gue bakalan sama mereka selama-lamanya. Heh, kebanyakan baca novel lo. “Silahkan dimakan kangmas sekalian….” Esih si anak ibu kantin yang terkenal sebagai kembang desa mengantarkan pesanan kami. Gue mengedipkan mata untuk menggodanya membuat pipinya bersemu merah, “Makasih Esih sayang…” Balas gue. “AWW!” “SIKAT WC, JO!” “ROMANTIS ABIEZZ” Sahut teman-teman laknat gue yang membuat seluruh pusat perhatian tertuju ke kita. Sekaligus membuat adek-adek kelas 10 nggak nyaman dengan kehadiran kita. Esih pun beranjak pergi terbirit-b***t menahan malu. Dari tadi gue juga udah sadar kalau Esih curi-curi pandang ke gue tapi gue sengaja memalingkan wajah supaya nggak kelihatan buayanya. “b******n lo, Reg. Hahahaha.” Seketika kantin mengalami keributan lainnya setelah ulah kawanan gue. Gue menoleh ke belakang dan melihat Regi dirangkul oleh teman-temannya yang lain berjalan lalu melewati kami dan duduk di deretan bangku persis didepan meja gue, nggak persis juga sih dibatasi dua meja lah. Namun, hal yang membuat janggal adalah anak-anak kelas sepuluh seketika memasang awajah tegang dan ada dua cewek juga diantara mereka dengan logo kelas 10 duduk ditengah-tengah dengan—tidak nyaman sepertinya. “Woy, lo ngeliatin apa sih?” Teriak Acil di depan muka gue persis kayak orang mau nyium. Gue seketika mendorong muka cengonya dan mengernyit jijik. Acil cuman ketawa ga jelas aja. “Itu ribut banget.” Seketika Acil, Rizky, dan Rendy menoleh. Acil dan Rizky cuman datar aja mukanya, tapi si Rendy ini malah menyeringai yang bikin gue mati penasaran, “Kenapa?” Tanya gue. “Udah biasa itu mah.” Kata Rendy sok-sok misterius. “Jadi rumor kalau mereka suka ngebully itu bener?” Tanya Acil. Seketika gue ikut penasaran juga. Rumor bully? “Elah, masa lo nggak tahu sih, Jo. Elu kan setiap hari menjelajahi kawasan sekolah dari timur ke barat selatan ke utara.” “Tak juaaa aku temukan asek asek jos!” Sahut Acil dengan nyanyian yang membuat Rendy menampar wajahnya. Gue hanya meringis ngeri kasihan bener Acil mukanya jadi makin abstrak. “Lo kan tau gue keliling sekolah bukan buat gosip tapi buat nyari cewek.”  Gue menyuap sepiring nasi goreng yang gue anggurkan tadi. Pertama kalinya dalam sejarah gue menyia-nyiakan makanan gue demi sesuap gosip. “Regi bukannya anak OSIS? Masa ikut ngebully juga sih.” Sela Rizky tiba-tiba setelah sekian lama terdiam. Jangan heran, Rizky emang biasanya nggak suka ikut-ikutan gosip. Biang dosa katanya lebih baik itu mulut dipakai buat dzikir dan baca Al-Qur’an. “Regi mah enggak ikut-ikutan dia cuman nimbrung karena nggak punya temen aja. Kebanyakan temennya diluar sekolah. Dia mainnya beda lagi.” “Main beda gimana maksud lo?” Tanya gue. “Main cewek, Jo.” Skakmat, ternyata dugaan gue bener. Informasi dari temen geng motor gue juga bener. Gue harus secepatnya bilang ke Farah soal ini sebelum terlambat. “Teman-teman setongkrongannya diluar juga nggak bener. Hebat banget tuh orang, aktingnya di sekolah patut dapat Piala Oscar bisa masuk OSIS pula.” “Masa guru-guru nggak ada yang tahu kalau ada pembullyan? Terus kenapa gosip tentang Regi nggak hype ya diantara cewek-cewek apalagi dia anggota OSIS.” Kata Acil yang membuat gue ikut bertanya-tanya juga. “Pertama, keluarganya si Samuel ketua grup mereka itu termasuk orang berpengaruh di sekolah, orang tuanya pemilik salah satu rumah sakit swasta gitu deh, jadi kaya raya lah, jadi nggak ada yang berani lapor. Lalu yang kedua, soal Regi, dia mah mainnya halus coy, nggak kayak Jojo apa aja disikat sat set sat set.” Gue mengabaikan obrolan panjang lebar seputar Regi. Gue memperhatikan dua cewek tadi yang semakin terlihat tidak nyaman saat duduk di sebelah Regi. Regi mulai merangkulnya perlahan membuat salah satu cewek itu beringsut takut. Namun, yang paling membuat gue marah adalah saat dengan kurang ajarnya dia meletakkan tangannya diatas paha cewek dan mengelusnya pelan semakin ke dalam. Sialan! Itu membuat gue sontak berdiri dan langsung berjalan ke arahnya. Gue menonjoknya dan dia terjatuh. “b******n lo!” Teriak gue yang membuat kericuhan seketika membludak. Siswa-siswa berlarian mengerumuni gue dan Regi yang masih adu jotos. Nggak ada yang berani melerai kami melihat kebrutalan gue pada Regi. Regi cuman menyeringai melihat gue yang emosi tanpa berniat membalas pukulan gue membuat gue seketika bertanya-tanya maksudnya apa. “Jo! Udah, Jo! Anak orang itu woy!” Teriak Acil yang gue abaikan. Gue nggak bisa membiarkan pelaku pelecehan bergerak bebas dengan santainya. Sebejat-bejatnya gue, gue nggak akan melecehkan perempuan sejauh itu, bahkan gue cuman berani memegang tangan mereka aja. “Panggil BK woy!” Teriak Rizky. “b******k lo, Reg. Biadab! Lo nggak pantes jadi manusia! Gue bakalan laporin lo ke BK, lihat aja nanti.” Teriak gue sambil memukul wajahnya yang udah babak belur. Regi kembali tersenyum kecil yang cuman gue bisa melihatnya, “Lo yang bikin babak belur, gue yang kena hukum? Lo sehat?” Dia meludah mengeluarkan darah segar bekas tonjokan gue disudut bibirnya. Saat gue hendak memukul lagi, gue dihentikan oleh sebuah tangan dengan gelang bertuliskan ‘F’ ditangannya. Gue menoleh ke belakang melihat Helena, Farah dan seorang guru BK sama-sama menatap gue dengan amarah. Seketika gue melemas dan tersadar, segera gue menoleh ke Regi yang sudah terkapar dibawah gue dengan--seringaianya. Farah segera mendorong gue dengan kasar dan menolong Regi untuk bangkit, “Lo nggak apa-apa?” Tanya Farah. Regi cuman mengangguk dan terlihat kesakitan. Cih, dasar akting. “Jonathan! Ikut saya ke ruang BK sekarang!” *** “Saya berkata jujur, Bu. Regi sudah melecehkan anak kelas sepuluh. Teman-teman saya saksinya. Regi itu bukan anak baik-baik, Bu.” Gue masih bersikeras membela diri. “Kamu pikir saya percaya sama kamu? Nih kamu lihat sendiri siapa yang paling sering bikin onar di sekolahan!” Ketus Bu Dena saat mengeluarkan buku hitam yang berisi catatan kasus siswa SMAN 1 Cenderawasih. “Terus ibu pikir saya bohong? Buat apa, Bu? Nggak ada untungnya buat saya.” “Bisa aja kamu iri sama Regi karena dia berprestasi, apalagi dia anggota OSIS. Saya nggak tahu masalah apa yang terjadi diantara kalian. Tapi saya nggak bisa melepaskan kamu begitu saja setelah keributan yang terjadi.” “Saya bisa buktikan kalau Regi emang bersalah, ibu bisa panggil siswi yang tadi dilecehkan Regi.” Ujar gue lantang. “Kita menunggu kesaksian dari Regi dan siswi itu, kalau memang sampai Regi tidak terbukti bersalah, kamu saya skors selama seminggu. Yasudah sana kamu keluar, tapi kamu tidak berhak mengikuti pembelajaran sampai selesai hari ini. Lebih baik kamu pulang dan menenangkan pikiran kamu.” Tanpa babibu gue langsung keluar dari ruangan terkutuk itu. Sial, sekarang gimana caranya gue menemukan cewek tadi, gue bahkan nggak tau nama dan kelasnya yang gue ingat cuman ikatan rambut merah pita yang dipakainya. s**t! Helena sudah menunggu dibangku depan ruangan dan menyambut gue dan dia langsung menghambur memeluk gue khawatir, sedangkan Rendy, Rizky, dan Acil hanya menepuk-nepuk bahu gue pelan dan menenangkan, “Syukurlah lo nggak apa-apa. Gue khawatir banget tadi.” Gue hanya tersenyum dan mencari kehadiran Farah. Seketika gue tersenyum miris, kayaknya Farah marah banget sama gue. “Farah lagi nemenin Regi di UKS.” Kata Helena menjawab muka penasaran gue. Gue langsung duduk menekuk kepala gue dan menyugarnya kasar. Bukan ini yang gue harapkan bakalan terjadi. Seketika gue marah dengan sikap tempramen gue yang menyebabkan semakin parahnya keadaan. “Gimana tadi kata Bu Dena?” Tanya Rizky. “Besok gue dipanggil lagi sama bonyok gue tentunya dan…mungkin lo bisa membayangkan apa yang terjadi.” Helena mengusap-ngusap punggung gue pelan. “Kok bisa lo tiba-tiba nonjok Regi? Bukannya ikut campur, tapi lo punya masalah sama dia?” Tanya Acil. Gue hanya melihat keempat teman gue yang menatap penasaran. “Lo lihat dua cewek yang duduk sama mereka tadi? Salah satunya dapat pelecehan dari Regi. Gue marah dan reflek nonjok dia gitu aja.” “Lo yakin kalau dia melakukan pelecehan? Lo nggak salah lihat?” Tanya Helena “Nggak mungkin gue salah lihat. Lo bisa Tanya Acil, Rizky, atau Rendy.” “Kalau kita tau kita nggak bakalan tanya lo, Jo. Kita bahkan nggak lihat apa-apa tadi karena asik ngobrol.” Sahut Rendy yang membuat gue kembali frustasi. “s**t! Berarti satu-satunya yang bisa gue harapkan cuman cewek itu.” “Cewek? Siapa?” Tanya Helena. “Gue nggak tahu namanya. Tapi yang jelas gue tau kalau dia anak kelas sepuluh. Satu-satunya yang bisa membuktikan Regi bersalah cuman dia aja, yaitu si korban.” “Tapi lo hapal ciri-cirinya?” Tanya Rendy. “Gue cuman inget dia pakai pita merah buat ikat rambutnya.” Sahut gue lirih. “Hm, oke tenang aja, Jo. Kita bakalan bantu lo. Gue punya banyak antek-antek di sekolah ini. Siapa tau ada yang kenal dia. Lo tau sendiri gue admin lambe ribut Cenderawasih. Serahkan aja semuanya sama gue.” Gue pun tersenyum dan lega. Seenggaknya ada sedikit harapan bagi gue untuk membela diri. Gue pun beralih kepada Helena, “Hel, gue boleh minta tolong sama lo?”   *** “Apasih, Hel? Mau kemana? Gue nggak boleh pulang telat ayah sama mama pulang sore ini.” Gue mendengar suara keluhan dari Farah. Gue sengaja minta tolong Helena untuk bawa Farah ke rooftop sekolah setelah pulang sekolah karena gue mau minta maaf. Jadi intinya gue rela-rela nggak balik ke rumah dan menunggu mereka sampai selesai pembelajaran. Pintu rooftop seketika terbuka dan menampilkan wajah Farah yang udah bete parah. Dia bahkan udah berniat berbalik kalau aja Helena nggak nahan, “Please, Far. Jangan kebawa emosi. Jojo ngelakuin tindakan itu pasti ada alasannya, setidaknya lo dengar dari dua sisi nanti sisanya lo yang menyimpulkan sendiri.” Kata Helena. Farah pun mengangguk dan berjalan menuju gue, sedangkan Helena meninggalkan kita berdua memberi kita ruang untuk bicara. “Farah…” Dia cuman diam dan duduk di kursi reyot bekas sekolah. Tentunya juga sambil menatap gue dingin. “Gue minta maaf.” Seketika gue bingung mau berbicara apa. Padahal udah banyak skenario yang berputar di kepala gue sebelum bertemu Farah tadi untuk gue jelaskan kepadanya. Farah cuman mendesah malas dan menatap gue jengah, “Lo selalu gini ya, Jo?” “Maksud lo?” Tanya gue bingung. “Lo marah, lalu lo ngehajar orang, dan kemudian alih-alih minta maaf sama orang itu, lo malah minta maaf sama gue.” Gue terdiam seketika. Gue sadar kalau gue udah melakukan dua kesalahan berturut-turut. Menghajar dua orang sekaligus dalam kurun dua hari pastinya membuat Farah sedikit menurunkan kepercayaannya ke gue. “Gue minta ma—“ “Stop minta maaf sama gue, Jo!” Teriak Farah. Gue sedikit shock namun juga belum berani membuka suara, “Lo harus minta maaf sama Regi.” Kemudian dia memelankan suaranya. “Cih, ngapain gue minta maaf sama orang kayak gitu.” Saat dia menyebutkan nama Regi seketika membuat gue kembali kesal. “Gue nggak nyangka lo sejahat ini.” Farah menatap gue tak percaya. “Regi itu ngelakuin pelecehan! Ngapain gue minta maaf sama orang b***t kayak dia?!” Tanpa sadar gue berteriak di depan Farah. Membuatnya semakin beringsut mundur. “Nggak mungkin...” Matanya mulai berkaca-kaca. Saat ini yang ada dipikiran gue hanyalah berlari dan memeluknya erat. “Apanya yang nggak mungkin? Lo nggak kenal dia, Ra. Lo nggak bisa percaya dia gitu aja.” “Lo sengaja fitnah dia? Gue tau lo nggak suka sama Regi dari awal, tapi gue nggak nyangka lo bakal sejauh ini.” “Nggak ada untungnya gue fitnah dia. Lo lebih percaya sama dia dibanding gue, sahabat lo? Wah, nggak nyangka gue.” Gue tertawa miris. Cuman gara-gara predikat gue yang suka buat onar, sekalinya gue membela kebenaran gue langsung disalahkan kayak gini. “Lo nggak perlu khawatirin gue. Gue bisa jaga diri gue sendiri dan lagi…berhenti bersikap seolah-olah lo lebih mengenal Regi dibandingkan gue.” Gue beranjak untuk meninggalkan Farah karena gue udah cukup muak dengan percakapan ini. Bisa-bisanya perhabatan lagi-lagi hancur cuman karena si k*****t Regi. Awas aja tuh anak bakalan gue kasih pelajaran. “Gue cuman berpesan sama lo buat hati-hati. Kalau Regi macem-macem sama lo. Gue bisa pastikan dia bakalan mati ditangan gue.” Gue berlalu meninggalkan Farah yang cuman terdiam. Gue juga bisa merasakan kegundahannya untuk memilih antara gue atau Regi. Gue bukannya bakalan menyerah begitu saja. Tentunya ini bakalan jadi permulaan buat gue mengibarkan bendera perang ke Regi. Gue berpikir akan percuma rasanya ngebuat mata bucin Farah itu agar terbuka kalau Regi nggak baik buat dia. Jadi, gue memutuskan untuk menyelesaikan semuanya sendiri. Terlebih lagi, kehidupan sekolah gue terancam kalau besok gue nggak bisa membuktikan kalau gue nggak bersalah. Semoga aja cewek itu bisa diajak kerja sama.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN