9

3357 Kata
FARAH “b*****t!” Bunyi sebuah teriakan membangunkanku dari tidurku. Aku sontak saja berdiri dan melihat Jojo sudah menghajar Kak Angga habis-habisan didepan pintu. Posisi Jojo yang diatas mengangkangi Kak Angga membuatnya lebih leluasa untuk mementahkan bogeman ke wajah Kak Angga. Aku seketika panik dan segera melerai keduanya. Aku berusaha mendorong Jojo agar melepaskan cengkreramannya pada leher Kak Angga namun itu tak membuatnya berpindah, dia tetap gelap mata. Aku langsung menangis, Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini? “Udah, Jo hiks…hiks. Udah, Kak Angga pingsan. T-tolong…” Lirihku dan menahan lengannya saat akan kembali memukul Kak Angga. Jojo terlihat mengerjap pelan seperti tersadarkan. Ia mengusap wajahnya kasar dan segera berlalu menuju ruang TV meninggalkan Kak Angga yang terkapar sendirian. Namun, tak lama kemudian dia kembali lagi dengan Jeje yang masih setengah sadar dibelakangnya, “Ck, ngerepotin amat jadi orang.” Jojo berinisiatif untuk memapah tubuh Kak Angga yang sudah tak sadarkan diri, aku pun ikut memapah Kak Angga di sisi lainnya sementara Jeje mencari obat P3K di dapur. Kami mengangkat tubuh Kak Angga menuju sofa karena kamarnya dikunci. Kak Angga menggeliat pelan setengah tersadar, Ia pun meringis pelan. Jeje sudah kembali dengan kotak P3K ditangannya. Dengan telaten aku pun mengobati wajahnya yang babak belur. Aku masih mengabaikan tatapan tajam Jojo padaku. Seandainya hanya dengan tatapan mata saja bisa membunuh, mungkin sekarang aku sudah terbujur kaku di lantai. Setelah selesai aku memutuskan untuk pergi ke dapur meletakkan sendiri kotak P3K disana, sekaligus bermaksud untuk menghindari Jojo. Namun, sepertinya usahaku sia-sia, dia malah mengikutiku membuatku mendesah lelah, “Gue perlu bicara sama lo.” Ujarnya tegas. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Ia menarik kursi dan duduk sembari menelungkupkan kepalanya. Aku masih berdiri kaku di sudut ruangan, rasanya ingin sekali bersembunyi di dalam kulkas. “Angga udah biasa kayak gini?” Tanyanya. “Kayak gini gimana maksud lo?” Tanyaku balik. Dia menatapku semakin tajam, “Lo tau apa yang gue maksud.” “Terus lo mau gimana? Memangnya lo bisa bantuin supaya Kak Angga berubah? Enggak kan?” “Sejak kapan dia kayak begitu?” Tanyanya lagi. Aku hanya terdiam mengabaikannya. Karena sejujurnya, aku pun tidak tahu pasti sejak kapan Kak Angga berubah menjadi seperti itu, “Ra…” Panggil Jojo lagi kepadaku. Aku menyugar rambutku frustasi. Aku masih sedikit shock dengan kejadian yang terjadi. Untung saja tidak ada tetangga yang terbangun akibat keributan ini, karena letak rumahku yang paling ujung membuat sedikit jauh dari rumah-rumah lainnya. Aku sebisa mungkin menahan air mataku yang mulai menetes. Aku hanya ingin terlihat kuat dan tidak mau menambah beban Jojo. Tak kunjung mendapat jawaban pasti dariku, Jojo pun beranjak menuju ruang TV. Aku pun mengikutinya sekaligus ingin melihat keadaan Kak Angga. Dia sudah sadar, namun belum sepenuhnya sadar. Jeje duduk disampingnya sambil menampar keras pipi Kak Angga berkali-kali agar sadar, membuatku meringis ngeri, “Udah sadar lo beban negara?!” Teriak Jeje frontal. Kak Angga menatapnya sinis dan segera menepis tangan Jeje dengan kasar. “Gue mau ke kamar.” Lirihnya. Aku pun sigap memapahnya menuju kamar, namun Jojo tiba-tiba menghadang jalan kami, “Lo nggak mau menjelaskan sesuatu sama gue?” Ucapannya terdengar lembut namun juga tegas. “Cih, masalah lo apa?” Sinis Kak Angga. “Tentu ini masalah gue karena lo sahabat gue. Lo berubah, Ngga! Lo adalah orang yang paling baik dan paling lurus yang gue kenal. Tapi sekarang, lo mabuk-mabukkan kayak gini. Lo bahkan ngebiarin adek lo—Farah di rumah sendirian nungguin lo, yang mana lo tau dia itu takut sendirian. Lo emang—” “Udah ceramahnya?” Potong Kak Anga dengan dingin. Kak Angga melepas rangkulanku mencoba untuk berdiri tegap di depan Jojo. Keduanya sama-sama memancarkan aura kemarahan, “Ini bukan urusan lo. Ini kehidupan gue. Lo nggak usah munafik deh. Lo pikir kehidupan di Jakarta kayak pesantren? Lo juga sering mabuk, Kan? Mainin cewek juga? Gue berani taruhan semua cewek bekasan lo udah lo pake.” Aku dan Jeje hanya terdiam mendengar penuturan yang mengejutkan itu. “Sialan lo!” Jojo kembali menarik kerah Kak Angga dan bersiap memukulnya kembali. Aku dan Jeje langsung menegahi keduanya, “Jo, jangan bikin keributan lagi!” Teriakku padanya. “Nggak usah nyari-nyari kesalahan orang deh. Pengecut lo!” Jojo kembali kalap mata. Keinginannya untuk berbicara ternyata bukanlah ide bagus. Tempramennya yang sulit dikendalikan membuat keadaan semakin runyam. “Udah please berhenti.” Pintaku pada keduanya meskipun itu tidak berpengaruh apa-apa. “Ck, persahabatan kita udah selesai. Kita cuman MANTAN sahabat. Mendingan lo pergi dari rumah gue sekarang atau gue panggil satpam.” Balas Kak Angga yang tentu saja menyakiti perasaan Jojo.  “Lo beneran anggap gue kayak gitu? Gue kira meskipun kita nggak berkabar lagi, kita masih berteman...” Ujar Jojo dan tersenyum miris. Kak Angga hanya membuang muka dan berkacak pinggang. “Oke, kalau itu yang lo mau. Gue menghargai pilihan lo. Tapi lo harus tau, gue dan Helena masih membuka tangan dengan lebar kalau lo mau kembali.” Senyum Jojo tulus, “Gue minta maaf udah bikin keributan. Gue sama Jeje balik. Ayo, Je.” Ajak Jojo pada Jeje. Hanya mendengar kata ‘Mantan sahabat’ yang dilontarkan Kak Angga membuat Jojo menyerah begitu saja. Aku ikut menatap Kak Angga kecewa, “Untuk pertama kalinya, gue kecewa sama lo.” Ujarku pelan dan buru-buru mengejar Jojo dan Jeje keluar. Aku tidak lagi melihat presensi Kak Angga, yang ku dengar hanyalah bunyi debuman pintu tanda Kak Angga sudah memasuki kamar. “Jo!” Panggilku padanya saat dia sudah bersiap mengeluarkan motor dari gerbang rumahku. Aku mendatangi mereka dengan terengah-engah, “Maaf ya soal Kak Angga tadi.” Ujarku. Jojo hanya tersenyum, “Gue minta maaf juga udah bikin ribut. Maaf ya nggak bisa temenin sampai pagi. Kalau ada apa-apa langsung telepon aja.” “Iya kak. Kalau perlu kunci aja pintu kamarnya. Nggak percaya gue sama siluman monyet itu.” Sewot Jeje. Aku tersenyum lega dan mengangguk. Untung saja ada mereka berdua. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau aku hanya sendirian di rumah tadi. Jojo dan Jeje pun pergi meninggalkanku yang sendirian di depan rumah. Aku pun kembali ke dalam rumah. Aku melihat pintu kamar Kak Angga, sepertinya dia sudah tertidur lelap.   *** Pagi ini, aku sudah bersiap rapi dengan seragam putih abu-abuku. Aku tengah memasak sarapan untuk kami berdua. Sejujurnya aku masih marah dengan Kak Angga, tapi aku juga nggak mungkin membiarkannya mati kelaparan di pagi hari. ‘Cklek’ pintu kamar Kak Angga pun terbuka. Aku masih belum berniat menoleh dan berfokus pada nasi goreng telur di depanku. Suasana masih hening dan aku hanya mendengarkan langkah kaki Kak Angga yang mendekat. Ia segera menuang air putih yang diambilnya dari kulkas dan meneguknya. Sesekali kurasakan Ia melirikku namun ku abaikan saja. Aku nggak main-main dengan perkataanku semalam, aku betulan kecewa dengan Kak Angga yang telah berubah sebanyak ini. Karena moodku berangsur turun, aku pun memutuskan untuk memasukkan sarapanku ke dalam kotak bekal saja. Saat aku berbalik ternyata Kak Angga telah menatapku. Ia menggaruk kepalanya, seperti ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Aku hanya pura-pura sibuk seperti mengelap meja, membersihkan peralatan memasak, atau apapun yang bisa ku lakukan sembari menunggunya. Aku tidak ingin terlihat seperti menunggu permintaan maafnya padaku. Namun, jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku harus segera berangkat atau aku akan terlambat, sehingga aku akhirnya memilih pergi tanpa sepatah kata pun bahkan aku tak ingin repot-repot mengucapkan salam kepadanya. Kalau memang dia tidak ingin menganggapku adik lagi, aku juga bisa melakukan hal yang sama yaitu bertindak seperti orang asing. “G-gue minta maaf…” Lirih Kak Angga saat aku beranjak dari dapur. Aku kemudian berhenti di ambang pintu dapur, “Lo harusnya minta maaf ke Jojo.” Ucapku dingin dan berlalu pergi begitu saja.   ***   Hari senin adalah hari paling tidak ditunggu bagi semua siswa. Panas terik dari matahari menyengat menyentuh kulitku. Rasanya seperti terpanggang di siang bolong, padahal ini masih pagi. Bisa ku lihat barisan sudah tidak tertata rapih seperti yang diperintahkan ketua OSIS beberapa menit yang lalu. Bahkan ada yang terang-terangan berjongkok demi mendapatkan perlindungan dan mengabaikan tatapan tajam dari guru BK di belakang kami. Pak Suhaidi sang guru sejarah tengah menyampaikan amanat. Sudah 15 menit berlalu tapi tidak ada tanda-tanda beliau akan menyelesaikannya malah suaranya semakin lantang terdengar.  "Pagi, Pak!" Sapa Jojo dengan santainya di depan Pak Suhaidi dengan cengiran khasnya. Sudah tidak asing melihat Jojo terlambat, malah terasa langka kalau dia bisa tepat waktu. Seragamnya lusuh dan basah oleh keringat, penampilannya acak-acakan, oh tak lupa gerbang sekolah yang terbuka dengan kuncinya yang sudah terlepas. "Loh? Loh? OSIS mana ini? Kenapa siswa terlambat dibiarkan keliaran di depan begini! Anak-anakku sekalian jangan ditiru ya kelakuannya, seperti gak punya masa depan. Mau jadi apa kamu terlambat terus."  "Nanti kalau saya udah jadi CEO, sekolah ini saya beli, Bapak saya pecat."  Seluruh siswa tertawa lepas seolah Jojo sedang menampilkan stand up comedy. Aku masih tidak menangkap lucunya dimana. Menurutku melawan guru adalah suatu tindakan kurang ajar yang tidak patut dibiarkan. "Berani-beraninya kamu ya! Ini sekolah negeri, punya negara. Dasar kurang ajar, di rumah ndak pernah diajarin etika ya begini nih. Nanti setelah upacara ke meja saya! OSIS bawa Jojo ke barisan hukuman!" Jojo hanya nyengir sembari mengusap rambutnya yang berantakan. Ku dengar bisik-bisik manja dari para siswi. Jojo sebenarnya bukan satu-satunya most wanted karena kelakuannya yang abnormal di sekolah. Tapi dia termasuk siswa ganteng di sekolah, kulitnya yang sawo matang itu menambah ciri khas sendiri, mungkin seperti Jojo punya kharisma yang gak dimiliki orang-orang kebanyakan. Kadang dalam keadaan tertentu kharisma itu akan muncul seperti pada saat ia presentasi di depan kelas, saat ia jadi ketuplak kegiatan tertentu, atau pada saat seperti ini seperti mengusap rambutnya tanpa sadar membuat kaum hawa menjerit. Terkecuali aku, kenal lama dengan Jojo membuat sifat-sifat positifnya tertutupi oleh keminusannya, dia terlalu tuna akhlak untuk disebut ganteng. Barisan siswa hukuman berjejer tepat di depan barisan kelasku. Spot yang sangat bagus bagi siswa hukuman karena menghadap langsung ke matahari. Aku merasakan kilaunya cahaya matahari sedikit menutupi penglihatanku. Aku baru ingat kalau aku belum sarapan dan aku mulai merasakan pusing. Kemudian aku meminta izin kepada salah satu anggota OSIS yang mengawasi murid di belakang untuk rehat sejenak di UKS. Salah satu anggota OSIS pun mendampingiku menuju UKS. Sesampainya di UKS, pintu terbuka dan menampakkan sosok Regi tengah duduk santai dengan seorang anggota PMR yang ku ketahui namanya adalah Kak Dinda, seorang ketua PMR yang cukup populer juga dikalangan siswa. Keduanya tertawa lepas belum menyadari kehadiranku dan anggota OSIS disebelahku yang ku ketahui bernama Nora, “Ekhem!” Interupsi anggota OSIS yang membawaku tadi membuat keduanya menoleh, “Ada pasien nih. Pacaran mulu lo berdua.” Sinisnya. Oh, jadi Kak Dinda dan Regi memiliki hubungan spesial. “Apaan sih. Ngaco lo.” Sanggah Regi yang membuat raut wajah Kak Dinda yang tadinya bersemu merah berangsur sedikit kecewa mendengar omongannya. Aku memutuskan untuk tidak peduli dan langsung naik ke atas ranjang UKS, rasanya kepalaku seperti dihantam beton, sakit sekali. “Keluhannya apa?” Kata Kak Dinda dengan lembut. Wanita selembut ini nggak mungkin membuat Regi menolaknya. Dibandingkan denganku, Kak Dinda lebih daripada segalanya. “Pusing, Kak.” Ujarku pelan. “Nggak sarapan ya?” “Iya nggak sempat tadi. Tapi bawa bekal kok ada di dalam tas.” “Oke kalau gitu kakak ambilkan ya. Kelas berapa dan tasnya warna apa?” “11 IPA 1 dan tasnya warna merah jambu, kursi kedua paling kanan, Kak.” “Oke tunggu disini ya? Reg, tolong temenin sebentar. Awas kamu macem-macemin dia.” Ancam Kak Dinda. Aku sedikit terkejut dengan panggilan aku-kamu yang digunakan keduanya. Namun, aku sebisa mungkin memasang ekspresi biasa saja walaupun dalam hatiku sudah penuh dengan seribu pertanyaan. “Iya elah. Suudzon banget.” Setelah Kak Dinda beranjak pergi, Regi pun duduk di kursi sebelah ranjang. Karena merasa tak nyaman untuk tidur dihadapan lawan jenis, aku memutuskan untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Regi menyerahkan teh panas yang baru saja dibuatnya. Aku baru tau ternyata di UKS ada fasilitas seperti ini. “Udah mendingan?” Tanya Regi setelah memeriksa suhu tubuhku yang sedikit hangat. Aku hanya mengangguk pelan dan dia kembali duduk setelah membantuku meminum teh panas tadi, “Kayaknya kurang tidur ya tadi malam?” Tanyanya. “Tau darimana?” Tanyaku. Dia mengusap kedua kantung mataku. Padahal aku sudah sebisa mungkin menutupinya dengan bedak. Mungkin luntur karena terik matahari membuatku berkeringat. “Lain kali jangan diulangi lagi ya. Kalau lo sakit gue yang sedih.” Katanya lembut dan tertawa pelan. Entah kenapa meskipun terdengar bercanda, tapi suaranya mengalun lembut ditelingaku membuat sedikit perasaanku berdesir. Tapi—hey dia kan pacarnya Kak Dinda. “Eh, jangan gini, Reg. Nanti Kak Dinda lihat.” Tepisku pelan berusaha menjaga jarak. Dia kemudian mengernyit sebentar dan langsung tertawa. “Aduh ucapannya si Nora tadi nggak usah ditanggepin. Gue masih jomblo kok.” Ia terkikik namun juga membuatku merasa sedikit lega. “Lo…percaya kan sama gue?” Dia pun menggenggam tanganku. Aku hanya memberikannya tatapan bertanya dan dia mengenggam tanganku, “Lo udah berhasil menarik perhatian gue. kalau gue deketin lo nggak ada yang marah kan?” Aku seketika terdiam atas pernyataan yang sungguh tiba-tiba ini. Bukan berarti aku menolak, hanya saja ini terlalu tiba-tiba dan bahkan belum sebulan kami berkenalan. Tapi, entah kenapa sebagian besar hatiku mengatakan seharusnya aku tidak menolak ini. “Sabtu ini kalau gue ajak lo jalan gimana?” Tanyanya lagi. “Dalam rangka apa?” Tanyaku yang akhirnya berani buka suara. “Anggap aja kita ngedate.” Ujarnya lagi membuatku membelalak. Saat Regi mengucapkannya, pintu seketika terbuka dan menampakkan sosok Kak Dinda yang membawa kotak bekalku. Aku segera melepaskan genggaman tangan Regi. Aku merasa tidak nyaman seketika, karena tatapan Kak Dinda yang sulit ku artikan. *** "Hai eperibodeh!" Jojo berteriak dengan lantang sembari memasuki ruangan. Mendapatkan hukuman tambahan dari Pak Suhaidi tidak membuat semangatnya surut. Karena seperti biasa hukuman itu tidak akan dilaksanakannya. Biasanya OSIS akan mengawasi siswa siswi yang menjalankan hukuman. Tapi Jojo tidak karena dia punya orang dalam katanya. Kursi disebelahku digeret pelan dan tak lama seseorang mendudukinya. Saat ini aku sedang menelungkupkan kepalaku di meja, tidak usah ku tanya siapa. Seperti biasa dia akan bermain-main mulai dari mencoret meja, menjadikan bahuku gendang, iseng mengepang rambutku, bahkan mencoret-coret lenganku dengan gambar tak senonoh. "Jo, apasih!" Bentakku. Ia hanya tertawa gemas sambil menyubit sebelah pipiku. "Suku apa yang suka keliaran di Mall?" "Suku-suku gue?" "Salah, kalo nggak bisa nebak nggak dapet poin ya." "Cih, gak untung juga buat gue." Aku bangkit berdiri hendak menyusul Helena ke kantin. Jam pelajaran pertama lagi-lagi diisi dengan jam kosong sehingga para siswa berlarian tak karuan keluar kelas. Berlama-lama dengan Jojo pun bukan pilihan yang tepat karena tidak baik untuk kesehatan jiwa dan ragaku. Jojo menahan tanganku dan menarikku untuk duduk kembali. "Gue kasih hadiah. Tapi kalo salah dapat hukuman ya." "Suku Jawa? Karena gue orang Jawa dan gue suka ke Mall." "Salah! Jawabannyaa…" Ucap Jojo sambil menabuh meja "Suku-riti! Bhahahaha" Aku ternganga mendengar tawanya. Please, gak ada yang lucu sama sekali. Inilah salah satu hal yang bikin poin minus Jojo itu bertambah, dia garing.  "Nah, lo dapat hukuman ya!" "Eh eh kasih gue kesempatan lah." Pintaku. Gak sudi banget kalah melawan orang kaya Jojo. Dia pun bersandar dibangku Helena sembari meletakkan tangannya dibelakang bahuku. "Oke, kenapa kambing ada kumisnya?" Aku berpikir sampai dahiku berkerut. Jojo mengusap-usap dahiku sambil terkikik kecil. "Karena kalo punya kumis dikira Pak Raden?" "Salah! Kalo berkumis dikira Pak Suhaidi! Bahahhaha! Ngakak banget oy!" "Cuman beda nama doang ya, Jo. Lo pasti sengaja kan?" "Yaiyalah mana mungkin gue biarin Farah menang, entar gak bisa ngasih hukuman gue. Rugi dong." "b**o lu!" Ku jitak kepalanya dengan keras. Aku kesal karena membiarkan diriku buang-buang waktu buat Jojo. Motto hidupku kan time is money.  Jojo menangkap tanganku perlahan, "Ra, jangan kasar." Ucapnya pelan namun tersirat nada tidak suka saat mendengar ucapanku. "Jadi...hukuman gue apa?" Aku meliriknya canggung. "Emm lupain aja lah, gue cuman bercanda doang." Jojo mengibas-ngibaskan tangannya padaku. “Btw, tadi kenapa lo ke UKS?” Tanyanya. “Cuman pusing aja belum sarapan soalnya.” Ujarku. “Lo harusnya bilang biar gue bawain sarapan.” “Gue masak kok, cuman males aja lihat mukanya Kak Angga.” “Ck, gue yang dikatain malah lo yang ngambek. Dasar cewek.” Ujarnya dan aku menepuk punggungnya pelan. “Udah keterlaluan soalnya.” Seketika suasana pun menjadi hening. Membawa nama Kak Angga dalam obrolan kami sepertinya masih menjadi topik sensitif. “Tapi…Angga nggak macem-macemin lo kan?” “Ya enggaklah, Jo. Dia kan kakak gue, sebejat-bejatnya dia gue yakin dia masih belum separah itu. Kayaknya dia kebawa pergaulan aja.” “Pasti ada penyebab lain dia bisa kayak gitu. Gue kenal Angga dari jaman orok, Ra. Lo pikir pergaulan kita di SMP baik-baik semua? Enggak. Tapi Angga bisa mengendalikan diri, dia tipe orang yang berpikir sebelum bertindak.” Perkataan Jojo ada benarnya juga. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian malam itu? Kejadian saat Kak Angga mengigaukan ayah. “Gue nggak tau, dia tertutup banget sekarang dari gue.” Kataku lesu. “Jangan dipikirin, yang penting ada gue dan Helena buat lo. Kita cari jalan keluarnya sama-sama. Oke?” Jojo mengusap pelan punggungku. Membuat perasaanku menghangat, aku benar-benar beruntung bisa mengenalnya di dunia ini. Aku juga menyesal kenapa tidak mengenalnya dari dulu. "Farah! Gue bawain mie pangsit nih." Sontak kami terkejut dengan teriakan Helena. Helena mengernyit heran. "Loh? Sunyi banget, biasanya berisik kaya lagi demo, pita suara lo dilakban apa begimana, Jo?"   "Pita suara gue disumbangin buat Taylor Swift. Puas lo?!” Helena hanya mengendikkan bahunya. Jojo mengedarkan pandangannya pasa bungkusan makanan ditangan Helena, “Makanan buat Farah doang nih? Buat gue mana? Pilih kasih lo sama temen sendiri." "Dih! Emang gue babu lo? Minggir! Berani-beraninya lo menduduki tahta kekuasaan gue!" Teriak Sarah sambil mendorong-dorong bahu Jojo. Jojo sontak berdiri sambil memiting Helena. Helena balas memukul-mukul Jojo meskipun kalah tenaga Ia tetap tidak menyerah. "Ha! Rasain lo mamam nih ketek sakti gue mampus gak lo!"  "Bangsul, Jooo! Bau banget ketek lu anjir! Got depan rumah gue aja lebih harum dari ketek lo, lepasin woy!" Aku hanya tertawa melihat mereka berdua. Mereka adalah sosok yang sama-sama terkenal di sekolah dan seringkali dijodoh-jodohkan oleh siswa yang lain. Alasannya simple karena mereka satu frekuensi dan satu tongkrongan juga. Helena juga satu SMP bersama Jojo dan Kak Angga bersama dua orang lainnya memiliki geng sendiri, yah sebelum terpisah-pisah seperti ini. Aku pernah sekali ditawari Helena untuk bergabung, tapi dilarang Kak Angga karena takut dimangsa Jojo katanya, selain itu Kak Angga nggak mau membiarkan aku berubah jadi makhluk tak kasat mata seperti mereka. Sepertinya memang benar, sejauh ini aku satu-satunya orang waras di antara kami bertiga  "Dah ah lo kalau mau gelut sama gue liat waktu dong. Kasian nyonya belum makan nih." "Farah udah makan kok katanya." Jojo tetap melanjutkan pitingannya di kepala Helena, mengabaikan muka Helena yang sudah memerah. "Udah-udah woy, anak orang mau mati." Selaku. Jojo pun melepaskan Helena. Helena masih terbatuk-batuk sambil duduk di bangkunya. "Sama Farah aja nurut lo.” Farah pun membuka bungkusan makanan yang dibawanya dan menaruhnya ke dalam mangkuk. Pasti dia nyolong mangkuk ibu kantin lagi. “Yah mie pangsitnya gimana dong. Gue udah rela-rela ngantre kayak zombie demi mie pangsit buat lo tau.” Keluh Helena dan aku hanya meringis. Namun, sebuah tangan langsung mengambil mangkok mie pangsit dan beringsut makan sendiri di ujung ruangan seperti orang nggak makan seminggu. Aku hanya menggelengkan kepala pelan. Helena pun duduk dan memakan nasi gorengnya dengan tenang. Aku membuka novelku dan mulai membaca untuk menghabiskan waktu, “Btw, Jojo udah cerita semuanya ke gue.” Kata Helena sambil mengunyah nasi gorengnya. “Apa?” “Tentang Angga, awas aja ya tuh anak kalau ketemu gue, gue jadiin daging cincang terus dimakan sama hewan buas biar sisa tulang belulangnya—” “HEL! GUE LAGI MAKAN YA! GAUSAH NGOMONG YANG JOROK-JOROK!” Omel Jojo di belakang. Kami berdua hanya tertawa geli dan melanjutkan percakapan. “Pokoknya kalau Angga berulah lagi lo telepon gue aja, gausah telepon Jojo. Nggak ada gunanya tuh anak cuman nambah-nambahin masalah doang.” “HEY GUE DENGAR YA INI NGOMONGIN ORANG KOK DIDEPAN SIH!” Sewot Jojo lagi. Helena hanya memasang muka tembok dan kembali beralih ke arahku, “Pokoknya inget kata-kata gue.”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN