Viona Rosalin

1924 Kata

Seraya menunggu Vano bangun, Dita memilih memeriksa kembali isi laptopnya. Mana tahu ada tugas yang belum dikerjakan. Sekaligus menghubungi teman-temannya di salah satu sosial media miliknya. Karena saat ini Dita tidak memiliki nomor ponsel mereka lagi. Dita yang duduk bersila di sofa, dengan sebuah laptop di atas pangkuannya, sesekali melihat ke arah Vano yang masih tidur. Ia berharap suaminya itu lekas membaik karena dirinya sudah merindukan sosok Vano yang ketus dan selalu mengacuhkan kebersamaannya. Dita tersenyum tipis. Mengingat mungkin ia adalah satu-satunya istri yang merindukan sosok suami menyebalkan seperti Vani. Tatapannya juga tertuju pada cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya. Cincin yang juga melingkar di jari manis Vano. Sekaligus cincin yang harusnya meling

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN