Bab 1
"Rara…" teriak seorang wanita paruh baya dari dapur.
"Iya, bunda… Sebentar lagi Rara turun." jawab Rara dengan berteriak kembali.
Rara pun segera turun dari lantai atas, dimana kamarnya berada.
Rara berlari menuruni anak tangga dengan tergesa, dia baru selesai mandi dan rambutnya belum disisir rapi.
Kedua orang tuanya dan juga kakak laki-lakinya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah gadis kesayangan mereka.
"Adik kakak, kenapa rambutnya masih acak-acakan hm?" tanya Anton dengan lembut.
"Ya, bunda bawel sih, Rara belum selesai udah teriak-teriak begitu." gerutu Rara menyalahkan sang bunda.
Sang bunda hanya tersenyum menanggapi, dia bangga melihat interaksi kedua anaknya.
"Mau kakak sisir-in?"
"Mau dong, kak. Di kepang ya??" pinta Rara antusias.
Anton hanya mengangguk dan tersenyum.
Rara mengambilkan sisir dan ikat rambut, dengan telaten Anton mulai menyisir dan mengepang rambut tebal sang adik.
Anton sangat menyayangi adiknya itu, baginya, kebahagiaan Rara adalah yang utama.
Kalian harus tahu jika Rara sangat benci dan takut kegelapan, itu semua karena dongeng dari ayah yang dia percayai, jika dia tidur di tengah malam gelap, maka akan ada monster yang memakannya.
Sungguh konyol pemikiran Rara. Tapi, entah mengapa Rara benar-benar seperti terhantui dengan dongeng fiksi dari ayahnya.
"Nah, udah cantik adiknya kakak.." Rara tersenyum dan mengecup pipi Anton.
"Terimakasih, kak.."
"Sama-sama, sayang.."
"Ya sudah, ayo kita sarapan… nanti ayah sama kakak keburu telat lagi," tegur Hanna kepada kedua anaknya.
Mereka semua pun mengangguk dan kompak dengan memakan sarapannya dengan tenang.
Hanna dan Reyhan selalu mendidik anak-anaknya untuk makan dengan tenang, dan juga tidak memakai bahasa dengan kata 'lu' dan 'gue' di lingkup keluarga.
Keluarga mereka adalah keluarga yang terkenal sangat harmonis. Keluarga yang terkenal dengan penuh cinta dan kasihnya terhadap keluarga.
Tak terasa waktu sarapan pun telah usai, Anton dan Reyhan pun berpamitan untuk berangkat ke kantor.
"Ayah, berangkat kantor dulu ya, Bun,"
"Iya, ayah hati-hati, jaga mata dan jaga hati."
"Ehem.." Rara dengan sengaja berdehem dengan keras, entah mengapa kedua orang tuanya itu tidak tahu tempat jika ingin bermesraan, bahkan umur mereka sudah tua tapi, Hana masih saja memiliki rasa cemburu yang tinggi.
"Apa sih, kamu sirik banget sama bunda, Ra.."
Rara hanya terkikik mendengar gerutuan bundanya, berbeda dengan Anton yang hanya menahan senyum. Dalam hati, Anton ingin memiliki istri seperti sosok ibundanya itu, sosok yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Kak, kakak juga dong begitu sama Rara, biar kita kelihatan kaya suami istri juga " kekeh Rara membuat Anton pun ikut terkekeh.
"Ada-ada aja kamu, Ra.."
Rara hanya nyengir memamerkan gigi putihnya.
"Kakak berangkat dulu ya? Kamu jangan nakal di rumah,"
"Nanti Rara boleh nggak ke kantor kakak? Rara bosan, kak.." rengek Rara.
"Ya udah, iya… sekalian bawa makan siang buat kakak, boleh?"
Rara pun mengangguk antusias,
"Nanti Rara bawa banyak, biar kita makan sama-sama."
"Iya, sayang… kakak berangkat dulu ya?"
Rara pun mengangguk, dan Anton mengecup kening Rara, tak lupa juga dengan menyalimkan tangan ke ibundanya.
Dan setelah kepergian ayah dan kakaknya ke kantor, tinggallah Rara dengan sang bunda.
"Bunda, ajarin Rara masak lagi ya?"
"Iya, sayang.. hari ini mau masak apa?" tanya Hana dengan mengusap lembut rambut putri kesayangannya.
"Rara mau buat udang asam manis, ayam goreng bumbu kuning, sambal terasi juga ya, Bun?"
"Iya sayang, nasinya mau nasi biasa atau nasi uduk lagi?"
"Nasi uduk aja, Bun. Enak gurih gurih gitu, hehe.." jawab Rara dengan cengiran khasnya.
"Iya deh, tapi kamu ikut bunda ya? Kita belanja dulu ke supermarket,"
Rara pun mengangguk.
"Rara ambil Hoodie dulu, Bun.. takut panas nanti Rara hitam lagi."
Hana hanya terkekeh menanggapi penuturan putrinya itu.
Tak lama kemudian, Rara pun kembali dengan memakai Hoodie berwarna mustard.
"Ya ampun, Ra… bikin mata silau aja warnanya begitu."
"Nggak apa-apa, Bun… biar jadi tontonan," jawab Rara terkekeh.
"Ya sudah, ayo… nanti keburu siang lagi," Hana menarik tangan Rara keluar.
"Biar Rara aja yang bawa mobil, Bun.."
"Nggak sama pak sup aja?"
(Pak sup-pak supir)
"Nggak, Bun.. kasian baru sembuh sakitnya."
"Ya udah, iya sayang…"
Dan mereka pun pergi menuju supermarket terdekat. Sesampainya disana, Hana mengambil keranjang belanja.
"Bun, nanti kurang gede kalau pakai keranjang, pakai troly aja sih.."
"Ya udah, iya… bawelnya anak bunda." Rara hanya menunjukan cengiran khasnya.
Mereka berdua pun mulai berjalan keliling di dalam supermarket, mulai dari bagian sayur mayur, daging, ikan dan bahan pokok lainnya. Tak lupa juga dengan cemilan untuk Rara.
"Udah belum, Bun?"
"Udah, Ra… ayo kita bayar, kamu yang bayar ya?" kekeh bunda.
"Bunda ngaco deh, Rara mana punya uang," geurutu Rara yang mengundang kekehan lagi dari sang bunda.
"Maaf ya, sayang.. bukan maksud bunda ngejek kamu,"
"Iya, Bun.. udah biasa," lagi-lagi Hana terkekeh dengan jawaban putrinya itu.
Dan giliran mereka membayar belanjaan di kasir, Rara pun membantu sang bunda membawakan belanjaannya.
"Banyak juga ya Bun, belanjaannya," kekeh Rara.
"Ya, sayang… nanti kalau kamu udah nikah, harus pintar ngatur keuangan suami ya? harus pinter belanja begini,"
Rara pun mengangguk yakin,
"Rara udah tahu kok, Bun.. kan bunda yang ajari Rara selama ini."
Hana pun tersenyum manis menanggapi ocehan putrinya itu.
Mereka pun kembali ke dalam mobil, berniat untuk pulang.
"Aduh, Bun… Rara lupa,"
Hana menautkan kedua alisnya, karena ia merasa semua barang belanjaan sudah terpenuhi.
"Lupa apa, Ra.. perasaan bunda ini udah lengkap loh,"
"Iiih… udah deh, Rara belum beli puding, bunda tunggu ya, Rara sebentar aja kok."
Hana pun mengangguk, dia menunggu putri tercintanya di dalam mobil.
Rara pun sudah mengambil puding coklat dari dalam mesin pendingin di supermarket itu, giliran dia tiba di kasir.
"Ini saja, kak?"
Rara pun mengangguk dan tersenyum.
"Totalnya 36 ribu, kak.." tubuh Rara menegang, dia lupa, jika dia belum meminta uang ke bundanya.
"Itu kak, saya ambil uang dulu ya di dalam mobil, saya lupa tadi.. nggak apa-apa kan?"
"Kelamaan, biar gue aja yang bayar."
"Eh?"
Rara pun menoleh, matanya memerjap berkali-kali. Dia melihat makhluk tampan di depannya.
"Tapi, kak… itu, __"
"Udah, nggak apa-apa. Gue buru-buru soalnya,"
"Oh.. ya udah, makasih ya, kak." ucap Rara dengan senyum manisnya. Laki-laki itu hanya menjawab dengan gumaman.
"Nanti kalau kita ketemu lagi, aku ganti uangnya."
"Santai aja.." jawabnya dengan cuek.
Rara pun mengangguk, dan berpamitan untuk pulang lebih dulu.
Rara berjalan dengan senyum manisnya, Hana hanya mengernyit bingung.
Menempelkan punggung telapak tangannya di dahi putrinya.
"Iih, bunda ngapain sih?" cibir Rara.
"Bunda kira kamu kena virus, Ra.. kamu tiba-tiba senyum-senyum sendiri begitu."
"Ihhh, Bunda… ini loh, tadi ada cowok ganteng bayarin puding Rara, Rara lupa tadi dompetnya disini. Tuh.." jelas Rara dengan menunjuk tas nya di dashboard mobil.
Dan sang bunda hanya ber'oh'ria.
Bersambung…