"Bun, Rara ke kantor kakak dulu ya?"
"Ya, sayang. Bawa mobilnya hati-hati ya?"
"Rara naik taksi aja, Bun. Udah pesan taksi online soalnya,"
"Astaga, Ra.. kalau ayah tau nanti kamu dimarahin loh, udah punya mobil sendiri masih aja pesan taksi online, kamu nggak lihat itu berita banyak yang jadi korban pelecehan seksual sama supirnya?"
"Bunda, nggak semua taksi online begitu loh.. udah bunda tenang aja, Rara bisa jaga diri kok. Rara udah siapin air merica kalau supirnya jahat Rara semprot nanti." Kekeh Rara.
Hana hanya berdecak, lalu meng-iyakan ucapan putrinya itu. Rara pergi setelah menyalimi tangan bundanya.
Rara pun naik taksi yang sudah bertengger di depan rumahnya.
"Mau kemana, neng?"
"Antar saya ke kantor Wijaya ya, pak.."
"Neng anaknya tuan Wijaya?"
Rara tersenyum,
"Iya, pak.. bapak kenal ya sama ayah saya?"
Sang supir taksi yang mulai melajukan mobilnya pun terkekeh.
"Neng ini ada-ada saja, mana mungkin saya kenal. Tapi, kan pak Wijaya bertebaran di mana-mana neng fotonya."
Sang supir dan Rara pun tertawa bersama.
Hingga dua puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan gedung pencakar langit.
"Ini pak," Rara memberikan dua lembar kertas merah pada sang supir.
"Ini kebanyakan, neng.."
"Udah pak, ambil aja. Sebagai ucapan terimakasih dari saya. Oh ya pak, saya boleh minta nomor bapak? Biar bisa jadi langganan," ucap Rara pada sang supir.
"Baik, neng. Ini kartu nama saya, sekali lagi terimakasih ya, neng."
"Iya, pak. Sama-sama. Bapak hati-hati ya?"
Supir itu tersenyum, lalu melajukan kembali mobilnya.
Rara tersenyum lebar, dia mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor ayahnya yang saat ini di pegang oleh sang kakak.
Sapaan dari para karyawan di sambut hangat oleh Rara, Rara adalah gadis yang ramah dan ceria.
Rara berjalan dengan sedikit menunduk. Hingga di depan lift, dia menabrak punggung seseorang.
"Aww…" Rara mengusap dahinya.
Orang itu berbalik dan terkejut melihat Rara.
"Rara?"
Rara pun menaikkan pandangan,
"Kak Rangga?" Rara tersenyum lebar melihatnya, begitupun dengan Rangga.
"Kamu ngapain kesini?"
Rara menunjukkan tentengan di tangannya dengan senyum manisnya, Rangga hanya ber'o'ria.
Hingga pintu lift itu terbuka, mereka berdua pun masuk dan hanya mereka berdua didalam sana.
Rara bersenandung kecil, dan membuat Rangga terkikik geli.
"Hey tayo.., hey tayo.. dia bis kecil ramah, melaju, melambat, dia selalu senang."
"Umur kamu berapa sih? Masih aja nyanyi gituan,"
Rara pun terkekeh,
"Umur Rara 5 tahun kak, 17 tahun lalu." Dan mereka berdua terkekeh bersama.
"Ayo, keluar.. mau ke ruangan Rangga kan?"
Rara pun mengangguk.
"Kakak juga?"
Rangga hanya menjawab dengan gumaman.
"Kak Rangga, tumben mau ngomong sama Rara? Biasanya datar aja,"
Rangga pun terdiam, dia baru menyadari jika dirinya telah khilaf berbicara dengan Rara.
"Khilaf.." jawab Rangga sekenanya.
"Iih, apaan deh.. nggak lucu banget." Cicit Rara.
Rangga hanya diam tanpa menanggapi ucapan Rara.
Mereka jalan beriringan tanpa sepatah katapun keluar.
Hingga mereka sampai di ruang kerja Anton.
"Rara? Rangga?" Ucap Anton.
"Kakak, Rara datang bawa makan siang.."
"Rara, kamu mau tunggu kakak? Kakak masih ada kerjaan sedikit, dan belum waktunya makan siang juga."
"Iya, iya.. Rara tau kok. Rara kan cuma ngasih tau." Jawab Rara dengan mencebikkan bibirnya.
Rangga hanya menatap Rara dan Anton bergantian.
Rara pun duduk di sofa yang ada disana, dia mengeluarkan sesuatu dari tentengannya.
Membuka puding coklat yang ia beli tadi, bukan --- lebih tepatnya dibelikan seseorang.
Rara tersenyum mengingatnya, laki-laki itu sangat tampan.
Tapi, lebih tampan kak Anton dan kak Rangga. Dia sekelas dengan kak firman mungkin, Rara terkekeh geli dengan lamunannya membuat dua orang disana terheran-heran.
"Dek, kamu gila?" Tanya frontal Anton.
Rara hanya melirik sinis pada Anton.
"Kakak, ingat… setiap kata itu adalah doa. Jangan asal bicara, Rara masih waras." Ketus Rara mengingatkan.
"Iya, iya.. maaf, kakak hanya aneh aja liat kamu senyum-senyum sendiri,"
Rara pun tersenyum manis,
"Tadi itu, Rara ke supermarket sama bunda, terus pas udah mau pulang, Rara lupa belum beli puding. Nah, Rara balik lagi masuk ke supermarket, pas di kasir Rara lupa tuh dompetnya masih di mobil, lalu ada cowok ganteng banget kak, bayarin puding Rara. Nih, pudingnya.." tunjuk Rara dengan senyum sumringahnya.
"Oh, jadi kamu suka pudingnya apa suka di bayarin cowok ganteng?" Tanya Anton penuh selidik.
"Rara suka dua-duanya, kak." Cicit Rara dengan malu-malu, dan Anton pun terkekeh, berbeda dengan Rangga hanya memasang wajah datar.
Lalu Anton pun melanjutkan pekerjaannya dengan Rangga, berbeda dengan Rara yang menikmati puding coklatnya dengan senyum manisnya.
Sesekali Rangga melirik gadis itu dengan wajah datarnya.
"Kak, udah belum? Nanti keburu dingin nih masakan Rara." Sewot Rara.
"Iya, iya.. ini udah selesai kok. Rang, sekalian makan siang bareng aja yuk?" Ajak Anton pada Rangga.
"Nggak deh, aku mau langsung ke kantor soalnya."
"Kak Rangga, sini sekalian aja. Rara bawa makanan banyak kok,"
"Tuh kan, adik aku bilang bawa banyak. Sekalian aja ayo.."
"Kok maksa sih?" Anton dan Rara terkekeh mendengar cibiran Rangga.
"Bentar, Rara siapin dulu." Rara pun dengan telaten menyiapkan menu masakan yang ia buat dengan bundanya tadi.
"Kamu masak apa, sayang?" Tanya Anton pada adiknya.
"Rara masak ayam goreng bumbu kuning, sambal terasi, terus udang asam manis, sama tumis pare, kesukaan kakak."
"Hm, terimakasih ya, Ra.."
Rara hanya mengangguk dan tersenyum.
Rangga, sejak tadi hanya memperhatikan gerakan Rara.
"Kak Rangga, ayo makan… jangan di liati aja,"
Rangga hanya menjawab dengan gumaman.
Mereka pun makan bertiga bersama.
"Kak, nanti Rara pulang sama kakak ya?" Ucap Rara di sela makannya.
"Hm, kakak hari ini lembur, Ra. Kamu naik apa tadi?"
"Yahhhh, Rara naik taksi online tadi, kak." Jawab Rara dengan raut kecewa.
"Kamu pulang sama Rangga aja ya?"
"Emang boleh?"
Rangga hanya menatap datar Rara dan Anton.
"Boleh nggak, Rang?"
Rangga masih enjoy dengan mengunyah makanan di mulutnya. Hanya menatap datar dua orang di hadapannya.
"Yeeu, si kampret.. di tanyain malah asik geal geol aja tuh mulut." Sewot Anton.
"Makan, diem." Ucap Rangga datar.
Rara dan Anton pun mendengus, namun mereka tetap melanjutkan makan mereka dengan tenang.
Setelah selesai, Rara membereskan semua sisa makan mereka dan mencuci kembali tempatnya dengan bersih.
Dia pun kembali duduk bersama dua cogan.
"Kak Rangga, gimana.. Rara boleh ikut pulang bareng?"
"Ya udah, iya.."
Rara pun tersenyum lebar, dia pun dengan refleks mengecup pipi Rangga.
Dan tubuh Rangga menegang.
"Rara!" tegur Anton membuat Rara tersadar.
"M-maaf, Rara refleks karena kebiasaan sama kak Anton." ucap Rara menunduk dan memilin ujung bajunya.
Anton menghela napas berat memandang Rara dan Rangga bergantian.
Bersambung...