Saat ini Rara sedang duduk didalam mobil dengan Rangga. Rara terus menunduk malu dan memilin ujung bajunya.
Rangga sesekali melirik Rara dengan menahan senyum.
"Ra, ke kantor ku dulu ya?"
Rara hanya mengangguk menanggapinya.
"Ra, kenapa diam?" tanya Rangga lagi.
"Rara nggak diam kok, ini cuma jaga sikap." elak Rara membuat Rangga terkekeh.
"Bilang aja malu kan, habis cium cium pipi cowok ganteng di sebelahmu ini?" goda Rangga menaik turunkan alisnya.
Wajah Rara merona karena malu, dan membuat Rangga terkekeh lagi. Rangga mengacak rambut Rara pelan.
"Nggak apa-apa, Ra. Aku nggak marah kok."
"Maaf.." cicit Rara pelan.
"Iya, bawel.."
Sedangkan di sisi lain, di kantor Wijaya bagian industri minyak kelapa, seorang pemuda tampan sedang berjalan mendekati ruang manager kantor, manager kepercayaan keluarga Wijaya.
Pemuda itu mengetuk pintu ruang kerja manager kantor dengan perlahan, lalu samar terdengar suara yang menyuruhnya masuk.
Setelah pemuda itu masuk, terlihat laki-laki paruh baya sedang berbincang dengan laki-laki yang seumuran dengannya.
"Assalamualaikum, Pa"
"Waalaikumsalam, Firman.." jawab laki-laki itu.
"Siapa, Man?" Tanya teman laki-laki paruh baya itu.
"Oh, ini anak saya pak yang baru datang dari Kalimantan."
"Oh, mirip sekali denganmu."
Arman hanya tersenyum menanggapi atasannya.
"Firman, perkenalkan ini dia Presdir sekaligus pemilik kantor ini, dia atasan papa."
Firman pun mengangguk dan tersenyum sopan. Dia pun menyalami tangan Reyhan Wijaya.
"Kau persis sekali dengan papamu waktu muda dulu."
"Iya, om.. karena saya anaknya, kalau mirip tetangga mama pasti curiga." Reyhan tergelak mendengar candaan Firman.
"Anakmu lucu sekali, Arman. Sering-seringlah datang kemari bantu papamu, kasihan dia sudah sering kewalahan mengurus pekerjaanya."
"Baik, om. Saya akan mencobanya besok.." jawab firman sopan.
"Kalau begitu, saya balik keruangan. Jangan lupa laporan bulan kemarin kamu berikan pada saya, man."
"Baik, pak.", Jawab Arman membungkuk sopan.
Setelah kepergian Reyhan, tinggallah dua laki-laki yang berwajah hampir sama hanya beda generasi.
"Ada apa, nak?"
"Pa, maaf aku kesini tanpa memberitahu papa lebih dulu. Aku kesini mau minta uang, pa."
"Uang? Bukannya papa sudah berikan kamu uang yang bisa kamu gunakan selama dua bulan? Ini baru sebulan lebih seminggu, dan kamu sudah minta lagi?"
"Aduh, pa.. jangan banyak tanya. Firman mau pergi dengan teman-teman."
Arman menghela napas berat, ia memijat pelipisnya yang terasa pusing.
Entah mengapa, anak tunggalnya itu benar-benar seperti pemeras, sangat boros dan sangat pemalas.
"Besok kau harus bantu papa disini, dan papa tidak akan memberikan uang secara cuma-cuma lagi, ini terakhir kalinya papa beri uang untukmu. Gunakan sebaik mungkin, kau sudah dewasa, jadi berpikirlah dengan jernih,"
"Papa, bawel ah.. besok aku bantu papa kok. Aku pergi dulu, pa. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Setelah kepergian Firman, Arman kembali berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk.
***
Disisi lain, Rara sedang duduk dan membaca novel yang ada di ruang kerja Rangga.
Ya, Rangga meminta Rara untuk menunggunya hingga selesai bekerja.
Sesekali Rangga melirik Rara yang sedang serius membaca novel itu.
Dia pun tersenyum tipis melihatnya.
Namun, senyumannya hilang saat mendengar pintu terketuk.
"Masuk," ucap Rangga dan terdengar decitan pintu yang terbuka, menampilkan Wanda sekretarisnya.
"Ada apa, Wanda?" Tanya Rangga tanpa melihat pada sekretarisnya itu.
"Saya hanya membawakan teh hangat untuk anda, Pak. Karena saya pikir sangat cocok minum teh hangat di saat cuaca diluar sedang hujan."
Rangga terdiam sejenak, dia pun melirik Rara.
"Kamu berikan pada gadis itu, Wanda." tunjuknya pada Rara.
Wanda sedikit terkejut, namun dia berusaha bersikap biasa saja.
"Baik, Pak.." Wanda dengan tidak ikhlas berjalan menuju meja dimana ada Rara disana.
"Ini tehnya, mbak.." ujar Wanda dengan sedikit ketus.
Rara menaikkan pandangan.
"Saya tidak pesan teh, kak.."
"Ya, tapi ini saya buatkan untuk pak Rangga, tapi pak Rangga nyuruh saya kasih teh ini untuk anda."
"Oh, itu.. baik, terimakasih, kak." ujar Rara sopan, namun hanya di balas tatapan sinis dari Wanda.
Rara terkejut dengan balasannya, namun dia berusaha bersikap normal dan menggidikkan kedua bahunya.
Dia pun melanjutkan kegiatan membacanya.
Dia pun merasa haus, dan menyesap tehnya perlahan-lahan.
Rangga meliriknya dengan senyum manis, kemudian kembali lagi berkutat dengan berkasnya.
Rara kembali membaca novel yang bergenre romantis itu.
Disana menceritakan tentang seorang laki-laki yang sangat setia terhadap istrinya. Meskipun istrinya sakit-sakitan.
Meskipun dunia menentang dengan hubungan mereka.
Mata Rara berkaca-kaca, dia pun menangis sesenggukan.
Rangga pun terkejut melihat Rara yang tiba-tiba menangis.
Rangga berjalan mendekatinya.
"Rara, ada apa? Kenapa kau menangis? Apa yang sakit?" Cecar Rangga pada Rara.
"Hiks.. hiks.. k-kak R-rangga, hiks.. i-ini sedih banget i-isinya, hiks..",
Rangga memejamkan matanya sejenak.
"Itu hanya novel, Rara.. jangan dibawa serius."
"Hiks.. t-tapi, Rara baper.. suaminya baik banget, hiks.. Rara mau punya suami seperti ini, tampan dan penuh kasih sayang hiks.."
Rangga terus mendengarkan ocehan Rara.
"Rara, salut.. dengan mereka. Meskipun, banyak rintangan, meskipun laki-laki itu memiliki kesalahan besar, tapi karena kekuatan cinta, mereka kembali bersama."
Rangga pun tersenyum.
"Ya, karena cinta itu buta dan cinta bisa mengalahkan segalanya, ego sekalipun bukanlah tandingannya."
Rara pun mengangguk.
Rangga menghapus air mata di pipi Rara z Rara sedikit terkejut dengan perlakuan Rangga.
"Dasar cengeng," ejek Rangga membuat Rara memukul lengannya dengan pelan.
Rangga pun mengambil cangkir teh milik Rara dan ikut menyesapnya.
"Iih, kak.. itu kan punya Rara," seowt Rara tak terima.
"Udah nggak apa-apa, harusnya kamu bersyukur bisa minum satu cangkir dengan laki-laki tampan sepertiku."
"Iih, ge-er banget jadi orang."
Raut wajah Rangga berubah menjadi datar, dia pun berdiri. Rara menatapnya dengan kebingungan.
"Kak Rangga mau kemana?"
Rangga tak menjawab, namun dia menunjuk meja yang penuh dengan berkas penting, dan Rara tahu maksudnya jika Rangga akan melanjutkan pekerjaannya.
"Maaf ya, kak.. Rara nggak bisa bantu,.Rara nggak mau ambil pusing soalnya. Hehe.." cengir Rara membuat Rangga tersenyum.
"Nggak masalah, kamu duduk manis aja. Sebentar lagi juga aku selesai kok." Rara pun mengangguk pasrah.
Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat. Sekarang sudah pukul setengah lima sore.
Rangga meregangkan otot-otot lengannya.
Dia melirik Rara yang juga telah kelelahan membaca novel yang ia pegang.
"Capek ya?"
"Dikit, kak. Kak, ini boleh Rara pinjam? Rara belum selesai bacanya, boleh ya?"
Rangga pun mengangguk,
"Bawa aja, disini juga nggak pernah dibaca. Cuma buat koleksi aja.",
"Oh, enak dong. Rara bisa sering main kesini, buat baca-baca novel, hehe.."
"Boleh kok, ya udah ayo pulang. Nanti kamu di marah bunda kamu karena pulang telat."
"Kak Rangga lah yang harus tanggung jawab, kan kakak yang buat Rara pulang telat."
"Iya, iya.. ayo,", Rangga pun mengajak Rara pulang, dia terlihat seksi dengan menenteng jas di lengannya.
Dan, entah sejak kapan, lengan panjangnya sudah ia gelung sampai kesiku dan mempertontonkan otot-otot di lengannya.
Rara membayangkan yang iya-iya jika melihat otot-otot seksi di lengan Rangga.
Rara pun menggelengkan kepalanya, untuk mengusir pikiran kotornya.
"Kamu kenapa, Ra? Pusing?" Tanya Rangga, namun Rara hanya menjawab dengan senyum malu dan menggeleng pelan.
Bersambung..