Sesuai janji, hari ini Rara datang ke kantor Rangga.
Rara mengetuk pintu ruang kerja Rangga, namun tak ada jawaban, lalu Rara pun memutuskan untuk langsung masuk ke dalam.
Namun, dia terkejut saat sampai di dalam tidak ada Rangga disana.
"Kemana kak Rangga?" gumam Rara.
Rara pun tetap melangkah maju, kakinya melangkah menuju ke rak lemari yang berisi buku-buku novel yang biasa ia ambil buku novel disana.
Rara meletakkan tas dan rantang di meja, ya.. Rara membawa rantang berisi makanan untuk ia dan Rangga. Entah mengapa, Rara ingin membawakan makanan untuk Rangga.
Rara melihat buku yang menarik di rak paling atas, namun dia tak sampai. Hingga Rara terpekik saat tubuhnya tiba-tiba terangkat ke atas.
"Ambil, Ra.. kamu kurus ternyata berat juga." ejek Rangga membuat Rara mendengus sebal.
"Kak Rangga ih, bikin Rara kaget aja." Rara pun mengomel dan mengambil buku yang ia mau.
"Udah belum, Ra?"
"Udah, kak. Turunin.." ucap Rara dengan nada manja, Rangga pun mengangguk dan menurunkan tubuh Rara.
"Fyuh..." Rangga bernapas lega setelah menurunkan Rara, namun Rara merasa tak terima dan memukul pelan lengan Rangga.
"Awww… kok di pukul sih?" gerutu Rangga pada Rara.
"Ya, kak Rangga sih, kaya habis gendong karung isi beras 100kg aja," gerutu Rara membuat Rangga terkekeh.
Rangga mengacak rambut Rara pelan.
"Ih, kak Rangga… rambut Rara jadi berantakan nih,"
"Ya udah, sini di rapikan lagi," Rangga pun mulai merapikan kembali rambut Rara, Rara terdiam dan menatap Rangga, matanya fokus pada bibir Rangga yang sedikit tebal dan berwarna pink, belum lagi bibirnya yang basah benar-benar menggoda iman.
Rangga tersenyum miring saat menyadari Rara sedang memandangnya.
"Kamu mikirin yang iya-iya ya?" goda Rangga menyadarkan Rara.
"Ihh… mana ada!" elak Rara membuat Rangga terkekeh.
Rara pun memilih duduk dan mulai membaca bukunya.
Rangga pun menahan senyum sembari melirik Rara berkali-kali.
Dia benar-benar merasa sangat bahagia saat Rara benar-benar datang ke kantornya.
Persetan dengan perjodohan Rara dengan si cowok itu, yang Rangga pikirkan hanya saat ini untuk mengambil hati Rara.
Rangga pun berjalan menuju meja kerjanya, dia pun duduk di kursi kekuasaan miliknya.
"Ra, kamu bawa apa?"
Rara pun menatap Rangga,
"Itu.. Rara bawa makanan, buat kita makan siang bareng, nggak apa-apa kan?"
Rangga tersenyum lebar dan mengangguk.
"Makasih ya?" Rara masih menatap Rangga dan berkali-kali mengerjapkan matanya.
Rara merasa aneh karena Rangga seperti sedang bahagia hari ini.
"Kak Rangga.." panggil Rara dengan ragu.
Rangga pun bergumam dan menunggu lanjutan Rara.
"Kak Rangga lagi bahagia ya?" Rara kembali bertanya dengan sangat berhati-hati.
"Iya," jawab Rangga dengan singkat.
Rara pun hanya ber'oh'ria saat Rangga menjawabnya dengan singkat, ia pun kembali melanjutkan membaca buku novelnya.
Mata Rara berkaca-kaca saat membaca pertengahan isi novel itu, disana menceritakan kisah seorang istri yang menyusul suaminya di luar kota karena ada tugas pekerjaan, sesampainya istri disana, ternyata sang suami sedang bersama selingkuhannya. Hingga si istri pulang dengan perasaan kecewa dan dia mengalami kecelakaan.
"Hiks… hiks.." Rara pun mulai menangis dengan sesenggukan. Rangga hanya menggelengkan kepalanya, sudah paham selama Rara sering datang ke kantornya untuk membaca buku, dia terlalu menghayati dan mendalami, sehingga dia ikut terhanyut dalam kisah didalam buku.
"Udah, Ra.. itu kan cuma di novel aja." ujar Rangga menenangkan Rara.
"T-tapi, hiks.. tetep aja, itu istrinya kasian, suaminya juga kenapa nggak kejar istrinya pas istrinya pulang, dan dia nggak tau pas pulang ternyata istrinya sedang koma di rumah sakit dan wajahnya udah hancur." jelas Rara membuat Rangga ikut tersentuh.
Dia merasa tersentuh bukan karena isi cerita itu, tapi dia tersentuh karena ia tahu jika Rara adalah gadis yang peduli pada orang lain.
Sungguh, Rangga tak ingin menyia-nyiakan Rara jika sampai dia mendapatkannya.
"Udah-udah, jangan nangis. Nanti pulang dari sini, mau nggak jalan ke mall?"
"Ngapain ke mall, kak?" tanya Rara sembari menghapus sisa air matanya.
"Biar kamu seneng aja, kamu mau beli apa aja juga nggak apa-apa. Kak Rangga belikan,"
"Beneran itu, kak?" tanya Rara antusias.
Rangga pun mengangguk, dan Rara pun tersenyum lebar. Dia mau dan dia ingin pergi jalan ke mall.
"Eh kak, udah waktunya makan siang nih."
Rangga pun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya, kamu bawain apa, Ra?"
"Rara bawain nasi bakar ikan panggang, kak. Ini enak banget loh, Rara sama bunda yang masak tadi."
"Kamu baik banget sih," puji Rangga tulus membuat wajah Rara merona karena malu.
Rangga pun dengan gemas mencubit pipi Rara yang sedikit tembem.
"Ih kak Rangga, sakit tau.." ucap Rara dengan mengusap pipinya.
"Gemes aku, Ra.." kata Rangga terkekeh.
"Ya udah, ayo makan.. cuci tangan sama baca doa juga jangan lupa, kak."
"Iya, sayang.." jawab Rangga dalam hati, Rangga pun terkekeh membuat Rara bingung.
"Kak Rangga, kenapa ketawa?"
"Oh, itu… cuma lucu aja, emangnya aku ini anak kecil, huh? Sampe di ajari cuci tangan sama baca doa dulu?" ucap Rangga
"Eh.. iya juga ya, hehe" cengir Rara.
Mereka pun memakan makanannya dengan tenang. Sesekali Rangga melirik Rara dengan menahan senyum, betapa bahagianya dia hari ini bisa bersama Rara seharian.
Bahkan, Rangga ingin sekali menculik Rara dan membawanya ke tempat yang sangat jauh.
Tapi, Rangga tak mungkin melakukan hal itu, kecuali terdesak.
"Ra…" panggil Rangga yang kini sudah menyelesaikan makan siangnya dengan Rara.
"Iya, kak?"
"Emm… k-kamu beneran nerima perjodohan itu?" tanya Rangga dengan penuh hati-hati, takut jika itu menyakiti hati Rara.
Rara pun tersenyum tipis,
"Rara nggak tau, kak. Kak Rangga tau sendiri kan, gimana watak ayah? Rara bisa aja di pindah ke tempat nenek kalau nolak," jawab Rara tanpa menatap Rangga.
Rangga pun menghela nafas panjang.
Dia pun mencoba untuk memahami keputusan Rara, entahlah… dia tidak tahu bagaimana dengan selanjutnya.
Hingga sore pun tiba, Rara dan Rangga sudah berada di mall.
Rara meminta Rangga untuk mengajaknya ke puding cafe yang ada di dalam mall.
Rangga pun mengiyakannya, jantungnya berdetak kencang tak beraturan saat Rara menarik tangannya.
Rangga benar-benar seperti anak ABG yang baru saja merasakan jatuh cinta.
"Rara?"
Rangga dan Rara pun menoleh, Rara pun terkejut dengan seseorang yang memanggilnya.
"K-kak Firman…" ucap Rara gugup.
"Siapa dia?" tanya Firman dengan sinis, Rangga pun menatapnya tak kalah sinis.
"Dia kak Rangga, teman kak Anton."
"Kalian ada hubungan?" tanya Firman dengan tatapan mengintimidasi pada Rara.
Rara pun menggelengkan kepalanya.
"Kalau nggak ada, ayo pulang." ucap firman dengan menarik tangan Rara.
"Dia bareng gue, jadi pulang juga bareng gue." ucap Rangga menahan tangan Rara yang satunya.
Rara menatap mereka bergantian.
"Gue calon suaminya!" Rangga melepas pegangan di tangan Rara, kali ini dia kalah telak.
Biarlah dia mengalah sebelum janur kuning melengkung. Firman tersenyum miring dan menarik tangan Rara, Rara merasa tak enak dan menoleh ke arah Rangga. Rangga pun mengangguk kecil seolah memberitahu jika dia tidak apa-apa.
Bersambung..