Bab 7

1043 Kata
"Arghhh.." Rangga mengacak rambutnya frustasi. Dia benar-benar merasa sangat kesal, sudah beberapa hari ini Rara tidak pergi ke kantornya untuk membaca buku.   Sudah jelas, Rangga tahu dari Anton jika Rara di tuntut untuk melakukan pendekatan dengan Firman.   "Siapa sih, Firman Firman itu, aku yakin aku jauh lebih ganteng dari dia, sial!" gerutu Rangga dengan mengepalkan tangannya kuat.   Seseorang yang menatap Rangga sejak tadi hanya terkikik geli melihatnya.   Rangga mengalihkan pandangannya saat mendengar suara orang lain di ruangnya.   "Heh!!" pekik Rangga membuat orang itu juga terlonjak kaget.   "Lo apa-apaan sih, teriak teriak nggak jelas kaya anak ABG baru dapat pms," gerutunya pada Rangga.   "Lo kebiasaan datang kesini kaya oseng kangkung, datang tak di jemput pulang tak di antar," sewot Rangga membuat orang itu terkekeh, siapa lagi kalau bukan sahabatnya, Dandi?   "Jelangkung Bambang,"   "Nama gue bukan Bambang ya, nama gue Rangga. Rangga El Abraham,"   "Iya deh, kasian lagi patah hati, jadi gue iyain aja daripada tambah beban, entar lo gantung diri lagi," kekeh Dandi mengejek Rangga.   'Tuk'   Rangga melempar kacang ke kepala Dandi,   "Sialan lo, kaya situ nggak ingat aja gimana situ patah hati dulu, ngurung diri selama seminggu kaya cewek," jawab Rangga balik mengejek Dandi.   Dandi mendengus kesal saat Rangga mengingatkannya lagi dengan masa itu, masa di mana sang kekasih berkhianat. Dia lebih memilih pekerjaan hina di banding bersanding dengan Dandi.   Baik, lupakan kisah cinta Dandi.   Rangga sudah duduk di samping Dandi, dia menyandarkan tubuhnya di sofa. Memejamkan matanya, rasanya ia benar-benar pusing sekarang.   "Lo udah nemuin Rara?"   Rangga kembali membuka matanya, membenarkan cara duduknya dan menggeleng kecil.   Dandi berdecak kesal, dia benar-benar gemas dengan sahabatnya itu. Bagaimana bisa mendapatkan separuh hatinya jika dia saja tidak mau berjuang?   "Gue denger dari Anton, si Rara tiap hari ketemu sama si Firman itu,"   Darah Rangga terasa mendidih, dia benar-benar merasakan sesak di dadanya. Dia tidak ikhlas gadis yang ia suka bersanding dengan yang lain.   Dengan tekadnya dia berdiri, dan berniat untuk menghampiri Rara.   "Mau kemana, lo?"   "Mau nemuin Rara," jawab Ranga polos.   "Ck, terus ... mau kasih alasan apa buat dia, kalau dia tanya gini, kak Rangga, ada apa kesini?" ucap Dandi dengan menirukan logat bicara Rara.   Rangga pun terdiam sejenak, lalu dia kembali terduduk lesu di samping Dandi.   "Argh… terus gue harus apa, Jamali?" Dandi terkekeh mendengar nada kesal dari sahabatnya itu.   "Udah, sabar aja dulu. Nggak usah buru-buru, lagian Rara kan belum mutusin mau nikah apa engga sama si Firman itu?"   "Iya juga sih.."   "Ya udah, yang penting situ kan udah denger kalau Anton aja nggak mau si Rara di jodohin, gue yakin tuh si Anton bakal dukung perasaanmu ke dia."   "Ya, semoga aja sih.." jawab Rangga penuh harap.   *** Berbeda dengan Rara, saat ini Rara sedang makan siang bersama dengan Firman.   Mereka makan di restoran cepat saji, Rara masih sedikit malu-malu dengan Firman. Mata Rara fokus pada bibir Firman yang terlihat sexy itu, namun sayang, Rara seringkali melihat laki-laki itu merokok.   Firman yang merasa di perhatikan pun balik menatap Rara, membuat Rara tertunduk malu.   Firman tersenyum,   "Kenapa, Ra? ada makanan yang nempel ya di bibir aku?"   "Eh.. nggak kok, kak." jawab Rara sedikitsalah tingkah.   "Nggak ada kok kamu liatnya sampe gitu banget?" tiba-tiba Rara merasakan detak jantungnya berpacu sangat cepat.   "I-itu… aku, em… aku… "   "Mas Firman.." ucapan Rara terpotong saat mendengar seorang perempuan memanggil namanya.   Rara terkejut dibuatnya, namun Firman jauh lebih terkejut dari Rara.   "K-kamu ngapain disini?" tanya Firman dengan terbata.   "Aku mau makan, aku hubungi kamu kok susah banget sih, kamu juga.. eh, ini siapa?" tanya perempuan itu dengan menunjuk Rara.   "Ra, tunggu sebentar ya, aku mau ngomong sama dia.."   Rara pun seperti orang bodoh, dia hanya mengangguk saja.   Firman menarik tangan perempuan itu, membawanya ke jarak yang jauh dari Rara.   "Kamu kenapa bisa ada disini?"   "Udah aku bilang, aku lapar, mas.."   Firman pun mengangguk,   "Soal gadis itu, nanti aku ceritain ke kamu ya,?"   "Awas aja kamu macam-macam, aku bongkar semuanya," ancam perempuan itu pada Firman.   Firman pun meneguk ludahnya susah payah, dia kembali meyakinkan perempuan itu untuk mempercayainya.   Firman menarik napasnya dalam-dalam, dia pun kembali pada Rara.   Disana Rara terlihat sudah menghabiskan makanannya.   "Ra," panggil Firman membuat Rara mendongak menatapnya.   "Ya, kak?"   "Soal perempuan itu, kamu jangan salah paham, ya? Dia teman aku, Ra.."   Rara pun mengangguk dan tersenyum.   "Makasih ya," ucap Firman dengan tiba-tiba menggenggam tangan Rara, Rara pun terkejut dan lalu tersipu, wajahnya merah merona karena perlakuan Firman.   "Aku udah selesai makannya, kak.."   Firman pun mengangguk,   "Aku juga udah, kamu tunggu di sini. Aku bayar dulu ya,"   Setelah itu mereka pun pulang, Firman kembali ke kantor dan Rara pergi ke kantor sang kakak.   *** Rara pun sudah sampai di kantor sang kakak, dia langsung masuk ke ruang kerjanya. Tak peduli pada tamu yang ada, Rara langsung duduk di pangkuan sang kaka.   "Dih.. kamu ngapain, dek? kamu kan udah gede?" ucap Anton yang terkejut dengan kedatangan adiknya secara tiba-tiba.   "Iih, Rara kangen tau. Kak Anton lembur terus udah seminggu ini, jarang pulang lagi."   "Ya, kakak sibuk banget, Ra. Ini kan juga buat uang jajan kamu,"   "Mana ada, kakak kasih Rara cuma sedikit. Ayah kasih Rara banyak uang," sewot Rara membuat sang kakak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.   "Kak," lirih Rara lagi,   "Kenapa, Ra?"   "Rara capek, ngantuk.."   "Ya udah, kamu tidur aja. Kakak masih ada kerjaan nih,"   "Ya udah, kakak jangan berisik ya?"   "Kamu nggak malu, Ra?" bisik Anton pada Rara.   Rara menaikkan pandangan menatap sang kakak.   "Malu sama siapa?" balas Rara berbisik.   Anton menunjuk sofa dengan dagunya, membuat Rara menoleh dan terkejut.   Rara menolehkan kepalanya menatap sang kakak lagi.   "Kenapa kakak nggak bilang kalau di sini ada orang lain?" bisik Rara membuat Anton terkekeh.   "Turun, malu tuh di liatin kak Rangga sama kak Dandi," Rara pun turun dari pangkuan sang kakak dan menunduk malu.   Rangga menahan senyum melihat gadis yang tengah tertunduk malu.   "Habis dari mana, Ra?" tanya Dandi memecahkan keheningan.   Rara menaikkan pandangan menatap Dandi.   "Rara habis ketemu sama kak Firman, kak."   Wajah Rangga berubah seketika, hatinya terasa di remas-remas. Darahnya mendidih, ingin rasanya dia melempar apa saja di hadapannya.   "Kak Rangga…"   Rangga menatap tajam pada Rara dan membuat tatapan Rara menciut ketakutan.   Rangga tersadar dan tatapannya berubah lembut.   "Iya, Ra.."   "I-itu, Rara boleh main ke kantor kakak lagi nggak?"   Rangga menahan senyum kembali, dan dia pun mengangguk sebagai jawaban.   Bersambung..  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN