4. Pulang

1179 Kata
"Kau ...." Kedua tangan Clarissa mengepal erat hingga gemetar. Baru kali ini Abi berani menyulut emosi. Ia berbicara dengan entengnya seakan bukan masalah besar. Biasanya ia penurut walau dengan wajah kesal menerima semua permintaannya, tapi siapa yang telah memprovokasinya? Gadis inikah? Siapa gadis ini sampai membuat suami tak bergunanya kini mulai menyulut amarah? Apa karena dia cantik? Cuihh!! "Kau berani menghinaku? Kau ingin kita cerai, hah? Baik ... kita ...." "Clarissa!" Seorang pria paruh baya keluar dari sebuah kamar beserta seorang anak kecil. "Jangan bertindak sembarangan! Apa kamu mau menggantikannya bekerja di kantor, hah?!" Clarissa langsung ciut nyalinya. Ia memang tak suka bekerja di kantor dan ayahnya membutuhkan Abi karena mulai sakit-sakitan. Ia hanya memalingkan wajahnya ke samping dengan mulut merengut menahan kesal. Pria itu kemudian menatap Abi. "Kenapa kamu tidak minta izin dulu, Abi?" tanyanya dengan suara rendah. Walau terlihat kecewa, ia tak bisa berbuat apa-apa. "Maaf, Ayah, tapi kalau minta izin pasti dilarang." Abi bicara tanpa sedikit pun memperlihatkan emosi. "Eh, benar. Tapi bukan bermaksud ingin menceraikan Clarissa, 'kan?" Pria itu berusaha bicara baik-baik dengan menantunya. Abi dibuat heran. Ia tak menyangka sang mertua sepertinya takut ia menceraikan anaknya. Padahal ia berpikir sebaliknya. Ternyata Clarissa tidak sepintar yang dia kira. Yang dipikirannya hanya jalan-jalan dan belanja, tak peduli dengan apa yang terjadi di rumah. Bahkan orang tuanya sakit saja, Abilah yang menemani. "Eh, tidak." Seno, ayah Clarissa lega. Abi adalah menantu teladan, berbanding terbalik dengan anak satu-satunya Clarissa yang tak tahu cara mencari uang. Wanita itu hanya bisa menghabiskan uang dengan berhura-hura bersama teman-temannya. "Ya sudah, Ayah tak masalah." Ia berusaha bersabar. "Ayaahh ...." Clarissa langsung protes. Mulutnya masih mengerucut ke depan. "Sudah, biarkan saja." Seno berusaha membujuk anaknya. "Tidak akan ada yang berubah." Clarissa masih kesal. Ia melirik Yasmin dengan sinis. Si kecil yang sedari tadi diam, mulai bicara. Ia mendatangi Abi dan menunjuk Yasmin. "Papi, ini siapa?" Bocah laki-laki berpipi tembam itu terlihat bingung. "Itu ibu tirimu. Papimu bawa ibu baru." Clarissa mencoba memprovokasi anaknya. Bocah itu menoleh pada ibunya. "Apa?" Ia kembali memutar wajah ke arah sang ayah. Kemudian Yasmin. Lalu kemudian ia memeluk kaki Abi dengan cepat. "Ini Papiku, jangan diambil!" teriaknya menatap ke arah Yasmin. Mulut kecilnya langsung mengerucut. Abi tertawa kecil. "Siapa yang mau ambil, Enri?" Ia mengusap rambut si kecil yang sedikit berombak itu. "Kamu gak mau salam sama Mama Yasmin?" Yasmin menatap bocah kecil itu dengan senyum lebar. Ia tak tahu kalau Abi punya anak yang lucu seperti ini. Namun ia tak berani bicara, karena Abi melarangnya. Enri hanya menatap Yasmin sambil mempererat pelukan. "Enri, sudah malam. Tidur ya. Papi juga mau tidur karena pagi harus ke kantor." Namun Enri tak mau melepas pelukannya. Ia bersikukuh memeluk kaki sang ayah kuat-kuat. "Enri ...." "Kenapa tidak bawa dia tidur bersamamu seperti biasanya? Dia dari tadi menunggumu pulang," sahut Seno memberi tahu. Abi melirik mertuanya lalu Yasmin. Clarissa tampak tersenyum senang. Abi mau tak mau terpaksa membawa Enri agar masalahnya tidak berkepanjangan. Ia menggendong si kecil dan menggandeng Yasmin di depan mertua dan dan istri pertamanya Clarissa. "Ayo, Sayang. Kita tidur," ucapnya pada Yasmin. Ia sengaja memanas-manasi keduanya dengan memanggil 'sayang' pada Yasmin. Seno hanya melihat saja keduanya menaiki tangga tapi Clarissa geram. Beberapa satpam mengikuti Abi dan Yasmin sambil membawa koper-koper milik Yasmin. Bocah itu memandangi wajah Yasmin sambil memeluk leher Abi erat-erat seakan ia tak ingin gadis itu mengambilnya. Mulut kecilnya masih mengerucut membuat pipi tembamnya makin besar. Ini membuat Yasmin gemas ingin mencubit pipi bocah yang kemerahan pada kulit putihnya itu. Ia memperhatikan wajah bocah itu dengan senyum tipisnya. Sesampainya di kamar, satpam-satpam itu meletakkan koper Yasmin di lantai dan kemudian pergi. "Kamu bisa menyimpan pakaianmu di sini." Abi membawanya ke walk-in closed dan melihat sebuah ruangan yang penuh dengan rak baju. Rak itu sudah terisi sebagian oleh pakaian pria. "I-ini kamarmu ya." Tergagap Yasmin melihat ruangan besar itu. Ia mulai menyadari sesuatu. "Kenapa terpisah dari kamar istrimu? Kamu tidak tidur dengannya?" "Bisa dibilang, kami saling tidak cocok," sahut pria itu melangkah kembali ke kamar. "Hah?" "Kau mau mandi dulu?" teriak Abi dari kamar. Yasmin mengikuti. Ternyata Abi telah menurunkan Enri di atas ranjang. Melihat Yasmin datang, buru-buru bocah itu memeluk Abi dan duduk di pangkuan. "Mmh, bagaimana kalau Mas dulu?" "Mmh, ok." Abi menurunkan Enri. Ketika Abi kembali ke walk-in closed, bocah itu berlari mengikutinya. Walau begitu, sesekali ia menoleh pada Yasmin. Saat Yasmin sedang membuka koper di lantai, bocah itu kembali mengintip dari ruang sebelah. Ia begitu penasaran pada gadis itu. Enri kembali mengikuti Abi dengan kaki kecilnya ketika sang ayah masuk kembali ke kamar. Abi sampai bingung ketika bocah kecil itu mengikuti sampai kamar mandi. "Enri, kamu ngapain ikut papi ke kamar mandi?" "Ikuut ...," rengek Enri. Abi tertawa. Ia menggandeng Enri kembali keluar dan mendudukkannya di sebuah sofa, tapi bocah itu tetap ingin ikut sampai tubuhnya kembali meluncur turun dengan menurunkan kaki pendeknya itu lebih dulu ke lantai. "Eh, Enri ...." Abi kembali tertawa. Ia akhirnya menggendong kembali bocah itu dan berusaha bicara dengan lembut padanya. "Kenapa, Sayang? Takut sama Mama ya." Ia memperhatikan mata bocah itu yang terlihat bingung. "Mamanya gak gigit kok. Enri tunggu papi di sini ya." Walau masih bingung, pria itu tetap mendudukkan kembali bocah itu di kursi. Ia kembali melangkah ke kamar mandi dengan handuk dan pakaian di tangan sambil menoleh pada si kecil. Enri berusaha berani walau ia tak rela Abi pergi meninggalkannya. Bocah itu menepi dan berpegang pada sandaran tangan melihat sang ayah masuk ke dalam kamar mandi. Dari kursinya ia juga bisa melihat Yasmin yang sedang membongkar koper dan memasukkan barang-barangnya ke dalam walk-in closed. Ia menikmati pemandangan gadis itu yang bolak-balik ke ruang sebelah. Yasmin juga sesekali memperhatikan bocah kecil itu yang hanya diam memperhatikannya. "Halo, Dedek. Namanya siapa? Enri ya?" "Iya," jawab bocah itu takut-takut. Tak lama ia gelisah. Lama-lama terlihat bola matanya berkaca-kaca. Ia menggaruk-garuk kepalanya. "Kenapa, Dek?" Yasmin menghampiri. Bocah itu antara malu dan takut. "Mau sussu ...," katanya sedikit merengut. "Oh, sussu ...." Yasmin tersenyum di kulum. Ia melirik pintu kamar mandi. Sepertinya akan lama bila menunggu Abi keluar. Ia kemudian menyodorkan tangan. "Ayo kita ke dapur. Mama gak tau dapurnya di mana." Bocah itu menggeser kaki kecilnya itu ke depan dan menurunkan kakinya ke bawah. Kemudian ia melangkah ke pintu. Yasmin membukakan pintu dan menggandeng bocah itu menuruni tangga. Setelah sampai di dapur, Yasmin meminta seorang pembantu untuk membuatkan s**u untuk Enri. **** Yasmin keluar kamar mandi dan mendapati Abi dan Enri sudah tidur di ranjang. Ia bingung apakah ia harus tidur di ranjang atau di sofa. Di saat seperti itu Abi terbangun saat menggeliat dan memastikan Enri tertidur. "Oh, kau belum tidur?" Matanya terbuka sedikit. "Tidurlah. Besok kita akan ke rumah kakakku." "Eh, aku tidur di sofa saja." Belum selesai bergerak, Abi sudah bicara lagi. "Kenapa? 'Kan di sini bisa?" Ia menarik tubuh Enri mendekat, agar ada tempat lebih banyak untuk Yasmin. Bocah itu tertidur dengan botol suusu masih di mulut. "Maaf, aku tidur di ranjang karena kasihan Enri. Tapi kalau tak ada dia aku pasti tidur di sofa, kok." Ia mengerti kekhawatiran gadis itu. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN