3. Pulang Ke Rumah

1161 Kata
'Mungkin orang lain mengeluh saat menemukan mawar beserta durinya, tapi kelihatannya kamu bahagia ketika menemukan duri, kemudian mawarnya. Kau pantas mendapatkan mawar yang indah, adikku.' Gadis itu duduk di samping Abi dan meraih tangan sang pria. Ia menccium punggung tangan kokoh pria itu dengan santun. Ketika Abi hendak menccium kening Yasmin, gadis itu tiba-tiba mundur ketakutan. Bisa terlihat dari wajah cemas gadis itu yang mengerut dahi. "Yasmin ...." Sang ibu memperingatkan dengan lembut. "Eh, tidak apa-apa, Bu," sahut Abi memaklumi. Ibu dan bapak Yasmin saling pandang. Mereka merasa tak enak dengan Abi karena hanya bisa menikahi. Gadis itu masih trauma paska kesuciannya direnggut paksa oleh salah seorang tetangga mereka sendiri. Memang Yasmin adalah gadis tercantik di daerah itu, tidak heran ada orang yang sampai nekat ingin menodainya. Sudah banyak yang ingin menjadi pacar bahkan melamarnya, tapi sejauh ini Yasmin tak pernah menerima satu pun tawaran yang datang. "Ayo, dicicipi hidangan seadanya dari kami." Sang ibu, Rodiah, mengajak semua orang untuk mencicipi hidangan yang disediakan. Pernikahan sederhana itu begitu menyejukkan. Di luar perkiraan, pernikahan ini dijalani dengan suka cita walau Yasmin belum sepenuhnya bisa menata hatinya sendiri. Ia melirik suaminya yang begitu bersahaja. "Yasmin ... tolong suamimu, dong! Apa dia perlu tambah minum atau makannya." Rodiah dengan lembut mengajari. Yasmin menoleh pada Abi. "Eh, Bapak mau diambilkan apa?" "Eh, kok Bapak sih? Mas, gitu ...." Rodiah kembali mengajari sambil tersenyum. Terdengar tawa beberapa orang melihat kakunya Yasmin pada Abi. "Eh, iya, Mas ...." Yasmin mengulang dengan sedikit canggung. Abi pun tersenyum di kulum. Ia mengangkat telapak tangannya ke atas piring, menutupi. "Sudah-sudah-sudah, aku sudah kenyang." Suaranya lembut dan tenang. Ia tidak ingin Yasmin terlalu terbebani. Setelah acara makan siang, Gio pun pamit. Abi mengantarnya sampai ke depan pintu. "Maaf, aku tak bisa lama, tapi bagaimana kalau besok kita bertemu di rumahku? Bawa istri barumu ke rumah." "Baik, Kak, nanti aku bawa." Abi tersenyum menyambut undangan sang kakak. Sudah lama Gio tak melihat adiknya banyak tersenyum seperti hari ini. Ia berharap Abi tidak tengah berpura-pura. Setelah mobil Gio pergi, Abi masuk ke dalam rumah. Ia menemui Ramdan untuk pamitan. "Pak, maaf. Apa bisa Saya pamit sekarang dengan membawa Yasmin? Sebab tempat ini cukup jauh dari Jakarta, kalau tidak sekarang nanti bisa terlalu malam pulang ke rumah." Ramdan menoleh pada istrinya. Mereka tidak mengira putrinya secepat ini akan dibawa pergi karena sekarang anak mereka menikah dengan orang yang tinggal di luar kota, bukan seperti sebelumnya yang adalah tetangga dekat sendiri. "Ayah dan ibu jangan bingung. Kalau rindu dengan Yasmin, datang saja ke rumah. Pintu rumah kami terbuka untuk kalian. Nanti akan Saya kirimkan alamatnya." Ramdan menyentuh lengan Abi dengan dengan haru. "Terima kasih telah membantu keluarga kami. Jaga Yasmin untuk kami ya." Kedua bola matanya berkaca-kaca. Abi mengangguk pelan. Setengah jam kemudian, bagasi mobil Abi telah diisi oleh koper Yasmin dibantu penjaga rumah. setelah itu kedua berpamitan. Yasmin memeluk erat ibunya sebelum naik ke mobil. Kedua orang tua Yasmin kemudian melambaikan tangan pada mobil Abi yang bergerak ke luar pagar. Yasmin tampak canggung. Namun lama-lama wajahnya kembali sendu. Ia terus menatap ke arah jendela kaca tapi sepertinya pikirannya entah ke mana. "Yasmin." Gadis itu menoleh. Ia terkejut menyadari mobil telah berhenti di pinggir jalan. "Eh, kenapa mobil berhenti?" Abi tersenyum mendengarnya. "Apa kamu sedang melamun? Masa gak tau mobil berhenti?" Godanya. "Eh ...." Sedikit malu Yasmin terlihat kebingungan. "Aku hanya melihat-lihat." Bola matanya bergerak-gerak dengan indahnya. "Melihat apa?" Abi sedikit memiringkan kepala. Yasmin tak tau caranya mengelak karena ditanya tiba-tiba. Ia kembali ragu. "Apa ada yang ingin kamu tanyakan? Tanyakan saja." Suara bariton Abi terdengar begitu ramah dan bersahabat. "Eh ...." Karena masih kebingungan, Yasmin melihat sekeliling. "Kenapa kita berhenti?" Pria itu kembali tersenyum. Terlihat sekali gadis itu gugup. "Jangan merasa canggung padaku. Aku cuma manusia biasa. sama seperti kamu, hanya gelarnya saja suami. Aku sama-sama makan nasi goreng kok, sama, sama kamu." Ia menyandarkan lengannya di setir. "Mmh, jadi ... gak ada yang ditanyakan nih sebelum aku bicara?" Yasmin berpikir sejenak. "Belum ada ...," jawabnya malu-malu. "Ok, anggap saja itu pe er ya. Kalau ada yang ditanyakan, tanyakan saja. Begini, aku minta tolong padamu. Bisa 'kan?" Mata gadis itu langsung fokus pada wajah pria berambut sedikit kecoklatan itu. "Minta tolong?" Bukankah seharusnya ia yang minta tolong? "Mmh ... nanti kalau aku membawamu masuk ke dalam rumah, aku mohon, kamu untuk tidak bicara apa pun sebelum aku izinkan." "Mmh? Kenapa?" Yasmin mengangkat kedua alisnya. "Istri pertamaku rumit. Kami berada dalam situasi yang rumit jadi sebaiknya aku saja yang bicara." "Karena aku?" "Bisa jadi." "Mmh?" Yasmin memiringkan kepalanya masih tak mengerti. Sudah berapa kali Abi tersenyum berkat gadis ini. Senang rasanya punya seseorang tempat berbagi cerita walaupun ia merasa seharusnya ia tidak membawa Yasmin masuk ke dalam situasi yang rumit ini, tapi ia berusaha untuk berpikir positif. Mungkin Tuhan tengah mengiriminya seorang bidadari yang akan mendengarkan masalahnya. Dan sebelum bidadari itu pergi untuk selamanya, ia harus memanfaatkan waktu bersama sebaik mungkin agar kewarasan terjaga. Agar ia merasa, harapan itu masih ada. "Aku sebenarnya senang bertemu denganmu. Setidaknya aku punya pendukung." Yasmin mengerut kening. "Pendukung?" Abi membetulkan duduknya yang menyamping. "Apa kamu pikir hanya kamu saja yang hidupnya bermasalah? Setiap manusia selama masih bernapas akan selalu diikuti masalah." "Lalu?" Gadis itu masih nampak bingung, apa sebenarnya yang ingin pria ini katakan. "Sudahlah, kamu tidak usah pusing. Anggap saja kita berteman dan saling memberi dukungan. Ok?" Abi kembali memperbaiki duduknya. Kini ia menghadap ke depan dan mulai menjalankan mobilnya. Pikiran Yasmin kini teralihkan mendengar perkataan suaminya barusan. Pikirannya tentang kejadian buruk yang menimpanya seketika menghilang. Sesekali ia melirik suaminya dengan pandangan aneh. 'Teman? Bukankah kita sudah menikah? Kita 'kan suami istri, kenapa jadi teman?' Namun Yasmin tak berani bertanya lagi. Ia malah penasaran, apa yang akan terjadi di rumah pria itu. Sempat beberapa kali berhenti di jalan untuk salat, Yasmin mendapati suaminya berusaha untuk tidak meninggalkan salat. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah yang sangat besar, bahkan Yasmin yang anak orang kaya di kampungnya, tidak pernah melihat rumah semewah ini ada di sana. Ia terkagum-kagum saat masuk ke dalam rumah mewah itu. "Mas, kau bawa siapa?" Seorang wanita cantik yang sedang duduk di meja makan menatap ke arahnya. Seketika wanita itu berdiri. Clarissa yang kenal dengan semua keluarga suaminya, langsung mencurigai gadis yang datang bersama Abi. " Oh, kenalkan. Ini istri baruku." Dengan tenang, Abi memperkenalkan Yasmin. "Apa?" Clarissa menyorot tajam pada Yasmin. "Aku membelinya dengan harga 90 milyar! Enak saja kamu menikah dengannya!" teriak Clarisa geram. Ia menatap ke arah Yasmin dan memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan sinis. Yasmin tercengang mendengar perkataan wanita itu. 'Apa maksudnya ini?' Ia menoleh pada suaminya. "Terus kenapa? Menurut perjanjian, tidak ada tertulis bahwa aku tidak boleh menikah lagi, iya 'kan?" Abi menjawab santai. Telinga Clarissa serasa panas. "Heh! Kalau bukan karena aku, kau itu sudah tinggal di jalanan, Mas!" Clarissa bertelak pinggang sambil menunjuk wajah suaminya dengan jari telunjuknya. "Mmh ... mungkin," jawab Abi dengan raut wajah datar. Pria itu tampak tak peduli. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN