"Apa? Tapi kakakku hanya mengundang Yasmin, bukan kamu." Terang Abi. Lagipula Clarissa biasanya susah kalau diajak datang ke acara pertemuan keluarga, tapi kenapa tiba-tiba kali ini ia ingin ikut?
"Tapi 'kan aku juga istrimu." tuntut Clarrisa sedikit mengerucutkan mulutnya.
"Iya ... tapi 'kan kamu tidak diundang." Abi bersikukuh dengan pernyataannya. "Biasanya diundang juga tidak mau datang," gumamnya lagi.
"Sudah, Abi ... bawa saja Clarissa. Biar sekalian bisa bawa Enri," bujuk Seno. "Biar orang lihat, kalian saling akur berumah tangga."
Abi melirik mertuanya dengan malas. Ia menghela napas. Untuk apa terlihat akur padahal sebenarnya tidak?
Namun Abi tak bisa menolak permintaan mertuanya. Enri bahkan terlihat senang.
Saat menunggu Abi kembali dari kantor, ketiganya sudah bersiap-siap di ruang tamu. Clarrisa memperhatikan pakaian Yasmin dengan dagu terangkat. "Untuk apa pakai kerudung kalau tingkahnya seperti wanita jallang, hanya bisa mengambil suami orang."
Telinga Yasmin terasa panas mendengar omongan itu. Dengan mata menyipit kemudian melebar, ia membalas omongan Clarissa. "Yang jallang itu siapa? Bukannya kamu yang punya anak diluar nikah?" cibirnya. "Ditinggal pula lagi ...," gumamnya penuh sindiran.
Mata Clarissa melotot. Ia segera bangkit dari duduknya dan bertelak pinggang. "Apa katamu?! Kamu itu cuma numpang ya, numpang di rumahku! Jangan sok kamu!"
Yasmin berusaha tenang padahal darahnya mendidih mendengarnya. Ia menatap wajah Clarissa dengan tersenyum. "Tidak. Aku tinggal di rumah suamiku. Jadi ini rumahku juga!"
"Eh, dasar gembel! Ngaku-ngaku rumah orang, lagi!" Clarrisa mendengus ketus sambil melipat tangan di dadda. "Itu semua hartaku ya. Harta orang tuaku!"
"Mami, jallang itu apa?" Tiba-tiba Enri bertanya.
"Itu ... mengambil suami milik orang lain!" Terang Clarrisa dengan senyum sinisnya.
"Jangan membodohi anak kecil. Aku tidak menggodanya. Mas Abi sendiri yang melamarku, dengan ini." Yasmin memperlihatkan sebuah kartu hitam di tangannya.
Bukan main geramnya wanita itu mengetahui Yasmin mendapat kartu hitam, sebab ia sendiri hanya memiliki kartu ATM milik Abi. Ia tak punya kartu hitam karena suaminya bilang itu untuk mengurus perusahaan. "Kenapa bisa kamu memilikinya?" Matanya masih terbelalak.
"Aku tidak tahu. Mas Abi sendiri yang memberikannya tanpa diminta," jawab Yasmin tersenyum penuh kemenangan. Sebenarnya ia tak ingin bertengkar masalah ini tapi karena Clarrisa menyerangnya lebih dulu, ia terpaksa mempertahankan diri. Padahal kisah pertemuan mereka tidak semanis dugaan orang padanya.
Clarrisa ngambek. Ia langsung menghempas bokkongnya kembali ke sofa dengan kembali melipat tangan di dadda. Ia terpaksa menunggu Abi untuk mendapatkan jawaban.
Ketika Abi datang dari kantor, ia tak menyadari ada perubahan di wajah Clarrisa. "Sebentar, aku ganti baju dulu." Ia lega, Yasmin dan Clarrisa duduk di sofa ruang tamu dengan damai. Setelah ia kembali dengan memakai baju batik, Clarrisa langsung menggandeng tangan suaminya. Abi malah tercengang melihat perubahan ini. Padahal sebelumnya, Clarrisa tak mau berdekatan dengannya. Abi memperhatikan tangannya yang digandeng Clarrisa. "Ada apa denganmu?"
"Tidak ada." Clarrisa memiringkan kepalanya dengan senyum lebar. "Aku 'kan istrimu. Wajar 'kan kalau aku menggandengmu?"
Abi melirik Yasmin untuk mengetahui apa yang terjadi, tapi gadis itu hanya memperlihatkan wajah datar. Walau masih bingung tapi ia akhirnya tak ambil pusing. Abi kemudian membawa istri pertamanya itu ke mobil. Yasmin dan Enri mengikuti dari belakang. Begitu pula di mobil, Clarrisa ingin duduk di depan dengan Abi sehingga Yasmin terpaksa duduk di belakang bersama Enri. Yasmin terlihat tak masalah, hingga Abi kemudian menjalankan mobilnya.
"Mas."
"Mmh." Abi sibuk menyetir tapi masih mendengar Clarrisa memanggilnya. Ia menoleh sebentar.
"Kenapa kamu memberikan kartu hitammu pada dia!" Clarrisa menunjuk Yasmin yang duduk santai di belakang.
Abi melirik kaca spion di atas. Bagaimana Clarrisa tahu soal kartu hitam itu? Pasti Yasmin yang memberi tahu. Tapi untuk apa? Ini hanya akan menambah masalah saja.
"Eh, aku gak punya persiapan karena menikah buru-buru jadi aku memberinya kartu itu sebagai mas kawinnya. Bukankah aku memberimu mas kawin yang lengkap dan bagus, sedang Yasmin, aku tak sempat beli karena itu aku memberikan kartuku padanya."
Clarrisa membulatkan matanya, mendengar cerita sang suami. "Buru-buru menikah?"
Sekilas Abi melirik kaca spion itu lagi. Kini Yasmin terlihat menatap ke arahnya. Buru-buru ia buat kalimat yang bisa menuntaskan segalanya. "Kau ingin dengar kisah cinta pada pandangan pertama lalu disetujui oleh orang tuanya?" Ia kini melirik Clarrisa.
"Kurang kerjaan, apa!" Clarissa mendengus danberalih menatap lurus ke depan. Ia tak peduli.
Abi bersyukur tidak harus menjelaskan masalah ini, tapi ketika ia melihat ke arah cermin spion itu lagi, ia melihat Yasmin masih menatap ke arahnya dengan pandangan yang ... entah.
Mobil meluncur mulus di jalan raya. Butuh waktu sekitar 45 menit hingga sampai di rumah Gio, kakaknya. Kedatangan mereka disambut keluarga kecil sang kakak di ruang tamu. Gio terkejut melihat Clarrisa dan anaknya ikut serta, apalagi wanita itu menggandeng Abi dengan mesra. "Abi ... anak dibanyakin bukan istri," ledeknya berusaha mencairkan suasana tapi kalimat itu malah membuat Clarrisa merengut.
Di pertemuan itu, yang paling senang adalah Enri. Ia baru tahu punya dua orang saudara sepupu perempuan yang ramah. Yang satu bernama Anna sudah kelas 3 SD, dan satu lagi Zahra yang ternyata seumuran dengannya. Anna mengajak bermain bersama dengan mainan yang dimiliki adiknya Zahra di kamarnya.
Enri memandang aneh pada Anna dan Zahra karena keduanya berkerudung. Persis seperti yang dikenakan Yasmin, ibu tirinya yang baru. "Kenapa pakai itu?" Ia menyentuh kepalanya karena tidak tahu namanya.
"Kerudung?" sahut Anna memastikan.
Enri mengangguk sambil terus bermain menyusun balok di lantai.
"Bukannya perempuan yang agamanya islam harus pakai ini?"
Bocah itu mendengarkan sambil mengerut dahi. Bibirnya yang kecil dan tebal makin tebal karena ia mengerucutkan mulutnya karena sedang berpikir. Kenapa ibunya tidak pakai itu padahal ibunya orang islam?
"Oh, jadi sekarang udah gak jadi model lagi dong? Udah gak laku ya," ledek Clarissa pada Nina, istri Gio sambil tertawa. Ia tahu istri Gio dulunya mantan model dunia. Mereka tengah duduk kembali ke ruang tamu setelah makan siang.
"Oh, bukan begitu. Sekarang aku lagi ganti image." Nina merapikan kerudungnya. "Karena sekarang sudah berkerudung, aku membatasi pekerjaan yang masuk. Aku hanya naik panggung kalau pakaian itu berhijab atau untuk iklan produk-produk kosmetik khusus hijab."
Clarissa memiringkan senyumnya. 'Kenapa ada foto model yang sama sekali tidak cantik ya? Cuma modal tinggi badan dan kurus aja. Malah masih lebih cantik aku daripada dia.' "Memang kamu dapat berapa juta dari jadi model di luar negri?" tanyanya sedikit menyindir.
Nina yang sudah tahu seperti apa istri Abi dari cerita suaminya, sudah tidak kaget lagi mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya. "Oh, uang tabunganku dari modelling cukup untuk beli salah satu anak perusahaan keluargamu."
Seketika senyum dibibir wanita cantik itu sirna mendengar penuturan wanita berkerudung hijau di hadapannya. Bahkan Yasmin hampir tertawa mendengarnya.
'Kenapa bisa mahal begitu sih gajinya? Apa gaji dalam dolar itu besar ya?' Clarissa menduga-duga.
"Kamu sendiri kerja apa?" tanya Nina lagi.
Seketika Clarissa berdehem sejenak. "Aku 'kan istri pemilik perusahaan. Lagipula itu memang warisan dari Ayah," jawabnya dengan dagu terangkat.
"Ohh ... warisan ... gak kerja ya." Nina mengangguk-angguk.
Merah padam wajah Clarissa menahan kesal.
Sementara itu, Gio menyambangi Abi yang baru keluar dari toilet. Ia berbicara setengah berbisik. "Abi, aku sedang mengumpulkan uang. Kalau kamu butuh uang untuk bercerai dengan Clarissa ...."
"Eh, apa?" Abi terkejut mendengar ucapan kakaknya. "Bercerai?"
"Bukankah itu yang kamu inginkan? Aku sedang punya banyak proyek baru dan pendapatannya cukup besar, sehingga bisa membantumu membayar penalti pernikahanmu kalau kamu ingin bercerai dengannya. Aku sanggup membayarnya, percayalah padaku, Abi."
Bersambung ....