7. Giliran

1181 Kata
Abi terdiam. Ia kemudian memutar kepalanya dan menatap ke arah Yasmin. Sebenarnya saat ia mendapat kesempatan untuk menikah dengan gadis itu, sempat terbersit pikiran untuk bercerai dengan istri pertamanya. Namun ia sadar, ia punya kewajiban. Ia sudah menikah dengan Clarissa, dan sudah seharusnya ia mengajari istrinya jalan yang benar, bukan malah meninggalkannya. Begitu seharusnya seorang pria saat memutuskan untuk menikah. Pun juga dengan Yasmin. Namun ia takkan menahan bila salah satu dari mereka ingin meninggalkannya. Ia memang gagal sebagai suami. Ditindas istri, dan tak berani bertindak karena ia tak punya kekuatan. Namun sejak ayah mereka meninggal, Abi tengah memikirkan untuk membayar kembali utang-utang keluarganya. Dari gajinya ia coba menabung, berharap kalau utangnya lunas, ia bisa memberi pilihan pada Clarrisa, bersamanya, atau cerai. Ia tidak mau masalah utang ini membuat hidupnya dan Clarrisa terombang-ambing dalam ketidakjelasan. Abi menyentuh tangan kakak angkatnya. "Kak Gio, tabungannya sudah berapa? Apa sudah ada 90 milyar?" "Apa? Banyak sekali jumlahnya. Apa tidak bisa dicicil?" Gio terkejut mendengar jumlahnya. Abi melepas pegangannya. "Tidak, Kak. Tidak boleh dicicil. Itu pun juga untuk menambah uangku yang ada." "Apa? Banyak sekali." Gio mengernyit dahi. "Iya. Karena uang untuk berobat Papa juga termasuk di dalamnya. Sayang, umur Papa pendek." Gio menyentuh lengan adiknya. "Selain Tuhan sayang sama Papa, Tuhan juga sayang padamu. Kamu sudah mengorbankan kehidupan pribadimu untuk membayar utang. Andai saja saat itu kamu cerita padaku, aku pasti menolongmu." "Tidak mungkin, Kak. Perusahaan yang dipegang aku dan Lily keduanya bangkrut. Ditambah biaya yang tak ada habisnya dari pengobatan Papa." Abi tertunduk. "Setidaknya aku bisa menolongmu, Abi, hingga tidak berutang banyak seperti ini." Abi mengangkat wajahnya yang terlihat pilu. "Aku tidak mau Kakak terseret kalau pinjam uang di bank. Aku butuh Kakak untuk jaga Mama dan Lily agar rumah yang di Lampung tidak tergadai. Yang aku lakukan adalah yang paling aman, Kak." Terlihat kedua bola mata Abi berkaca-kaca. Goi menarik punggung Abi agar bisa menepuk-nepuk punggungnya memenangkannya, agar sang adik tak merasa sendirian. Yasmin ternyata memperhatikan keduanya dari jauh. Ia bisa melihat kerapuhan sang suami saat bersama saudaranya, membuat ia iba. Ternyata suaminya tak sekuat yang ia kira. "Mamii!" Enri keluar dari kamar dan berlari ke arah ibunya. Ia berhenti di pangkuan sang ibu dan langsung bertanya. "Mami, kenapa Mami gak pake kerudung?" Bola mata si kecil kini memperhatikan wajah ibunya. "Apa?" Clarrisa menatap wajah Enri dengan mengernyit dahi. Ia kini memandang sekitar. 'Pengaruh buruk di tempat ini, siallan!' "Mami masih muda, Sayang. Untuk apa bergaya seperti itu. Menyusahkan!" Ia merengut menatap anaknya. "Mmh?" Enri tampak tak mengerti. Namun Abi sudah menciium gelagat yang buruk yang akan terjadi. Sebelum ada yang bicara, ia buru-buru pamit. Ia takut keberadaan Clarissa hanya menjadi masalah di rumah Gio. "Eh, kami pamit dulu." Gio hanya tersenyum, kemudian mengangguk. **** Abi dan Yasmin kembali ke kamar. Kali ini keduanya benar-benar berdua saja di sana. Walaupun keduanya tampak kikuk, tapi Abi berusaha untuk terlihat santai. Ia duduk di sofa panjang dan bersandar ke belakang. "Kau saja dulu yang mandi." "Mas tidak ke kantor lagi? 'Kan belum sore." "Tidak. Oh iya. Ayahmu tadi pagi telepon. Dia ingin mengadakan pesta dengan menyewa gedung di daerah sana. Aku sudah menawarkan bantuan tapi dia tidak mau." "Kapan?" Yasmin memperhatikan wajah Abi yang berkulit putih. Kulit dan rambutnya mirip orang bule tapi pria ini berwajah Indonesia. Sekilas ia mirip orang Indonesia yang berusaha memirangkan rambutnya, padahal Abi memang aslinya berambut sedikit kecoklatan. "Katanya, bulan depan." Yasmin menghela napas panjang. Wajahnya tampak bingung. "Kenapa?" "Aku masih takut bertemu orang banyak, Mas. Apalagi kembali ke sana." Wajah gadis itu nampak cemas. "Ohh ...." Abi berpikir sejenak. "Apa ditunda saja?" Ia memberi pilihan. Sambil memperhatikan wajah istrinya yang nampak kebingungan. "Jangan ... kasihan Ayah." Yasmin makin bimbang. "Tapi apa gunanya kalau kamu ketakutan, Yasmin. Biar aku telepon ayahmu, agar menundanya saja." Abi mulai mengambil ponselnya di kantong celana. "Tapi kalau ditunda 'kan jadi basi pesta pernikahannya ...." Yasmin masih memikirkan, antara mengikuti permintaan orang tuanya atau menghindar karena masih trauma. Kini Abi mendongak melihat kembali ke wajah istrinya yang tampak risau itu. Ia kini meraih kedua tangan istri barunya itu dan menggenggamnya dengan lembut. "Untuk apa ada pesta tapi kamu gak bahagia? Orang tuamu pasti mengerti, kamu belum bisa. Lagipula, ini pernikahan keduaku. Pasti akan banyak orang yang menjadikan ini bahan gosip dibanding berita bahagia." Ia mengeratkan menggenggam tangannya. "Tapi aku akan mengajakmu honeymoon kalau kamu mau. Jalan-jalan ke tempat yang kamu inginkan, seperti keluar negeri. Itu pasti menyenangkan," bujuknya lagi. Yasmin malah menepis tangan Abi dan duduk di sampingnya. "Itu juga aku gak mau. Aku hanya bisa bersama dengan orang-orang yang aku kenal saja, tapi itu pun aku tak ingin berada di keramaian." Kedua matanya tertunduk sendu. Sebenarnya datang ke rumah kakak Abi tadi sempat membuat ia tegang. Untung ada Enri yang membuat ia relaks. Termasuk anak-anak Gio. Ya, Yasmin senang melihat anak-anak kecil seperti Enri berada di sekelilingnya. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Keduanya menatap ke arah pintu dan kemudian saling pandang. Siapa yang kini datang ke kamar mereka? Enrikah? Baru saja Yasmin membuka pintu, Clarissa menerobos masuk. Ia mencari Abi dan menemukannya tengah duduk di kursi sofa. "Oh, ayo. Sekarang giliranku!" "Apa?" Abi masih bingung ketika istri pertamanya itu mendatangi dan menarik tangannya untuk ikut. "Sekarang giliranmu untuk tidur denganku!" ucap wanita itu sambil menarik tangan suaminya. "Apa?" Abi melewati pintu sambil menatap Yasmin yang juga nampak bingung. Kenapa Clarissa ingin tidur dengannya, padahal sebelumnya tidak pernah. Mereka belum pernah tidur bersama. Lalu kenapa ketika Yasmin datang, Clarissa malah menginginkannya? Apa kepalanya baru terbentur sesuatu sehingga kelakuannya berubah? Atau ... ia cemburu? Clarissa mendorong Abi masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Kini mereka saling berhadapan. "Minum itu!" Clarissa menunjuk ke arah sebuah gelas berisi air yang terlihat jernih di atas bufet. Abi langsung teringat kejadian tiga tahun yang lalu saat mereka baru menikah, tapi ia takkan dengan mudah kecolongan untuk kedua kalinya. "Obat tidur? Lalu apa? Kau akan memukkuli saat aku pingsan? Aku tidak seboddoh itu, Clarissa, dengan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya!" "Minum!" teriak Clarissa lagi. Ia sudah geram. Melihat sang suami membawa seorang gadis dalam rumah itu saja, ia sudah gerah. Ia tak bisa tinggal diam bila suaminya berniat menyingkirkan dirinya. Setidaknya malam ini, ia ingin memuaskan diri untuk melampiaskan semua kekesalan. Ia menolak untuk ditindas. Apalagi istri baru suaminya bukan tipe wanita yang gampang ditindas. "Kau bukan anak-anak lagi, Clarissa, yang memuaskan amarah dengan lempar batu sembunyi tangan sebab aku sudah tau apa yang kamu ingin lakukan! Percuma kau teriak karena aku takkan meminumnya. Kalau kau tak ingin tidur denganku, sebaiknya aku keluar!" Abi berbicara tegas dengan bergerak ke arah pintu. Namun Clarissa tak mau suaminya pergi begitu saja. Wanita itu mengambil vas bunga dari kaca yang berada di atas rak dan memukkulkannya ke arah kepala suaminya. Terdengar bunyi benda berbenturan keras karena kaca vas bunga itu memang cukup tebal. "Aku benci kamu Mas, aku benci kamuu!!" Pecahan kaca berserakan di lantai dan pria itu juga seketika jatuh terduduk di lantai. Samping kepalanya terasa nyeri. Ia coba menyentuhnya dengan tangan dan ia melihat ada darah menempel di tangan. Darah yang tidak sedikit. "Astaghfirullah alazim ...." Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN