Clarissa yang tersadar dengan apa yang dilakukannya, terperangah. Apalagi melihat darah mengalir di kepala suaminya.
"Ahh!!" Ia menjerit karena syok! Dengan mata terbelalak satu-satu kakinya bergerak mundur. Ia begitu ketakutan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya terlihat gemetar. "Aku ... aku ...."
Kepala Abi mulai pening. Penglihatannya mulai kabur karena ada darah yang melewati mata. "Apa kau ingin membunnuhku? Begitu bencinyakah kau padaku ...." Tubuhnya mulai lemas.
Pintu terbuka tiba-tiba. Ada Yasmin muncul ingin tahu apa yang terjadi karena mendengar teriakan. Ia terkejut melihat Abi sudah di lantai dengan kepala berlumuran darah. Lantai pun penuh dengan pecahan kaca. "Mas ...." Matanya membola.
"Papii ...!" Ternyata Enri juga mendengar suara teriakkan hingga masuk dan kaget melihat sang ayah terduduk di lantai dengan kepala penuh darah. Bocah itu menangis.
Yasmin dengan sigap menahan tangan bocah itu agar tak mendatangi Abi karena banyaknya pecahan kaca bisa melukai kaki kecilnya. Bocah itu meronta ingin lepas. "Papii ...."
Tepat saat itu, Seno datang. Ia juga syok melihat keadaan kamar di mana lantainya penuh dengan pecahan kaca. Ia menoleh pada anaknya dengan wajah nanar. "Clarissa ...."
"Ayah ... aku ... aku ...." Clarissa sendiri tak tahu bagaimana menjelaskan hal ini. Mulutnya bergerak-gerak tapi tak ada satu kata pun keluar untuk menjelaskan.
Seno cepat tanggap dengan situasi. Ia segera memanggil pelayan untuk memapah Abi keluar bersama Yasmin. Ia mengambil alih Enri.
"Papii!!" Bocah itu masih menangis ingin bersama Abi, tapi kakeknya langsung menggendongnya.
"Bawa cepat ke rumah sakit!" perintah pria paruh baya itu pada Yasmin. Gadis itu mengangguk.
Seno menatap Clarissa yang terlihat ketakutan. Di bawah kebisingan tangis Enri, Seno tetap fokus bicara dengan sang anak. "Clarissa! Ada apa denganmu? Apa tidak cukup pengorbanan suamimu padamu, hah! Benar-benar anak tak tau di untung." Ia bergumam belakangan. Setelah itu membawa Enri yang masih berontak dan menangis, keluar dari sana.
****
Yasmin menatap wajah Abi yang terlihat pucat. Kepala pria itu diperban sebagian dan ia tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Yasmin mencoba menduga-duga apa yang terjadi di kamar Clarissa, karena ia baru saja berpisah dari Abi. Apakah mereka bertengkar gara-gara dirinya?
"Maaf, aku jadi merepotkanmu. Terima kasih, kau mau menemaniku di sini." Sejujurnya Abi senang Yasmin menemaninya di sana. Walaupun pandangan matanya belum pulih benar, tapi ia tak merasa sendirian. Ya, sejak gadis itu datang, hidupnya kembali bergaiirah. Ia semangat bekerja begitupun pulang ke rumah. Seakan ada seseorang yang menyemangati hari-harinya setiap hari, walaupun gadis itu tak melakukan apa-apa.
"Apa kalian sedang bertengkar?"
Abi menghela napas dalam. Ia melirik Yasmin. "Sudah malam. Sebaiknya kamu tidur saja. Apa kamu sudah makan malam?"
"Apa Mas mau makan? Aku masih kenyang." Yasmin terlihat tak bersemangat.
Walau Abi tak bisa melihat, tapi ia bisa mendengar dari nada suara gadis itu, Yasmin yang malas melakukan apa pun. "Yasmin. Kalau kamu lapar, makan saja. Beli yang kamu suka."
"Tapi di luar banyak orang yang tidak aku kenal. Aku takut ...." Saat menunggu di ruang tunggu dan dokter tengah menangani Abi, Yasmin sebenarnya ketakutan, tapi untung ada pembantu yang menemaninya. Kini pembantu itu telah pulang setelah Abi mendapat ruang perawatan.
Abi segera duduk mendengar ucapan Yasmin. "Bagaimana kalau kamu pesan delivery saja. Minta diantar ke kamar."
Iya, sih ... bisa ...." Yasmin kemudian mengeluarkan ponselnya. "Mas, mau makan apa?"
"Eh, apa saja."
"Sate ayam atau ...."
"Sate boleh."
15 menit kemudian makanan datang. Yasmin memberikan bagian Abi dan ia mengambil bagiannya. Ia merasa aneh ketika Abi meraba-raba mencari karet yang mengikat bungkusan itu, padahal pandangan matanya tertuju pada bungkusan sate yang ada di hadapan. "Mas kenapa? Gak kelihatan?"
"Eh, iya. Pandangannya kabur."
"Astaghfirullah alazim." Yasmin kaget dan segera mengambil bungkusan itu dari tangan suaminya. "Mas gak bisa lihat ya. Apa kita panggil dokter aja?" Ia berpikir setelah berhenti membuka bungkus sate.
"Eh, aku lihat, hanya kabur saja." Abi tak ingin membuat Yasmin cemas.
Gadis itu malah meraih tangan suaminya. "Tidak bisa dibiarkan ini, Mas. Biar aku panggil suster dulu." Ia kemudian memindahkan bungkus sate itu ke meja nakas dan menekan bel di dinding memanggil suster. Setelah memberi tahu, tak lama suster bersama seorang dokter pria datang ke ruangan. Dokter itu segera mengecek mata Abi. "Sepertinya matamu hanya satu yang bermasalah. Ini mungkin karena sarafnya terganggu karena luka. Coba aku lihat hasil rontgen-nya."
Dokter itu menerawang hasil rontgen untuk melihat dengan seksama. "Kita periksa lagi besok, karena di sini terlihat tak ada masalah. Tapi untuk melihat, coba pejamkan mata sebelah kanan karena mata itu yang tidak bisa melihat jelas." Tak lama dokter itu pamit bersama suster.
"Ah, cuma sebelah, ternyata." Abi terlihat senang. Ia menutup matanya yang sebelah kanan dan ia bisa melihat dengan jelas apa pun yang ada di hadapan.
Yasmin tampak ragu. Ia menyerahkan bungkusan itu kembali pada Abi. Ia pun membuka bungkus satenya sendiri, tapi ia melihat suaminya begitu kerepotan harus menutup sebelah matanya sebelum mengambil tusuk sate. Sampai akhirnya, kuah sate tumpah ke baju pria itu dari sate yang dipegangnya.
"Mmh! Mmh! Lihat bajumu kotor, Mas!" Yasmin langsung mengomel.
Abi menundukkan kepala melihat pakaiannya. "Mana? Maaf, aku gak lihat."
Yasmin segera menjauhkan bungkusan sate itu dan membersihkan baju sang pria yang terkena noda. Ia membersihkannya dengan tisu basah yang ia ambil dari dalam tas. Yasmin melakukannya dengan sedikit kasar sambil mulutnya merengut.
Abi tak bisa melihat perubahan wajah Yasmin dengan jelas, tapi dari cara gadis itu membersihkan noda, ia bisa merasakannya. "Yasmin, maafkan aku." Ia pun sulit menelan ludah karena telah membuat gadis itu marah.
Yasmin terus membersihkan bekas noda saus kacang itu hingga terlihat samar. "Mas, mau makan?"
"Eh, tidak usah. Aku sudah kenyang." Abi begitu takut karena mendengar dari nada bicaranya, Yasmin seperti tengah menahan perasaan.
"Mas harus makan, nanti kelaparan. Mas 'kan harus minum obat."
"Mas sudah kenyang, Yasmin. Biar Mas langsung makan obat saja."
"Biar Yasmin suapi." Yasmin meletakkan kembali bungkus sate milik suaminya di pangkuan pria itu.
"Yasmin ...." Abi tak menyangka reaksinya akan berbeda.
"Ayo makan." Tusuk sate itu sudah tangan gadis itu posisikan di depan mulut Abi.
Pria itu terharu. "Terima kasih." Ia menutup mata kanannya sehingga ia bisa melihat tusuk sate itu dengan jelas. Abi meraih tangan sang gadis yang memegang tusuk sate agar sate itu bisa masuk ke mulutnya. Setelah itu ia lepaskan.
Gadis itu tampak tersipu-sipu tapi Abi terlihat senang. Sudah lama Abi tak merasakan sebentuk perhatian dari seorang wanita. Terakhir, orang yang melakukan itu adalah ibunya. Seketika ia terkenang ibunya, tapi kali ini ia merasa beruntung ada Yasmin yang menemaninya di rumah sakit. Ia tak lagi merasa sendirian.
Setelah minum obat, Abi membaringkan tubuhnya kembali di brankar. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, ia menurut saja semua perintah Yasmin padanya. Yasmin merapikan selimut Abi dan menatap wajah pria itu yang terlihat mulai mengantuk. "Tidur saja, jangan pikirkan apa-apa."
Abi mengerut kening mendengar ucapan istrinya, seakan gadis itu tahu apa yang dipikirkannya. Namun gadis itu segera berlalu. Ia pindah duduk di sofa.
Abi mengarahkan pandangan ke kursi sofa tempat gadis itu duduk. Walau ia tak dapat melihat jelas, tapi ia tahu gadis itu duduk di sana. Pelan, mata itu mulai tertutup.
"Seharusnya aku tidak menikah denganmu, ya. Semua ini salahku." Suara Yasmin terdengar seperti sebuah penyesalan.
Bersambung ....