9. Bersamamu

1187 Kata
Abi terkejut. Matanya kembali terbuka. Bahkan ia mencoba duduk. "Yasmin, kenapa kamu bicara seperti itu?" Gadis itu menatap ke arah suaminya. "Kalau kita tidak menikah, kamu tidak akan bertengkar dengan Clarissa dan berakhir di sini, 'kan Mas?" "Yasmin ...." Abi berdiri dan mendatangi istrinya. "Kenapa kau berpikir begitu? Ini tidak ada hubungannya denganmu. Pernikahan kami memang tidak didasari oleh cinta, dan setelah tiga tahun berlalu pun hal itu tidak berubah. Itu bukan salahmu, Yasmin." Ia mulai meraba-raba ketika hendak duduk di samping istrinya. Sebenarnya ia sudah mulai mengantuk. Sepertinya ada obat tidur di dalam obat yang diminumnya. "Apa sebaiknya aku beritahu saja, kenapa kita menikah?" "Jangan!" Abi yang baru saja duduk langsung panik. "Jangan katakan itu padanya atau kau akan ditindasnya!" Ia tahu sulitnya tinggal dengan istri pertamanya itu. "Sebaiknya kamu hindari saja dia. Aku tidak selalu bisa membantumu. Maaf." Yasmin mendesah pelan. Ia menikahi pria beristri. Tidak aneh kalau istri pertamanya marah. "Apa Mas yakin, Clarissa tidak cemburu padaku?" "Mana mungkin. Ia hanya takut hartanya terbagi. Tapi 'kan itu wajar, karena kamu istriku." Yasmin termenung. Ia tak berniat mengambil harta milik orang lain, tapi karena ia menikah dengan Abi, pastinya ia punya hak atas gaji pria itu bersama hartanya yang lain, karena Abi adalah suaminya. Jadi harus bagaimana supaya mereka tidak bertemu dan bertengkar? "Bagaimana kalau aku tinggal di tempat lain saja. Di apartemen misalnya." "Apa kamu sanggup? Bukankah kamu tidak bisa bertemu orang asing? Apa kamu bisa tinggal sendirian?" Kini wajah mereka saling berhadapan tapi Abi sulit melihat wajah Yasmin dengan baik. Yasmin sendiri terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan sang suami karena ia sendiri bingung. Suaminya benar, ia pasti tak bisa hidup sendirian. Jadi harus bagaimana? "Yasmin, tinggal di rumah itu sudah yang paling aman. Apalagi yang tidak suka padamu hanya Clarissa dan dia jarang di rumah. Enri dan mertuaku menerimamu di sana, jadi jangan takut. Yang penting sekarang kamu harus bisa melewati traumamu dengan menjadi lebih kuat dari sekarang. Lawan rasa takutmu. Aku tidak selalu ada jadi kamu harus belajar berani. Belajar jadi kuat." Yasmin mendengarkan setiap kata-kata Abi. Ia tidak menyadari kepala pria itu mulai pusing. 'Ah, kepalaku berdenyut dan nyeri. Apa karena obat bius di lukaku sudah mulai hilang ya? Tapi ini benar-benar sakit.' Abi memejamkan mata menahan perih, ditambah rasa kantuk karena obat tidur yang diminumnya membuat ia tak tahan. 'Jadi, belajar kuat, ya. Bagaimana caranya belajar kuat?' Ketika Yasmin sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba tubuh pria itu roboh dan kepalanya jatuh terkulai di pangkuan gadis itu. Tentu saja Yasmin terkejut. "Mas ... Mas ...." Abi tak bergerak. Kedua matanya terpejam. "Mas!" Yasmin benar-benar panik. Ia mengecek detak jantung di leher sang suami. Berjalan normal. 'Apa dia pingsan? Tapi ... rasanya tak berbahaya. Aduuh ... bagaimana ini? Apa aku tunggu saja?' Yasmin dengan was-was menunggu, menunggu dan menunggu hingga ia pun juga tertidur sambil memangku suaminya. **** Daerah tempat Clarissa duduk sedikit redup, tapi di depannya lampu sorot yang bergerak mengikuti suara bising musik, terlihat memusingkan. Ada beberapa orang sedang meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama, dan menikmati suasana. Clarissa tak peduli. Ia sibuk menikmati minumannya sendirian di meja persegi itu dengan wajah muram. Seorang pria muda yang sedari tadi memperhatikannya, kini mendekat. "Hei, cantik. Kamu sendirian?" Clarissa mendongak. Kemudian ia kembali menuangkan botol minuman ke dalam gelasnya. Ia seperti tak peduli. Baru saja pria itu hendak duduk, seorang pria muda datang tergesa-gesa dan mendorongnya ke pinggir hingga hampir saja jatuh. "Hei!" "Cari mangsa lain. Dia pacarku!" Pria itu terlihat kesal lalu kemudian pergi. Pria muda itu kemudian duduk di samping Clarissa. Wanita itu menoleh. "Kenapa kamu lama sekali!" omelnya dengan wajah cemberut. Terlihat sekali wanita cantik itu sudah mabuk karena mengambil gelas dengan bersandar di meja. Pria itu meraih gelas yang ada di tangan Clarissa. "Sudah, kamu sudah minum banyak. Siapa lagi kali ini yang membuatmu kesal, hah?! Suamimu?! Ayahmu?!" Pria itu harus bicara keras agar terdengar di dalam ruangan besar yang sangat bising itu. "Kali ini diriku sendiri! He he ...." Clarissa tertawa sambil berusaha menegakkan punggungnya. "Sini, Nick! Aku belum selesai minum!" Ia menyodorkan tangan hendak mengambil gelas tapi tangannya sedikit miring. Nicko tertawa. Pria itu cukup tampan dan lebih muda dari Clarissa. "Ayolah, Sayang! Bagaimana kalau kita ke hotel saja? Di sana kita bisa melakukan apa pun yang kau mau!" "Tidak, aku bosan! Aku ingin di sini saja!" Clarissa masih merengut. "Berikan padakuu ... aku belum selesai!" Wanita itu menghentak-hentakkan kakinya di lantai lalu kembali menyodorkan tangannya ke arah Nicko. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajah mereka berdekatan. Senyumnya terlihat nakal. "Tapi habis ini kita ke hotel ya, Sayang. Aku akan membuatmu bahagia." Ia kemudian mengembalikan gelas itu ke tangan Clarissa. Wanita itu begitu senang, gelasnya kembali. Sekali teguk Clarissa menghabiskan isinya yang memang cuma sedikit. Ia kemudian tertawa. **** Menjelang siang, sebuah mobil sedan berwarna coklat tua, berhenti di depan rumah Clarissa. Wanita itu baru akan membuka pintu mobil ketika tangan kokoh Nicko meraih tangannya. "Tolong, Clarissa. Aku tak tahan kau tersiksa seperti ini. Ceraikan suamimu dan menikahlah denganku!" "Tak mungkin. Dia adalah suami sempurna ayahku. Kau tak bisa menyainginya." "Clarissa, katakan kau mau, dan aku pasti akan memperjuangkanmu." Clarissa menepis tangan pria tampan itu. Andai saja suaminya setampan pria ini. Ia juga merasa aneh, Abi itu indo tapi tidak tampan sama sekali. Wajahnya biasa saja. Setidaknya suaminya tampan sedikit saja, mungkin Clarissa mau dengannya, tapi .... "Lupakan. Lupakan aku. Kamu tidak tahu siapa ayahku, jadi lebih baik kita tidak saling kenal." Ia buru-buru keluar. Namun ternyata sang ayah sudah berdiri di depan pintu yang terbuka. Clarissa tercengang. "Ayah ...." Melihat itu, Nicko tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia turun dan memperkenalkan diri. "Saya Nicko, Om." Ia menyodorkan tangan tapi Seno hanya melihat saja tangan itu menggantung di depannya. Dahi Seno berkerut. "Pria macam apa yang membawa istri orang dan baru pulang keesokan harinya?" "Eh, Ayah, jangan salah sangka. Aku tidak pergi dengannya. Kami ketemu di ba ...." Clarissa tiba-tiba sadar telah hampir saja membongkar ke mana ia pergi. Seno kembali melirik Nicko. "Sebaiknya kamu pulang sebab aku sedang tidak ingin bicara denganmu." Kalimat ketus itu membuat Nicko buru-buru pergi dengan memberi anggukkan sopan pada Seno. Dari jauh, pria paruh baya itu memberi kode memiringkan kepala ke arah Nicko pada seseorang. Orang itu masuk ke mobil dan mengiringi mobil Nicko keluar rumah. Seno kemudian masuk ke dalam rumah diiringi putrinya sampai pintu ditutup kembali oleh seorang pembantu. Ketika Seno berhenti melangkah, pembantu itu buru-buru menyingkir. Ia memutar tubuhnya ke arah Clarissa. "Ayah sudah bilang, jangan main api diluar sana! Hormati suamimu!" "Ayah, aku hanya pusing dan tak punya teman bicara. Hanya Nicko teman dekatku saat ini." Clarissa bicara dengan sedikit was-was. Ia takut ayahnya tak mau mengerti keinginannya. "Apa? Teman?" Seno melangkah mendekat. "Teman macam apa? Mana ada pria dan wanita bisa berteman? Lama-lama mereka pasti akan tidur bersama, iya 'kan?" Mulut Clarissa seketika terkunci. Bagaimana lagi ia bisa membuat kebohongannya tertutupi? Ayahnya selalu punya cara untuk membongkarnya. "Ayah ...." Ia begitu takut hingga tak berani melihat wajah sang ayah. "Tidak bisakah aku cerai dari Abi dan menikah dengan orang lain? Aku janji akan mencari pria yang bisa mencintaiku sepenuh hati." Ia mencoba tersenyum. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN