11. Belum Mandi

1184 Kata
Yasmin melihat ke depan. Ia langsung meraih lengan atas Abi membuat pria itu tersenyum simpul. Gadis itu dengan sukarela membantunya tanpa diminta. "Itu yang di depan ya, Mas?" Terlihat sebuah pintu dengan dinding beton. "Iya." Setelah dibuka, terlihat ruangan besar dengan meja-meja yang berpartisi. Semua pegawai yang sedang bekerja seketika terkejut melihat bos mereka datang dengan kepala diperban. Bukan itu saja, seorang gadis cantik tengah memegangi lengan menantu pemilik perusahaan ini, membuat para karyawan bertanya-tanya. Siapakah gadis ini? Apa yang terjadi dengan bos mereka hingga kepalanya diperban? Namun itu hanya berseliweran di kepala mereka saja tanpa berani bertanya, hingga wajah-wajah mereka tampak kebingungan. Abi terlihat acuh, tapi Yasmin ketakutan. Gadis itu melihat semua orang tengah menatap ke arahnya membuat ia mencengkram lengan suaminya kuat-kuat. Karena cengkraman itu, Abi langsung tahu apa yang terjadi. Ia segera meraih tangan istrinya dengan lembut dan menggandengnya berjalan. Yasmin masih takut. Kepalanya sedikit tertunduk dengan tangan satu lagi memegang lengan suaminya. Melihat pemandangan ini, para karyawan semakin penasaran, tapi mereka hanya bisa menganggukkan kepala dengan sopan saat melihat keduanya lewat di depan mereka menuju ke ruang kerja sang bos. Setelah itu mereka mulai sibuk bergosip. "Ini ruang kerjaku," ucap Abi sebelum menutup pintu. Yasmin cukup mengagumi ruangan itu yang cukup besar lengkap dengan satu set sofa di tengahnya. Ia menghampiri sofa kulit berwarna coklat yang nampak masih baru. "Besar sekali ya, Mas, ruangannya." "Masa sih? Bukankah ayahmu juga pengusaha?" Abi melangkah ke mejanya. Ia mulai tenang ketika Yasmin tak lagi ketakutan. Gadis itu ternyata bisa mengalihkan perasaannya dengan cepat. "Tapi tidak sebesar ruangan ini, Mas. Ini besar sekali." Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Pintu terbuka, dengan kepala seorang pria mengintip ke dalam. "Maaf, Pak. Boleh Saya masuk?" Yasmin kembali ketakutan. Ia bergerak ke sofa dan menjauhi pintu. Namun ia juga penasaran dengan pria yang mengintip ke dalam. Ia memiringkan kepala dan melihat siapa yang datang. "Oh, kamu." Abi kemudian menoleh pada istrinya. "Itu asistenku, Rahman." Ia kemudian duduk. Pria yang bernama Rahman masuk dengan membawa berkas di tangan. Ia menyodorkan berkas itu pada Abi. "Ada yang perlu Bapak tandatangani." Mendengar itu, Yasmin bergerak mendekati. Bahkan berdiri di belakang suaminya dan menutup sebelah mata Abi dengan tangan. Asisten Abi terkejut melihat apa yang dilakukan gadis itu. Bukan hanya pria itu saja yang terkejut tapi Abi juga. Bahkan jantung Abi berdetak cepat. Bagaimana tidak? Tangan lembut gadis itu sudah menyentuh wajahnya. Abi juga bisa merasakan bahwa gadis itu tengah berdiri di belakang punggungnya. Sangat dekat, bahkan ia bisa menghirup aroma tubuh Yasmin yang telah bercampur dengan bau parfum lembut milik gadis itu. "Mas, kelihatan gak?" tanya gadis itu dengan polosnya. Abi tersenyum lebar. Ia begitu bahagia. Namun ia kemudian sadar sang asisten tengah memperhatikannya. Ia berdehem untuk kembali terlihat serius. "Eh, dia istriku." "Istri?" Rahman membulatkan kedua matanya. Namun kemudian rautnya berubah kembali fokus walau sedikit kebingungan. "Eh, iya, Pak." Abi mulai menerangkan agar tidak terjadi salah paham, tapi ia tak bisa banyak bergerak karena ada tangan istrinya di wajahnya. "Ini istri baruku, Rahman. Kami tinggal serumah dengan istri pertamaku." Rahman mendengarkan dengan seksama. "Oh, iya." Ia menganggukkan kepala walaupun ia sendiri masih bingung. 'Pak Abi menikah lagi? Tapi kalau serumah, berarti istri pertamanya tahu tentang pernikahan ini. Lalu ada apa dengan kepalanya?' Abi seperti tahu apa yang ada dipikiran asistennya. "Kepalaku tertimpa vas kaca. Sudah dijahit tapi lukanya menekan syaraf mata jadi satu mataku penglihatannya kabur. Tapi hanya sementara. Istriku hanya membantuku agar aku bisa melihat dengan baik." "Oh, begitu ...." Rahman mulai mengerti. Diliriknya Nyonya Hayes yang baru dan ia bisa mengerti kenapa bosnya sampai bisa menikah dengan gadis itu. Selain masih sangat muda, Yasmin terlihat sangat cantik. 'Aku tidak mengira, Pak Abi memilih berpoligami walaupun aku tahu kenapa. Ibu Clarissa memang menyebalkan dan tidak pernah menghormati suaminya, tapi apa harus berpoligami? Kenapa tidak bercerai saja, bukankah itu lebih baik? Ah, ya. Perusahaan ini milik orang tua istrinya. Pasti Pak Abi tidak punya apa-apa tanpa sang istri, tapi apa iya harus berpoligami? Pak Abi tidak terlihat seperti seorang oportunis, atau aku salah menilainya selama ini?' Selesai menandatangani, Abi menyerahkan berkas-berkas itu kembali pada Rahman. "Ada lagi?" "Eh, tidak, Pak." Rahman mengambil semua berkas-berkas yang disodorkan padanya. "Ya sudah. Kau boleh pergi." Rahman kemudian keluar dan menutup pintu. Abi memutar kursinya ke belakang dan sekarang saling berhadapan dengan Yasmin. Gadis itu terkejut. "Nah, apa kamu ingin belanja?" "Sudah urusan kantornya, Mas? Secepat itu?" Yasmin terlihat heran. "Ya, sudah selesai. Mau apa lagi?" Abi menatap gadis itu yang masih tetap membuatnya terpesona entah untuk ke berapa kalinya. Yasmin juga kadang membuat dirinya merasa muda kembali karena sikapnya yang polos walau sesekali terlihat dewasa di saat-saat tertentu. "Bagaimana kalau kita pulang saja? Aku tak nyaman bertemu banyak orang yang tidak aku kenal. Lagipula, kita 'kan belum mandi sejak pagi." "Apa?" Abi tertawa. "Siapa yang peduli?" "Aku. Bau badanku tidak enak. Ini saja aku lebihkan parfum di badanku biar tidak ada yang mencium baunya." Yasmin menarik baju dan mencoba menghirup baunya. "Aku suka," gumam Abi lagi. Namun, terlanjur. Yasmin mendengarnya. "Apa?" "Eh, tidak apa-apa." Abi memalingkan wajah, wajahnya memerah karena keceplosan bicara. 'Aneh. Mana ada orang yang suka bau badan orang yang belum mandi. Apa dia bercanda?' "Sudah, kita belanja saja. Bukankah kamu sudah pakai parfum sebelum berangkat tadi?" Abi berdiri. "Tapi, Mas ...." Abi memutar tubuh Yasmin dan mendorong punggungnya pelan. "Sudah, jangan takut. 'Kan ada aku?" Yasmin malas pergi, tapi mau bagaimana? Mulutnya kembali mengerucut. "Kamu harus berani melihat orang banyak. Tidak ada yang aneh denganmu. Justru orang melihatmu karena cantik." Yasmin mendongakkan kepala ke arah wajah suaminya, sementara ia sendiri masih merengut. "Aku melihat orang seakan melihatku sebagai aib. Aku sudah merusak nama baik sendiri dan keluarga." Matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi itu bukan kemauanmu, 'kan?" "Tapi orang tak peduli." "Aku peduli." Abi mendekat. ”Kamu korban. Kenapa malah merasa bersalah? Dengan pikiranmu itu orang jahat akan merajalela. Semakin menindas yang lemah. Kalau kamu melawan, kamu bisa tunjukkan bahwa kamu tidak salah. Merekalah yang salah. Harusnya mereka yang dihukum bukan kamu." Ia melihat betapa gadis itu sudah terlalu lama tersiksa. "Tunjukkan kalau kamu di pihak yang benar. Tunjukkan pada dunia kalau kamu tidak salah. Dengan begitu tak ada lagi orang yang berani membuatmu takut." "Tapi ... Mas sendiri juga takut pada Clarissa, 'kan?" Abi terdiam. Pertanyaan yang menohok langsung keintinya. Ia sempat kesulitan menelan ludahnya sendiri. "Aku juga belajar darimu kalau caraku selama ini salah. Posisiku memang sulit. Tapi aku berniat untuk meluruskan semuanya." "Maksudnya?" "Eh, itu tidak penting sekarang." Abi mengganti topik pembicaraan. "Bagaimana? Kita belanja sekarang?" Ia menyodorkan tangannya. Yasmin kembali merengut. "Mas ...." Abi meletakkan telunjuknya di depan mulut. "Sst, hanya aku yang tau kita berdua belum mandi tapi itu tidak penting. Selama kita tidak memberi tahu orang lain. Ayo! Kalau pulang, aku malas keluar lagi karena nanti ketemu Enri. Belum lagi kalau bertemu Clarissa. Aku juga sama sepertimu, trauma!" Yasmin terdiam. Ia ikut saja ketika Abi menggandeng tangannya keluar. Sebisa mungkin, ia berusaha tegar. Benar, kenapa ia harus takut? Bukankah kini ia punya suami yang akan melindunginya? Terlebih, apa yang terjadi bukan salahnya, jadi bukan ia penjahatnya. Ia harus bisa memperlihatkan itu pada orang-orang di sekelilingnya. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN