12. Tidur Bersama

1163 Kata
Yasmin menegakkan punggung. Ketika pintu dibuka, ia berjalan lurus sambil menegakkan bahu dan menaikkan dagu dengan pandangan lurus ke depan. Bukankah suaminya pemilik mal ini? Seharusnya ia berjalan dengan rasa bangga bukan malah bersembunyi di balik ketiak suaminya dengan wajah cemas. Ia adalah Nyonya Abirawa Hayes, istri dari pria yang sangat dihormati di kantor itu. Walaupun sedikit sulit menghadapi banyak pasang mata yang melirik padanya, Yasmin berusaha tegar. Ia lega ketika bisa melewati pintu depan dan masuk ke dalam lift dengan menghela napas panjang. Abi tentu saja melihat semua usahanya dan mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Yasmin menengadah. "Masih payah ya." "Tidak, sudah bagus." Abi memberi senyum terbaiknya. "Sekarang, ayo kita jalan-jalan." **** "Papii ...!" teriak Enri sambil berlari-lari dengan kaki kecilnya ke arah Abi yang baru masuk ke dalam rumah. Pria itu membungkuk dan memeluk si kecil dengan gemas. "Tadi tidur siang gak, mmh?" "Dia baru saja bangun. Hari ini dia tidak begitu rewel." Seno muncul dan melihat Yasmin di samping Abi tampak ceria. Dua orang penjaga pintu gerbang datang menyusul membawakan banyak bungkusan di kedua tangan mereka. Abi melirik istrinya. "Kamu duluan saja." Gadis itu begitu senang. Ia pamit pada Seno dengan menganggukkan kepala. Yasmin kemudian melangkah ke arah tangga diiringi kedua penjaga itu. Seno hanya memperhatikan gadis itu memimpin di depan. "Oya, papi tadi beli roti abon kesukaanmu. Mungkin terbawa ke atas. Tunggu sebentar ya." Abi mencubit hidung kecil Enri yang sudah mancung. Bocah itu malah meraih tangan Abi. "Papi temenin Enri main ...," pintanya. "Di kamarmu?" Bocah itu mengangguk. Bersamaan dengan itu, Clarissa datang dari arah taman belakang rumah. Melihat wanita itu, buru-buru Abi pamit pada Seno. "Eh, Ayah. Aku ke atas." Sebelum mendapat persetujuan dari mertuanya, Abi bergegas membawa Enri pergi menaiki tangga. Seno tak bisa berbuat apa-apa. Clarissa tampak sedih tapi tak seorang pun peduli. "Lihat, kau membuat dia membenci dirimu! Itukah yang kau mau? Aku tak tahu jalan pikiranmu, padahal Ayah sudah memberimu pilihan yang terbaik. Kalau dia sudah terluka, apa dia mampu bertahan bersamamu? Kalau dia pergi, bagaimana dengan rumah ini, Rissa? Setidaknya pikirkan anakmu Enri. Dengan siapa dia akan tinggal sedang kau tak mau mengurusnya, ayahnya juga tak mengakui, sedang Abi bukan ayah kandungnya. Jangan terus egois, Rissa. Sudah saatnya kau memikirkan tanggung jawabmu sebagai ibu." Panjang lebar Seno menasehati Clarissa, tapi sepertinya tidak ada yang tahu apa yang wanita itu pikirkan walau ia masih nampak sedih saat ini. Menyesalkah atau sedang mencari pelarian berikutnya, sebab sejauh ini Clarissa selalu mengulang kesalahan yang sama. Seno sampai tak tahu lagi bagaimana menasehati anak satu-satunya ini yang terbilang keras kepala. Ia kemudian pergi meninggalkan tempat itu sambil mendesah pelan dan geleng-geleng kepala. **** Yasmin sedang mematut diri di cermin ketika Abi masuk. Barang-barang belanjaan sudah tak terlihat lagi. Sepertinya sudah dirapikan gadis itu masuk ke dalam walk-in closed. "Mas ...." Gadis itu memutar tubuhnya dan memperlihatkan sebuah kalung liontin di lehernya. "Terima kasih ya. Kalungnya bagus sekali." Ia memiringkan kepalanya sambil tersenyum. "Itu sudah seharusnya, Yasmin. Itu mas kawin yang seharusnya aku berikan padamu. Maaf terlambat. Aku senang kau menyukainya." Yasmin masih tersenyum dan menunduk, melihat liontin dari berlian yang berwarna kuning berbentuk air mata yang sangat jernih dan berkilau itu. Ia begitu mengaguminya. Belum pernah ada yang membelikannya kalung berlian seindah itu. Apalagi satu set dengan cincin yang melingkar di jarinya. "Mas mandi dulu ya." 20 menit kemudian Abi keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama. Ia menuju sofa di mana Yasmin tengah menunggu di ranjang. "Mas, kenapa tidur di sofa?" Abi menoleh ke arah gadis itu. "Aku 'kan sudah bilang ...." "Gak papa, Mas. Kenapa Mas malah tidur di sana? Di sini 'kan kita bisa tidur berdua." Yasmin berdebar ketika mengatakan itu. Ia yang telah masuk ke dalam selimut memegangi pinggir selimut karena gugup. "Ini 'kan rumah Mas Abi. Sebenarnya aku yang menumpang di sini." "Tidak, kau istriku. Jadi kau tidur di sana saja. Aku takut kau masih trauma dengan kejadian waktu itu. Aku tidak ingin terlihat memaksamu." "Gak papa, Mas. Aku yakin Mas gak begitu." Abi terdiam sesaat sambil menatap istrinya. "Apa benar kamu gak masalah aku tidur di sebelahmu?" "Ini sudah aku pasang bantal, Mas, untuk memisahkan. Mas gak usah bingung." Yasmin memperlihatkan guling sebagai pembatas di ranjang mereka. Namun Abi masih ragu. Ia bergerak perlahan mendekati tepi ranjang. "Kamu gak nyesel nih?" "Mas jangan bikin aku takut dong! Cepetan sebelum aku berubah pikiran." Abi malah tertawa. "Ya, udah. Makasih ya, membiarkan aku tidur di sampingmu, tapi kalau aku mulai keterlaluan kamu boleh memukkulku." Ia mulai masuk ke dalam selimut. "Ucapan adalah doa. Jangan sampai kejadian, dong, Mas!" Yasmin coba bercanda, tapi debar itu tak kunjung menghilang. Abi tersenyum lebar. Ia pun berdebar saat harus tidur di samping gadis ini. Mudah-mudahan ia tidak khilaf, agar gadis itu percaya padanya. Kini mereka tidur berdampingan, tapi entah kenapa debar di dadda keduanya malah semakin kencang. Wajah mereka pun tampak tegang. Sesaat mata mereka tak kunjung terpejam. "Eh, kalau kamu berubah pikiran ... aku bersedia ...." "Aku mau tidur, Mas." Yasmin memutar tubuhnya membelakangi sang suami. Ia tak tega membiarkan Abi tidur di sofa. Cepat-cepat ia memejamkan mata dan berharap cepat tidur. Namun yang terjadi, ia malah susah tidur dan gelisah. Bayangan kejadian itu kembali datang. Yang ia ingat, saat terbangun, tubuhnya sudah tak berpakaian. Di area sensitifnya, ia merasakan sakit dan ia melihat pria menyebalkan itu menatapnya dengan hanya memakai celana dalam. Kenyataan itu benar-benar menyakitkan. Mengguncang jiwanya, sampai-sampai ia tak lagi memercayai siapa pun hingga akhirnya ia bertemu Abi. Entah kenapa nalurinya berkata, pria ini bisa dipercaya. Padahal ia baru sekali itu bertemu dengan Abi. Abi sudah dua kali ke rumahnya dan saat itu ia sedang kuliah, dan kali ketiga pria itu malah menikah dengannya. Takdir sungguh lucu, tapi ia tak menyesal. Pria ini memang bisa dipercaya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Abi yang sudah tertidur, tangannya di bawah guling bergerak melewati batas yang sudah dibuat Yasmin. Dengan pelan gadis itu mendorong tangan kokoh laki-laki itu kembali ke tempatnya. Ia berusaha memastikan pria itu memang benar-benar sudah tidur. Yasmin menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu. Bisakah pria ini terus ia percaya? Ya Allah, mudah-mudahan instingnya benar. Kembali Yasmin merasakan tangan Abi bergerak melewati guling yang menjadi pembatas. Ia sudah memastikan pria itu benar-benar tidur. Kembali gadis itu mendorong tangan suaminya kembali ke tempatnya. Untuk apa ia khawatir, bukankah ia lihat sendiri suaminya telah tertidur? Sebaiknya ia buang jauh-jauh rasa kekhawatiran ini sebab ia sudah meyakinkan diri sendiri bahwa suaminya pasti memegang janji. Dan bila kekhawatirannya terjadi, mestinya sejak tadi pria itu membujuk dan sudah menerkamnya. Sang suami sudah tidur dengan damai, jadi ia kini juga harus tidur. Sia-sia menunggu kekhawatiran menjadi kenyataan. Kembali tangan Abi melewati pembatas bantal yang dibuat Yasmin dari bawah. Namun bedanya, Yasmin kini sudah tidur. Cukup lama tangan itu berdiam di sana. Tiba-tiba mata Abi terbuka. Ternyata selama itu ia tidak tidur. Kini ia memutar tubuhnya ke arah sang istri dan mengangkat guling pembatas. Dilihatnya sang istri sudah tertidur pulas. Pelan-pelan ia duduk dan memerhatikan wajah Yasmin. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN