Sebenarnya Abi juga kesulitan tidur tapi ia berusaha memejamkan mata. Namun ia tambah susah tidur karena ia bisa merasakan tubuh Yasmin yang terus bergerak hingga menggetarkan ranjang. Ia jadi bertanya-tanya, apakah gadis ini mulai kesulitan tidur sejak kejadian itu? Abi mulai memikirkannya.
Saat ia coba menggerakkan tangan melewati bantal pembatas, itu hanya untuk memastikan gadis itu sudah tidur atau belum. Bila sudah, ia ingin memandangi wajahnya sebentar. Tidak nyaman memandangi wajah gadis itu saat sudah bangun karena itu akan sangat memalukan. Ia benar-benar sangat menyukai gadis itu sejak pertama kali bertemu. Bisa memandangi wajah cantik itu saja, merupakan anugerah. Ia tak bisa berharap banyak, karena sejak awal ia sudah berjanji hanya untuk menolong gadis itu, tidak lebih. Ia harus memegang janji itu sampai waktunya tiba. Entah bagaimana nasib mereka selanjut, Abi tak peduli. Semoga Tuhan membantunya agar ia tetap bisa istiqomah dengan amanah ini. Abi merapikan selimut Yasmin dan kemudian pergi tidur.
****
Abi kembali terbangun. Ia tak terbiasa tidur terlalu cepat hingga terbangun tengah malam. Saat meraba ke samping, tidak ada seorang pun di sana. Padahal ia ingat, ada Yasmin di sampingnya. Ia terduduk seketika.
Ternyata Yasmin tengah solat Tahajud. Abi lega hingga menguap dan mengucek-ngucek matanya. Sebentar ia memperhatikan Yasmin yang tak lama selesai. "Kamu sering solat malam?"
Sambil melipat sajadah Yasmin menoleh. "Tidak. Hanya kalau susah tidur saja."
"Kau belum tidur?" Tiba-tiba jantung Abi berdetak cepat.
"Enggak. Udah tidur, tapi bangun lagi. Kecepetan tidurnya jadi gak ngantuk. Biasanya sih buat tugas kampus kalo lagi susah tidur." Yasmin melepas mukenanya.
Abi lega, ternyata gadis itu sempat tertidur tadi. " Iya, tadi kecepetan tidurnya. Aku juga tidak tidur jam segitu." Dilihatnya lagi jam di meja nakas menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit. Tiba-tiba saja ia kelaparan. Abi pun turun dari ranjang menuju pintu kamar.
"Mas, mau ke mana?" Yasmin menatap bingung pada suaminya.
"Aku lapar. Aku ingin cari makanan di dapur."
Ternyata Yasmin mengikuti Abi menuruni tangga dengan sudah memakai kerudung instan. Abi terkejut. "Kenapa ikut?"
"Mmh? Mau minum." Sebenarnya Yasmin ingin membantu Abi bila pria itu butuh sesuatu.
Abi tiba di dapur dan langsung memeriksa kulkas. Ia bimbang. Tiba-tiba pintu kulkas dibuka lebih lebar. Ternyata ada Yasmin di belakangnya.
"Mas mau apa?" Yasmin menatap isi kulkas.
"Apa saja, tapi sepertinya tidak ada makanan yang bisa langsung dimakan." Abi memperhatikan satu-satu isi kulkas.
"Coba lihat yang di freezer." Yasmin membuka bagian atas pintu lemari es. Ia memeriksa beberapa. "Ada kentang dan daging burger. Ini bisa tinggal goreng."
Abi hanya tersenyum. "Apa tidak ada yang tinggal dihangatkan saja?"
Yasmin menoleh. "Mas gak bisa goreng kentang ya?"
"Aku bisa, tapi malas. Ya, sudahlah. Tidak apa-apa." Abi mencoba menutup pintu lemari es yang di atas tapi Yasmin menahannya.
"Mas mau aku gorengin?"
"Eh, tapi ini sudah larut malam, Yasmin."
"Apa Mas buru-buru ke kantor pagi?"
"Enggak sih ...."
"Mau nungguin Yasmin masak?"
Setiap gadis itu menyebut dirinya 'Yasmin', Abi merasa dekat. Merasa spesial. Pria itu tersenyum mendengar kalimat ini. "Kamu mau temani aku makan?"
"Boleh. Tunggu ya, Mas." Gadis itu mengeluarkan beberapa makanan frozen untuk diteliti. "Daging burger sama kentang aja ya. Nanti pakai kuah spaghetti." Ia mengambil saus spaghetti kemasan di rak bawah.
"Wah, aku jadi tambah lapar ini." Abi duduk di dekat sebuah meja panjang sambil membayangkan makanan.
Yasmin dengan sigap mengambil celemek dan mengeluarkan peralatan masak. Abi memperhatikan gadis itu memasak. Sepertinya, walau anak orang kaya, Yasmin pintar memasak. Dari cara ia melakukannya, Yasmin sudah terbiasa mengerjakannya. Sebentar saja masakan sudah siap di piring dan disodorkan pada Abi.
Abi memperhatikan isi piringnya. "Wah, kayaknya enak. Kamu tidak buat untuk dirimu, Yasmin?" Ia meraih pisau dan garpu yang diberikan istrinya sambil menatap ke arahnya.
"Enggak, masih kenyang." Yasmin melepas celemek dan mengambil dua buah gelas di rak. "Mau minum apa, Mas?"
"Air putih saja."
Yasmin mengisi dua gelas itu dengan air mineral. Kemudian menyerahkan satu pada sang suami.
"Ayo dong, bantuin aku habisin." Abi menyodorkan piringnya ke tengah-tengah, agar Yasmin bisa meraihnya.
Gadis itu melirik suaminya dengan senyum lebar. "Ya udah. Dikit ya?" Yasmin mengambil kentang goreng dan memakannya.
"Banyak juga boleh. 'Kan makan berdua?"
Gadis itu tersenyum malu. Abi gemas melihat senyum gadis itu. Rasanya ia ingin memeluknya, tapi ia segera tersadar dan berdehem sebelum memulai makan. Abi mulai memotong daging burger yang disiram saus spaghetti dan memasukkannya ke mulut. "Mmh, enak sekali. Kau pintar memasak sepertinya." Ia bicara sambil mengunyah.
"Ini 'kan tinggal digoreng, Mas," jawab Yasmin malu-malu mendengar pujian sang suami.
"Tapi orang yang biasa masak sama yang tidak kelihatan kok." Berikutnya, Abi menyomot kentang goreng dan memasukkannya ke dalam mulut. "Mmh, ini benar-benar enak!"
"Mas jangan berlebihan. Ini hanya kentang goreng dan burger, Mas." Yasmin masih tersenyum yang membuatnya terlihat manis.
Apa yang terjadi bila Abi lebih dulu mengenal Yasmin? Masalah keluarganya tetap ada, dan itu akan membuat Yasmin menderita. Dimadu? Sebaik-baik skenario, hanya skenario Tuhanlah yang paling sempurna. Mungkin, Abi memang tidak bisa memiliki Yasmin seutuhnya. Ia harus ikhlas. Kenapa semakin hari, ia semakin tamak saja pada keberadaan Yasmin?
"Eh, kamu kuliah, tadi katanya?" Abi mencoba menghilangkan pikiran yang muluk-muluk dari otaknya.
"Eh, iya." Seketika raut wajah Yasmin berubah.
"Tidak diteruskan?"
Yasmin terdiam. Sudah tidak ada lagi senyuman, membuat Abi sadar apa yang terjadi.
"Eh, maaf. Kalau kamu mau cuti dulu, tidak apa-apa."
Gadis itu tak menjawab.
Abi jadi serba salah. "Kamu tidak apa-apa tidak ada kegiatan? Di rumah saja?" Abi kembali menyuap daging burger-nya.
"Eh, apa boleh aku ikut kamu ke kantor lagi, Mas?"
"Untuk apa?"
"Tidak, hanya tidak nyaman saja. Clarissa bilang ini rumahnya. Aku merasa ...."
"Lho, kamu 'kan istriku!"
"Iya, tapi apa yang dikatakan dia benar, 'kan, Mas? Aku tak enak bertengkar dengan Clarissa, apalagi di depan ayahnya ...."
Abi terlihat kesal. "Ini ...."
Tangan Abi segera diraih Yasmin. "Aku tidak ingin bertengkar dan tidak enak karena berada di posisi yang salah. Kamu gak ngerti ini, Mas. Biarkan aku ikut dengan kamu ke kantor, ya. Nanti aku pikirkan, kegiatan apa yang aku ingin kerjakan nanti."
Abi bisa melihat di kedua mata gadis itu bahwa Yasmin sedang bingung. Ia juga heran, kenapa pada saat mereka bertemu dan ia menawarkan pernikahan, tapi gadis ini menyambutnya tanpa berpikir dua kali. Padahal itu pertama kalinya mereka bertemu. Sejauh yang ia lihat, gadis itu takut dengan orang baru. Adakah gadis ini juga menyukai dirinya?
"Eh, ya sudah ... kalo kamu maunya begitu." Abi berusaha memaklumi karena apa yang telah dilalui istrinya. Yang penting Yasmin nyaman dengan apa yang dilakukannya.
****
Pagi itu Seno terkejut melihat Yasmin berpakaian rapi saat sarapan. "Kamu mau pergi juga?"
"Eh, iya." Yasmin menjawab sambil mengambil piring. Ia menoleh pada Abi. "Mas mau makan apa?"
Semua orang melihat ke arah gadis ini. Abi tahu apa yang terjadi. Ia berusaha mengambil piring dari tangan Yasmin. "Yasmin, biar aku bisa ambil sendiri saja."
Namun Yasmin tidak melepaskan. "Biar aku ambilkan, Mas. Mas mau apa?"
Abi melirik mertuanya yang sedang menoleh pada anaknya. Clarissa berusaha tak peduli. Namun Abi senang. Ia menyambut bantuan Yasmin. "Aku mau roti panggang dengan mentega."
Yasmin langsung memasukkan roti ke mesin toaster dan menunggu. Sedang Seno cemberut melihat anak sendiri tak pernah mau mengurus suaminya.
Bersambung ....