14. Prioritas

1182 Kata
"Rissa, setidaknya urus makan anakmu!" Seno berusaha untuk menekan nada suaranya, tapi tetap saja terdengar kalau ia sangat kesal pada Clarissa. Wanita itu dengan mulut merengut menoleh pada si kecil. "Mau makan apa?!" tanyanya dengan sedikit sinis. Enri malah melongo. Sebentar kemudian terdengar tangisnya. Ia menangis karena bentakan ibunya. "Rissa ...." Seno menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. Clarissa malah makin terlihat sebal. Ia melirik ayahnya. "Dia cengeng, Yah!" Mendengar itu, si kecil makin keras suara tangisnya. Yasmin iba. Ia ingin mendekat tapi tangan Abi menahannya. Pria itu menggeleng, membuat Yasmin menahan diri. "Kamu kenapa dari dulu tak bisa mengurus Enri sih, hah? Dia 'kan anakmu sendiri? Kalau menangis, diuruslah! Jangan dibiarkan begitu saja. Bujuk dia!" Seno gemas dengan Clarissa yang sudah punya anak selama tiga tahun tapi tetap tak diacuhkan. Biasanya selalu mengandalkan Abi untuk mendiamkan Enri dan Clarissa akan melenggang pergi. Namun kali ini Clarissa tak lagi bisa begitu karena Abi sudah punya istri lagi. Kelak menantunya itu akan sibuk dengan anak dari Yasmin. Bagaimana dengan Enri? Abi dan Yasmin makan dengan diam-diam sambil melirik bagaimana Clarissa harus menaklukkan Enri yang sedang menangis dan Seno yang terus mengintimidasinya. Cepat-cepat kedua menyelesaikan makannya dan segera berangkat ke kantor. **** "Mas, boleh minta pulpen dan kertas?" Keduanya baru saja sampai di ruang kerja Abi. "Untuk apa?" Pria itu melirik istrinya. "Buat nulis-nulis." "Kau bisa minta pada sekretarisku di depan." Baru saja bicara, pintu diketuk dan seorang wanita masuk. "Maaf, Pak. Meeting pagi ini apa bisa dimulai?" "Ah, pas sekali. Rika, apa kamu bisa bawakan kertas dan pulpen ke sini?" Wanita itu mengerut dahi. "Baik, Pak. Sebentar." Walau bingung, sekretaris itu mengambilkan yang Abi minta. "Ini, Pak." Ia menyodorkannya pada Abi. "Berikan pada istriku." Abi menunjuk dengan dagunya sambil memasang kancing jasnya. "Setelah itu, kita langsung pergi." Rika menurut. Ia memberikan kertas dan pulpen itu pada Yasmin. "Ok. Aku pergi meeting dulu, Yasmin. Nanti, aku kembali." Abi kemudian pergi dengan sekretarisnya. Yasmin duduk di sofa. Ia mengeluarkan ponsel dan asyik melihat-lihat sosial media. Namun itu tidak berlangsung lama. Ia mulai bosan. Akhirnya ia mematikan ponsel dan beralih pada kertas dan pulpen yang ia letakkan di meja pendek di hadapan. Yasmin membungkuk dan mulai menggambar sketsa pakaian-pakaian Muslim sampai lupa waktu. Tangannya bergerak terus menggambar sampai kehabisan kertas. Kemudian ia bingung harus apalagi. Tiba-tiba terdengar dering telepon. Itu dering ponsel tapi bukan dering ponsel miliknya. Yasmin memutar kepala mencari sumber suara. Ternyata di atas meja kerja, Abi meninggalkan ponselnya. Yasmin ragu untuk mengambil, tapi ia terkejut ketika melihat tulisan yang tertera di ponsel itu. 'Rumah'. 'Rumah? Rumah siapa? Apa rumah yang sekarang kami diami?' Yasmin terpaksa mengangkat ponsel itu. "Halo?" "Apa ini Mbak Rika?" sahut suara diujung sana. "Rika?" 'Maksudnya sekretaris Abi?' "Atau Nyonya?" "Iya, ini Saya." Yasmin mengerut dahi. 'Ada apa orang rumah menelepon suaminya? Ini pasti pembantu di rumah, 'kan?' "Ah, Nyonya. Maaf ... bagaimana ini ...." Nada suara wanita di seberang sana terdengar kebingungan. "Ada apa, katakan saja." Yasmin makin penasaran. "Begini, Nyonya. Pak Seno tiba-tiba pingsan. Apa Pak Abi bisa datang ke rumah sakit?" "Pak Seno, siapa?" Yasmin tidak familiar dengan nama itu. "Ayah Nyonya Clarissa." Barulah Yasmin mengerti. "Kenapa tidak telepon anaknya?" Ia terlihat bingung. 'Kenapa pula Mas Abi yang harus datang? Bukankah Clarissa ada di rumah?" "Nyonya Clarissa baru saja pergi, Nyonya. Aku bingung karena Enri terus menangis. Biasanya memang Pak Abi yang mengurus kalau mertuanya sedang sakit." Yasmin baru menyadari ketika mendengar suara tangisan di telepon. Ia bingung harus bagaimana. Abi sedang meeting, pasti tidak bisa diganggu. Akhirnya ia memutuskan untuk menggantikan suaminya datang ke rumah sakit. "Suamiku sedang meeting. Nanti menyusul. Sebutkan saja nama rumah sakit dan nomor kamarnya. Aku akan datang ke sana, segera!" **** Abi masuk ke ruang kerjanya dan mendapati tidak seorang pun ada di sana. "Yasmin?" 'Ke mana dia? Apa dia jalan-jalan di mal? Tapi rasanya tidak mungkin karena dia butuh kerja keras bila bertemu dengan banyak orang. Dia akan sangat stres, bukannya relaks.' Pandangnya jatuh pada meja kerja di mana ada selembar kertas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Apakah Yasmin menulis pesan ke mana ia akan pergi? Abi mendatangi meja. Terlihat sketsa desain pakaian wanita membuat ia terkejut. Istrinya ternyata pintar mendesain pakaian. Itu membuatnya tersenyum. Selagi mengagumi gambar, ia baru menyadari ada tulisan berupa pesan di samping gambar yang tertuju padanya. 'Oh, Ayah di rumah sakit?' Sementara itu, di rumah sakit, Seno terbaring lemah di brankar. Ia terkejut Yasminlah yang datang, bukan menantunya, Abi. Ia tak tahu harus bicara apa, karena anaknya sendiri malah tidak datang ketika di telepon oleh pembantu di rumah. Yasmin merapikan selimut Seno. Ia iba melihat pria paruh baya itu terbaring lemah tak berdaya. "Bapak kena serangan jantung, kata dokter. Bapak harus menjaga makanan ya, Pak." "Bukannya kemarin kamu panggil Saya 'Ayah'?" Seno membetulkan panggilannya. "Eh, iya." Yasmin menutup mulutnya, karena malu salah panggil. Sebenarnya ia gugup bertemu Seno, apalagi mengurusnya, sebab ia tahu bukan ia yang diharapkan datang oleh ayah Clarissa tapi suaminya. "Maaf, Ayah." "Tidak apa-apa." Wajah pria paruh baya itu tampak pucat. Ia tidak tahu apa ia harus bergantung pada istri kedua menantunya ini atau bagaimana. Enri menghampiri. Ia melihat sedih pada kakeknya. "Kakek, mau sussu." "Eh, minta sama Indah," ucap pria paruh baya itu. Indah adalah nama pembantu di rumah yang kebetulan ikut datang mendampingi Enri di rumah sakit. Pembantu itu datang menyambangi Seno. "Botol susunya tertinggal di rumah, Pak." "Apa tidak bisa beli yang sussu kotak?" Yasmin ikut bicara. "Tidak bisa, Nyonya. Dia baru dua tahun. Harus sussu botol." "Mmh, kalau begitu, beli saja di sini dan langsung buat. Kita tidak sempat pulang. Ayo ikut aku belanja." Yasmin beranjak berdiri. Pembantu itu ikut Yasmin keluar sambil menggendong Enri. Seno menghela napas pelan setelah semua orang pergi. 'Sekarang aku tahu kenapa Abi menikah dengannya. Gadis ini seperti malaikat. Dia mau berkorban mengurusi orang lain, sama seperti Abi. Keduanya serasi.' Kembali ia menghela napas pelan. **** "Mas?" Yasmin datang menggendong Enri ketika mengetahui suaminya telah datang dan sedang mengobrol di ruang perawatan dengan mertuanya. "Oh, terima kasih, Yasmin. Kamu mau mengurus mertuaku." Abi langsung mengambil Enri dari gendongan Yasmin. Enri yang sedang menyussu botol, diam saja diambil Abi. Menyusul di belakang Yasmin, pembantu mereka membawa plastik belanja. Pembantu itu menghampiri sofa dan duduk di sana. Tiba-tiba terdengar dering telepon. "Mas, itu ponselmu." Yasmin mulai hapal dengan dering ponsel suaminya. Abi mengambil ponsel dari kantong celana dengan berdiri sehingga Yasmin mengambil kembali Enri dari pangkuan Abi. Ketika pembantu ingin mengambil Enri dari tangan Yasmin, bocah itu malah bereaksi menolak. Ia bergumam sambil terus menyussu. Seno melihatnya dengan heran. "Halo." Abi tahu siapa yang menelepon. Ayah Yasmin. "Ada apa, Ayah?" Yasmin segera memfokuskan pendengar. Kenapa ayahnya menelepon Abi lagi? Apa masalah pesta pernikahan? Bukankah masih lama? "Abi, maaf. Ayah punya kabar buruk." Suara ayah Yasmin terdengar cemas. Abi mengerut dahi. "Ada apa Ayah?" "Pabrikku dibakar orang, jadi sepertinya aku tidak bisa mengirim pesanan perusahaanmu, Abi." "Apa?" Abi melirik Yasmin. Ia tak ingin istrinya cemas sehingga ia bergerak menjauh. Justru karena itu Yasmin curiga. 'Bukankah itu telepon dari Ayah, tapi kenapa Mas Abi malah menjauh? Apa ada masalah dengan Ayah di sana?' Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN