15. Menunggui Mertua

1177 Kata
"Aku juga tidak bisa mengadakan pesta, Abi. Aku ...." "Aku mengerti ...," potong Abi lagi. Mertuanya kini kesulitan keuangan jadi pasti mereka fokus untuk membangun lagi pabriknya. Tentu saja ia tak bisa tinggal diam. Pria itu ayah Yasmin, Abi harus membantunya, tapi ... ia tak bisa menggunakan uang perusahaan. Satu-satunya yang bisa ia pergunakan adalah uang tabungan yang niatnya akan ia pergunakan untuk membayar utang-utangnya pada orang tua Seno. Ia tak punya pilihan lain. Ia terpaksa menggunakan uang itu yang baru terkumpul satu miliar. "Bagaimana kalau aku membantumu, Ayah? Aku akan kirim satu miliar, mudah-mudahan cukup." "Abi, terima kasih. Aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa." Suara Ramdan terdengar bergetar di ujung sana, terharu setelah hampir putus asa. "Tidak apa-apa, Ayah. Kalau kurang, katakan saja. Oya, yang membakar pabrik apa sudah diketahui orangnya?" "Dia orang tua Tio, orang tua dari orang yang merusak anakku. Polisi sudah menangkapnya tapi Tio melarikan diri. Abi, tolong jaga Yasmin ya. Aku takut Tio lari ke Jakarta dan mencari Yasmin." Abi terperangah mendengar berita ini. "Baik, Ayah, assalamualaikum." Ia menutup pembicaraan. Wajahnya masih syok saat menurunkan ponsel. Bagaimana ia akan menceritakan hal ini pada Yasmin? Namun ia harus menceritakannya, karena ini tentang keluarganya dan tentang masalah Tio yang melarikan diri. Semua itu sulit untuk disembunyikan. "Yasmin." Abi mendatangi istrinya dan menariknya menjauh dari ranjang brankar. Dilihatnya Enri sudah mulai mengantuk dalam gendongan Yasmin tapi ia masih mengedot sussu botol. Sambil mengusap kepala si kecil, Abi bicara dengan suara yang dikecilkan. "Ayahmu ... pabriknya kebakaran." "Astaga." Yasmin menutup mulutnya karena terperangah. "Lalu, bagaimana?" bisiknya lagi. "Aku tidak tahu, tapi setidaknya aku memberi bantuan keuangan agar pabriknya bisa berjalan lagi seperti semula. Yang pasti, mungkin tidak ada pesta." Yasmin meraih lengan suaminya. "Tidak apa. Aku juga takut kembali ke sana, tapi terima kasih, Mas. Mas udah bantu Ayah membangun lagi pabriknya." Abi menepuk-nepuk tangan Yasmin yang mampir ke lengannya. "Tidak apa-apa, tapi masalahnya sekarang, yang membakar pabrik ayahmu itu orang tua Tio." "Apa? Pabrik ayah dibakar?" Kedua mata Yasmin melebar. "Tapi sudah ditangkap polisi. Masalahnya, Tio kabur. Mungkin dia akan datang ke Jakarta mencarimu." "Apa?" Abi bisa melihat Yasmin syok. Ia memeluk punggung gadis itu. "Jangan takut. Aku akan menyewa bodyguard untukmu. Lagipula, kau selalu ke mana-mana bersamaku, 'kan?" Yasmin yang syok, tak bisa berpikir dengan baik membuat kedua matanya berkaca-kaca. Abi tak tega melihatnya. "Yasmin ...." Gadis itu buru-buru menghapus air matanya karena hampir jatuh. "Bagaimana aku ...." "Yasmin, berjuanglah. Aku berada dipihakmu, jangan takut." Yasmin menyandarkan kepalanya pada bahu Abi. Pikirannya kosong. Ia tak tahu harus bagaimana mengusir rasa takutnya itu. Dari pembaringan, ternyata Seno mendengar percakapan mereka. Ia bingung dengan cerita yang ia dengar. Kenapa ada orang yang sedang mengejar Yasmin dan kenapa pabrik orang tua Yasmin dibakar? Apa orang itu dendam pada Yasmin? Kini ia mempertanyakan pernikahan Abi yang begitu tiba-tiba. **** Suasana sunyi. Pembantu pulang untuk mengambil pakaian ganti untuk Seno, sedang Abi keluar membeli makan siang. Yasmin menunggui Enri yang tertidur di sofa sambil sibuk melihat benda pipih di tangan. Seno masih memikirkan pembicaraan Yasmin dengan Abi tadi. Ia begitu penasaran. "Yasmin ...." Gadis itu mengangkat kepalanya. Segera ia mematikan ponsel, berdiri dan mendatangi Seno di ranjangnya. "Apa, Ayah butuh apa?" Kalimat itu membuat Seno berpikir ulang untuk menanyakannya. Gadis itu begitu perhatian. Anak satu-satunya saja tidak peduli padahal ia lebih tua dari Yasmin tapi masih manja dan bergantung padanya. Kenapa ada anak orang lain yang malah peduli dengan dirinya yang sudah tua ini? Seharusnya di umurnya yang sekarang ini, ia bisa menikmati hidup ongkang-ongkang kaki menikmati hari tuanya dengan segala ada, tapi Clarissa serba tidak bisa. Kenapa ia bisa punya anak begitu tak berguna? "Eh, tidak." "Ayah, apa ada yang gak enak. Bantalnya mungkin?" "Tidak." Seno makin merasa bersalah. Yasmin terlihat bingung. Agar gadis itu tidak curiga, Seno bicara hal yang lain. "Aku titip Enri, kalau kamu tak masalah. Enri tidak pernah cocok dengan ibunya." Yasmin semakin bingung dengan permintaan Seno. Ia takut Clarissa marah dan mengenai hal ini, ia harus bicara dulu dengan suaminya. "Aku tanya Mas Abi dulu ya, Yah. Aku gak bisa mutusin soal ini." "Oh, iya, benar. Tapi kalo bisa, aku akan sangat senang. Clarissa sering berpergian ...." Tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. "Ayah ...." Clarissa terkejut, Yasmin duduk di tepi ranjang berbicara dengan Seno. "Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya pada Yasmin. "Rissa, kamu di telepon berulang kali tapi tak menjawab padahal ini sangat darurat. Ayah kena serangan jantung, tadi. Untung ada Yasmin yang mengurus sampai Ayah dapat kamar. Kamu ke mana aja, tadi?" Seno mengambil alih pembicaraan. Pelan-pelan Yasmin beranjak meninggalkan mereka berdua dan kembali mendatangi sofa. Enri hampir terusik membuat Yasmin menepuk-nepuk bahunya hingga bocah itu kembali tertidur. Dilihatnya Clarissa merengut sambil mendekati brankar. Ia sempat melirik Yasmin dengan sinis. Untung saja, di saat seperti itu, Abi datang. "Oh, datang juga rupanya," sindir Abi. "Ok. Sekarang karena kamu sudah datang, aku dan Yasmin pergi dulu. Pekerjaanku masih banyak. Aku akan bawa Enri sekalian, jadi tak perlu khawatir." Abi menggendong Enri yang masih nyenyak tertidur, sedangkan Yasmin mengambil alih bungkusan plastik yang dibawa suaminya. Keduanya buru-buru pergi setelah berpamitan pada Seno. Namun Abi membawa mereka ke kantin dan duduk di sana. "Kita makan saja di sini. Aku belanja di sini, kok. Seharusnya aku tak perlu bolak-balik begini ...." Tampaknya pria itu masih saja kesal. Yasmin mengeluarkan makanan dari bungkusan plastik yang dibawanya. Saat itu juga, Enri terbangun dipangkuan Abi. "Papi, ini apa?" "Nasi kuning. Kamu mau?" Abi melirik si kecil. "Nasi kuning?" Enri melongo. Ia melihat hidangan nasi yang berwarna kuning di wadah styrofoam. "Enak lho!" bujuk Abi lagi. "Memangnya dia tidak tahu nasi kuning?" Yasmin ikut-ikutan bingung. "Makanan di rumah itu kebanyakan gaya Eropa, jadi Enri banyak tidak kenal makanan lokal." "Padahal kakeknya orang Indonesia ya, kamu yang indo malah tau makanan lokal." Yasmin tersenyum lebar. "Almarhum ayahku indo, tapi dia suka sayur kangkung karena ibunya sering memasakkan makanan itu." Abi melirik Enri. "Tapi Enri tak pernah masalah dengan makanan. Dia pasti suka nasi kuning." Ia menyendokkan nasi kuning dari wadah dan menyuapkannya pada mulut si kecil. Enri mengunyahnya dan sepertinya suka karena kedua kaki kecil itu bergoyang-goyang di pangkuan Abi. "Ini nasi kuning kenapa kuning, Papi?" tanya Enri dengan bola mata melebar menatap Abi. "Oh, ini dimasak dengan rempah-rempah." "Rempah-rempah? Rempah-rempah itu apa, Papi?" "Sudah, nanti tersedak. Makan dulu, nanti belakangan nanyanya." Abi menatap si kecil. Ia pun makan dari wadah yang sama. Yasmin menikmati makannya sambil melihat adegan ayah dan anak yang menenangkan. Mereka kemudian mampir sebentar ke kantor Abi sebelum pulang. Enri begitu senang karena hari ini ia jalan-jalan keluar. Setelah berganti baju, bocah itu cepat tidur. Abi kemudian balik ke kamarnya. Sempat ia melihat Clarissa pulang dari lantai atas, tapi Abi tak ingin menyapanya. "Mas, sudah minum obat? Besok jangan lupa ke rumah sakit untuk mengecek perban di kepala." Yasmin mengingatkan. "Oh, iya. Aku lupa." Abi menyentuh kepalanya. Setiap sehabis mandi, ia selalu mengganti perbannya sendiri di kamar mandi. Mungkin besok, jahitannya akan dilepas. Walau sudah tak sakit lagi tapi kadang-kadang kepalanya masih berdenyut. "Mas penglihatannya sudah tak masalah, 'kan?" Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN