16. Jalan-Jalan Dengan Enri

1180 Kata
Sepertinya, saat Abi mengajak Yasmin jalan-jalan ke mal itulah, penglihatannya mulai membaik pelan-pelan. "Eh, iya." "Syukurlah." Yasmin menyisir rambutnya yang panjang sebelum naik ke ranjang. Kali ini gadis itu memakai daster tangan panjang yang mirip gamis. "Besok, karena Ayah masih di rumah sakit, kita bawa saja Enri ke kantor. Kamu bisa 'kan mengawasi Enri selama aku bekerja?" Abi berdiri di samping ranjang dan menunggu. "Aku tidak masalah kalau kamu tidak mau. Aku bisa minta sekretarisku mengurusnya." "Tidak apa-apa, Mas. Cuma aku gak tau cara mengurus anak kecil." Abi lega. Ia masuk ke dalam selimut. "Kamu hanya perlu menemaninya. Kalau ia minta sussu atau hal lain yang rumit, kamu tinggal minta tolong Rika untuk buatkan. Aku tak tahu apa Clarissa akan menunggui ayahnya atau tidak karena baru kali ini Ayah tinggal di rumah sakit. Enri biasanya di rumah bersama Ayah, tapi kalo Ayah ke kantor, aku yang mengurusnya." "Apa Clarissa tidak mau mengurus Enri sama sekali? Biasanya wanita punya insting keibuan." "Entahlah. Sejak lahir Enri bahkan tidak diberikan ASI. Entah apa yang dipikirkannya soal Enri." "Memangnya ayah Enri tidak mau menikah dengan Clarissa? Apa masalahnya?" "Aku tidak tahu. Bahkan, yang kudengar, Ayah sendiri tidak tahu siapa orangnya." "Astaga ... sampai segitunya. Dia pasti masih sayang sama orang itu." Yasmin melirik Abi. "Eh, aku tak bermaksud membuatmu cemburu." Abi hanya tersenyum lebar. 'Padahal aku berusaha mencintainya, tapi sikapnya sama sekali tak membantu. Bagaimana caranya aku bisa mencintai Clarissa, padahal dia istriku sendiri.' Mengingat ini, hatinya sedih. Ia bergeser merebahkan diri di ranjang sambil memikirkan hal itu. Yasmin yang melihat ini jadi tak tega. Ia merasa apa yang dikatakannya membuat Abi sedih. "Maaf, aku tak bermaksud ...." "Bukan, bukan itu. Tidurlah." Abi memutar tubuhnya membelakangi sang istri. Yasmin merebahkan diri. Ia jadi penasaran dengan apa yang dipikirkan Abi. Namun bertanya lagi akan membuat pria itu sedih, ia tak berani. Ia hanya bisa memandangi punggung Abi sampai akhirnya ia sendiri tertidur. **** Enri melihat ayahnya sampai melongo. Mulut kecilnya itu terbuka. Ia menoleh pada Yasmin yang menggendongnya. Bocah itu meletakkan kedua tangan di atas kepala. "Kepala Papi sakit, gak?" "Mmh? Mama gak tau," jawab Yasmin yang melirik bocah laki-laki itu. Enri kembali melihat ke arah Abi yang tengah dilepas jahitan di kepalanya. Bocah itu masih kelihatan bingung. Satu per satu benangnya dilepas dengan digunting. "Nanti darrahnya keluar lagi, gak?" Si kecil masih penasaran tapi komentarnya membuat dokter tersenyum. "Istri Bapak, masih muda sudah punya anak sebesar ini. Kelak kalo anaknya sudah besar, nanti dibilang adik kakak lagi sama ibunya." Abi tersenyum mendengarnya, tapi Yasmin tersipu-sipu. Tentu saja, karena ia belum punya anak. Sepulang dari rumah sakit, mereka langsung ke mal. Enri senang berlari-lari di tengah keramaian. Abi terpaksa mengejar dan menggendongnya. "Enri ... nanti kalau hilang, bagaimana?" "Hilang?" Kedua bola mata kecil yang berwarna abu-abu itu, terlihat lucu saat membulat sempurna. "Kalau kamu gak ketemu papi lagi, gimana?" Mendengar itu Enri langsung memeluk leher Abi. "Jangan ...." "Makanya jangan lari-lari di tempat ramai. Di tempat sepi boleh." Bocah kecil itu mengangguk. Sebentar kemudian mereka sudah sampai ruang kerja Abi. Enri dengan tertib duduk di samping Yasmin dan membuka tas punggungnya. Ia mengeluarkan mainan dan main sendiri. Namun itu tak lama. Ia mulai bosan. Enri kemudian memperhatikan Yasmin yang sedang menggambar beberapa pakaian Muslim di meja pendek. Bocah itu turun dari sofa dan memperhatikan. Ada tamu masuk ke ruangan. Tamu itu mengenal Enri karena ia karyawan Abi. Selagi Abi sibuk dengan karyawannya, Yasmin sudah berpindah kesibukan dengan mengeluarkan ponsel. Enri penasaran dengan kertas dan pulpen yang yang ditinggalkan Yasmin. Ia mencoba menulis seperti yang Yasmin lakukan dan ternyata mudah. Tinggal coret. Enri mulai menulis beberapa coretan di kertas hingga membuat ia bersemangat sampai tak sengaja mencoret meja. Ternyata meja itu bisa dicoret. Ia pun semakin penasaran. Enri mencoba mencoret yang lainnya. Lantai, kemudian sofa dan ia terkejut melihat hasilnya. Karena asal mencoret, ia tak sengaja mencoret baju Yasmin yang berwarna kuning. "Eh ...." Gadis itu menoleh. Ia kaget tentu saja, karena bajunya sudah terkena coret pulpen dan tersangkanya masih memegangnya. Enri terkejut saat ketahuan. Tubuhnya membeku dan kedua mata kecilnya itu membulat sempurna karena Yasmin menatap ke arahnya. Biasanya bila itu terjadi dengan sang ibu, Clarissa akan mengeluarkan bentakan. Namun berbeda dengan Yasmin, ia membujuknya. "Enri ...," ucapnya lembut. Gadis itu mengulurkan tangan. "Ayo, sini kasih mama pulpennya." Dengan wajah tegang, pelan-pelan Enri menggerakkan tangan menyerahkan pulpen itu. Setelah itu, karena malu, bocah itu langsung menabrak dan memeluk pinggang Yasmin. Ia menenggelamkan wajahnya pada perut gadis itu. Yasmin mengusap punggung bocah itu dengan lembut. Enri mendongakkan kepala menatap gadis itu yang begitu baik menerima kesalahannya tanpa memarahi. "Endong ...," pintanya dengan manja. Melihat Enri yang tampak menggemaskan saat memohon membuat gadis itu tersenyum lebar. Diangkatnya tubuh kecil dan gempal itu, kepangkuan. Bocah itu kembali memeluknya. Yasmin mengusap punggung si kecil dan coba bicara dengan lemah lembut. "Kenapa kamu corat-coret sampai kena baju mama? Gak boleh ya. Coret-coret hanya di kertas aja." Enri mengangkat kepalanya. Ia bisa merasakan gadis ini sangat baik padanya seperti papinya, Abi. "Kamu bosan ya, mmh?" Yasmin mencolek hidung si kecil. "Enri mau keluar. Yuk?" Bocah itu menganggukkan kepala sambil menggoyangkan satu kakinya. Ia mengajak Yasmin dengan mimik yang lucu. Yasmin tertegun mendengar permintaan Enri. Apa ia sanggup? Namun ia harus mencobanya. Ia tidak bisa selamanya bersembunyi di dalam ruangan bersama Abi. Ia harus kuat. Kalaupun nanti ia tak sanggup, ia 'kan bisa kembali lagi ke sini bersama Enri. Tidak sulit, kan? Hitung-hitung percobaan. Masa tak berani, padahal sudah ditemani Enri. "Eh, ok." Gadis itu menurunkan Enri dan menggandengnya. Ia mendatangi meja Abi. "Mas, aku keluar dulu ya, sama Enri." Abi sedikit terkejut mendengar permintaan sang istri, tapi karena masih dilingkungan mal, ia mengiyakan. Lagipula ia masih sibuk ditunggui pegawainya. "Ya sudah." Mereka turun dengan naik lift. "Tapi kamu gak boleh pergi jauh-jauh ya. Tetap pegangan sama Mama." Bocah itu mendengarkan. Keduanya mulai jalan-jalan di keramaian. Untuk pertama kalinya Enri jalan kaki sendiri karena biasanya Abi akan menggendongnya. Sang ayah tidak sabar kalau harus mengikuti Enri. Beda dengan Yasmin. Karena tak punya tujuan, ia malah mengikuti Enri. Sesekali bocah itu berhenti dan melihat. Melihat toko atau keramaian. Bahkan sering bertanya. Yasmin menjawabnya dengan sabar. Enri sangat menikmati jalan-jalan dengan Yasmin. Apalagi sampai bertemu dengan toko mainan. Enri sibuk memeriksa mainan tapi tak satu pun yang ia beli. Saat ia bosan, ia keluar dari toko. Tak sengaja kakinya tersandung kaki seorang anak kecil. Enri marah karena ia tahu anak laki-laki itu memang sengaja membuat ia terjatuh. Segera ia bangun dan mendorong anak itu hingga jatuh. Yasmin yang terkejut melihat reaksi Enri, langsung menarik tangannya. "Enri ...." Namun anak laki-laki itu ternyata juga marah dan lalu bangun dan menyerah Enri. Enri dengan cepat menjambak rambut anak itu. Anak itu menangis. "Enri!" bentak Yasmin kesal. Mendengar gadis itu membentaknya, Enri menangis. "Dia nakal, Ma ...." Enri menunjuk bocah itu. Seorang wanita tergopoh-gopoh datang ke sana. "Ricky ...." Wanita itu menatap ke arah anak kecil yang sedang menangis di samping Enri. Enri digendong Yasmin. Yasmin pun terkejut melihat orang tua anak itu datang. Wanita berbadan gempal itu bertelak pinggang. "Kamu apakan anakku, hah?" Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN