Yasmin mengerut dahi. "Maaf ya, Bu. Ibu ke mana aja dari tadi?! Kenapa anak ibu jahatin anak orang, ibu gak tau?!" sindirnya.
"Apa? Jelas-jelas anakku nangis, kenapa pula anakku disalahkan?" Ibu itu tak kalah sarkas. Ia menarik anaknya dan menggendongnya.
Tiba-tiba datang dua orang petugas. Ibu itu langsung menunjuk Yasmin sebagai pembuat onar. "Dia nih, Pak! Keluarin dari mal ini! Masa anak Saya dibikin nangis sama anak itu!"
Kedua petugas itu mendekati Yasmin, membuat gadis itu berdebar-debar. Salah satu dari mereka bicara. "Ibu, maaf. Ada apa dengan orang ini?"
Pertanyaan itu membuat Yasmin bingung. "Anak itu nakal. Anakku sedang jalan dia buat tersandung. Aku lihat sendiri, ia sengaja meletakkan kakinya ke depan agar anakku jatuh. Wajar 'kan kalau anakku menyerang balik?" Ia bicara dengan mulut bergetar. Bukan apa-apa, banyak orang berkerumun melihat kejadian itu hingga ia sendiri ketakutan. Namun rasa takut itu coba ia lawan. Ini karena ia ingin melindungi Enri, seketika ia bersemangat melawan ibu itu. Enri pun berhenti menangis ketika mengetahui Yasmin membelanya.
Kedua petugas itu kini bergerak mendekati sang ibu yang sudah menggendong anaknya itu.
Ibu itu malah digiring keluar. "Hei, kenapa malah aku yang ditarik?"
"Maaf, bu, tapi ibu telah menyinggung istri pemilik mal. Sebaiknya ibu keluar atau kami akan blacklist ibu dari mal ini."
Ternyata petugas mal mengenal Enri walau belum familiar dengan Yasmin. Salah satu dari petugas pernah melihat Yasmin bersama Abi sehingga meyakini Yasmin adalah istri Abi.
Ibu itu terkejut. "Hei, tidak mungkin! Aku kenal istri pemilik mal ini. Itu pasti bukan dia! Kau dibohongi olehnya!"
Namun kata-kata ibu itu tidak digubrisnya. Petugas tetap membawa ibu itu keluar dari tempat itu.
Yasmin bersyukur, keberuntungan ada di pihaknya, tapi ia segera buru-buru keluar dari tempat itu karena tidak mau menjadi tontonan. Orang-orang mulai memperhatikannya karena mendengar ia adalah istri pemilik mal.
Dilihatnya wajah Enri yang nampak tenang. Kedua matanya masih basah. Apalagi pipinya. Segera Yasmin menghapus bekas air mata di pipi bocah itu dengan ibu jari. Enri menyandarkan kepalanya pada bahu gadis itu karena masih sendu.
****
Terdengar ketukan di pintu. Seno yang masih terbaring di brankar rumah sakit, segera duduk. "Masuk!"
Seorang pria muda segera muncul dari balik pintu dan datang mendekat. "Bapak mencari Saya?" Ia adalah salah seorang bawahan Abi di kantor.
"Kau tahu, siapa orang tua Yasmin, istri Abi yang baru?"
"Tidak, Pak."
"Aku curiga dia adalah salah satu suplayer di perusahaan. Aku dengar pabriknya terbakar."
"Oh!" Pria muda itu mengerut kening. "Ada salah satu suplayer kita yang berhenti mengirim karena pabriknya terbakar."
Seno seketika penasaran. "Siapa dia?"
"Pak Ramdan pemilik salah satu toko kain di mal. Juga menyuplai kain untuk department store milik bapak."
"Pak Ramdan?" Seno mengerut dahi. Ia sangat kenal pria itu karena suplayer department store miliknya, tapi bagaimana ceritanya sampai anak Ramdan bisa menikah dengan Abi? Bagaimana mereka berkenalan? "Tolong selidiki, bagaimana pabrik Pak Ramdan bisa kebakaran dan bagaimana Yasmin berkenalan dengan Abi, tapi aku tak ingin ada yang tahu tentang masalah ini."
"Baik, Pak." Pria muda itu berpamitan dan pergi.
'Aku tidak mau ada orang yang ingin mencuri kekayaan keluargaku. Kalau benar dia berniat begitu, tunggu saja pembalasanku.' Wajah Seno berubah serius.
****
"Apa?" Clarissa yang sedang memegang ponsel di telinga, melebarkan kedua matanya. Ia terkejut mendengar hal itu.
"Itu madumu, ya?" tanya seseorang di ujung sana.
"Eh ...."
"Apa dia yang sekarang menguasai rumahmu?" Pertanyaannya mulai menyindir.
"Aku yang punya rumah, kenapa dia yang berkuasa?!" Clarissa mulai panas.
"Jadi dia benar madumu? Dia mengusirku dan anakku dari mal itu. Apa kau sudah tidak punya kekuatan lagi dengan suamimu sendiri?!"
"Enak saja. Sekali numpang, ya hanya numpang! Biar aku selesaikan masalah ini." Clarissa menutup teleponnya. Dengan dahi berkerut dan geraham dirapatkan, ia mengepal tangannya erat-erat. Ia yang tengah duduk santai di cafe sebuah hotel, terpaksa bangkit berdiri. Ditinggalkannya makanan yang baru dimakan separuh dan melangkah menuju rumah. Satu yang pasti, gadis itu mulai menggerogoti kekuasaannya. Karena itu ia takkan bisa tinggal diam!
****
"Yasmin, kita ke rumah sakit dulu tengok mertuaku sebelum pulang." Abi berdiri dari kursinya dan mendatangi sofa. Dilihatnya Enri sibuk menggambar di kertas diajari Yasmin. Abi tersenyum.
Ketika istrinya pergi dengan Enri tadi, ia sempat memeriksa sofa. Ada coretan pulpen di kursi dan lantai. Untung saja sofanya dari kulit berwarna coklat tua, hingga coretan tidak terlalu kentara, sedang lantainya bisa dibersihkan hanya dengan di pel oleh petugas kebersihan.
Yasmin mengangkat kepalanya dengan senyum di kulum. "Ternyata kalau punya anak kecil harus diawasi ya, Mas. Kalo enggak, repot."
"Iya."
Yasmin memungut barang-barang si kecil dan memasukkannya ke dalam tas punggung Enri. "Kenapa harus malam-malam ke rumah sakitnya? Apa tidak mengganggu tidur Ayah?"
"Oh, aku hanya tidak mau bertemu dengan Clarissa. Lagipula, Ayah pasti menungguku."
"Ok."
****
Yasmin baru kembali dari dapur ketika ia melihat Clarissa menunggu di depan kamarnya. Wanita itu langsung menyerang Yasmin ketika gadis itu tiba. "Untuk apa kamu mengaku-ngaku sebagai Nyonya Hayes di mal?"
"Hah?" 'Ada apa ini?'
"Bangga ya, sudah menikah dengan suamiku dan mengusir temanku?!" sindir Clarissa.
"Teman?" Yasmin berusaha mencerna ucapan Clarissa. Ia merasa tak pernah mengusir siapa-siapa.
"Jangan pura-pura boddoh! Kamu itu di sini cuma numpang ya. Numpang! Jangan pikir bisa seenaknya jadi Nyonya di sini. Aku Nyonya besar di sini, jangan pernah berani ambil alih kekuasaanku!" Kata-kata Clarissa begitu sinis dan pedas di telinga.
"Aku tidak mengambil posisi siapa-siapa, Mbak," sanggahan Yasmin dengan wajah polos.
"Halah! Semua orang di mal pasti tau, sekarang kau adalah Nyonya Hayes yang bisa mengusir orang seenaknya dari mal. Jangan sembarangan kamu ya. Pakai otakmu!" Clarissa mendorong kepala Yasmin dengan telunjuk dengan pandangan tajam ke arahnya. "Kau bukan siapa-siapa di sini!!"
Tiba-tiba telunjuk Clarissa ditangkap Abi dan dihempas ke samping. Clarissa dan Yasmin terkejut. Yasmin baru sadar siapa yang dimaksud Clarissa dengan teman. Pasti wanita yang membela anaknya yang mem-bully Enri.
"Aku sudah dengar apa yang terjadi. Justru aku bilang kamu yang boddoh!" Abi kini balik menunjuk Clarissa.
"Lho, kok aku?" Clarissa melebarkan kedua matanya.
"Kamu tahu kenapa Yasmin mengusir temanmu itu? Karena anaknya mem-bully Enri."
Clarissa membelalakkan matanya. "Tidak mungkin!"
"Ada video cctv-nya kalau kamu mau lihat. Anak itu sudah berapa kali membuat ulah di beberapa toko di mal kita, dan hanya karena ibunya adalah istri penjabat, tidak ada seorang pun yang berani mengusiknya. Petugas di mal juga biasanya membela dia, tapi untuk kali ini, sudah tidak bisa lagi! Apa yang dilakukannya sudah keterlaluan. Dan sekarang kamu mau membela teman yang seperti itu?! Sungguh keterlaluan! YASMIN membela darah dagingmu, tapi kamu di mana, hah?!! Apa fungsimu di sini kalau tidak bisa membela keluarga sendiri, hah? Apa gunanya?!!" Untuk pertama kalinya, Abi bicara keras pada istri pertamanya itu.
"Kau ...." Tenggorokan Clarissa rasa tercekat. Ia tak lagi bisa meneruskan kata-katanya.
Tiba-tiba tangan Yasmin menyentuh bahu suaminya dengan pelan. "Mas, jangan kasar."
Keduanya melirik Yasmin. Clarissa gengsi dengan pembelaan Yasmin. "Aku tak butuh kau bela!" Ia segera membalik tubuhnya dan bergegas ke kamar lalu membanting pintu.
Abi menghela napas panjang. Ia mendengar apa yang terjadi dengan Yasmin dan Enri di mal dari karyawannya, sehingga tanpa Yasmin beri tahu, pria itu sudah tau apa yang terjadi. "Kenapa aku tidak boleh marah? 'Kan aku suaminya?" Ia melirik Yasmin dengan kesal.
Bersambung ....