18. Tertekan

1187 Kata
"Bukan begitu. Wanita sensitif dengan omongan kasar pria. Apalagi suaminya." "Yasmin ... aku sedang membelamu!" Abi sudah tak bisa lagi membendung rasa kesalnya. "Iya, terima kasih," ucap Yasmin pelan. Melihat wajah Yasmin yang polos dan lembut itu membuat Abi tak bisa memarahinya. Ia segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Gadis itu mengikuti. Abi masuk ke dalam selimut. Karena tak ingin memperlihatkan wajah cemberutnya, ia memunggungi istrinya dalam diam. Yasmin juga masuk ke dalam selimut. Ia mengangkat guling yang menghalangi. Sepertinya suaminya sedang ngambek. "Mas! Ngambek ya. Gitu aja ngambek," godanya. Tak ada suara. Yasmin lalu mengetuk-ngetuk bahu Abi dengan telunjuknya beberapa kali. Tiba-tiba pria itu berbalik dengan cepat dan meraih jemari lentik Yasmin dengan dahi berkerut. Ia begitu kesal wanita ini tak mengerti ia sedang menahan amarahnya. Pergerakan tubuh Abi yang begitu cepat membuat gadis itu terkejut. Abi memperhatikan wajah polos istrinya yang sangat manis. 'Ya Allah ... kenapa makhluk ini cantik sekali. Rasanya aku ingin menerkaamnya saat ini juga.' Abi melepas tangan Yasmin karena salah tingkah. "Sudah, aku sudah lelah. Jangan ganggu aku, aku ingin tidur." Ia membalik tubuhnya sambil menghela napas. 'Manis sekali dia, kalo sedang marah.' Yasmin mengangkat bahu sambil menahan tawa hingga matanya menyipit. Reflek Yasmin memeluk leher pria itu dari belakang. "Kamu lucu sekali, Mas. Kalo lagi marah." Mata Abi membola merasakan tangan istrinya melingkar di lehernya. Walaupun hanya sebatas memeluk tapi ... gadis itu tiba-tiba menarik tangannya. Tentu saja. Ia tak sengaja. Ketika Abi membalik tubuhnya, gadis itu menunduk. Cepat-cepat Yasmin membalik tubuhnya dan makin menenggelamkan diri dalam selimut agar Abi tak melihat betapa merah wajahnya saat itu. "Yasmin ...." "Mmh?" Abi tersenyum lebar. Ia memiringkan kepalanya. "Tadi itu ...." Terdiam sesaat. "Hanya penyemangat. Aku memberimu semangat." Yasmin tak berani membalik tubuhnya. Ia begitu malu telah memeluk leher suaminya, tadi. "Eh ... aku senang diberi semangat. Terima kasih." Senyum lebar tak lepas dari wajah sang pria. Ia begitu senang. "Mmh." Abi membalik kembali tubuhnya. Hanya hal kecil begitu saja ia sudah sangat bahagia. Ya, tentu saja. Hal kecil itu berasal dari Yasmin, gadis yang disukainya. Apa ia bisa berharap? Ia memang belum pernah dipeluk wanita selain ibu dan kakak perempuannya dan kali ini sensasinya beda. Sangat luar biasa. Ah ... tak pernah terbayangkan bisa sebahagia ini dipeluk Yasmin, walau hanya sesaat. Rasanya ia akan sulit tidur. Bukan karena banyak pikiran tapi karena bahagia. Mungkin untuk orang lain ini tidak ada apa-apanya, tapi baginya ini pencapaian luar biasa. Bersyukur. Wanita yang disukainya pernah memeluknya. 'Ya Allah, terima kasih.' **** Berada di kamar itu berdua membuat Yasmin dan Abi canggung. Keduanya masih memikirkan apa yang terjadi tadi malam. Yasmin berusaha menyelesaikan memasang kerudungnya tapi ia juga berusaha menghindar dari pandangan suaminya, membuat pria itu sedikit bingung. Padahal ada yang hendak dikatakannya. "Yasmin." "Ya?" Saat itulah Yasmin memandang ke arah suaminya. "Eh, pagi ini aku mau ke rumah sakit menjemput mertuaku pulang. Kamu di rumah dulu ya. Nanti, saat aku pulang, kita langsung ke kantor." "Iya." "Sekarang kita sarapan ke bawah dulu." Seusai sarapan, Abi pergi. Yasmin mengantar Enri ke kamar. "Mama." "Mmh?" Yasmin menoleh pada si kecil. Enri meraih tangan Yasmin dan menariknya masuk ke kamar. "Temani Enri main, Ma." "Eh, tapi 'kan ada Mamimu?" "Mami tukang tidur. Kalau ada kakek aja mau sarapan pagi. Kalo enggak, Mami tidur." Yasmin iba mendengarnya. "Tapi sampai Papi kembali ya, sebab mama mau ke kantor." Bertepatan dengan itu, pintu kamar Clarissa terbuka. Menemukan Yasmin, kembali membuat darrahnya mendidih. Ia merapikan kimono tidur yang dipakainya sambil mendatangi keduanya. "Kamu niat banget sih ngerendahin aku? Kamu pikir, dengan menikah dengan suamiku kamu dapat harta, gitu? Dipake otaknya!" Ia menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri dengan geram. "Mas Abi itu tidak punya harta apa-apa. Orang dia bangkrut kok! Ayahku yang bayarin utangnya. Lebih baik cari mangsa lain, daripada kamu ngabisin umur tapi gak dapat apa-apa," katanya mendengus kesal. Ia melipat tangan di dadda. "Aku menikah dengannya bukan karena itu, Mbak." "Mmh! Siapa percaya." Clarissa kemudian melewati Yasmin dan menuruni tangga. Sesak rasanya mendengarkan ini, tapi ia bisa apa? Sedih rasanya tak ada yang mengerti. Tiba-tiba tangan Enri kembali menariknya ke dalam kamar. Yasmin ikut saja tanpa bicara apa-apa. Ia di posisi yang membingungkan. Menyerah? Namun ia sudah terlanjur menikah dengan Abi. Kembali pun ia tak berani. Hanya Abi tempatnya berlindung. "Mama jangan dengerin mulut jahat Mami ya. Jangan pergi ...." Permintaan Enri membuat Yasmin terharu. "Enri, kamu ada-ada saja." Tentu saja Enri khawatir melihat Yasmin bersedih. "Kalau Enri sudah besar, Enri akan lawan Mami." "Eh, tidak boleh begitu, Enri. Dia ibumu." "Dia selalu musuhin Enri, kok!" Yasmin terkejut. Diperhatikannya lagi wajah kecil Enri. Sedari kecil, bocah ini juga menumpuk luka. Di balik mata bulat dan pipi tembam itu, sudah ada dendam yang ia simpan entah sejak kapan. "Mungkin Mamimu tidak pandai mengasuh anak kecil." "Enggak. Mami bilang, Mami benci Enri. Gara-gara Enri, Mami ditinggal pacarnya!" Yasmin membulatkan matanya. Kenapa Clarissa tega bicara begitu pada anaknya sendiri? "Maksudmu ...." "Lebih baik Enri gak punya Mami. Enri punya Papi dan punya Mama saja cukup." Bocah itu meraih tangan Yasmin." "Enri ...." Yasmin mengusap kepala bocah malang itu. "Nanti Enri belajar karate untuk tendang orang jahat biar gak ganggu Enri lagi." Yasmin tersenyum. 'Iya, benar. Harus bisa mempertahankan diri sendiri biar gak ada yang ganggu.' **** "Kita makan siang di luar, yuk! Kamu gak papa, 'kan?" Abi menatap ke arah Yasmin yang masih menunggunya di kursi sofa. "Ayuk!" Yasmin mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam tas. Saat sedang mencari tempat makan, ada seorang wanita muda sedang membagikan brosur dan mereka melewati wanita itu. Sang wanita menyodorkan brosur itu pada Yasmin. "Ayo, Kak, ada kelas Thai Boxing baru buka. Kakak bisa coba gratis hari ini, lho!" Yasmin memperhatikan brosur itu. "Apa perempuan berjilbab bisa ikutan?" "Siapa aja, tidak memandang umur. Ada latihannya nanti diajari." Yasmin terdiam sesaat. "Ya, terima kasih." Ketika keduanya masuk ke sebuah restoran dan mendapat tempat duduk Yasmin masih penasaran dengan brosur yang dipegangnya. "Mas, boleh gak aku ikut ini?" Abi yang sedang melihat menu, mengangkat satu alisnya melirik sang istri. "'Kan sekarang sopir kita, bodyguard?" "Ya ... pengen aja sih ...." Abi menatap Yasmin sejenak. "Kalau kau suka, tidak apa-apa. Daripada seharian menunggu aku di ruangan." Ia tahu, Yasmin nampak mulai bosan belakangan. "Bener, Mas?" Kedua mata gadis itu terlihat bercahaya. "Ya ... coba saja." Abi nampak tak peduli karena ia yakin, olahraga itu tidak cocok dengan Yasmin yang wajahnya lembut seperti itu. Tak lama pasti akan menyerah. Seusai makan siang, Abi mengantar Yasmin ke tempat latihan Thai Boxing itu. Tempatnya sedikit tertutup. Ada beberapa orang sudah mendaftar. Yasmin tampak antusias karena sebagian besar yang mendaftar adalah wanita. Ada juga ring tinju dan juga samsak tinju. Yasmin harus membeli sarung tinjunya sendiri dan sempat mengobrol dengan para wanita yang mendaftar. Ternyata mereka punya kisah yang membuat ia tak sendiri. "Suamiku, kalo marah suka main tangan. Aku ingin kita seimbang. Aku ingin dia sadar aku sayang dia." Seorang wanita muda bercerita pada yang lain. "Aku sih untuk jaga-jaga. Aku sering pulang kerja malam dan daerah tempat aku tinggal banyak preman. Setidaknya aku bisa melawan." Seorang wanita berpakaian kantor menjawab. "Kalau Mbak sendiri, kenapa?" Tiba-tiba ia bertanya pada Yasmin. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN