19. Menjadi Kuat

1175 Kata
"Eh, hanya untuk bela diri," jawab Yasmin singkat. "Tapi bukan dari suamimu, 'kan? Aku lihat suamimu baik. Dia sampai mengantarmu ke sini, berarti orang baik," ucap wanita pekerja kantoran itu melirik Abi. "Bukan," sahut Yasmin menggeleng dengan pipi memerah. "Oh, syukurlah." Sebelum mulai latihan, Yasmin meminta suaminya kembali ke tempat kerjanya. "Mas tinggal aja. Aku nanti kalo sudah selesai akan naik ke atas, ke tempat Mas." "Ya sudah. Hati-hati ya." Pria itu bergerak mundur. "Hati-hati kenapa?" "Hati-hati kalau kena tinjju." Abi tersenyum sambil menahan tawa. Ia membayangkan Yasmin cepat menyerah melihat ada yang dibannting atau kena pukuul. Pasti ia takkan berani melihat. Beberapa saat setelah kembali ke ruang, Abi seketika rindu pada sang istri. Padahal baru beberapa hari ini menemaninya di kantor, membuat Abi hilang akal. Sesekali ia melihat jam. Bagaimana kalau istrinya terluka di tempat latihan? Sesaat Abi cukup panik teracunni pikirannya sendiri. Sempat ia bergerak ingin berdiri, tapi kembali ia duduk dan menggelengkan kepala. 'Biarkan saja. Nanti dia kapok dan menyerah dengan sendirinya.' Ia yakin, sebentar lagi Yasmin akan berhenti. Namun untuk beberapa lama, Yasmin belum juga kembali. Adakah ia malu karena cepat menyerah hingga jalan-jalan di mal sendirian? Baru berpikir begitu, tiba-tiba pintu terbuka. Melihat wajah Yasmin yang bergerak masuk membuat ia panik dan segera fokus pada berkas di meja. Abi pura-pura tersadar, istrinya masuk ke dalam ruangan. "Yasmin ...." Gadis itu datang membawa bungkusan plastik di tangan. "Bagaimana latihannya?" Abi berusaha terlihat biasa saja. Gadis itu tersenyum dalam keletihan. "Lumayan membakar kalori. Aku sampai beli makanan kecil dan beli baju ganti sebelum kembali ke sini. Ini sudah aku ganti." Yasmin memperlihatkan pakaiannya yang berbeda dari yang tadi. Gadis itu menghempas diri ke sofa dan bersandar ke belakang. Wajahnya nampak segar. "Jadi, bagaimana?" Abi tampak penasaran. Bola mata gadis itu bergerak ke arah suaminya. "Apanya? Oh ... latihannya? Keren! Aku suka. Dia ada setiap hari, tapi aku ambil yang dua kali sehari aja. Gak papa 'kan, Mas?" Abi terkejut melihat reaksi istrinya yang berbeda. "Oh, eh, enggak papa. Asal kamu senang aja." Ia tak mengira istrinya menyukai olahraga ekstrim seperti itu. Pintu diketuk. Seorang pria masuk membawakan berkas lain untuk Abi. "Ini, Pak. HRD ingin mencari desainer pakaian wanita muslim. Banyak permintaan tapi desainernya gak ada." Seketika Abi teringat istrinya. "Tunggu dulu. Yasmin!" "Ya?" Gadis itu melirik suaminya. "Bukankah kamu bisa mendesain baju muslim?" "Aku hanya iseng saja, Mas. Gak punya pengetahuan dasar mendesain." "Tidak apa-apa. Coba buatkan beberapa. Nanti ajukan kebagian HRD." "Yang benar, Mas?" Yasmin menegakkan punggungnya. "Tapi aku gak ada sekolah desain. Aku kuliah ekonomi." "Gak papa, ajukan saja, tapi sesuai prosedur ya. Barangkali saja lolos dan kamu bisa bekerja." "Apa?" Kedua mata indah itu membola. "Aku bisa kerja? Tapi aku gak ngerti menjahit, Mas." Ia bingung dengan kemampuannya yang tidak dibarengi dengan kemampuan menjahit. "Tidak apa-apa. Di bagian department store, ada tukang jahit dan pembuat pola, jadi tak perlu bingung untuk membuat pakaian. Yang penting kamu bisa mendesainnya." "Oh, ok. Aku akan coba." Seketika mata gadis itu langsung melirik ke atas meja dan mencari apa yang ia perlukan. Ia begitu bersemangat hingga membuat suaminya tersenyum. "Ok, untuk sementara, jangan cari dulu ya. Kita tunda dulu," sahut Abi pada bawahannya. Ia yakin Yasmin akan lolos karena ia sudah melihat desain-desain yang sudah dibuat istrinya hampir setiap hari. Desain-desainnya cocok untuk anak muda dan pakaian sehari-hari. **** "Enri." Enri yang sedang bermain di lantai ditemani sang kakek yang duduk di tepi ranjang, menoleh. Ia terkejut melihat kedatangan Yasmin di kamarnya. "Mama?" Ia berdiri dan berlari ke arah gadis itu. Yasmin sedikit terkejut melihat keberadaan Seno di kamar itu yang tidak ia perkiraan sebelumnya. Enri memeluk kaki Yasmin yang berbalut celana panjang. Ia begitu senang gadis itu mengunjunginya di kamar. "Ini, Mama bawa apa ...." Yasmin mengangkat plastik belanja di tangan. Enri menengadahkan kepala. "Apa?" Yasmin menurunkan plastik belanja itu dan memperlihatkan isinya. "Mama bawa buku gambar dan krayon." "Apa?" Kedua mata bocah itu membulat dengan mulut menganga. Ia tidak tahu benda apa yang dibawa Yasmin untuknya. Yasmin mengeluarkan benda itu agar Enri mengerti. "Ini buku untuk menggambar dan ini krayon untuk mewarnai." "Yasmin, temani saja dia sebentar." Seno berdiri dan meninggalkan tempat itu. Yasmin mengangguk. Ia kemudian menarik Enri ke tempat ia bermain tadi. Walaupun bocah itu belum sepenuhnya mengerti, ia begitu antusias. Untuk pertama kalinya ia mendapat hadiah dari Yasmin. Ia berjalan setengah melompat saking senangnya. Yasmin duduk di lantai berkarpet dan mengeluarkan satu-satu barang yang dibelinya. "Ini bukunya sudah ada gambarnya ya. Tinggal mewarnai saja." Gadis itu membuka lembaran buku gambar dan mulai mewarnainya dengan salah satu krayon dari kotak krayon. "Begini. Tuh ...." Kedua bola mata kecil milik Enri memperhatikan caranya dengan seksama. Ia langsung mengambil krayon yang disodorkan Yasmin padanya. Bocah itu mulai memberi warna. Ia takjub dengan warna yang keluar dari krayon itu sesuai warna pensilnya. Kemudian ia mencoba memilih warna lain untuk mewarnai. Enri masih sembarang memberi warna dan tak sesuai dengan tempatnya tapi Yasmin tidak marah. Ia membiarkan saja si kecil mewarnai sesuai keinginannya. Bocah itu mulai asyik dengan kegiatan barunya. Sesekali ia menengadah dan tersenyum menatap wajah Yasmin. Betapa sederhananya bahagia untuk seorang anak kecil. Cukup perhatian dan diberi hadiah, pasti ia akan senang. Sebenarnya ini tidak beda dengan orang dewasa, tapi sayang, banyak orang sering mengabaikannya. Tak lama, Enri mulai mengantuk. Seorang pembantu datang tepat waktu. Ia seperti tahu jam tidur Enri sehingga datang membawa botol sussu. Yasmin menemani hingga bocah itu tertidur, sementara pembantu itu merapikan mainan Enri. Yasmin kemudian kembali ke kamar. Abi yang duduk bersandar di kepala ranjang sambil membaca buku, melirik Yasmin yang baru masuk. "Bagaimana? Dia suka hadiahmu?" "Iya, Mas. Suka." "Syukurlah." Abi kembali tenggelam dengan bukunya. Yasmin mengambil pakaian dan handuk lalu melangkah ke kamar mandi. Namun belum lama masuk, gadis itu keluar lagi dengan handuk membalut tubuh. Tentu saja Abi terkejut. Apalagi handuk itu hanya sampai di atas lutut. Lekuk tubuh gadis itu pun terlihat karena dibalut ketat oleh handuk. "Mas, aku lupa. Sabun cairnya habis." "Oh." Namun Abi tak bergerak dari tempatnya. Ia terpana. Tubuh molek gadis itu baru pertama kali ia lihat, membuat pria itu sulit menelan ludah. "Mas, ambilin ...." "Eh, apa?" Abi tersadar. Ia segera menggeleng-gelengkan kepala menepis pikiran yang terlintas. "Oh, maaf. A-aku lagi fokus membaca tadi." Ia menepis selimut dan menurunkan kakinya. Yamin menunduk tersenyum malu. Tentu saja, ia tahu Abi barusan berbohong. Ia menerima botol sabun setelah Abi mengambilnya dari lemari penyimpanan. Abi tak bisa membohongi matanya. Tubuh ranum Yasmin membuat hasraat laki-lakinya tergoda. Ia berusaha untuk hanya melihat wajah istrinya saja, tapi tingkah istrinya yang malu-malu malah makin menggodanya. Ia sampai salah tingkah hingga membuang wajahnya ke samping. Yasmin mendapati tingkah suaminya terlihat lucu. Ia tersenyum di kulum hingga pergi ke kamar mandi sambil tetap menyimpan senyuman. 'Kalo aku godain tadi gimana ya? Apa dia langsung memelukku? Ah, Yasmin. Kamu nakal! Bagaimana kalau ia ingin melakukannya padamu, apakah kamu sanggup meladeninya?' Berpikir begitu, pipi Yasmin kembali memerah. 'Apa yang aku pikirkan? Apa aku akan meneriakinya sebagai pria cabbul? Ah ... aku tidak tahu ....' Yasmin menyentuh pipinya yang bersemu merah jambu dengan kedua tangan. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN