20. Dekat

1185 Kata
Seusai mandi, Yasmin keluar dan mendapati sang suami berbaring memunggunginya. 'Apa dia sudah tidur?' Sebenarnya belum. Sempat tadi Abi berusaha menidurkan juniornya yang tegang melihat betapa seksinya tubuh sang istri dengan hanya berbalut handuk. Berusaha berpikir normal, rasanya sia-sia. Ia baru saja selesai dengan perang kecil ini ketika Yasmin kembali dari kamar mandi. 'Ya Allah, godaan ini benar-benar bikin aku gilla!' Abi mengusap keringatnya. **** "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," sahut Seno menjawab salam Abi yang hendak pergi ke kantor. Tiba-tiba Enri turun dari kursi dan menyambangi Yasmin. "Mama, nanti beli apa lagi?" Si kecil menengadahkan kepala. Abi malah heran dibuatnya. Biasanya ia yang sekali-sekali membawakan makanan pulang untuk Enri, tapi kenapa bocah itu kini minta pada Yasmin? Padahal baru sekali itu Yasmin membelikannya sesuatu. "Eh, apa ya? Enri mau apa?" "Buku gambar lagi." "Oiya, ya udah." Yasmin mengusap kepala si kecil dengan lembut sambil melirik Clarissa agar diizinkan. Wanita itu tampak sinis tapi begitu dilirik, berusaha tak peduli. "Mama, pergi dulu ya." Saat duduk di kursi belakang bersama suaminya, Yasmin kembali bicara. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran. "Mas, kenapa Enri tidak dimasukkan ke playgroup aja? Biar dia ada teman dan tidak kesepian." "Mmh ...." Abi mengerut dahi. "Benar juga. Biar nanti aku bicarakan dengan Ayah." Sesampainya di ruang kerja. Yasmin terkejut. Ada meja baru di sisi lain ruangan. "Meja siapa ini, Mas?" Ia memutar wajahnya ke arah Abi dengan kedua mata membola. "Mejamu. Kamu diterima sebagai desainer baju Muslim wanita. Kemarin HRD telat memberi tahu, karena sudah jam pulang, jadi aku minta pegawai kantor untuk memindahkan meja ke sini, karena aku tau kamu pasti belum berani punya ruangan sendiri. Atau kamu mau digabung dengan desainer lainnya?" "Eh, di sini juga tidak apa-apa." Yasmin berhenti melangkah dan memperhatikan mejanya dengan mata bercahaya. Saking senangnya, gadis itu berbalik dan memeluk leher suami sambil memberi sapuan lembut bibirnya pada pipi sang pria. Gerakan spontan itu malah membuat keduanya terkejut. Yasmin segera melepas pelukan dan membalik tubuhnya membelakangi Abi karena wajahnya memerah seketika. Abi juga terlihat bingung. "Eh, aku kalau senang dan berterima kasih, ya gitu. Sama kakak. Eh ... terima kasih," sahut Yasmin sedikit gugup. "Eh ... iya." Entah apa yang barusan Abi katanya, ia tidak sadar. Ia hanya memikirkan sekilas, kenapa gadis itu mendarat bibirnya di pipi. Ia menyentuh pipi yang terkena sentuhan bibir merah ranum itu. 'Apa iya, dia begitu sama kakaknya?' "Apa kamu punya pacar?" Tercetus pertanyaan acak. "Mmh?" Tubuh wanita itu berputar dan kini menghadap suaminya. "Tidak." "Oh." "Kenapa?" "Eh, tidak apa-apa." Abi melangkah ke mejanya. Gadis itu pun mendatangi mejanya. Ia sibuk melihat laci dan menata barang-barang di atasnya. Abi yang duduk, menatap istrinya dengan sedikit termenung. 'Dia tidak punya pacar? Pantas orang tuanya bingung menikahkannya.' Yasmin mulai berkenalan dengan para desainer yang lainnya. Juga pembuat pola dan penjahit hingga melakukan kunjungan lapangan ditemani Abi. Abi tentu saja senang istrinya mulai punya kesibukan. **** Terdengar dering telepon ketika keduanya tengah bercakap-cakap di atas ranjang. Abi mengambil ponselnya yang berada di atas meja nakas. "Ayahmu, Yasmin." Ia segera mengangkatnya. Yasmin tak ingin mengganggu, karena itu ia turun dari ranjang. Ia melangkah keluar karena haus. Setelah minum ia bergerak kembali ke kamar. "Yasmin." Walaupun pelan Yasmin tahu, suara siapa itu. Ia menoleh. "Ayah? Ada apa?" "Kenapa kau menikah dengan Abi? Apa karena Abi kaya? Apa benar kamu korban perkossaan?" Seketika tubuh Yasmin gemetar. Dari mana Seno tahu tentang hal ini? Abi takkan mungkin memberi tahu sebab mengatakan pada Clarissa saja ia dilarang. Terlebih mendengar orang tahu cerita ini saja dirinya merasa terhina. Ia masih trauma. Yasmin kembali merasa rendah diri. "Eh ...." Kepalanya tertunduk. "Kalau kamu berniat mengharapkan kekayaannya, lupakan. Cepat atau lambat Abi akan mengetahui dan meninggalkan kamu. Aku bisa memberimu 10 miliar, agar kamu bisa menikah dengan orang lain, tapi kalau kamu bertahan, aku pastikan kamu tidak mendapat apa pun dari Abi." Seno memulai ancamannya. Yasmin terkejut. Apa maksud perkataan Seno sebenarnya? "Aku tidak ...." "Yang melakukan itu padamu, tetanggamu, 'kan? Apa menurutmu aku percaya karanganmu itu? Bisa saja, selama ini kau sudah biasa melakukannya dan kebetulan saja orang tuamu memergokimu," ucapan Seno yang secara tidak langsung mulai mengintimidasi. Mata Yasmin membulat sempurna. "Tidak ... itu tidak benar!" Kepalanya menggeleng. Air matanya hampir jatuh. "Kau pikir aku percaya?" Pandangan mata pria itu menusuk seakan menghinanya. "Aku percaya!" sahut Abi dari lantai atas. Ia bergegas turun. Seno terperangah. Ia tak menyangka menantunya mendengar. "Abi ... kau harus waspada ...." "Waspada tentang apa? Jangan menyamaratakan semua wanita seperti anakmu!" "Tapi pergaulan anak sekarang ...." "Aku tau wanita seperti apa yang aku temui. Maaf, tapi aku tau seperti apa Clarissa di luar sana! Bergonta-ganti pacar setiap waktu! Jangan pikir aku tidak tau! Tapi jangan samakan Yasmin dengan wanita seperti itu, Ayah! Yasmin itu korban! Bukan keinginannya jadi seperti itu. Kalau kau tanya padaku, aku mencintainya. Karena itu aku menikahinya. Apa itu tidak jelas bagi Ayah? Kalau Ayah berkeras ingin mengusir kami berdua keluar dari rumah ini pun aku tak menyesal, karena Yasmin menikah denganku juga bukan karena harta!" Abi menoleh pada istrinya yang nampak terdiam dengan tubuh menggigil. Diraihnya pinggang ramping sang istri dengan cepat hingga tubuh gadis itu menabrak dadda bidang suaminya. Untung dengan reflek gadis itu menahannya dengan kedua tangan. Ia pun sedikit terkejut dengan gerakan suaminya yang tiba-tiba. "Kau tidak apa-apa, Sayang?" Yasmin mengangguk gugup. Demi agar terlihat mereka saling mencintai, Abi menarik kepala sang istri dan menekannya ke dadda bidangnya. Yasmin yang sedang rapuh, ikut saja apa yang dilakukan Abi padanya. Bahkan ia memeluk pinggang suaminya. Ia benar-benar butuh pelukan. Abi bisa merasakan gadis itu pasti terluka. Ia memeluk gadis itu dengan lembut. Seno bisa melihat, keduanya memang saling mencintai, tapi ia masih menyangsikan ketulusan Yasmin. "Jadi, apa kau ingin kami angkat kaki dari rumah ini? Malam ini juga akan kami lakukan!" Abi mulai emosi. "Eh, Abi ... bukan begitu. Eh, ya sudah. Maafkan, Ayah. Anggap Ayah tidak pernah bicara seperti ini ya." Seno bingung. Ia begitu takut, Yasmin akan menguasai Abi tapi Abi melindungi gadis itu. Mau tak mau ia harus menerima Yasmin atau ia akan kehilangan menantu terbaiknya ini. Tiba-tiba pintu depan terbuka. Clarissa masuk dalam keadaan mabuk. Ia tak bisa berjalan lurus. "Rissa ... lagi-lagi kamu mabuk! Apa kau tak jera dengan masalah yang kau buat, hah!" Kembali Seno marah-marah. Saat itu, Abi melepas pelukan. Gadis itu mengangkat wajahnya. "Kita ke atas, yuk," ajak Abi dengan lembut. Yasmin yang sedikit menunduk, menganggukkan kepala. Abi meraih bahu gadis itu dan menariknya agar ikut bersamanya menaiki tangga. Ia sudah tak peduli lagi bagaimana Seno melampiaskan rasa kesalnya pada Clarissa karena tak kunjung berubah. Sesampainya di dalam kamar, Abi mendudukkan Yasmin di tepi ranjang. Rupanya gadis itu mulai menangis. Pria itu langsung duduk di sampingnya dan Yasmin mengeluarkan semua kegundahan hatinya. Kemarahannya. "Kenapa semua orang menyalahkanku? Apa salahku ... hu huu ...." Air mata gadis itu berlomba jatuh. "Maafkan aku. Aku tidak tau mertuaku bisa sejahat itu. Lain kali, takkan kubiarkan siapa pun menyakitimu. Maafkan aku." Melihat ketulusan di wajah suaminya, Yasmin berhambur memeluk pria itu. Ia menangis di d**a bidang sang suami sejadi-jadinya. Abi yang tak tega, hanya bisa memeluk kembali tubuh lemah itu. Ia mengurut punggung istrinya dengan lembut. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN