Tak ada yang bisa menghentikan gadis itu menangis hingga akhirnya ia berhenti dengan sendiri. Saat itu ia sudah tenang. Gadis itu sudah melampiaskan semua perasaannya di depan sang suami sehingga kini ia bisa menyudahi. Ia lega suaminya selalu berada di sisinya apa pun yang terjadi.
Hanya Abi yang selalu rela melakukan apa pun untuknya. Tidak ada orang lain yang bisa seikhlas itu. Bahkan orang tuanya sendiri hampir menjerumuskannya dengan menikahkan ia dengan pelaku pelecehan itu sendiri. Lalu bagaimana mungkin ia bisa melepas pria itu jauh darinya? Hanya pria ini yang mengerti dirinya, hanya pria ini yang selalu ada untuknya.
"Kamu mau keluar lagi, gak?"
Yasmin menggeleng.
"Kalau begitu kamu tidur ya. Jangan pikirkan apa-apa lagi."
Yasmin mengangguk. Keduanya bergeser dan masuk ke dalam selimut. Namun saat Abi menaikkan selimutnya, Yasmin memeluk lengan sang suami. Abi membiarkan saja gadis itu melakukannya selama istrinya merasa nyaman. Ia merapikan selimut dan memejamkan mata. Sebenarnya pria itu juga merasa senang. Apalagi saat sang gadis menyandarkan kepalanya di bahu. Abi serasa memiliki Yasmin seutuhnya, setidaknya untuk malam ini. Serasa sedang bermimpi.
****
Pagi itu, Yasmin dan Abi turun dari lantai dua tapi langsung ke arah pintu depan. Keduanya mengucapkan salam. "Assalamualaikum."
"Abi, kamu mau ke mana?" Seno terlihat panik. Pakaian keduanya seperti hendak ke kantor tapi tidak duduk dulu untuk sarapan. Padahal ia ingin bicara dengan Abi tentang prihal tadi malam.
"Ke kantor. Kami sarapan di sana saja," jawab Abi dingin. Ini demi agar Yasmin merasa nyaman. Ia tidak mau gadis itu berbicara dengan Seno agar dapat sarapan dengan tenang.
Tiba-tiba Enri turun dari kursi dan mendatangi Yasmin yang tampak muram dan tak mau melihat wajah siapa pun. "Mama ... Mama mau ke mana?" Ia memegangi kemeja Yasmin yang sedikit panjang.
Gadis itu hanya menatapnya dingin. Bocah itu merasakan sesuatu. Ia menggenggam baju Yasmin erat-erat.
"Eh, Enri. Mama mau ke kantor." Abi menarik bocah itu tapi Enri tak mau melepaskan.
Enri bahkan merengek. "Ikuut ...."
"Gak bo—"
Tiba-tiba tangan Yasmin meraih tubuh Enri dan menggendongnya. Ia melangkah ke pintu.
Abi sempat melongo melihat apa yang dilakukan istrinya. Namun kemudian ia mengikuti Yasmin dari belakang.
Seno bingung. Ia melirik anaknya yang terlihat tak peduli. "Kamu ini sama sekali tidak membantu. Apa kau akan membiarkan saja Abi pergi dengan Yasmin setiap hari?! Kamu tidak takut bila keduanya pergi dari rumah ini?!" Ia begitu geram.
Clarissa hanya melirik sang ayah kemudian berdiri. Ia masih mengunyah tapi langsung mengambil gelas jus dan meminumnya sedikit. "Sudah, Ayah. Jangan jejali aku dengan begitu banyak pikiran aneh karena kepalaku masih pusing ...," gerutunya sambil menyentuh kepala. Kemudian melangkah pergi.
Seno yang sendirian di meja makan hanya bisa merengut kesal dan menghela napas panjang.
Selama di perjalanan, Yasmin hanya diam. Enri pun seperti tahu ada yang membuat gadis itu gundah hingga hanya menyandarkan kepala ke dadda Yasmin dan sama-sama melihat ke arah jendela. Tingkah keduanya membuat Abi bingung karena sepertinya keduanya saling mengerti satu sama lain.
Tiba-tiba terlintas pikiran untuk pergi ke suatu tempat. Abi mencondongkan tubuhnya ke depan. "Markus, kita ke pantai saja."
"Baik, Pak." Sopir itu kemudian memutar setirnya berbalik arah.
Enri dan Yasmin menoleh bersamaan.
"Eh, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bekerja," sahut Abi sambil membuka satu-satu kancing jasnya.
"Ke pantai?" Yasmin yang sedari tadi diam, mengerut kening.
"Kita bersantai sejenak ya. Libur sehari 'kan tidak masalah. Daripada dipaksa bekerja tapi pikiran tak bisa diajak kerjasama. Enri juga pasti senang karena dia belum pernah ke sana." Abi melirik Enri dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Bocah itu menatap ke arah Abi dengan pandangan ingin tahu. "Pantai?"
****
"Wiihh ...." Kaki kecil Enri yang putih terlihat karena memakai celana pendek, berlari-lari ke arah air laut yang datang, tapi terjatuh karena hempasan air laut yang mendorong dirinya ke belakang. Bajunya basah tapi bocah itu malah tertawa.
"Enri ...," sahut Yasmin lirih. Ia membiarkan saja bocah itu bermain sendiri walau berdiri tak jauh dari Enri karena ombaknya tidak besar. Ia menoleh ke arah sang suami yang duduk di sampingnya. "Sepertinya kita harus beli pakaian ganti untuk Enri." Gadis itu kemudian duduk di pasir.
"Kamu mau tinggal di sini?"
"Apa?" Yasmin kembali menoleh pada Abi. Kerudungnya sedikit berkibar dihembus angin siang itu. Ia memegangi ujung kerudungnya yang bergerak ke belakang.
"Tidak apa-apa kalau mau menginap di sini. Aku tak masalah." Abi menatap lurus ke depan. Ia meletakkan kedua tangannya yang menggantung di lututnya yang dilipat ke atas.
Yasmin menatap suaminya. "Nanti kerjamu bagaimana? Enri sussunya bagaimana?"
Abi memutar kepalanya membalas pandangan mata istrinya yang masih sendu. "Kamu tak usah pusing. Dunia takkan matti walau kita tinggal sehari. Pekerjaan akan selalu ada, walaupun kita ada atau tiada, lalu kenapa kalau kita ingin meninggalkannya barang sejenak? Pekerjaan itu takkan pernah ada habis-habisnya kecuali kamu menghentikannya. Jangan mengejar dunia, kalau pikiranmu sendiri tidak tahu ada di mana. Bekerja butuh fokus. Kalau tidak bisa berarti butuh liburan. Bukankah kamu hidup, selain bekerja juga karena ingin menikmatinya?"
Yasmin tersenyum walau dalam kepahitan. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Abi dengan nyaman. "Terima kasih."
"Itu gunanya punya suami."
Yasmin terkekeh.
"Aku juga butuh ini. Selama bertahun-tahun aku merasa baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Aku menyadarinya melalui dirimu. Aku berusaha bilang pada diri sendiri bahwa aku baik-baik saja, padahal aku hanya tak bisa menangis seperti kamu. Sekarang, aku punya teman untuk meliburkan otakku sebentar. Aku bisa bersantai tanpa perlu memikirkan apa pun."
Yasmin menggeser tubuhnya mendekat. Kali ini ia memeluk lengan Abi dengan dengan hangat. Ternyata sang suami juga sama depresinya dengan dirinya. Hanya sekilas ia tampak baik-baik saja. Entah bagaimana ombak yang tengah berdebur di dalam hatinya. Yang pasti Yasmin juga tidak sendirian merasakan stres ini. Ada orang lain juga yang entah bagaimana susahnya menjalani hidup di tengah keluarga yang benar-benar membuat orang lain depresi.
Tak lama Enri membersihkan diri dan berganti pakaian dengan pakaian yang dijual di sekitar tempat itu. Pakaian murah, kemeja dengan gambar warna warni yang menyala tapi Enri suka.
Mereka kemudian sholat dan makan siang di hotel. Terlihat sekali Enri menikmati jalan-jalan kali ini karena sebelumnya ia jarang keluar rumah. Ia berlari-lari di ruang makan dan bolak-balik ke meja Yasmin dan Abi. Ia bisa merasakan bagaimana punya ayah dan ibu yang akur seperti anak-anak lainnya yang kebetulan ada di sana.
"Enri! Ayo, jangan lari-lari terus nanti kamu muntah. Ayo duduk yang manis dan makan di meja." Abi menarikkan kursi untuknya.
Bocah itu berlari-lari datang dan dibantu naik ke kursinya.
"Aduh, baru mandi udah keringetan lagi." Abi mengusap dahi bocah itu yang sudah basah. "Ayo makan." Ia merapatkan kursi si kecil ke meja.
Yasmin yang sedang makan hanya tersenyum melihat tingkah bocah itu yang tak bisa diam. Enri mengambil garpu dan menusuuk sosis yang berada di piringnya. Walau agak sulit tapi ia berusaha untuk bisa. Abi memang mengajarkan agar dari kecil Enri bisa melakukan segalanya sendiri.
"Nanti sussunya bagaimana?" Yasmin melirik suaminya.
"Gampang. Minta tolong orang hotel untuk menyiapkannya. Mereka pasti mau asalkan dibayar."
Yasmin tersenyum lebar. "Ok."
****
Pintu diketuk. Seno membuka pintu kamar dan terlihat pembantunya Indah, di depan pintu.
"Maaf, Tuan. Ibunya Tuan Abi datang."
Bersambung ....