"Apa?" Sedikit terkejut tapi Seno keluar dan menutup pintu. Ia mendatangi ruang tamu. Di sana ada dua orang wanita yang memakai kerudung menatap ke arahnya. "Oh, ibu Kae."
Wanita paruh baya itu berdiri. "Assalamualaikum, Pak. Apa kabar?"
"Waalaikumsalam. Baik, Bu. Silahkan duduk." Seno duduk di kursi lain dengan senyum lebar. "Maaf, Abi belum pulang sama istrinya, tapi mungkin sebentar lagi ...."
"Istrinya?" Mama Kae mengerut kening. "Maksudnya, anakmu, 'kan, Pak?"
Seno melihat wajah besannya dengan raut kebingungan. Ia mencurigai sesuatu. "Apa ibu tidak tahu Abi sudah menikah lagi?"
"Menikah lagi?" Kedua bola mata Kae melebar. "Maksudnya, dia punya istri lagi, begitu?" Ia melirik tajam lewat sudut matanya pada anak perempuannya, di samping. "Lily."
Wanita cantik berkerudung hijau itu tampak membulatkan kedua mata. Ia menggeleng kepala pelan. "Tidak, Ma, aku tidak tahu." Segera ia mengambil ponsel di dalam tas dan menghubungi seseorang.
Sementara itu, di tempat lain, Abi akan check in di sebuah hotel dan sedang dalam antrian. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengangkat karena tertera nama sang kakak, Gio. "Halo, Kak."
"Abi, kau di mana?" Gio berbicara cepat.
"Di luar, Kak. Kenapa?" Abi terlihat bingung.
"Cepat pulang! Mama ke Jakarta! Dia sudah ada di rumahmu!"
Bagai disambar petir, pikiran pria itu sempat kosong. Sekarang, bagaimana? Ia harus cepat pulang untuk menyelesaikan masalah ini.
Ia keluar dari barisan dan segera menemui Yasmin yang sedang menunggunya di sofa lobi. Gadis itu tengah memangku Enri yang mulai mengantuk. "Oh, Mas. Bagaimana? Dapat kamarnya?" Yasmin sudah tersenyum senang.
"Maaf, Yasmin. Sebaiknya kita pulang saja. Ibuku datang dari Lampung. Sekarang berada di rumah. Aku belum memberitahunya kalau kita sudah menikah. Aku takut mertuaku yang lebih dulu cerita."
Yasmin tampak terkejut dan cemas. "Jadi?"
"Jangan khawatir, Yasmin. Aku yang akan bicara. Sebaiknya kita pulang dulu." Abi segera menelepon sopirnya.
Tak lama mereka dalam perjalanan pulang. Abi melihat istrinya yang tampak cemas. Ia menggenggam tangan Yasmin yang berada di pangkuan. "Yasmin, jangan takut. Mama memang galak, tapi ia pasti bisa mengerti."
"Aku cemas karena Mas juga dari tadi gelisah," ujar Yasmin menerangkan keresahannya. Ini juga untuk pertama kali ia akan bertemu orang tua Abi. Entah bagaimana penerimaannya, tapi kenapa Abi belum cerita pada orang tuanya? "Apakah ayahmu juga galak?"
Seketika mata lelaki itu redup. "Papa baru meninggal. Karena itu aku belum berani bicara mengenai pernikahan itu, tapi percayalah aku memang berniat memberitahu Mama tentang pernikahannya kita. Hanya saja menunggu waktu yang tepat." Ayah Abi adalah pria yang lembut. Andai ayahnya masih ada, Abi takkan secemas ini memikirkan bagaimana menghadapi sang ibu.
"Sekarang sepertinya sudah waktunya ...." Yasmin menghela napas pelan dan bersandar.
Abi menatap ke arah wajah istrinya yang nampak kecewa. Ia telah mengecewakan Yasmin. "Maafkan aku, Yasmin. Kembali aku menempatkanmu dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Harusnya aku bisa membuatmu tenang." Ia kecewa pada dirinya sendiri.
'Sepertinya aku tidak bisa terus bergantung padanya. Memang benar bahwa bergantung pada manusia hanya berujung kecewa. Ya Allah, bisakah aku bergantung padaMu?' Yasmin tidak ingin menyalahkan suaminya. Apa yang sudah suaminya usahakan, ia syukuri. Selebihnya ia hanya bisa bergantung pada keberuntungannya. Bukankah dari awal sang suami juga menyemangati dirinya agar bisa mandiri? Sekarang saatnya untuk membuat suaminya bangga.
Yasmin meraih tangan suaminya yang masih menggenggam tangannya yang satu lagi. Pria itu terkejut dan kembali menatap ke arah sang istri.
"Mudah-mudahan kita bisa melalui ini bersama-sama, Mas." Yasmin memberikan senyuman yang menyejukkan.
"Yasmin ...." Kedua mata Abi berkaca-kaca.
****
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Senja baru saja berlalu, meninggalkan langit gelap dengan sedikit bintang. Abi meraih Enri yang tertidur di pangkuan Yasmin. Ia menggendong dan membawanya keluar. Yasmin mengikuti dari belakang.
Pintu terbuka oleh seorang pembantu. Mereka masuk ke dalam. Di ruang tamu sudah menunggu sang ibu dan kakak perempuannya, Lily dengan pandangan bertanya-tanya saat melihat Yasmin. Yasmin sedikit menundukkan pandangan.
"Assalamualaikum." Abi dan Yasmin berucap.
"Waalaikumsalam," ucap semua yang ada di ruangan.
Abi memberikan Enri pada seorang pembantu dan mendatangi ibunya. Ia menccium tangan sang ibu dengan santun. Suasana tegang tapi Yasmin tetap mengikuti suaminya menciium tangan Kae.
Karena ada Seno yang duduk sambil melihat semua orang, Abi meraih tangan ibunya sambil berbisik. "Ma, bisakah kita bicara di kamarku? Bersama Yasmin?"
Kae melirik Yasmin yang terlihat cemas. "Baiklah." Ia menoleh pada Lily. "Lily, kamu di sini sebentar."
Abi menarik tangan ibunya untuk menaiki tangga dengan Yasmin mengekor di belakang. Gadis itu berdebar-debar entah bagaimana pikiran mertuanya pada dirinya.
Di dalam kamar, Abi mendudukkan ibunya di tepi ranjang. Seketika ia berlutut di lantai membuat sang ibu dan Yasmin terkejut. "Mama, aku minta maaf. Aku seharusnya memberi tahu Mama tentang pernikahanku, tapi pernikahan ini mendadak karena suatu kondisi. Aku belum cerita karena tidak ingin membuat Mama cemas karena baru ditinggal Papa. Aku memang berniat menceritakannya, percayalah padaku, Ma." Abi dengan wajah mengiba.
Kae menatap wajah anak satu-satunya itu dengan pandangan masih bertanya-tanya, kenapa ia menikah terburu-buru? Abi adalah darah dagingnya, berbeda dengan Lily yang anak suaminya dan Gio yang anak angkat, karena itu ia sangat berhati-hati dalam membesarkan Abi.
Kae ingat kembali pesan almarhum suaminya sebelum meninggal. 'Jangan mudah emosi. Kita sudah membesarkan anak-anak dengan baik dan anak kita telah menjadi anak-anak yang baik. Kelak bila terjadi sesuatu dengan mereka, dengarkanlah alasannya sebelum kamu memutuskan untuk mendukungnya atau tidak.'
Kae menatap ke arah Yasmin yang seketika menunduk. Gadis itu masih muda dan cantik. Kali ini Abi mendapatkan istri yang terlihat santun dan berkerudung. Apa ini pilihan hatinya? Tapi bukankah ia sudah menikah dengan Clarissa? Walaupun pernikahan karena utang keluarga, seharusnya Abi cukup menikah dengan satu istri daripada menikah lagi karena hanya menyakiti hati istri pertamanya saja. "Abi, apa kamu sudah izin dengan Clarissa?"
"Belum, tapi bukan itu masalahnya."
"Abi, kamu menyakiti hati istrimu. Kamu ...."
"Dengar dulu, Ma." Tiba-tiba tangan Abi meraih tangan ibunya dan berdiri. "Yasmin tidak menyukai calon suaminya, karena itu aku menikahinya."
Kae melirik kesal pada Yasmin, lalu bicara pada anaknya. "Ya tapi itu bukan urusanmu, Abi!" jawabnya ketus.
Saat itu juga, hati Yasmin terluka. Air matanya langsung luruh. Ia berusaha menahan air mata itu, tapi tubuhnya malah gemetar.
"Mama, dengar dulu!" Abi berusaha menahan suaranya yang hampir meninggi. "Yasmin itu korban pelecehan, Ma ...." Suaranya parau menahan agar Kae tidak menyalahkan Yasmin.
Kae kembali menoleh ke arah Yasmin dengan mata melebar. Gadis itu menunduk menahan tangis. Air matanya sudah jatuh ke lantai.
Kae bangkit dari duduknya dan mendekati Yasmin. Gadis itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Tiba-tiba tangan wanita itu bergerak pelan dan meraih tangan Yasmin dengan lembut dan menggenggamnya. "Maafkan Mama ya, Mama tidak tahu."
Gadis itu mengangkat kepalanya. Pipinya sudah basah dengan air mata. "Maafkan aku juga, Bu ...."
Seketika Kae memeluknya. Saat itulah tangis Yasmin pecah. Ia menangis dengan bahu berguncang dalam pelukan sang mertua. Kae mengusap lembut punggung Yasmin membuat tangis gadis itu mulai reda. Yasmin merasakan hangatnya pelukan sang ibu mertua padanya.
"Yang kuat, ya. Hidupmu masih panjang. Masa depanmu pasti lebih baik. Berjuanglah."
Yasmin mengangguk. Kae melepas pelukan. Abi pun lega.
Kae menghapus air mata menantunya itu dengan hati-hati sambil menatap kedua matanya. "Semoga kamu bahagia."
Yasmin tersenyum dan menganggukkan kepala.
Kae kemudian memutar kepalanya ke arah Abi. "Lalu bagaimana dengan Clarissa?"
Bersambung ....