"Clarissa?" Abi melirik Yasmin. Demi agar ibunya tidak salah paham lagi pada Yasmin, ia terpaksa berterus terang. Sesuatu yang selama ini ia pendam, sendirian. Dengan berat hati, ia mengusap wajahnya yang tirus, dan menghela napas pelan. Pria itu lalu mulai bicara. "Clarissa tidak mencintaiku, Ma. Aku sudah berusaha tapi dia malah membenciku." Lagi-lagi menghela napas. Ia malu mengakui ini.
Yasmin dan Kae terkejut mendengar kenyataan ini. Jadi, bagaimana caranya mereka hidup di dalam rumah itu bersama?
"Bagaimana bisa? Kalian 'kan sudah menikah lama?" tanya Kae tidak mengerti.
"Aku sudah mencobanya, tapi Clarissa memang tidak menyukaiku, Ma."
'Jadi selama ini, yang ditampilkan Clarissa, mesra dengan Abi itu bohong? Semuanya bohong?' Yasmin mulai melihat, kenapa Abi dan Clarissa tidak pernah harmonis. Ia pikir, Abi selalu bersamanya karena ingin melindunginya dari Clarissa dan Seno.
"Kalau sudah begitu, kenapa dipertahankan? Bukannya Mama menganjurkan hal yang buruk padamu ya, Bi, tapi kalau tidak bahagia, kenapa masih diteruskan? Pernikahan itu seumur hidup, lho. Ibadah yang panjang." Mama menasehati.
"Aku tahu. Tapi masalahnya, ini antara aku dengan ayah Clarissa, Ma. Ini tidak ada hubungannya dengan Clarissa, sama sekali. Aku dibayar untuk menikahinya, dan aku tidak bisa begitu saja membatalkan, atau aku harus mengembalikan uang 90 milyar itu, Ma. Sedangkan aku tak punya uang sebanyak itu. Bagaimana caranya?" Abi mendengus resah.
Yasmin merasa bersalah. Jika saja pabrik kain milik ayahnya tidak terbakar, suaminya pasti takkan kehilangan banyak uang untuk ditabung. Itu pun jumlahnya masih jauh dari angka 90 miliar, pastinya.
Kae menghela napas panjang. Ia pun tidak punya solusi akan hal ini. Namun ia juga kasihan dengan anaknya Abi yang harus menanggung beban ini sendirian. "Kamu tidak bisa minta tolong dengan Gio, Bi? Aku dengar dia sedang banyak proyek baru."
"Ma, 90 miliar ... Kak Gio pun bingung mendengar ini. Dia hanya sanggup menyicil, tapi itu tidak mungkin."
Kae menatap Abi dengan perasaan sedih. Tentu saja, hati ibu mana yang tak teriris mendengar hidup anaknya yang tak bahagia. Ia sudah melihat pengorbanan Abi pada keluarga dan ia berharap Abi bahagia dengan Clarissa, tapi ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Apa menikah dengan Yasmin adalah bentuk pelariannya dari rumah tangganya yang tak bahagia?
Kae menyentuh bahu Abi dan mengusapnya pelan. "Dan kau kini menikah dengan Yasmin, punya dua istri, apa kamu sanggup? Apa tidak berat bebanmu?"
Yasmin mendengar kata 'beban' jadi semakin merasa bersalah. 'Apakah aku bebannya?'
"Oh, tidak." Wajah Abi yang tadinya melankolis tiba-tiba berubah jadi bersemangat. Ia bergerak mendekati Yasmin dan berdiri di depannya menghalangi pandangan sang ibu seolah-olah berusaha melindungi gadis ini. "A-aku dan Yasmin mulai dekat seperti teman."
Kae mengerut dahi melihat perubahan Abi pada Yasmin. Namun akhirnya ia tersenyum mengerti. "Teman, ya?" Ia menatap Abi yang tampak siap membela Yasmin.
Bola mata Abi bergerak-gerak kebingungan. Ia tidak ingin salah satu dari mereka salah mengartikan. "Eh, aku sekarang jadi punya teman bicara."
Yasmin bingung dengan pernyataan suaminya dan memiringkan kepala ingin melihat raut wajahnya saat berkata demikian.
Kae masih mengerut dahi, tapi tersenyum menahan tawa. 'Sepertinya Abi menyukai gadis ini, tapi mungkin masih pendekatan. Hah ... kenapa dengan mata tuaku ini? Kenapa aku tidak menyadarinya? Tak apalah, waktu mereka masih banyak. Toh, mereka sudah menikah. Tidak ada lagi yang menghalangi. Mudah-mudahan mereka sehati.' "Em, baiklah."
Terdengar adzan magrib berkumandang. "Ayo, kita sholat dulu. Sudah waktunya magrib."
"Nanti setelah ini, kita makan malam bersama ya, Ma." Abi menggenggam tangan ibunya dengan hangat.
Kae tersenyum dan menganggukkan kepala pelan.
****
Baru saja semua orang duduk mengelilingi meja makan, terdengar suara tangisan dari lantai atas. Semua orang menoleh dan ternyata ada Enri yang baru bangun dan keluar kamar. Ia merasa ditinggal karena semua orang sedang ingin makan. "Papii ...!" isaknya.
Abi segera berdiri. "Biar aku ambil." Dan ia bergerak ke tangga.
Kae melihat ke arah lain mencari seseorang. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Seno. "Di mana anakmu?" tanyanya dingin. Dulu ia sedikit segan pada Seno, tapi mendengar cerita Abi, ia jadi kehilangan rasa hormatnya karena Clarissa.
Seno jadi sedikit canggung. "Eh, mungkin dia masih sibuk arisan." Ia mencoba menutupi keberadaan Clarissa. Hubungan besanan keduanya memang tidak begitu dekat tapi berusaha saling menghormati karena Kae melihat Seno menghargai anaknya dan Seno menghargai Kae karena orang tua Abi, tapi diluar itu hubungan mereka sangat dingin.
"Mmh ... anak papi sudah bangun." Abi yang datang menggendong Enri, menggodanya dengan mencolek hidung mungilnya. Pipi bocah itu langsung menggembung karena ngambek.
Setelah mendekati meja, Enri malah menyodorkan kedua tangannya pada Yasmin. "Mama ... gendong ...."
"Kok, jadi ke Mama sih?" Abi masih meledeknya.
"Mamaa ...," rengek Enri lagi.
Yasmin terpaksa mengambilnya, walau Abi tersenyum lebar si kecil minta digendong istrinya.
Abi mulai bisa tersenyum lega. Seakan bebannya sudah mulai berkurang. Ternyata berbagi cerita pada Yasmin dan sang ibu membuat hatinya sedikit ringan. Apalagi, ia sudah menceritakan tentang pernikahannya yang mendadak dengan Yasmin, dan ibunya merestui. Tinggal sisanya menjalankan takdir yang yang sudah ada.
Kae melihat kedekatan Yasmin dan Enri yang tidak biasa. Apalagi ia tahu betul Enri tidak pernah manja begitu pada ibu kandungnya. Ia bisa merasakan, Yasmin pastilah bukan orang yang suka berpura-pura, apalagi disenangi anak istri pertama Abi. Anak kecil pastilah tidak pernah berpura-pura dengan perasaannya sendiri, bukan?
"Mama, mau itu." Enri menunjuk makanan yang ada di meja.
"Mau itu? Tapi duduk di kursi ya." Yasmin dengan lembut mengajari. Ia tidak lupa dengan ajaran sang suami agar Enri tetap mandiri.
Bocah itu mengangguk. Ia didudukkan di kursi di samping Yasmin.
"Ibu, ayo diambil lauknya." Yasmin menawarkan dengan sopan pada Kae.
"Panggil Mama aja," ralat Kae pada Yasmin.
"Eh, iya. Mama." Yasmin terlihat malu-malu.
"Biar aku ambilkan," sahut Lily di samping.
Seusai makan malam, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing. Di kamar, Lily bertanya pada ibunya. "Ma, apa Mama merestui pernikahan Abi yang kedua ini?"
Kae menghela napas pelan. "Habis mau bagaimana? Abi itu susah dilarang kalau sudah niat."
"Istrinya yang baru bagaimana, Ma?" Lily menggeser duduknya yang berada di atas ranjang ke hadapan sang ibu.
Kae meliriknya dan terdiam sebentar. "Sebenarnya Abi berniat menolong Yasmin. Dia korban pelecehan dan akan dinikahkan dengan yang melecehkan."
"Astaghfirullah alazim." Lily menutup mulut dengan jemarinya yang lentik. "Tapi emang orangnya cantik sih, Ma."
"Itu yang Mama pikirkan. Yasmin kebetulan sangat cantik dan Mama dengar hubungan adikmu dengan Clarissa juga buruk."
"Tapi 'kan harusnya cerai dulu. Iya, 'kan, Ma?" Lily menyipitkan mata indahnya.
"Masalahnya adikmu itu dibeli dengan harga 90 miliar. Abi tak bisa mengembalikannya, jadi terpaksa punya dua istri."
Lily menghela napas. "Iya, sih, Ma. Serba salah juga Lily sama dia. Dia udah bayar utang-utang perusahaan dan pegawai Lily sebelum perusahaannya dijual. Juga perusahaan yang dia pegang. Hasil penjualan juga untuk pengobatan Papa. Setelah menikah, hanya Gio dan Abi yang bisa membayar pengobatan Papa yang bolak-balik masuk rumah sakit. Lily udah gak bisa karena udah gak punya pekerjaan." Lily mengenangnya dengan sedih.
Kae menyentuh bahu Lily dengan lembut. "Yang penting kita sudah usahakan yang terbaik untuk Papa. Mama tidak menyesal kehilangan banyak harta, tapi berharap Abi bahagia, karena dia sudah banyak berkorban untuk keluarga." Matanya berkaca-kaca.
"Mama ...." Lily mengusap air mata ibunya yang mulai jatuh. Ia memeluk sang ibu. "Kita doakan Abi bisa bahagia dengan apa pun yang dipilihnya."
Bersambung ....