Clarissa dengan santai melihat kuku jemarinya yang terawat rapi. "Tentu saja aku tidak bisa tidur dengan sembarang orang, Ayah. Pria itu pasti pria pilihan." "Siapa dia?!" Seno geram hingga dengan erat mengepalkan kedua tangannya. Clarissa menatap wajah ayahnya dengan wajah penuh teka-teki. "Tentu saja ayah Enri, Ayah." "Apa? Siapa dia? Kau selalu menyembunyikannya. Siapa pria itu!!" Seno gemas dengan Clarissa yang bicaranya terus berputar-putar. "Aku baru mulai lagi dengannya, Ayah. Nanti kalau sudah serius, baru ...." "Serius? Apa ia mulai bertanggung jawab?" "Karena itu aku ingin berpisah dari Abi. Aku ...." "Tunggu dulu ... tidak bisa seenaknya begitu. Aku harus tau siapa dia. Tidak sembarang orang boleh jadi menantuku." Nada suara Seno mulai reda, tapi ia masih ragu. "Ayah,

