Fauzan POV
Nayla Persada Utami, sang mantan kakak ipar yang berhasil mencuri perhatiannya sejak lama. Mungkin Nayla tidak mengingat pertemuan pertama mereka. Mereka pertama kali bertemu saat Nayla hendak masuk fakultas kedokteran di universitas negeri di Jakarta. Mereka bertemu saat orientasi mahasiswa. Fauzan yang waktu itu menjadi ketua BEM memberi pengarahan kepada mahasiswa baru. Saat itu Fauzan masih cupu, masih menggunakan kacamata minus dan rambut yang sedikit berantakan. Sedangkan Nayla selalu menjadi perhatian banyak orang karena kecantikan dan kepintarannya. Fauzan jatuh hati kepada Nayla pada pandangan pertama.
Saat itu Fauzan yang merupakan mahasiswa berprestasi mendapatkan beasiswa ke Turki. Kedua orang tuanya sangat mendukung terlebih sang ibunda. Turki merupakan tempat kelahirannya. Jadi Fauzan tidak perlu menyewa flat selama menempuh S2 dan tinggal di rumah sang nenek yang berada di sana. Hanya beberapa bulan Fauzan bisa mengamati Nayla. Mahasiswa baru berjilbab yang cantik jelita.
Ada kejadian yang membekas di ingat Fauzan mana kala Nayla menolongnya. Saat itu Fauzan di panggil sang dosen untuk menghadap ke ruangannya. Karena terburu- buru Fauzan tidak melihat undakan dibawah sehingga ia tergelincir dan jatuh. Nayla yang saat itu tidak jauh dari tempat kejadian bergegas menolongnya.
Flashback
"Kakak tidak apa-apa? " tanya Nayla yang terlihat khawatir. Fauzan yang saat itu meringis kesakitan seketika menoleh ke sumber suara. Ia bahkan tidak dapat berkata-kata saat Nayla memegang lengannya untuk membantunya bangun.
"Kita mesti ke ruang kesehatan kak. Aku obati di sana ya" Nayla memapah Fauzan menuju RKM (Ruang Kesehatan Mahasiswa). Ia segera mencari kotak P3K dan mulai membersihkan lukanya. Fauzan yang sedari tadi diam akhirnya buka suara "makasih ya, kamu udah nolongin aku" Nayla tersenyum dan menjawab "sama-sama kak, lain kali kakak harus hati-hati". Nayla menutup kotak P3K-nya " Kakak perlu bantuan buat jalan?" Tawar Nayla. "Gak usah dek, ngomong-ngomong nama kamu siapa?" tanya Fauzan. Sebenarnya Fauzan sudah tau nama gadis cantik di hadapannya, ia hanya tidak tau harus bicara apa. Sekedar ingin berbasa-basi.
"Aku Nayla kak" jawab Nayla sambil tersenyum. Seakan terhipnotis dengan senyum manis Nayla, Fauzan pun ikut tersenyum. Hatinya berdesir melihat wanita cantik dihadapannya. Fauzan ingin berbincang banyak hal dengan Nayla dan ingin berlama-lama memandang Nayla.
"Nay.." terdengar suara laki-laki yang memanggil Nayla. Laki-laki itu tampan, tinggi dan berkulit putih mirip artis.
"Aku cariin kamu kemana-mana" ucapnya lagi.
"Sebentar Ray" jawab Nayla. Fauzan yang sedari tadi melihat percakapan mereka berdua merasa tidak nyaman. Apalagi melihat laki-laki lain yang dekat dengan Nayla. Seakan tidak rela."Kak aku ke kelas dulu ya, cepat sembuh" pamit Nayla. Fauzan hanya pasrah saja dan menjawab "iya"
Hari berikutnya Fauzan mencari tau tentang saingan beratnya yang diketahui bernama Rayhan Setyo Aji -mahasiswa baru Fakultas ekonomi. Anak pengusaha ternama Aji Darma. Informasi dari temannya mengatakan mereka menjalin hubungan. Bahkan Rayhan selalu mengantar jemput Nayla. Saat berada di kantin kampus Fauzan melihat Nayla sedang makan berdua dengan Rayhan. Tampaknya mereka berdua saling mencintai satu sama lain. Fauzan mundur untuk memperjuangkan perasaanya.
Fauzan yang sedang menempuh pendidikan di Turki, disibukkan dengan segala macam kegiatan. Ia berusaha melupakan Nayla. Hingga ia mendapat kabar dari kakaknya--Ridwan yang mengatakan ia ingin menikahi seorang gadis bernama Nayla. Tadinya Fauzan tidak tau jika gadis bernama Nayla itu orang yang sama yang berusaha untuk ia lupakan. Fauzan tau kalau sang kakak memang membutuhkan pendamping hidup kembali untuk menyembuhkan luka masa lalunya.
"Dek,mas mau nikah sama seseorang yang mas cintai sejak 2 tahun yang lalu" kata Ridwan di telepon.
"Akhirnya mas punya keberanian mengatakan perasaan mas dan dia juga mau nerima mas dan Danar" lanjut Ridwan. Fauzan tentu merasa senang dan bahagia. Akhirnya sang kakak mendapat seseorang yang bisa menerimanya dan Danar. Apalagi Danar anak spesial yang belum tentu perempuan mau menerimanya sebagai anak sambung.
"Aku turut bahagia ya mas,udah saatnya mas nikah lagi,udah lima tahun juga, keburu bangkotan kan ?" Goda Fauzan. Ridwan terkekeh. "Mas harap kamu bisa pulang ke Jakarta buat hadirin pernikahan mas" ucap Ridwan."Aku usahain ya mas, ngomong-ngomong calon kakak ipar ku namanya siapa?" Fauzan tentu penasaran pada perempuan yang dicintai sang kakak.
"Namanya Nayla..dia dokter" ucap Ridwan.
"Nayla?" Tanya Fauzan.
"Iya, Nayla Persada Utami" bagai di sambar petir Fauzan terdiam membisu. Ini Nayla-nya kan?ia tidak salah dengar kan? Nayla gadis cantik yang dicintainya. Yang berusaha ia lupakan tapi tidak bisa.
"Dek,you still there?"
"I__iya mas" jawab Fauzan terbata. jadi sang kakak juga mencintai gadis yang sama dengannya. Apakah Fauzan harus menerima kekalahan untuk yang kedua kalinya? Fauzan harus mundur. Ia tidak mau bersaing dengan sang kakak. Fauzan harus melupakan Nayla bagaimanapun juga.
"Dateng ya dek,masih sebulan lagi" apakah Fauzan sanggup menghadiri pernikahan orang yang dicintainya
"Maaf sepertinya tidak bisa kak,aku lagi buat disertasi S3-ku maaf ya kak" Fauzan tidak bohong, ia memang sedang menyusun disertasinya, tapi sebenarnya ia bisa saja pulang hanya tak sanggup untuk patah hati kedua kalinya."Ya udah gak apa-apa minta doanya aja "
Sejak saat itu ia berusaha menghindar dari acara pertemuan keluarga. Sebisa mungkin ia tidak pulang ke Indonesia. Ia ingin melupakan Nayla yang sekarang menjadi kakak iparnya. Hingga saat sang ayah meneleponnya dan mengatakan kalau sang kakak--Ridwan meninggal dunia. Ia tentu saja segera pulang meninggalkan segala pekerjaannya di Turki. Ia menjadi doktor termuda dan mengajar di kampusnya.
Saat sampai di Indonesia ia segera menuju tempat pemakaman sang kakak. Ia melihat sesosok gadis yang tetap cantik, gadis yang meluluhkan lantakkan hatinya bersimpuh di pusara sang kakak. Fauzan merasakan kesedihan Nayla yang luar biasa. Ia berusaha mendekati Nayla untuk mengucapkan bela sungkawa tapi saat itu Nayla hilang kesadarannya. Fauzan menangkap tubuh lemas Nayla. Ia melihat sisa air mata yang mengering. Fauzan tau kalau Nayla mencintai sang kakak ia bisa melihat Nayla begitu kehilangan sang kakak. Ia segera menggendong Nayla dan membawa Nayla menuju rumahnya.
Selama satu tahun ini Fauzan berusaha menggantikan sosok ayah untuk Danar dan Mira. Selalu ada untuk ketiga orang tersebut. Meskipun Fauzan tau Nayla masih belum membuka hati untuk laki-laki lain pasca di tinggal sang kakak. Tapi Fauzan bertekad untuk memperjuangkan cinta Nayla sekali lagi. Ia tidak akan menyerah.
Fauzan sering berkunjung ke yayasan milik kakaknya yang sekarang di kelola Nayla. Ia sering menemani Danar. Saat di rumah sang kakak, ia juga menemani Mira bermain. Suatu saat Mira akan menjadi gadis yang cantik mewarisi kecantikan sang ibu-Nayla.
Saat ini ia sedang mencari Mira yang sedang bersembunyi. Mereka bertiga main petak umpat di halaman belakang rumah sang kakak. Nayla datang dari dalam rumah memanggil mereka bertiga "Anak-anak udah yuk mainnya,sekarang makan dulu" kata Nayla.
"Mas Fauzan yakin gak makan lagi? Hari ini aku masak pindang serani" Aku tau kalau pindang serani adalah makanan kesukaan almarhum kakakku.
"Boleh deh udah lama gak makan pindang serani" jawabku cepat.
Aku melihat Nayla yang telaten menyuapi Danar sedangkan Mira disuapi pengasuhnya. Meskipun bekerja, saat dirumah sebisa mungkin Nayla tetap mengurus Danar dan Mira. Aku menatap kagum Nayla. Perempuan tangguh tapi memiliki hati yang lembut. Menjadi ibu yang luar biasa untuk anak-anak. Nayla tidak pernah membedakan kasih sayang Danar dan Mira.
"Nay besok aku mau ajak anak-anak ke Ragunan kamu mau ikut?" Tawarku pada Nayla. Hampir setiap Minggu aku membawa Danar dan Mira jalan-jalan. Apalagi Mira sangat antusias jika diajak jalan-jalan. Bocah kecil itu sekarang berusia hampir 2 Tahun.
"Boleh mas" ucap Nayla.
***
Flashback
Ini hari ke tujuh mas Ridwan meninggal. Hampir setiap hari aku datang menemuinya disini. Sambil menatap nisan kakakku tercinta. Aku teringat semua kebersamaan kami berdua. Aku dan mas Ridwan sangat dekat. Bukan berarti aku dan mas Yusuf tidak dekat. Kami bertiga dekat tapi aku paling dekat dengan mas Ridwan. Selama ini mas Ridwan selalu ada untukku. Menjadi seorang pahlawan saat teman-teman menjahiliku. Menjadi sahabat dan teman saat aku menceritakan keluh kesah ku.
"Mas, gadis yang aku cintai sepertinya mencintai laki-laki lain kayaknya aku mau nyerah aja" ucap Fauzan. Ia teringat saat Nayla dan Rayhan tertawa bersama di kantin siang tadi.
"Kamu yakin? Masak kalah sebelum perang. Kalau memang cinta ya diperjuangkan dong " timpal Ridwan.
"Mau gimana lagi, aku juga sebentar lagi mau berangkat ke Turki aku bakalan jauh dari dia" Fauzan mendengus dan Ridwan menganggukkan paham.
"Ya udah, mas yakin kalau dia jodoh kamu pasti Allah akan mendekatkan dia sama kamu. Sekarang belajar dulu yang bener habis itu langsung lamar dia" celetuk Ridwan mengacak rambut adiknya.
Saat ini ia sedang menatap sendu pusara sang kakak
"Kak, maafin Fauzan baru dateng saat kakak udah ninggalin kita semua, maafin Fauzan yang gak selalu ada buat kakak, maafin Fauzan yang lancang mencintai Nayla-istri kakak. Kak, izin kan Fauzan merawat anak-anak, izinkan Fauzan membahagiakan Nayla. Jujur sampai detik ini, perasaan itu belum hilang kak. Fauzan cinta Nayla kak. Restui Fauzan ya kak" ucap Fauzan yang mengusap air matanya. Fauzan yakin Ridwan bisa mendengarkannya. Fauzan juga yakin Ridwan mau merestuinya untuk membahagiakan Nayla dan anak-anak.