Bab 10: Kehancuran

945 Kata
Nayla tidak sadarkan diri selama hampir dua jam. Saat sampai di rumahnya, sudah banyak orang-orang dan keluarga besarnya. Bahkan sudah terpasang bendera kuning didepan rumahnya. Nayla kembali menangis tersedu-sedu. Jenazah Ridwan sudah dalam perjalanan dari Manado. Semua keluarga berkumpul bahkan ayah dan ibu Ridwan sudah berada di rumah kediamannya. Ia kehilangan sosok suami yang sabar, ayah yang baik dan bertanggung jawab dan seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Saat jenazah Ridwan sampai dan diletakkan di tengah ruang tamu barulah Nayla histeris. Ia mendekati sang suami yang sudah tidak bernyawa. "MAS BANGUN MAS!! KAMU JANJI GAK AKAN PERNAH NINGGALIN AKU SAMA ANAK-ANAK!! KAMU BOHONG!! KATANYA KAMU CINTA DAN SAYANG SAMA AKU TAPI KENAPA KAMU NINGGALIN AKU MAS!!" Nayla tidak peduli tatapan orang-orang yang menganggapnya gila. Ia mengguncang tubuh suaminya yang sudah kaku. Menumpahkan segala kesedihannya. "MAS BANGUN MAS!!!! BANGUN!!JANGAN TINGGALIN AKU!!AKU CINTA KAMU!!" Nayla menangis meraung-raung. Salsa yang ada disampingnya berusaha menenangkan sang sahabat. "Astaghfirullah Nay,jangan gitu kasihan mas Ridwan, kamu harus ikhlas" untuk yang kesekian kalinya Nayla kehilangan kesadaran diri. Kini Hidup dan hatinya hampa, seakan kehilangan pegangan. Tidak ada Ridwan dalam hidupnya lagi. Sekarang hanya tinggal kenangan. Pemakaman Ridwan diadakan sore hari. Banyak pelayat yang hadir untuk mengantarkan Ridwan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Beberapa pelayat sudah banyak yang meninggalkan pemakaman. Hanya keluarga dekat Nayla dan Ridwan saja yang masih berada disini. Sedangkan Nayla hanya memandangi pusara sang suami yang masih basah. Ia bersimpuh menatap nisan sang suami. Ingin berteriak lidahnya kelu. Menangis pun air matanya sudah kering. Ia seperti orang linglung. "Dek pulang yuk kasian Mira dan Danar" ajak mas Nando. Mbak Nanda segera menghampiri Nayla, bermaksud membantu Nayla." Nanti dulu mbak aku mau disini sebentar" ucap Nayla yang enggan meninggalkan pusara sang suami. Ibu Ridwan juga pingsan saat melihat Ridwan dimasukkan ke dalam liang lahat. Semuanya merasakan kesedihan akibat ditinggal orang yang dicintainya. Setelah beberapa hari kepergian sang suami. Nayla masih saja menutup diri. Ia hanya mengurus Mira dan Danar selebihnya ia tidak banyak bicara. Salsa yang melihat sahabatnya seperti itu merasa khawatir. Ia mengetuk pintu kamar Nayla namun tidak ada jawaban. Akhirnya Salsa memutuskan untuk masuk dan melihat kondisi Nayla. Dilihatnya Nayla sedang mengenakan mukena dan sehabis sholat. Ia berdoa agar suaminya kembali. Nayla masih saja belum bisa menerima kepergian Ridwan. Padahal hari ini sudah hampir satu Minggu sejak kepergian Ridwan. "Nay" Salsa memegang bahu Nayla. Nayla menengok kearahnya dengan mata sembab dan bengkak. Hampir setiap hari Nayla menangis dan meratapi nasib karena ditinggal Ridwan. "Nay udah!! masak kamu mau gini terus!!kamu gak kasian sama Danar dan Mira!! Mereka butuh perhatian dan kasih sayang kamu!! Aku tau kamu sedih ditinggal mas Ridwan tapi kamu juga mikirin anak-anak!!ikhlas Nay ikhlas!!" Kata Salsa dengan nada yang tinggi. Salsa ingin menyadarkan Nayla agar tidak terlarut dalam kesedihannya. Nayla harus tau kalau ada anak-anak yang butuh perhatian dan kasih sayangnya. Mira masih kecil dan Danar belum paham kalau sang ayah sudah pergi untuk selamanya. "Mau kamu nangis sampai kapanpun mas Ridwan gak akan kembali Nay karena dia udah gak ada dan meninggalkan kita selamanya,kamu harus bangkit demi anak-anak" lanjut Salsa. Ya benar apa yang dikatakan Salsa. Sampai air mata Nayla keringpun atau sampai Nayla menangis bertahun-tahunpun tidak akan pernah mengembalikan Ridwannya. Nayla sudah bertekad bukan melupakan Ridwan. Karena sampai kapanpun Ridwan tidak akan pernah tergantikan di hati Nayla. Demi anak-anak. Batin Nayla menguatkan diri sendiri. Ridwan sudah mengamanahinya untuk menjaga anak-anak mereka. Saatnya membuktikan bahwa Nayla bisa merawat dan menjaga anak-anak mereka dengan baik. Ridwan pernah bilang kalau ia adalah ibu yang luar biasa. Nayla harus kuat dan bangkit. "Makasih ya Sal,kamu menyadarkan ku meskipun mas Ridwan udah gak ada tapi ia selalu berada dalam hatiku,kamu benar, aku mesti bangkit demi anak-anak" ucap Nayla tersenyum. *** 1 tahun setelah kepergian Ridwan Nayla semakin sibuk. Selain bekerja di klinik ia juga mengurus yayasan milik sang suami. Untuk segala macam pekerjaan Ridwan, sudah diserahkan pada Fauzan--si bungsu. Fauzan sudah berada di Indonesia sejak Ridwan dinyatakan meninggal dunia. Sejak ia mendapat kabar tersebut Ia langsung berangkat dari Turki meninggalkan segala hal untuk bertemu sang kakak yang terakhir kalinya. Karena terlalu terpuruk dalam kesedihan Nayla bahkan tidak menyapa Fauzan. Bahkan ia tidak tau kalau sang adik ipar menghadiri pemakaman sang kakak. Telepon Nayla berdering dilihatnya nama sang ibu mertua "Assalamualaikum ibu bagaimana kabar ibu dan ayah?" "Waalaikumsalam Nay,ibu dan ayah Alhamdulillah baik. gimana kabar kamu Mira dan Danar?" "Alhamdulillah kami baik ibu" jawab Nayla. Meskipun mas Ridwan sudah meninggal tetapi hubungan Nayla dengan ayah dan ibu mertuanya tetap terjalin dengan baik. Bahkan saat lebaran kemarin Nayla membawa Mira dan Danar mengunjungi kakek dan neneknya di Jepara. Hampir satu jam mereka mengobrol. Nayla sudah menganggap Hansa sebagai ibunya sendiri. Mereka sering melakukan panggilan video dan selalu memberi kabar. Berulang kali sang mertua menyuruh Nayla untuk menikah kembali. Tapi hingga detik ini Nayla belum kepikiran untuk menikah. Terlalu sulit untuk menghapus kenangan mas Ridwan. Nayla tau kalau anak-anaknya membutuhkan sosok ayah. Ditambah lagi Nayla sedang sibuk membagi waktunya. Ia memutuskan untuk resign dari klinik dan fokus mengurus yayasan saja. Agar anak-anaknya tidak kehilangan kasih sayang. "Assalamualaikum" sapa seorang laki-laki yang Nayla kenal. Fauzan Al Ghifari. Adik iparnya yang tampan. Selama satu tahun ini ia sering mampir ke rumah. Bermain dengan Danar dan Mira. Menjadi sosok ayah lain untuk anak-anaknya. "Waalaikumsalam mas" balas Nayla. Meskipun Fauzan adik iparnya tetapi karena ia lebih tua dari Nayla. Ia tetap memanggilnya mas Fauzan. "Dari kantor mas? Udah makan?" Tanya Nayla. "Tadi ketemu klien di luar sekalian makan. Anak-anak kemana Nay?" Fauzan celingukan mencari keberadaan Danar dan Mira. "Mereka ada di taman belakang mas" Fauzan segera menghampiri keponakannya. Nayla menyusul dan melihat Fauzan mencium Danar dan Mira bergantian. Senyum tulus terkembang di bibir Nayla melihat kedekatan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN