"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian "
(QS Ali Imran: 185)
Sebulan setelah kelahiran sang buah hati--Nameera, Nayla harus menelan pil pahit karena sang Abah tercinta telah dipanggil kehadapan sang pencipta. Sambil memandang pusara sang Abah, Ridwan menemani istrinya yang sedang bersedih. Tidak ada firasat apapun sebelumnya. Bahkan sore harinya Nayla membawa Nameera menemui sang kakek. Mbak Nanda langsung mengambil penerbangan paling awal saat mengetahui sang Abah telah tiada. Sedangkan mas Nando semenjak Abah mengalami kritis selalu ada disampingnya.
Air mata Nayla terus saja turun mengingat sang Abah. Beruntung Ridwan selalu mendampingi Nayla.
"Ikhlas ya sayang,kasian Mira kalau kamu sedih terus,nanti dia ikutan sedih" ucap Ridwan seraya memeluk sang istri. Mengetahui kalau ia masih memiliki bayi kecil,Nayla akhirnya memutuskan untuk pamit pulang kepada kedua kakak kembarnya.
Mbak Nanda yang masih menangis tersedu-sedu bahkan tidak mampu berkata-kata. Selama ini memang mbak Nanda yang paling jauh dari sang Abah. Karena ia ikut sang suami ke Palembang. Hanya sesekali pulang.
"Mas, aku pamit pulang dulu. Nanti sore kesini lagi, Mira udah lama ku tinggal takutnya haus" pamit Nayla kepada mas Nando. "Hati-hati dek, kalau kamu capek besok aja kesininya, kasian anak-anak kamu tinggal" balas mas Nando. Nayla tentu tidak bisa meninggalkan Mira terlalu lama karena sang anak masih memerlukan asi eksklusif. Nayla lanjut menghampiri mbak Nanda "mbak, aku mau pulang sebentar, kasihan Mira, takut haus" Nanda yang masih sesegukan hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya. "Insyallah nanti sore kesini lagi".
Beberapa hari setelah kepergian sang Abah. Seorang pengacara datang untuk membacakan surat wasiat dan juga pembagian hak waris. Nayla tidak mempermasalah perihal pembagian harta. Toh menurutnya yang paling berhak adalah mas Nando karena selama ini dialah yang mengurus bisnis sang Abah. Mbak Nanda juga sepakat agar seluruh harta diserahkan kepada mas Nando. Selama ini mbak Nanda dan Nayla sudah sangat cukup mendapatkan nafkah dari sang suami.
Ridwan mengerti kalau sampai saat ini Nayla masih sering teringat sang Abah. Karena selama ini Nayla yang sangat dekat dan mengurus segala sesuatu untuk abahnya.
"Sayang,mau jalan-jalan gak? Kita udah lama gak jalan sama anak-anak" ucap Ridwan. Sejak beberapa bulan Nayla memang fokus mengurus Danar dan Mira. Ia belum kepikiran untuk kembali bekerja. Sang suami juga malah sangat setuju jika Nayla tetap dirumah menjadi ibu rumah tangga. Tapi Ridwan tidak pernah memaksa Nayla. Semua keputusan diserahkan pada Nayla. "Mau kemana mas?" Timpal Nayla.
Ridwan memikirkan sejenak rencananya dan berkata "gimana kalau ke Jepara ketemu eyang putri dan kakungnya? Sekalian ke pantai. Kan kamu katanya mau ke Bandengan"
"Boleh, udah lama gak ketemu ayah dan ibu" jawab Nayla sembari tersenyum. Mungkin memang Nayla butuh piknik dan refreshing sejenak. Ayah dan ibu Ridwan datang ke Jakarta saat sang cucu lahir. Saat Abah Nayla meninggal mereka belum sempat datang karena ayah Ridwan berhalangan hadir dikarenakan sakit.
Akhirnya diputuskan untuk pulang ke Jepara mengunjungi ayah dan ibu Ridwan. Tentu saja sang mertua sangat senang dikunjungi cucu dan menantunya. Apalagi Mira adalah satu-satunya cucu perempuan di keluarga Ridwan. Mas Yusuf dan istri mempunyai dua anak laki-laki. Sedangkan sang bontot--Fauzan belum menikah.
"Fauzan katanya mau pulang. akhirnya selesai juga S3 nya" ucap sang ayah. Jujur saja sampai saat ini Nayla belum pernah bertemu dengan Fauzan. Hanya lewat foto saja. Usia Fauzan sekarang 27 tahun terpaut 5 tahun dengan Ridwan yang sekarang berusia 32 tahun. Jika mas Yusuf mewarisi wajah sang ayah, Ridwan dan Fauzan mewarisi wajah bule sang ibu. Fauzan juga paling tampan diantara sang kakak-kakaknya.
"Anak itu hobinya belajar yah" timpal mas Yusuf. Hari ini semua anak menantu dan cucu berkumpul. Istri mas Yusuf- Risma sedang membantu ibu mertua memasak. Nayla sedang menemani Danar dan Mira bermain.
"Danar mau mam? Ibu ambilkan ya" Danar segera mengangguk. Nayla bergegas mengambilkan Danar makan siang sedangkan Mira ia dudukan di bouncher. Danar sudah mengetahui kalau ia sekarang menjadi kakak dan ia sangat senang dengan kehadiran Mira. Ridwan yang tau Nayla sedang mengambilkan makan untuk putranya. Segera mendekati anak-anaknya. Sang suami tak segan mengambil alih tugas sang istri. Bahkan Ridwan mau menggantikan popok Mira.
"Makasih ya sayang, kamu ibu yang luar biasa untuk anak-anak, aku beruntung punya kamu" ucap Ridwan yang melihat Nayla telaten menyuapi Danar.
"Sama-sama mas,aku justru yang beruntung punya suami yang sayang aku dan anak-anak. Makasih kamu selalu sabar menghadapi aku. Kamu suami dan ayah yang baik" kata Nayla jujur. Semakin hari Nayla menyadari bahwa cintanya dengan Ridwan semakin bertambah. Ridwan memang bukan suami yang romantis yang memberikan bunga atau kata-kata manis. Tapi Ridwan yang selalu ada dan mau ikut menjaga anak-anak merupakan hal yang romantis untuk Nayla. Sebulan sekali mereka mengadakan vacation bersama. Bahkan Ridwan yang tadinya gila kerja semenjak menikah mengurangi jam kerjanya dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Apalagi setelah kelahiran Mira, Ridwan lebih memilih bekerja dari rumah.
"Kalau suatu saat aku gak ada__" belum juga Ridwan selesai berbicara Nayla segera menginterupsinya dengan menutup mulut sang suami
"Jangan aneh-aneh mas. Jangan berani kamu menyelesaikan kalimat itu. Aku gak sanggup dengernya" Nayla menatap Ridwan sedih.
"Sayang,umur kita kan gak tau sampai kapan. Aku cuma ngomong kalau aku duluan yang gak ada aku bisa menitipkan anak-anak sama kamu, karena kamu ibu yang luar biasa untuk anak-anak. Aku pasti tenang" Nayla segera memeluk erat suaminya. Ia tak sanggup jika kehilangan sang suami. Seketika air matanya jatuh. Ridwan yang melihat hal tersebut segera mengusap air mata Nayla. Dia mengecup pelipis Nayla.
"Aku cinta dan sayang sama kamu Nay" pelukan Ridwan semakin erat.
"Janji jangan pernah ninggalin aku ya mas" kata Nayla. Ridwan hanya menjawab dengan tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mampu mengiyakan karena takdir tidak dapat diketahui.
Dua bulan setelah berkunjung di tempat orang tua Ridwan, Nayla memutuskan untuk kembali bekerja. Alasannya karena Mira sudah berumur 6 bulan yang mana ia sudah diberikan MPASI. Jadi Mira tidak hanya mengkonsumsi ASI saja tetapi juga makanan pendukung. Ridwan setuju saja selama Nayla bahagia. Toh dirumah ada mbak-mbak pengasuh yang sudah dipekerjakan Ridwan sejak lama. Jadi mereka berdua telah mempercayakan Danar dan Mira dengan pengasuhnya.
"Sayang,.aku mau dinas ke Manado selama 3 hari,aku diundang untuk mengisi seminar dan jadi tamu untuk yayasan Autisme di sana" ucap Ridwan yang menghampiri Nayla. Nayla tengah sibuk menyuapi Mira pure buah sedangkan Danar sedang bermain puzzle.
"Iya mas,hati-hati ya,kalau apa yang kamu lakukan bisa bermanfaat untuk banyaknya orang aku pasti mendukung kok" jawab Nayla. Ridwan tau kalau sang istri sangat mendukung kegiatan dan pekerjaannya tak heran jika semakin hari ia semakin cinta dengan Nayla. Mendapatkan istri yang paket lengkap baik, pengertian, sayang anak, pintar memasak, dan cantik jelita.
"Makasih ya sayang,kamu juga jangan capek-capek kerjanya,ini hari pertama masuk kan?" Tanya Ridwan. Hari ini memang hari pertama Nayla masuk bekerja selama cuti hampir setengah tahun. " Iya mas,aku juga udah bilang Adrian kalau masuknya seminggu cuma 3 hari aja" jawab Nayla. " Ya sudah, mas berangkat dulu, ini mau langsung ke bandara kamu jaga anak-anak ya" pamit Ridwan. Sejujurnya Nayla sedih ditinggal ke luar kota tapi karena tugas mulia sang suami Nayla akan selalu mendukung. "Kabari kalau udah sampai ya mas" ingat Nayla. Ridwan tersenyum gemas melihat tingkah sang istri yang seakan seperti anak kecil ditinggal sang ayah.
"I love you-- aku sayang kamu" kata Ridwan mencium kening Nayla. Ridwan juga pamit pada anak-anaknya. "Mas Danar,jaga ibu sama adek ya di rumah,ayah pergi gak lama kok,jadi anak yang baik ya" seakan mengerti ucapan sang ayah Danar mengangguk dan meminta gendong Ridwan.
"Hati-hati mas" Nayla mencium tangan sang suami.
Selama dua hari ini Ridwan selalu mengabarinya dan hampir setiap jam dia melakukan panggilan video dengan Nayla dan anak-anak. Hingga hari ketiga Nayla tak kunjung mendapat panggilan atau pesan dari Ridwan. Nayla berkali-kali menghubungi nomor Ridwan tapi tidak diangkat, hingga suatu nomor asing menghubunginya. Terdengar suara laki-laki dan suara berisik sekitarnya.
"Dengan ibu Nayla istri pak Ridwan Ghani Al Ghifari?"
"Iya betul bapak"
"Kami mengabarkan bahwa suami ibu baru saja kecelakaan dan dinyatakan meninggal dunia..."
Belum sempat sang penelepon menyelesaikan perkataanya. Handphone yang dipegang Nayla seketika jatuh begitupula kesadaran Nayla yang berubah menjadi gelap.