Erangan lirih itu keluar dari bibir yang tampak kering dan pucat. Matanya yang terpejam lama, perlahan terbuka, meski tak bisa melihat sepenuhnya dengan jelas. Mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk memperjelas penglihatan. Tangan kirinya terangkat untuk memijat pelipis saat denyutan di kepala kembali datang menghantam, membuatnya kembali memejamkan mata sembari meringis menahan pusing. Sementara tangan kanannya, meraba nakas di samping tempat tidur, berharap bisa mendapatkan gelas berisi air untuk meredakan rasa haus yang kini merongrong tenggorokan. Sayang, bukan gelas yang teraba. Melainkan tangan seseorang yang membuat Dewa seketika terjaga, hingga bisa menatap langit-langit kamarnya. Pria itu teringat akan seseorang yang nyaris membuatnya gila. "Rhea, Sayang! Kamu pulang?" Menarik tan

