Tepat saat taksi yang ditumpanginya berhenti di halaman rumah keluarganya. Dewa segera turun, nyaris melompat saat pintu dibuka olehnya, setelah meminta supir taksi untuk menunggu sebentar untuk mendapatkan bayarannya. Mengingat, saat tadi berlari seperti kesetanan dari apartemen Argi dan kemudian mencegat taksi. Ia tak membawa uang sepeser pun. Karena semua barang-barang miliknya masih berada di apartemen sahabatnya. Pikiran Dewa benar-benar kacau. Yang di inginkannya sekarang adalah menemui Rhea. Berharap semua hal mengerikan yang kini berjejal dikepalanya adalah salah. Salah? Cih! Suara dikepala Dewa seolah mencemooh akan harapan tak masuk akal yang coba dipupuknya. Meski sejujurnya, itu sekadar alasan agar Dewa tak menghajar dirinya sendiri akan kebenaran yang pasti akan menghancurka

